Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
333: Rencana Brilliant


__ADS_3

Sepasang insan sedang diam menyender pada kursi mobil. Setelah makan siang dengan Galang dan Vayleen, mereka bergegas pulang karena mereka juga memiliki banyak pekerjaan. Lesya, gadis itu selalu ditagih oleh guru-guru tentang tugasnya yang belum dikumpulin. Sementara Elvan, lelaki itu justru semakin menumpuk saja masalah OSIS karena dirinya yang menjelang berganti jabatan.


Suasana mobil tampak hening. Lesya masih terpikir dengan perkataan Vayleen sebelum mereka pulang tadi. Apa bocah lelaki itu memang benar-benar tak ingin sang ayahnya hidup? Atau memang ini paksaan Vion agar dia sendiri masuk ke dalam jebakannya? Entahlah Lesya tak tahu dengan jalan pemikiran bocah itu.


"Kepikiran? " tanya Elvan yang paham raut wajah Lesya. Gadis itu mengangguk pelan. Menghela nafas, dia tak tahu apa rencana yang dia bilang Vay berjalan dengan baik atau tidak. Jawabannya hanyalah satu, menunggu waktu seperti yang dibilang.


—Flashback on—


Di sebuah meja bundar yang berisikan 3 manusia hanya diam saja. Galang tak ada di sana karena dia sedang memeriksa data restorannya dengan asistennya. Sementara di tengah keheningan itu Vayleen kembali angkat suara.


"Kak Lesya, kemarin aku denger katanya papa bakal susun rencana penculikan buat kakak. Papa juga susun rencana buat celakain mama dari temannya kakak. Vay gak denger semuanya karena mama—Felicia bawa Vay ke kamar. " kata Vayleen.


Lesya terkejut begitu juga dengan Elvan. Penculikan? Apa permainannya sudah di mulai? Lesya takut keadaannya yang berbadan dua akan menghentikan niatnya yang ingin segera meniadakan gerombolan musuhnya. Berbeda dengan Elvan yang mencemaskan kondisi Lesya. Cukup sekali dia melihat Lesya terbaring di brankar rumah sakit. Dia tak mau gadisnya itu kenapa-kenapa lagi.


"Makanya Vay minta buat kakak sama abang kerja sama bareng Vay. Nanti kalau kak Lesya ditangkep, Vay bakal acting buat masuk ke ruang kerja papa terus cari data pemilik asli gangster Ice Blue. Vay baru tahu 2 bulan lalu tentang pemilik asli gangster papa. Dia sering dipanggil dengan sebutan Gratara. " kata Vayleen.


Gratara?


Mengapa Lesya mendengar seolah Gatara? Uncle nya selain Gilang. Dan Gatara adalah adik kandung Galang, sang ayah. Apa maksudnya? Dia bahkan melihat jika adik kandung ayahnya sudah tiada. Mengapa jadi sangat terkejut mendengar nama itu? Padahal hanya kemiripan nama saja. Lesya hampir ternganga jika Elvan tak memberikannya minumannya.


Lesya hanya menerima dan kembali menyimak dengan baik setiap perkataan Vayleen. Perlahan dia paham maksud permintaan Vayleen pada awal pembicaraan mereka tadi. Namun tetap saja Lesya harus waspada. Bisa saja Vion menyuruh Vayleen untuk berakting dengan baik dan menjebak dirinya.


"Sebenarnya maksud permintaan awal Vay itu cuman gak mau kakak dilukain papa juga. Vay gak mau jadi anak yang gagal dan justru mendukung semua perbuatan jahat papa Vay. Tapi Vay mohon, jangan lukain mama! Vay tau mama sayang sama Vay cumen mama terlalu tertutup karena rasa cinta buat papa. Padahal papa gak pernah respon mama. " lanjut Vayleen.


Begitu yah?


"Vay, kakak bakal bantu kamu buat lenyapin papa kamu. Tapi kamu jangan menyesal ya kalau nanti kamu nangis-nangis mau ketemu papa kamu? " ujar Lesya mencoba mencari kebohongan tersembunyi dari wajah Vayleen. Bocah itu tersenyum tipis dan mengangguk mantap. Dia tak mau melihat air mata mamanya—Felicia lagi dan dia juga tak mau papanya—Revion dapat menjadi seseorang yang lebih ganas lagi.

__ADS_1


"Selama ini keberadaan Vay gak pernah dilihat sama papa. Vay juga cuman kadang-kadang diurus sama mama. Vay udah terbiasa sendiri, kalaupun malaikat maut jemput papa, Vay lega akhirnya kejahatan papa udah berakhir. Papa ibarat orang yang gak akan pernah puas. Papa bakal hancurin bumi sampai naf-su jahatnya puas. " jawab Vayleen.


Lesya terenyuh. Dia merasa iba karena ada seorang lelaki kecil yang imut harus mengalami hal yang sama dengannya namun berbeda alur. Jika Vay tahu siapa ayahnya, maka Lesya dahulu tak tahu siapa ayahnya. Mereka sama-sama korban dari naf-su kedua orang tua mereka. Mereka sama-sama terbentuk dan lahir di dunia karena hubungan tak seharusnya.


Sejenak ide briliant muncul di benak Lesya. Bagaikan tersambar petir apapun, Lesya tersenyum cerah membanggakan pikiran jenius nya yang melebihi Albert Einstein. Hoho... Mungkin dia akan menjadi pengganti Albert Einstein.


"Penculikan buat kakak di mana Vay? " tanya Lesya tiba-tiba. Vayleen berpikir mencoba mengingat percakapan ayahnya dengan tangan kanannya mengenai dimana terjadinya penculikan kakak cantik di depannya ini. "Emm, kalau gak salah bakal terjadi di gedung gitu kak, tapi gak tau juga benar atau salahnya. Bisa jadi papa ganti. " jawab Vayleen jujur.


Lesya tersenyum simpul. Namun senyumnya itu membuat Elvan dan Vayleen bingung. Menyentil kening Lesya pelan, Elvan akhirnya angkat suara. "Jangan mikir yang aneh-aneh! " katanya.


Lesya hanya mengerucutkan bibirnya manyun dan mengusap sentilan Elvan. Dia beralih menatap Vayleen dengan tampangnya yang benar-benar serius. Oke, kali ini Elvan diabaikan lagi.


"Oke, kakak bakal bantu Vay buat lenyapin papa kamu tapi bukan dengan campur tangan kakak! " final Lesya. Elvan mengangkat satu alisnya bingung begitu juga dengan Vayleen yang mengerutkan keningnya bingung karena tak paham.


"Maksudnya kak? " tanya Vayleen.


Vayleen tersenyum cerah mendengar rencana brilliant Lesya. Dia mengangguk paham dan mengancungkan dua jempolnya kepada Lesya. Lesya tersenyum bangga dengan idenya sendiri. Namun sepertinya, senyum bangga Lesya runtuh seketika mendengar penolakan Elvan.


"Gak boleh! Nanti kalau kenapa-napa gimana? " tolak Elvan mentah-mentah. Lesya menekuk wajahnya dan memeluk lengan Elvan manja. Seolah meminta persetujuan Elvan, Lesya mengimutkan wajahnya agar lelaki kutub itu mencair.


"Boleh lah Pan, ya? " pinta Lesya memelas.


Elvan masih tak menjawab. Sedetik mereka menoleh ke arah Vayleen yang kembali bertanya. Sepertinya sekarang Vayleen bagaikan murid yang meminta saran atau juga bertanya pada gurunya.


"Lalu kalau tentang papa gimana kak? "


Lesya mencoba berpikir sejenak. Setelah mendapatkan jawaban dari susunan rencananya sebelumnya, Lesya menjentikkan jarinya. "Kita ulur waktu sampai papa kamu lengah tapi, ingat ya kakak udah bilang sama kamu jangan sampai menyesal kehilangan papa. " tekan Lesya diangguki pelan oleh Vayleen.

__ADS_1


—Flashback off—


"Iya, gak nyangka aja Vay tiba-tiba ngomong dan kasih tau sama gw tentang rencana penculikan yang dibuat Vion buat gw sendiri. " lirih Lesya. Elvan mengangguk setuju. Dia juga masih ragu dengan raut wajah Vayleen tadi. Aneh bukan sih seorang anak menginginkan kematian untuk ayah kandungnya?


Elvan menghentikan mobilnya setelah tiba di depan rumah mewah milik keluarga Grey. Membuka seatbelt, Elvan melirik ke arah Lesya yang masih melamun bahkan tak sadar jika sudah berada di depan rumah. Membuka seatbelt Lesya, Elvan beralih mengusap pucuk kepala Lesya dengan lembut.


Ctaakk!


"Jangan dipikirin! Biar waktu berjalan seperti air dan memberikan jawaban yang indah nanti! " kata Elvan membuat Lesya tersadar dan menoleh ke arah lelaki itu. Seulas senyum terbit karena bangga memiliki penasehat bijak yang menyandang status suaminya walau usia lelaki itu masih dini.


Elvan tersenyum tipis dan keluar dari mobil sementara Lesya masih berdiam diri. Menghembuskan nafasnya agar tetap tenang, Lesya hendak keluar namun terlebih dahulu pintu mobilnya dibuka oleh Elvan. Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Lesya namun hanya ditatap dengan polosnya saja.


"Ayo turun! " kata Elvan.


Lesya menggeleng dan merentangkan kedua tangannya ke arah Elvan. "Gendong! " pinta Lesya merequest. Entah ini hormon nya atau keinginannya saja, Lesya sendiri bingung mengapa tiba-tiba mengatakan satu kata dengan nada manjanya. Begitu juga dengan Elvan yang bingung namun tetap melakukan saja.


"Depan? Belakang? Atau--- "


"Belakang! " jawab Lesya menyela.


Elvan hanya tersenyum kecil saja dan berjongkok membelakangi Lesya. Dengan cepat gadis itu naik ke gendongan Elvan dan menutup pintu mobil. Senyumnya merekah di saat keinginannya terkabul. Tak jauh dari sana, terdapat kedua pasangan yang sudah setengah abad menyaksikan dari balkon kamar mereka. Yah, mereka adalah Mayang dan Angga. Mereka turut senang melihat interaksi kedua anak dan mantunya itu. Cocwitt!


"Legooo... " kata Lesya menepuk dua kali pundak Elvan. Lelaki itu hanya memutar bola matanya malas. Beranjak berdiri, bukannya berjalan justru mengoreksi kalimat Lesya. "Let's go not Lego, dikira mainan lego apa! " koreksi Elvan.


"Sama aja elah cuman beda ada 's' nya doang! Udah tinggal jalan doang ribet amat. " kata Lesya ketus seraya menyandarkan wajahnya di salah satu pundak Elvan. Lelaki itu hanya pasrah saja. Dia juga bingung mengapa nada ketus Lesya seperti orang yang siap menangis. Dengan langkah sedikit berlari lelaki itu mulai bergerak dan membuat seulas senyum di wajah gadis yang berada di gendongannya merekah kembali.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2