Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
308: Pingsan


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, Lesya duduk di balkon kamar Elvan. Dia menghela nafasnya panjang. Namun dia juga dapat merasakan jika sampingnya sudah diisi oleh seseorang lelaki, siapa lagi kalau bukan Elvan?


"Lamunin apa? "


Lesya menggeleng kecil mendengar pertanyaan Elvan. Benar bukan dia tak melamun? Hanya saja dia seperti orang yang memiliki masalah hidup. Dan masalah itu harus diselesaikan dengan cepat oleh dirinya sendiri. Namun, masalah apa dahulu yang harus dia selesaikan sekarang? Semua terlalu rumit hingga membuatnya pusing harus mengerjakan yang mana terlebih dahulu.


Elvan menatap Lesya dengan lekat hingga tanpa sadar gadis di sampingnya itu balik menatapnya. Lesya tersenyum lucu dan menepuk pundak Elvan lumayan keras. "Heh sadar Pan! Ngeliatinnya gak usah kayak orang natap hantu! " ucap Lesya.


Elvan hanya mengangkat bahunya tak tahu dan menoyor kecil kepala Lesya. "Bukan hantu tapi dewi! Sayangnya dewinya kadang-kadang ngeselin! " sindir Elvan sengaja. Lesya tertawa kecil dan melirik ke arah meja sofa yang ada.


Mengambil ponselnya yang berdering, Lesya mengangkat telepon yang berasal dari temannya Leon. Dia mungkin dapat menemukan jejak siapa ayah kandung dari anak yang di dalam rahim aunty nya itu.


Leon calling you...


📞 Halo, gimana Yon?


📞 Udah gw kirim ke email lo Sya! Gak nyangka sih nanti lo bukanya gimana.


📞 Emang kenapa?


📞 Pelakunya bokap tiri lo sendiri Sya! Eum, bisa juga uncle lo pelakunya, Gilang Marivone Erthan!


📞 Hah?!

__ADS_1


📞 Cek aja sendiri, gw gak bisa jelasin langsung!


Tuuttt!


Lesya dengan cepat menutup ponselnya dan tergesa-gesa mencari keberadaan laptopnya. Elvan yang melihat Lesya begitu tergesa-gesa tentu saja mengeryitkan alisnya bingung. Tadi Lesya baik-baik saja kok dan mengapa menjadi tergesa-gesa begini? Apa gadis itu memiliki masalah setelah berteleponan?


"Kenapa? " heran Elvan akhirnya berjalan mendekat ke arah Lesya yang mengobrak-abrik sedikit laci nakas lemari mereka. Lesya mengatur nafasnya agar tenang dan beralih menatap Elvan.


"Laptop gw mana? " tanya Lesya balik.


Elvan menautkan alisnya dan beralih berjongkok dari tempat tadi. Rupanya lelaki itu ingin mengambil laptop Lesya yang keberadaannya di bawah nakas lemari mereka. Setelah ketemu, Elvan mengulurkan tangannya dan memberikan kepada Lesya. Tentu saja gadis itu menerima laptopnya dengan cepat.


"Thanks. "


Betapa terkejutnya yang dia lihat, Lesya justru menemukan hal yang buruk di pandangannya. Benar kata Leon, Gilang lah pelakunya! Lesya melihat di layar laptopnya jika Mily yang niatnya ke bar hanya untuk menenangkan diri saja teralih ditarik oleh Gilang dan dibawa ke kamar VIP yang sudah dipesan.


Lesya juga dapat lihat jika Gilang sudah dalam kondisi mabuk alias tak sadarkan diri. Bukan hanya Lesya, Elvan juga dapat melihat itu. Namun sudut pandang mereka berbeda. Jika Elvan melihat Mily dan Gilang, berbeda dengan Lesya yang justru melintasi bayang-bayang dimana dia saat kecil melihat CCTV dahulu mengenai Mila dan Galang. Beda bukan?


Di saat kedua pasangan yang berada di layar laptop melakukan hal yang bersifat dewasa alias dikhususkan untuk orang-orang yang sudah menikah, Elvan mendelik dan menutup mata Lesya dengan tangannya. Dia tak percaya jika Mily dan Gilang akan melakukan hal keji tersebut. Dan hal itu sama seperti kejadian yang menimpa Mila saat muda bukan? Dan Mila, wanita itu sudah pergi meninggalkan semua orang di dunia.


Tangis Lesya pecah merasakan punggung tangan Elvan yang menutup matanya. Tubuhnya bergetar kecil mengingat bagaimana dirinya dapat melihat sesuatu keji yang membentuk dirinya dan Letha di rahim mendiang maminya. Menyesal memang dia saat kecil berani melihat hal itu bahkan sudah sangat paham. Jangan tanya lagi apakah Lesya masih polos atau bukan. Jawabannya adalah memang sudah tak polos sedari kecil! Namun bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah terlanjur tahu, ingin berbuat apa lagi?


Elvan menutup layar laptop Lesya yang menimbulkan suara bising karena bunyi ******* dari Mily terdengar oleh telinga mereka. Memeluk Lesya dan memenangkan gadis itu, Lesya masih diam terisak tanpa memberi tahukan apa masalahnya. Biasanya, Lesya akan mengungkap apa penyebab dirinya menangis begitu kepada Elvan. Namun untuk kali ini, berbeda lagi ceritanya!

__ADS_1


Elvan bahkan juga dapat merasakan tubuh Lesya terguncang seperti adanya lempengan yang bergeser. Menepuk-nepuk pundak gadis itu, Elvan tahu jika hal kali ini berat untuk Lesya.


Bayangkan saja pada usia yang dini, Lesya diharuskan melihat hal yang dilakukan Galang dan Mila hingga membentuk dirinya. Dan itu hanya karena rasa penasarannya yang memuncak di kala mendengar percakapan Gilang ditelepon dengan Galang. Hal itu membuat diri lesya penasaran apalagi mengenai hal dirinya sendiri. Dan setelah ketemu dengan informasi mengenai dirinya, Lesya tentu saja syok hingga mentalnya terguncang saat itu. Setahun dari kejadian itu, pikirannya selalu terbayang mengenai CCTV yang dia lihat itu. Hingga akhirnya rasa kesepiannya berubah semenjak kehadiran Luna, sahabatnya di hidupnya.


Setelah tenang, tubuh Lesya masih saja tegang dan gemetar. Mungkin mentalnya sedikit terganggu kembali. Dan bahkan gadis itu pingsan di pelukan Elvan hingga membuat Elvan cemas dengan keadaan gadis itu. Membaringkan Lesya terlentang di ranjang, Elvan beralih meletakkan laptop di nakas dengan benar dan berlari kecil ke arah bundanya, Mayang.


"Bundaa... " panggil elvan dengan nada yang sedikit di keraskan. Mayang yang berada di ruang keluarga menatap bingung ke arah putranya yang berlari kecil ke arahnya. Bahkan Elena dan Luna juga sama bingungnya dengan Mayang.


"Kenapa Vanoo... Jangan keras-keras ih, kamu pikir bunda budeg apa?! " ucap Mayang. Elvan menggeleng saja. Tak peduli lagi dia dengan apa kata bundanya itu yang terpenting Lesya dapat ditangani di rumah dahulu.


"Bunda, Lesya pingsan! " kata Elvan.


Tentu saja Luna, Elena dan Mayang terkejut. Mereka sontak berdiri dan berlari kecil ke arah kamar Elvan. Sementara buku-buku gambar desain mereka tinggal tanpa peduli sama sekali. Elvan mengikuti arah langkah ketiga perempuan itu yang menuju kamarnya. Kok dia ditinggal?!


...___...


Luna melotot dan menangkup kedua pipi Lesya yang masih asik tertidur. Gadis itu sangat pucat dan dapat dilihat oleh Luna. Elena sudah turun ke bawah guna mengambil baskom yang berisi air dan kain basah setelah diperintahkan oleh bundanya. Sementara Mayang beralih mengelus punggung tangan Lesya yang dingin bagaikan salju. Sangat dingin!


"Lo apain sahabat gw nyampe gini?! " tanya Luna beralih menatap tajam Elvan. Lelaki yang ditatap tajam oleh Luna menggedikkan bahunya acuh saja. Untuk apa dia takut sementara bukan dia yang membuat Lesya begini?


"Kenapa bisa gini sih Vano? Kenapa gak jagain Lesya baik-baik sih?! " omel Mayang beralih meninju lengan kekar sang putra dengan kesalnya. Tentu saja Elvan hanya meringis kecil saja dan menatap aneh bundanya. Padahal dia tak mencari masalah apapun dengan Lesya mengapa dirinya yang tersakiti di sini?


Elena baru saja tiba dengan satu baskom air dengan cepat memberikan baskom tersebut kepada Mayang. "Bundaa.. Nih pesanannya! Oh iya, kalau sempet gw tau lo apa-apain Lesya nyampe dia gini gw gorok lo dek! " ujar Elena mengepalkan tangannya membentuk tinju dan mengarahkannya ke depan wajah Elvan.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2