Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
348: Mencari


__ADS_3

Sekolah tampak ramai sekarang. Halaman depan sekolah Gregus sudah diisi oleh para ketua dan wakil ketua kelas. Anggota OSIS juga ikut bergabung di sana karena mereka akan membagi ruang dagang untuk carnaval nanti.


Setelah diskusi kemarin masih tak ada hal-hal aneh yang terlihat. Namun hanya satu yang membuat seorang gadis bingung dengan tingkah salah satu sahabatnya. Leon, tiba-tiba saja menjauh dari jangkauan Lesya dan Luna. Kejadian ini tak lama sebenarnya. Baru saja terjadi saat dua hari yang lalu. Mereka yang dijauhi itu juga tampak terheran-heran dibuatnya. Selama ini, mereka tak merasa bersalah atau melakukan kesalahan.


Letha? Kabarnya gadis itu sudah kembali ke mansion sejak keesokan hari setelah berdiskusi. Dadanya sesak dan tak sanggup melihat pemandangan dimana sang kakak dan lelaki idamannya selalu bersama alias berduaan. Padahal mereka tak saling bermesraan atau menebar uwu-uwuan kepada Letha. Oke abaikan!


Oke lanjut...


Hari ini adalah hari dimana sekolah sedang didekorasi oleh anggota OSIS. Satu hari sebelum carnaval tiba lebih tepatnya. Tujuan ketua kelas dan wakilnya dari masing-masing kelas ikut untuk membantu agar ide-ide mereka mendekorasi ruang dagang kelas mereka tertuang dengan baik dan rapi.


Hari masih pagi dan seorang gadis dengan penampilan sedikit acak-acakan merasa malas jika harus ikut berpartisipasi. Dia bukan anggota OSIS loh. Lagipula mengapa tak sore atau pulang sekolah nanti? Setidaknya dia mengumpulkan energi dahulu sebelum ikut bergabung.


"Woy kenapa gak nantian aja sih nyusunnya? Masih pagi loh! " protes Lesya berdecak. Arman yang kebetulan berada di sekitar gadis itu hanya geleng-geleng kepala saja. "Banyak protes lo! Ini cuman ngatur bangkunya nanti aja kok gak ngedekor. Kalau bisa nanti ajak anak-anak kelas buat dekor ruang kalian sesuai yang sudah dibagi ya. " jelas Arman pada semua ketua kelas yang ada dari kelas X-XII.


Mereka hanya mengangguk siap saja. Tentunya para ketua kelas itu sangat menantikan hari-hari yang menjadi carnaval sekolah mereka. Berbeda dengan Lesya yang rasanya tak ingin menjabat sebagai ketua kelas lagi. Dia tak mau waktunya terbuang hanya karena ikut bergabung melakukan acara carnaval.


"Ok, kelas gw udah booking kan di samping taman? Yaudah gw balik bye! "


Setelah berpamitan, Lesya dengan segera meninggalkan mereka begitu saja tanpa izin. Letha yang melihat kepergian gadis itu diam-diam hanya menyunggingkan senyumnya saja. Entah itu adalah sesuatu yang baik atau buruk, tiba-tiba saja Lesya yang berjalan santai menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Dia merasakan ada hal besar yang akan terjadi di depannya sekarang ataupun nanti.


Tak jauh dari Letha dan Lesya, Farel dan Elvan yang menyadari senyum Letha yang penuh makna menatap Lesya merasakan ada rencana tersembunyi untuk gadis itu. Farel yang memang entah kebetulan tiba-tiba menatap Letha dan Elvan yang memang menyadari gelagat aneh Letha mengenai sang istrinya. Hal besar dapat dia rasakan akan terjadi entah itu kapan.

__ADS_1


...~o0o~...


Pelajaran pertama sudah usai. Lesya yang masih melamun memikirkan entah apa itu seraya memainkan pulpennya tiba-tiba saja tersentak menoleh karena Leon sedikit memundurkan kursinya dari depan meja. Karena dia berada di belakang Leon, tentu saja dia terkejut dengan tingkah lelaki itu yang langsung pergi begitu saja keluar kelas. Ini sudah ketiga harinya!


"Eh Lis, tuh anak kenapa sih? "


Lesya beralih bertanya kepada Lisa yang berada di depan Luna. Lisa, gadis itu menoleh dan mendesis kecil. Dia menggeleng tak tahu dengan pertanyaan Lesya itu. Entah merasa benar atau salah juga, Lisa merasakan hal yang sama dengan Luna dan Lesya. Dia merasakan jika Leon mulai sedikit cuek padanya.


Selama ini Lisa tak melakukan suatu kesalahan apapun mengapa Leon dapat semarah itu? Dia sendiri saja bingung karena terkadang pesannya hanya dibalas secara singkat saja. Bahkan Leon yang selalu meneleponnya tiba-tiba saja mendadak sulit dihubungi. Moodnya down mengingat hal itu. Leon juga sudah jarang menggombali dia dengan banyaknya kata recehannya yang mampu membuatnya terbang meleleh.


"Masa lo pacarnya gak tau? Serius nih, kalian ngerasa gak sih kalau dia tuh ngehindar sama kita bertiga? Emang kita ada salah ya? Biasanya gak nyampe segininya dah? " tanya Luna lagi menyahut. Perkataan Luna itu membuat ketiga gadis itu larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Hening!


"Udah berapa hari sih? " tanya Luna setelah beberapa menit terdiam. Gadis bercampur darah Tionghoa itu meletakkan wajahnya di atas tangannya. Lisa hanya mengangkat ketiga jarinya saja menanggapi pertanyaan Luna. Gadis bernama Elisa Vellyna Grizi itu melipat tangannya di depan dadanya.


"Tiga ya? Kita ada salah gak sih? Biasanya ya tuh anak gak nyampe segininya tega membiarkan sahabatnya diam terkacangi! Masa iya sih Leon marah sama gw karena waktu kita diskusi karnaval gw ledekin dia gak gentle? Maksud gw itu kan baik, biar Leon gak perlu ketar-katir ngadepin bokap Lisa walau diam-diam pacaran! " cerocos Luna mencoba mengingat apa kesalahannya pada Leon.


"Itu hal sepele Lun, gak mungkin Leon nyampe segitunya. Biasanya juga abis diledekin langsung cengar-cangir gak jelas! " kata Lesya yang tak percaya Leon terbawa perasaan mengenai perkataan Luna itu. Lisa yang menghadap pasangan sahabat itu tanya mengangguk setuju dengan perkataan Lesya. Ya kali Leon tiba-tiba jadi baperan begini?


"Nah bener tuh Lun kata Lesya! Eh iya Sya, kok lo tumben gak pakai kalung akhir ini? Atau emang sengaja lo simpen biar gak hilang? " polos Lisa beralih bertanya pada Lesya. Sang empu itu sontak meraba lehernya. Benar, tak ada kalungnya itu. Wah, gawat ini! Lesya takut dia justru diamuk besar-besaran sama Elvan nanti.

__ADS_1


"Eh iya! Kalung gw mana weh? Gw gak pernah lepas perasaan deh! " panik Lesya mulai beralih merecoki isi tas bahkan laci mejanya. Luna yang mengerti pun melakukan hal yang sama dengan Lesya, merecoki isi tasnya. Barangkali kalung yang Lesya maksudada di tasnya.


"Gimana Sya ciri-ciri kalung lo? Siapa tau ketemu di gw! " tanya Luna tanpa mengalihkan pandangannya dari laci per laci meja kelas itu. Yah, dapat dibilang Lesya dan Luna mulai mencari dan merecoki satu per satu tas ataupun laci meja para siswa-siswi di kelas mereka.


Lalu Lisa? Gadis itu juga ikut membantu dengan mengambil ponselnya dan mencari melalui sambungan camera. Siapa tahu terlihat jelas di camera ponselnya kalung yang dicari oleh Lesya.


"Kalung itu isinya cincin pernikahan gw sama Papan! Warna emas kemerahan gitu terus ada kata 'Elvano G' di cincin dalam kalung gw itu! " kata Lesya dengan wajahnya yang mulai panik karena dia tak menemukan barang emas tersebut.


"Kita tanya ke sekretaris OSIS aja biar bantu nyari." usul Lisa tanpa mengalihkan pandangannya. Lesya menghela nafasnya. Dia masih belum menjawab usulan Lisa. Tangannya sendiri sibuk mengobrak-abrik laci meja bahkan hingga laci meja guru.


Ting!


Lisa yang notabenya memegang ponsel, dia membuka ponselnya dan terkejut dengan pesan yang masuk. Grup sekolah, dari sana lah pesannya. Lisa membaca seluruh komentar dan mencoba mencari kebenaran di aplikasi media sosialnya yang berlogo camera dengan warna ungu, pink fanta dan jingga menyatu.


"Syaaa, liat-liat nih! "


Lisa menyodorkan ponselnya yang menyala kepada Lesya. Sang empu nama itu hanya diam sejenak karena ragu. Setelah menerima ponsel milik temannya, Lesya mengepalkan tangannya erat dengan apa yang dia lihatnya.


Bahkan Luna yang menyadari keterdiaman sang sahabat bingung sendiri dibuatnya. Diraihnya lah ponsel yang berada di genggaman Lesya dan melotot saat melihat isi dari ponsel pintar itu.


Mau tahu kenapa?

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2