Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
342: Kedatangan ALENA


__ADS_3

Elvan mengernyitkan alisnya bingung. "Ribet amat! " malasnya. Farel geleng-geleng kepala dan menepuk-nepuk pundak Elvan pelan bak teman baik.


"Van, kalau lo benar-benar sayang dan cinta sama bu boss kita, lo pasti gak akan keberatan sama sekali nanggung semua beban untuk dia. Karena menurut kamus laki-laki yang mencintai pasangannya dengan tulus, prioritasnya adalah pasangannya sendiri! " kata Farel angkat suara.


Valen hanya mengangguk setuju dengan ucapan Farel begitu juga dengan Ken. Mereka sedikit berbisik hingga tak terdengar oleh yang lainnya. "Tumben lo bijak Rel? Mana ucapan lo itu panjang bener lagi kayak serasa rel kereta! " ledek Ken. Farel hanya memutar bola matanya malas mendengar ledekan Ken.


"Semerdeka lo Ken! " malas Farel.


Tiba-tiba saja mereka semua terkejut dan menoleh ke arah pintu rumah. Rupanya suara melengking itu berasal dari anak perempuan kesayangan si pemilik rumah. Siapa lagi kalau bukan Elena?


"BUNDAAA... AAA, ELEN KANGENNN! "


"Hati-hati hon, " peringat Alam.


Namun sepertinya Elena tak mendengarkan ucapan sang suaminya. Mungkin efek rindunya, Elena berlari kecil dan berhamburan di pelukan sang bunda kesayangan yang sudah lama tak dia jumpai itu. Untung saja Mayang dapat menyeimbangi tubuhnya yang hampir terjungkal itu. Tak peduli lagi jika dia menjadi perhatian para remaja di sana. Karena menurutnya yang terpenting, rasa rindunya dengan sang bunda terobati.


"Kenapa bang kak Elen? " tanya Luna.


Alam hanya tersenyum kecil saja dan menunjukkan hasil checknya dengan Elena saat di rumah sakit tadi. Luna menerima dan segera membaca. Tentu saja Luna cengo dan menutup mulutnya tak percaya. Tangannya beralih menepuk-nepuk pundak Lesya namun tak ditanggapi oleh gadis itu. Sepertinya Lesya merajuk pada semua temannya!


"Sya-sya liat nih! Ck, LESYAAA... " panggil Luna berdecak kesal. Lesya hanya berdehem kecil saja. Tangannya masih sibuk memainkan ponselnya walau hanya sekedar menscroll aplikasi Instagramnya saja. Leon hanya geleng kepala lalu sedikit mendekat pada Luna. "Ngambek dia palingan! " bisiknya.


"Udah bagen elah, kak Elen kenapa bang? " tanya Lisa pada Alam yang masih tersenyum dengan wajahnya yang berseri-seri. Alam hanya menunjuk ke arah Luna saja. Dengan cepat Lisa beralih menatap Luna seolah meminta penjelasan.


"Liat nih! " kata Luna menyodorkan sebuah amplop pada Lisa. Tentu saja Lisa menerima dan mulai membaca isi amplop tersebut. Baik Revan dan Leon maupun Lisa hanya cengo hingga tanpa sadar menutup mulutnya tak percaya.


"Hahh?! " kompak mereka bertiga.


Elena yang masih menekuk sang bunda akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Mayang dengan wajah berkaca-kacanya. Mayang saja yang menatap wajah sang putrinya yang hendak menangis dibuat bingung sendiri.


"Elen nya bunda kenapa? "


Demi apapun intinya Elena benar-benar ingin menangis saat ini. Alam hanya tertawa pelan dan membawa Elena ke dalam dekapannya. Hancur sudah! Elena justru menangis dengan tepukan pelan dari Alam. Mayang saja dibuat bingung sendiri. Anaknya datang lalu peluk dia dan langsung nangis? Whatt?!


"Pano-pano liat nih! "


Revan menyerahkan isi amplop dan dengan segera dibaca oleh sang pemilik nama. Alisnya terangkat dan memijit kepalanya bingung. "Kakak hamil ngapa nangis? " bingung Elvan memecah keheningan.

__ADS_1


Elena yang menangis tiba-tiba saja beralih tertawa pelan. Mayang tambah bingung sedetik tersadar. Tahu anaknya suka jahil, sudah pasti tangisan Elena adalah prank saja. Dengan cepat Mayang nenjewer telinga sang anak sulungnya karena merasa ditipu.


"Eleenn, kamu prank bunda? Suka banget sih liat bunda panik ish! "


Elena hanya meringis dan berusaha lepas dari jeweran sang bunda. Alam yang tak tega, akhirnya kembali angkat suara dan berusaha melepaskan jeweran ibu mertuanya dari telinganya sang istri.


"Bun, kasian lepas aja ya? Kan anaknya lagi bawa cucu buat bunda! Takutnya cucu buat bunda kenapa-napa. " rayu Alam membawa kata cucu pada Mayang. Sontak saja wanita itu tersadar lalu melepaskan jewerannya dari telinga sang putrinya.


"Cucu? Maksudnya? Tadi kata Vano kamu hamil Len?! " tanya Mayang ragu. Elena mengangguk lemah saja dan mengusap daun telinganya yang memerah. Tanpa mempedulikan rasa malu lagi, Mayang sontak memeluk tubuh sang anak sulungnya dan meloncat kegirangan. Gimana tak girang? Lesya done, tambah Elena. 2? DUA CUCU DONG?!


O MY GOST ?!


O EM JI ?!


EMEJING ?!


Kegembiraan Mayang saat ini sudah tak dapat digambarkan sekedar dengan kata-kata lagi. Beralih menatap Lesya, sepertinya gadis itu masih belum sadar karena earphones yang menyumpal telinganya. Sontak saja mereka semua ricuh hingga Lesya terpaksa membuka earphonesnya dengan malas.


"Congrats kak! " kompak Letha dkk.


"Wahh, congratsss kak ipar! Akhirnya setelah nyocok tanem keluar juga hasil benih lo bang! " ledek Leon tertawa pelan. Namun sedetik Leon meringis karena kepalanya dijitak oleh Luna. "Ambigu anj*ng dengernya! Harusnya jangan nyocok tanem tapi gini ‘congratsss kak Elen moga baby sama induknya sehat sampe lahiran nanti. ' gitu! " tutur Luna.


"Jangan lupa nanti kita pake hastag begini, KAWALSAMPELAHIR! " gurau Revan. Ken juga ikut-ikutan saja menyahut gurauan Revan. "KAWALSAMPELAHIR! " sahutnya.


"Suara lo Ken kondisiin! " malas Nayla mengusap telinganya yang sakit mendengar ucapan kawalan itu. Ken hanya menyengir saja. "Hehe sorry, kak Elen congratsss sama hasil cekcok ranjangnya! " polos Ken tanpa dosa.


"Oh iya, kedengeran loh lagi ribut ranjang nyampe ke luar kamar waktu itu! Oh jadi ini hasil cekcoknya, good job kak tapi jangan lupa kerasin suaranya yah! " tambah Lisa memasang wajah polosnya.


Elena hanya tersipu malu mendengarnya begitu juga dengan Alam. Ayolah, mereka masih ingat jelas tentang kejadian memalukan itu. Lesya yang masih tak mengerti arah pembicaraan akhirnya angkat suara. "Apaan yang cekcok? " tanyanya bingung hingga semua pasang mata mengarah padanya.


"Itu kak Elen hamidun! " jawab Luna.


Lesya hanya menganga saja. "Hah? " cengonya. Ayolah, otaknya masih belum terkoneksi sekarang. Akhir ini entah itu sengaja atau tidak, Lesya terkadang mengalami gangguan lola alias loading lama, wkwk..


"Helloww lo hah hoh mulu, maksud gw tuh kak Elen udah kasih lo ponakan bege Sya! Dedek bayi loh? Tau gak? Hasil cekcokan ranjang kak Elen sama bang Alam lohh Sya! " gemes Luna menjelaskan dengan gregetan sendiri karena melihat wajah Lesya yang masih tak connect itu.


Lesya melototkan matanya. Sontak saja dia belari kecil menghampiri kakak iparnya dan memeluk tubuh yang setara dengannya itu. Lesya tuh masuk golongan tinggi sementara Elena golongan sedang alias biasa aja. Jadi deh mereka tingginya setara walau Elena lebih tua.

__ADS_1


"Aaaa... Congratsss kak! Lain kali kasihnya banyak-banyak kalau perl--- "


Ucapan Lesya terhenti mendengar penyelaan dari Luna. "Hehh, lo kira gampang apa lahiran nanti! Busyet langsung booking dong! " geleng Luna menyela. Sudah tau saja dia Lesya ingin berkata apa. Leon hanya cengo saja. Ini mengapa saling bertukar nada? Biasanya Lesya lah yang menyela dan menasehati. Sekarang? Luna justru yang menasehati dan Lesya yang absurd.


"Waitt, ini ngapa jadi beda sih? Biasanya yang absurd tuh Luna dah ngapa jadi elo Sya yang absurd? " heran Leon cengo. Lesya menatap datar Leon setelah melepaskan pelukannya. "Gw tandain mulut lo Yon! " datar Lesya.


"Lah?! Cuman nanya cok gw?! " bantah Leon tak terima. Lesya acuh saja menanggapi hal itu. Luna dan Revan yang berada di sebelah Leon hanya tertawa kecil. "Hayoloh Yonn... " serempak Luna dan Revan meledek.


Elena yang menjadi topik di sana hanya tertawa kecil saja. "Iya-iya makasih ya do'anya semua! " tulus Elena angkat suara. Alam hanya tersenyum saja dan merangkul pinggang sang istrinya itu.


"Gak Leon, gak Lesya, gak bang Alam, semuanya BUCEENNN! Please deh, di sini tuh ada orang! " ledek Luna mengerucutkan bibirnya manyun.


Leon dan Lisa hanya tertawa saja mendengar ledekan Luna. "KODE KERAS PAL! " kompak dua kekasih itu balik meledek Luna.


"Hah? Iya nanti gw kurung kok alun-alunnya! " balas Valen menanggapi ledekan sepasang kekasih itu. Luna hanya menatap horor Valen saja. Sang empu yang ditatap justru mengalihkan pandangannya dari tatapan horor itu.


"Pajak!! " pinta Lesya.


"WOOO, PAJAK-PAJAK! " antusias Revan mendukung permintaan bu bossnya itu. "Pajaknya kakak boss! " antusias Ken mengikut juga. Fyi, kakak boss adalah panggilan dari anak-anak TW menyebut sang kakak dari boss mereka. Kalau Lesya? Kalau dia mah panggilannya ya bu boss!


"Iya-iya, gw traktir dah makan dimana pun! Request coba. " kata Alam pasrah. Mayang hanya geleng-geleng kepala saja mendengar banyak requestan dari para gerombolan remaja itu.


"MEKDI! "


"RESTO! "


"TRAKTIR KE MALL BANG! "


"Shutt up please! Gak enak tau kalau traktir buatan orang! Mending buatan sendiri tuh, lebih seru! " request Lesya tersenyum tanpa dosa. Alis Alam berkerut bingung. "Maksud lo gw yang masak? " tanya Alam memastikan.


Lesya hanya mengangguk polos saja. Tentu saja hal itu membuat Alam cengo. Dia dapat memasak karena dia tipikal lelaki mandiri. Namun jika begini? Untuk gerombolan anak-anak remaja di depannya? Oh no, pasrah dia mah!


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Gayss boleh minta dukungan like komennya gak? Author lagi ikut event dan mudah-mudahan aja author bisa menang. Dan dimohon dukungannya banyak-banyak biar author semangat nulisnya lagi yah😊

__ADS_1


Bebas kok asal jangan nurunin rate dan jumlah like yah gays. Dimohon dukungannya ya buat yang mau aja. Dan buat yang gak mau jangan hujat yah. Thanks buat yang mau bantu author, love u kalian semua reader's author😘


__ADS_2