
"Lesya... Makan malam dulu yuk! "
Suara dari sang mertua membuatnya menoleh. Kini pemilik nama Aleesya sudah selesai mandi bahkan sedang mengerjakan tugasnya. Di kamar mandi masih ada Elvan yang belum keluar.
Sedetik dia mengelus perut ratanya. Jujur saja dia masih kenyang karena di rumah daddy nya, dia sudah makan sore bersama untuk yang kedua kalinya.
Namun mengingat Mayang yang sudah berusaha memasak membuatnya tak enak hati. Dia di sini hanya menumpang, segala makan dan minum sudah tersedia di rumah ini. Masa iya dia harus kembali menolak lagi? Tapi masa iya juga dia harus kembali makan lagi? Kalau dia gemuk gimana? Wah, tak baik!
Sejak kapan dia peduli penampilan?
Ceklek...
Suara pintu yang terbuka membuat Lesya menoleh dan meletakkan bolpoinnya. Seorang lelaki dengan postur tubuh yang tegap kini sudah keluar dengan baju tidurnya yang lengkap.
Dengan segera Lesya melepaskan kacamata anti radiasi yang dia kenakan untuk belajar dan berbalik menghadap Elvan tanpa mengubah posisi duduknya. Namun suara Mayang yang kembali memanggilnya agar segera turun dan makan malam bersama membuat Lesya merasa tak enak hati dengan mertuanya.
"KetBok, gimana? Gw udah kenyang masa sih makan lagi nanti gendut, kan jadi gak cakep lagi gw." adu Lesya dengan suara pelannya.
Elvan hanya cengo mendengar alasan Lesya. Gendut? Selama ini Lesya sama sekali tak mempermasalahkan soal berat badannya. Bahkan Elvan kini dapat melihat jika bibir Lesya terlihat lebih lembab. Ada apa sebenarnya? Mengapa gadis itu mendadak mempermasalahkan penampilannya? Bukankah prioritasnya kenyamanan pribadi? Bingung Elvan.
"Lo pake make-up? " heran Elvan.
Lesya mengangguk antusias. "Cumen kasih liptint doang emang kenapa? " balas Lesya balik bertanya. Elvan hanya menggeleng pelan saja mendengarnya.
"Elpaannnn.. Itu Bunda ngajak makan tapi kan kita udah makan di rumah daddy. Kalau kekenyangan gak bagus, tapi gw gak enak juga kalau nolak."
"Yaudah tinggal jujur aja."
"Kok gitu sih? Ya nanti kan kasian di Bunda nya. Capek-capek masak eh malah dianggurin, ngerasa durhaka tau."
Tok.. Tok.. Tok..
"Van? Sya? Buka pintu nya! "
Suara Mayang yang mengetuk pintu membuat mereka menoleh. Dengan segera Lesya berlari kecil seolah mengumpat di walk in closet. Entahlah, semenjak pulang dari rumah keluarga Erthan tingkah Lesya terlihat aneh.
Ceklek...
Akhirnya Elvan berjalan kecil dan membuka pintu kamarnya. Ternyata sudah ada Mayang yang berdiri di depan pintu. Melihat sang putra yang membuka pintu, Mayang dengan segera menyembulkan wajahnya celingukan mencari keberadaan menantunya.
"Lesya mana Vano? Lagi mandi? Tapi meja belajarnya lampunya masih nyala loh." tanya Mayang sedikit khawatir.
Bagaimana Mayang tak khawatir jika Lesya yang sedari tadi dia panggil sama sekali tak menyahut. Padahal selama ini walaupun merasa sedih, Lesya tetap menyahut panggilannya. Namun hanya sekedar berdehem singkat saja :v
__ADS_1
"Lagi ngumpet Bun." jujur Elvan membuat Mayang menoleh dan mengernyit bingung. "Soalnya pengen nolak ajakan makan malem. Kita tadi udah makan di rumah daddy Galang makanya masih kenyang." sambung Elvan dengan jujur.
"Bener udah makan? " curiga Mayang.
"Udah Bunda... Nambah 2 porsi malah dia, suwer." ujar Elvan jujur seraya mengangkat kedua jarinya hingga berbentuk huruf 'V' atau dapat disebut juga pengajuan kedamaian secara reflek.
"Yaudah kalau gitu, Bunda sama Ayah pergi dulu. Mau nge-date, udah lama gak berduaan, bye-byeee.. " pamit Mayang menepuk-nepuk sejenak pundak sang putra yang terlihat cengo ditempat layaknya orang linglung tanpa arah.
"Ck, selalu aja nge-date. Gak liat umur, huu.. Tapi gak papa lah, kan lebih enak kalau berdua doang di rumah sama Lele." gumam Elvan setelah sama sekali tak melihat bayangan sang Bunda.
Saat hendak berbalik, Elvan sedikit terkejut dengan kehadiran Lesya yang menyender pada pintu walk in closet. Dengan tatapan tajamnya yang layaknya elang, Elvan masih tak paham mengapa gadis itu terlihat seperti sedang kesal.
"Why? "
Elvan mengerutkan keningnya bingung dengan satu kata yang diucapkan oleh Lesya. Sementara lawan bicaranya mengerucutkan bibirnya manyun melihat raut wajah Elvan yang tak peka padanya.
"Kenapa jujur sih?! Kan gak enak sama Bunda.. " gemes Lesya dengan tampang gregetnya seolah hendak meninju Elvan keras. Sang lawan bicara hanya beroh'ria saja mendengar ucapan Lesya.
"Gak usah pikirin, Bunda gak masalah kok. Lagipula Bunda juga mau nge-date sama Ayah." ujar Elvan santai lalu berjalan ke arah kasur king size nya.
Melihat Elvan melemparkan diri ke atas kasur dan memainkan laptop, Lesya yang penasaran akhirnya ikut melempar diri ke kasur tanpa mempedulikan kembali tugas-tugasnya. Tanpa sengaja Lesya melihat sebuah gambar rumah mewah di laptop milik Elvan.
Kedua mata Lesya berbinar saat melihatnya dan hendak angkat suara namun lebih dahulu Elvan mengganti layar laptop menjadi pekerjaannya. Ya memang setelah kembali ke Indonesia, Elvan kini kembali mengurus sedikit demi sedikit mengenai perusahaan sang Ayah juga bisnis cafe miliknya yang sampai kini masih ramai pelanggan membeli.
Elvan yang mendengar itu diam-diam hanya tampak tersenyum simpul. Karena tak ada masalah besar pada pekerjaan yang dia lakukan di rumah, Elvan berniat mencari refreshing sejenak sebelum ujian. Menoleh pada Lesya yang terlihat sedikit murung, Elvan diam-diam ingin menertawakan raut wajah Lesya.
"Mau jalan-jalan? "
Lesya mendongkak dan menggeleng kecil. Dia mengambil ponselnya di nakas dan memperlihatkan isi chat nya dengan Luna yang meminta agar berkumpul sejenak. Hanya berdua saja tanpa Elvan.
...***...
📩Luluna
Sya kumpul yukzz..
Tapi berdua aja mumpung masih blm ujian kelulusan.
^^^📩Lesya^^^
^^^Nanya pak KetBok dulu.^^^
📩Luluna
__ADS_1
Woke, ditunggu!
Jarang-jarang lho Sya..
^^^📩Lesya^^^
^^^Iya Luna…^^^
^^^Nunggu orangnya kelar mandi.^^^
📩Luluna
Ngapa gak gass langsung masuk siee?
Biar nyetak keponakan gw sekalian.
🤣
^^^📩Lesya^^^
^^^Gw lempar lo ya Lun🙂^^^
📩Luluna
Ampun suhu~
(read)
...***...
Elvan mengerutkan keningnya bingung. Membaca pesan sekaligus obrolan kedua sahabat itu membuat Elvan paham jika Lesya sedang meminta izin padanya agar diizinkan keluar dengan Luna tanpa pengawasannya.
"Boleh ya… Sekali-kali bareng sahabat gw sebelum mulai ujian." rayu Lesya yang memang ingin sekali keluar menghabiskan waktu dengan sang sahabatnya. Elvan memicingkan matanya curiga. "Emang ke mana sih? Gak aneh-aneh kan? " curiga Elvan.
"Enggak kok! Cuman ngumpul biasa aja." ujar Lesya dengan jari yang terangkat dua membentuk huruf ‘V’ seolah sedang meyakinkan Elvan agar mengizinkan nya pergi. Dia juga merasa bosan jika berhadapan dengan tugas juga di rumah.
"Yakin? Asal gak aneh-aneh gw izinin. Lagian gw juga mau ngumpul sama temen-temen gw bentar lagi. So, kita sama-sama adil loh ya." enteng Elvan diangguki secara antusias oleh Lesya.
Dengan segera mereka berganti baju mereka sebelum pergi berkumpul dengan teman-teman mereka. Kini dengan outfit mereka yang serba hitam, mulai berniat berkumpul dengan teman-teman mereka. Tak lupa sebelumnya Lesya mampir terlebih dahulu ke rumah Luna karena niatnya hanya ingin menumpang kendaraan saja.
Berbeda dengan Elvan yang lebih dahulu pamit dengan menaiki mobil sport kesayangannya. Apalagi kalau bukan navy? Mobil sport yang berwarna biru tua dengan sedikit gelap yang sering digunakan lelaki itu saat kemanapun.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1