
Tok.. Tok.. Tok..
"Misi bu razia nih, eh? " ucap Valen yang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas bersama Elvan di sampingnya. Mereka juga membawa 2 orang perempuan yang merupakan anggota OSIS untuk memeriksa siswi perempuan. Niat mereka ingin razia saja bukan aneh-aneh sembarang masuk kelas orang lain.
"Oh kalian, mau razia kan? Yaudah silahkan! " ucap bu bunga mempersilahkan. Valen dan Elvan mengangguk dan mulai memeriksa satu per satu siswa-siswi yang ada di kelas itu. Mereka berhasil menangkap beberapa siswa yang membawa rokok ke sekolah.
Brakkk!
"Mon maap saya telat tadi nabrak piton dulu di jalan! " ucap satu siswi yang sangat familiar suaranya. Siapa lagi kalau bukan Lesya? Sudah datang pagi namun masih saja telat. Padahal dia sengaja berjalan-jalan santai karena jengah berada di kelasnya itu. Dan kata piton dia mengartikan Revan di kalimatnya itu.
"Cantik! " gumam Feri kecil hingga hanya dapat di dengar oleh Elvan saja yang entah kebetulan sedang memeriksa bagian meja depan. Elvan menatap tajam pak Feri yang masih terpaku melihat tampilannya Lesya walau menggunakan seragam celana laki-laki. She very perfect!
Ingin sekali Elvan mengajak guru baru itu saling baku hantam. Namun saat dia sengaja mengacak tas seorang lelaki culun yang duduk di depan hingga tanpa sadar membuat sedikit suara berisik. Setelah itu dia mengecilkan volume acakannya dan mengembalikan tas tersebut kepada sang pemilik.
Valen yang berada di bagian meja tengah menahan tawanya. Yah, mungkin dari sikap wajah tenang Elvan, lelaki itu biasa saja. Namun ini Valen, orang kepercayaan Elvan selain Revan. Sudah dapat ditebak jika hati lelaki dingin itu memanas terbakar api. Xixixi..
Sementara pak Feri yang berada di belakangnya hanya acuh saja dan tetap fokus dengan bidadari cantik alias Lesya. Luna ingin sekali tertawa melihat aksi aneh Elvan dan wajah Valen yang hampir tertawa sama sepertinya. Dapat dia tebak, Elvan cemburu? Wow, kejadian langka! Dan Lesya sebagai obat sekaligus lilin dari Elvan, patut menerima penghargaan mewah satu di dunia!
"Waras lo? " tanya Lesya ngawur.
Bu bunga yang memang sudah gedeg dengan tingkah Lesya akhirnya angkat suara. Selalu saja terlambat padahal dia tahu jika Lesya datang lebih awal. "Ekhemm, di chat grup saya denger kamu berangkat pagi, piton dari mana yang halangin kamu hem? " tanya bu bunga dengan tatapan mengintimidasinya.
__ADS_1
"Piton albino bu! Jadi kudu hati-hati lewatnya takutnya dipatukk, kan sakit! " ucap Lesya membalas enteng pertanyaan bu bunga. Di saat bu bunga hendak marah, untung saja dengan sigap orang yang dia bicarakan sebagai piton datang dengan tumpukan buku di tangannya.
"Misi semua, mubar nih! Sekalian ngasih buku dari kepala sekolah buat wali kelas! " ucap Revan dari balik pintu. Lesya menunjuk-nunjuk ke arah Revan. Mungkin ini keberuntungannya untuk lolos dari hukuman. Mumpung lagi dilingkupi dewi keberuntungan, wkwk..
"Nah, dia buk uler pitonnya! Merk albino dengan racun buaya recehan! " polos Lesya menyalahkan Revan. Revan hanya melotot tak paham. Baru saja masuk sudah dituduh. Sksk, sangat miris dia!
"Albino kw gak tuh, ahaha.. " receh Luna menyahut. Lesya hanya menggedikkan bahunya tak tahu. Namun suara bu bunga membuat dirinya diam walau tak menerima hukuman dengan ikhlas.
"Saya gak mau tau kamu sekarang keliling lapangan 25 kali biar kapok! Perasaan saya juga tau kamu dateng cepet tapi ke kelasnya pake acara ngarang keserempet piton albino! Sana keliling 25 putaran lapangan sekolah baru balik ke kelas! " ucap bu bunga menyerocos.
Mendengar kata ‘25 putaran’ membuat mata Lesya tambah tergelak. Sebanyak itu sebenernya dia oke-oke saja karena dia juga biasanya dia sering keliling lapangan latihan markasnya yang 7× lebih besar dari lapangan sekolah. Namun saat ini dia masih dalam tahap malas bergerak apalagi pagi-pagi begini. Buat mumet cari alasan untuk bu bunga lagi ujungnya!
"Gak usah bu, kali ini dia bebas dulu sekalian sebagai hari pertama saya mengajar, kasian! Biar lengkap anggota kelasnya! " tawar pak Feri.
Bu bunga menggebrak meja dan membuat seisi kelas terdiam. Matanya melirik sekilas pak Feri dan bergantian dengan wajah memelas Lesya. "Oke, kali ini saya gak bisa larang karena sekarang pak Feri sudah resmi menjadi guru dan wali kelas di sini! Kalau gitu saya pamit ya, kamu belajar yang benar! " tegas bu bunga akhirnya menatap tajam Lesya.
"Ebuset, galak! " gumam Revan.
Lesya mengangguk setuju. Rasanya menjadi narapidana jika terus ribut dengan bu bunga. Untung saja bumil BK itu akan istirahat sementara dan digantikan oleh pak Feri. Revan beralih meletakkan tumpukan buku di meja guru dan mulai berkenalan.
"Eum, hai semua.. Elah kaku amat, gw murid baru di sini panggil aja Revan ganteng! " ucap Revan dengan penuh percaya dirinya. Pak Feri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja mendengar ricuhan sorakan menggema membalas aneh ucapan perkenalan Revan yang percaya diri tingkat dewa itu.
__ADS_1
"Masih gantengan babang Elvan euyy! Lo masih kalah jauh kalee.. " sahut satu siswi diangguki yang lainnya. Siswi itu beralih menatap Elvan yang berdiri di depan kelas. Elvan hanya diam saja tak menanggapi. Dia akhirnya pamit saja karena tak ingin mengganggu kegiatan belajar kelas B itu. Risih mendengarnya!
Berbeda dengan Lesya yang mendengar sorakan itu ingin mencakar, menjambak dan menusuk siswi itu. Entah mengapa rasanya panas namun dia tak tahu kenapa itu. Dia tak suka jika Elvan menjadi banggaan siswi di sekolahnya. Namun dia juga tak tahu mengapa hatinya begitu. Apa dia cemburu? Whatt, enak saja bilang itu?! Pikir Lesya ogah-ogahan.
"Maaf sebelumnya, kita udah kelar razia! Dan dimohon yang membawa batang rokok diharapkan jangan membawa lagi. Sekolah melarang keras penggunaan rokok karena merusak kesehatan hingga mengganggu waktu belajar. Semoga mengerti dan kami anggota OSIS izin pamit undur diri! " ucap Elvan.
Banyak tampak kecewa dan ada juga yang justru mengusir Elvan. Namun Elvan tak peduli itu. Dia berbisik ke arah Revan sejenak yang dibalas anggukan kepala oleh Revan. Setelah itu dia beralih hendak pergi dengan anggota OSIS lainnya. Di saat yang lainnya sudah keluar, Elvan tak sengaja berpas-pasan dengan Lesya yang menekuk wajahnya. Tentu saja dia memperingati keras gadis remaja itu agar tidak kembali berbuat ulah. Repot!
"Inget, jangan bolos lagi lo! " ucap Elvan seraya meletakkan jari telunjuknya di kening Lesya. Dengan cepat Lesya menepisnya dan mengusap kasar keningnya. "Kalau gw gak bosen di kelas mungkin, iyahaha.. " canda Lesya menepuk sekilas lengan Elvan.
"Woy Van jadi gak ke kelas? " panggil Valen. Akhirnya Elvan keluar setelah menatap tajam Lesya. Sebelumnya dia menyempatkan kode mata dengan Revan lalu beralih menatap tajam pak Feri yang seolah tak tahu apa-apa. Memang tak tahu! Lesya berjalan malas ke arah kursinya diikuti Revan yang berjalan ke arah kursi kosong yang ada. Sebenarnya itu milik Amanda namun gadis itu sudah pindah sekolah. Alias dirawat makanya diusulkan pindah oleh Ericko—Papanya!
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Hai gayss.. Author mau minta sarannya boleh? Sebenarnya author juga mumet mikir novel sebelah yang mengisahkan Emila. Kalau di stopin trus pindah ke novel ini aja mau gak? Tapi jangan kaget ya kalau mungkin author bakal buat episode nyampe 400+ yah. Tapi itu masih jadi rencana doang gays! Catatttt, MASIH RENCANA AUTHOR saja.
Kalau kalian setuju author bakal stopin dulu novel sebelah dan fokus sama yang ini dulu biar gak terlalu jadi beban pikiran. Ditambah saya, author juga pasti punya kesibukan sendiri. Jadi gak mungkin main asal update tapi gak seru! Nanti yang ada alurnya melenceng. Jadi TOLONG KOMEN DONGGG GAYSS YANG BAIK HATI.. LANJUT ATAU ENGGAK NIH? MUMPUNG LAGI PUNYA IDE AUTHOR NYA HEHE.. Itu aja, maaf kalau ngegas ngomongnya, xixi..
Salam hangat author cantik imut😻,
__ADS_1
Melilea Agatha