Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
66: Vannya pergi!


__ADS_3

Lesya waspada akan pergerakkan Vannya yang tampak mencurigakan, "MAT* AJA LO BANGS***!!" Vannya langsung mendorong Lesya ke arah kolam.


Lesya yang terdorong, hampir terjungkal, "Arrhh!" Elvan dengan sigap menangkap pergelangan tangan Lesya dan menarik-nya ke dalam pelukkan-nya.


Vannya menoleh ke arah Elvan. Dia memundurkan langkah-nya sedikit takut begitu tahu itu Elvan. Sementara Lesya yang merasakan dirinya tak basah, perlahan membuka matanya.


Dia menghirup aroma mint khas orang tersebut, rasanya familiar dengan aroma tersebut. Lesya mendongak dan membulatkan matanya setelah melihat wajah Elvan.


Lesya melepaskan pelukkan Elvan dan menatap Vannya yang menatap tak percaya. Menurut Vannya, sorot mata Elvan lebih tajam dari biasanya.


"E-elvan! " Suara Vannya tercekat. Sedetik dia tersadar, "Sa-sayang kamu kenapa ada di sini? " Elvan menjauhkan dirinya dari tangan kotor Vannya.


Lesya menjauhkan dirinya dari tepi kolam. Dia berpindah berada tepat di tengah-tengah Vannya dan Elvan. Kemudian dia beralih menatap Vannya tajam.


"Mau lo apa sih? " Vannya tertawa sinis, "Gw mau lo mat*! Kenapa? Gak siap ninggalin adek tersayang lo? "


Lesya tertawa renyah balik dan mendekati Vannya. Bahkan dirinya tak takut dengan keberadaan Elvan di sana, "Kenapa? Iri ya sama gw yang punya orang yang gw sayang? " ucapnya mencolek dagu Vannya dengan telunjuknya.


"BANGS*** LO ANJ*NG!! " Vannya membenturkan Lesya ke dahan pohon di belakang Lesya dan langsung mencekik leher Lesya.


Bahkan Vannya tak menghiraukan keberada-an Elvan di sana. Lesya yang merasa kehabisan nafas, langsung menjambak rambut Vannya dan mulai mencekiknya.


Begitu melihat celah, Elvan langsung menggendong Lesya dari belakang dan melerai perdebatan tersebut. Sedangkan Vannya langsung kabur keluar menuju depan gerbang.


Lesya memberontak minta diturunkan dari gendongan Elvan. Dan Elvan segera menurunkan Lesya setelah dirinya merasa jika Vannya cukup jauh.


Lesya menatap tajam Elvan dan berlari menyusul keberadaan Vannya, "Vannya berhenti lo anj*ng!! "


Banyak pasang mata menatap Lesya begitu juga teman-temannya. Lesya yang melihat Vannya langsung kabur menyebrang tanpa melihat kondisi membulatkan matanya.


Lesya memberhentikan langkahnya dan menatap kondisi Vannya yang jauh dari kata baik-baik saja. Luna langsung menghampiri Lesya, "Sya kenapa? "


"Vannya ditabrak truk! " Lesya menunjuk ke arah di mana Vannya tergeletak dengan darah yang mengalir di mana-mana.

__ADS_1


Sontak mereka menatap arah tunjukkan Lesya. Mereka menghampiri Vannya yang sudah tergeletak tak berdaya.


Kondisi Vannya yang kepalanya bersimbah darahnya dan darah yang mengalir dari perutnya. Vannya menahan sakit yang dia rasa.


Pandangan Vannya memburam. Namun matanya terus terbuka untuk melihat Lesya. Banyak orang yang mengerumuni nya.


Tak hanya Vannya, namun pelaku juga tewas. Mata Vannya masih terbuka hingga Lesya dan Elvan datang di tempat.


Vannya tersenyum ke arah Lesya, "Maafin kalo gw banyak salah sama lo, Sya" ucapnya tulus. Lesya berjongkok dan mengangguk, "Maaf kalo gw ada salah juga"


Vannya langsung menghembuskan nafas terakhir nya dengan meminta maaf kepada Lesya. Lesya dengan cepat mengecek nadi Vannya.


"Gimana sya? " tanya Luna. Lesya menggeleng, "Vannya udah gak ada" lirihnya.


Sontak mereka terkejut. Bahkan pak Rio mengecek ulang nadi Vannya dan menggeleng. Suara sirene ambulans menghiasi keramaian kota.


Lesya terduduk lesu di salah satu kursi. Besok mereka akan mengunjungi makam Vannya. Mereka juga sudah menghubungi pihak keluarga Vannya untuk ke rumah sakit.


"Tadi dia nangis di kolam dan waktu dia lari setelah nyekik leher gw, dia. . . ya gitu" jawabnya. Lisa tertawa sinis, "Ngaco lo! Mana mungkin dia kayak gitu"


Lesya mengepalkan tangan-nya kuat, "Kalo lo gak percaya, tanya sono sama ketbok! " Lesya langsung pergi dari sana.


Kini pasang mata mengalih kepada Elvan. Seakan tahu apa yang akan dibicarakan, Elvan mengangguk.


"Dia nyekik leher echa? " Elvan mengangguk saja mendengar pertanyaan Luna. Pak Rio, pak Kevin dan bu bunga yang ada di sana terkejut.


"Habis nyekik dia kabur dan ketabrak? Gitu bukan sih? " Lagi-lagi Elvan mengangguk sebagai jawaban.


Mereka mengusap wajahnya kasar mendengar pernyataan itu. Pak Rio angkat bicara, "Masalah nya apa? "


Elvan terdiam dan berpikir dirinya untuk tak menceritakan aib Vannya. Walaupun Vannya sudah tiada! Dia mendengar semua percakapan Vannya tadi dengan Lesya.


Elvan menggedik kan bahunya acuh tak acuh, "Dia sempet dorong ke kolam" Mereka terkejut.

__ADS_1


Luna yang mengerti konsep permasalahan, angkat suara lagi. "Bentar-bentar maksud lo, Vannya lagi nangis dan Lesya nyamperin dia! Habis itu Vannya marah-marah terus dorong Lesya ke kolam? "


Elvan mengangguk saja. Amel pun bertanya, "Kenapa gak basah? " Luna sontak menjawab, "Lesya bisa jaga keseimbangan jadi gampang bagi dia buat ngehindar"


"Trus habis ngehindar, Vannya nyekek Lesya? Habis itu dia lari dan ke tabrak? " tebak Nayla. Elvan mengangguk.


"Hahh! Rumit ya" sahut Valen. Frans angkat suara, "Mungkin karena satu masalah yang bikin Vannya gak sanggup akhirnya dia sengaja nyebrang dan ke tabrak"


Mereka mengangguk, "Tapi, masalahnya apa? " tanya pak Kevin tiba-tiba.


Ken menghembuskan nafasnya berat, "Ya mana kita tau pak! Dia aja gak cerita sama kita"


Pak Kevin menggaruk kepala nya yang tak gatal. Bu bunga menghela nafas panjang dan menyuruh mereka bubar, "Udah-udah! Kalian balik ke rumah besok kita ke makam Vannya bareng-bareng"


"Tapi bu, besok kan sekolah" Bukan Ken atau Amel yang protes namun Leon. "Pulang sekolah! Dan panggil Lesya buat pulang sono"


"Gak usah bu, saya di sini" Lesya menampak-kan dirinya yang baru saja keluar dari toilet. Nayla menarik senyumnya ke bawah, "Trus acaranya gimana bu? "


"Lagi berduka! Kapan-kapan rayain! Temen lagi ada musibah gak baik ngerayain ultah! " Nayla mengangguk saja mendengar suara tegas bu bunga.


"Asek.. Ibu kiw kayak pemimpin aja gaya-nya" Bu bunga mendelik. Bisa-bisanya Ken menggoda dirinya di saat-saat seperti ini.


Amel memukul lengan Ken, "Lagi berduka gak usah bercanda" Ken meringis.


"Bercanda dikit elah! Habisnya tegang amat" Luna memutar bola matanya malas, "Iya bercandaan lo pengen gw tusuk"


Ken mencibir, "Tusuk aja klo bisa" Luna beranjak dan mempraktekkan gaya menusuk dengan tusuk gigi yang ada.


"Udah-udah gak usah berantem! Kayak anak kecil aja kalian! Inget umur" lerai Farel. Jika Farel yang dingin namun tak sedingin Elvan baru angkat suara.


Mereka kembali ke rumah mereka masing-masing setelah diceramahi oleh bu bunga. Jangan lupakan karena bu bunga yang malas jika mereka terus berdebat.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2