Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
3: Lara Pindah


__ADS_3

Sesampainya di cafe, mereka langsung berdecak kagum akan keramaian pengunjung cafe. Berbeda dengan Lesya yang kagum akan desain cafe yang persis dengan seleranya. Dia tak mempedulikan ramainya pengunjung cafe.


"Gilα, rame bener!" kagum Amel.


"Iya, padahal baru buka tiga minggu yang lalu, loh!" timpal Nayla juga berdecak kagum.


"Secepat itu? Tiga minggu buka, lalu seramai ini pelanggannya?" decak Letha tak percaya.


"Wajar, sih. Gw pernah makan di sini. Beh, makanannya enak semua!" timpal Luna memberi tahu.


Lesya hanya diam mengamati satu sudut ke sudut lain. Rasanya seperti dia ingin memiliki cafe tersebut. Interiornya yang sedikit kuno, bergaya Eropa, tetapi tetap terlihat campuran Asia dan terlihat modern.


"Oit, Sya, ngapain lo? Liat tuh mata lo nyampe mau keluar!" panggil Nayla.


"Desainnya tipe gw banget. Jadi kepengen beli ini cafe, deh." jawab Lesya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Heleh. Mending masuk aja dulu, liat-liat sambil numpang makan terus kabur." sahut Luna.


"Wes, gas lah!" kikik Letha.


"Heh, parah lo pada! Inget woi, di sini CCTV-nya di mana-mana ada!" celetuk Amel yang waras sendiri.


"Bakar aja CCTV-nya biar aman." sahut Nayla.


"Ya Tuhan, kagak waras semua." lirih Lesya.


"Hah? Lo bilang apa, Sya? Gw kagak denger." tanya Luna.


"Enggak. Tadi gw mau masuk, tapi lo semua pada gibah diluar." jawab Lesya.


"Yaudah, kuy masuk!" ajak Nayla.


Mereka semua pun masuk ke cafe tersebut dan memilih kursi yang di pojok. Kursi yang masih tersisa hanya yang dipojokkan saja. Merekapun memesan makanan dan minuman sambil asik bercanda ria satu sama lain. Hingga langit sudah hampir gelap menandakan hari sudah hampir malam.


"Gays, gw pulang dulu, ya. Udah malem nih. Kapan- kapan ke sini lagi, ya?" pamit Luna.


"Okey, gw juga balik. Eh, tapi jadi gak, Tha? " tanya Amel.


"Oh iya, Kak aku pulang ke rumah NAT, ya?" izin Letha dan diangguki Lesya.


Kini hanya tersisa Lesya yang masih menghabiskan minuman bobanya ditemani langit gelap dengan rembulan bintang. Sudut bibir Lesya terangkat kecut mengingat kenangan masa kecilnya.


"Haiss, sudahlah. Lebih baik gw balik aja." gumam Lesya pada dirinya sendiri.


...~o0o~...


Sesampainya di rumah, Lyra segera turun dari mobilnya dan hendak membuka knop pintu rumahnya. Namun, niatnya diurungkan, karena mendengar suara isakkan sang mami.


"LEPASIN SAYA BAJING*N!" pekik sang Mami, Mami Mila namanya.


Plak...


"DIAM! INGAT SAYA BISA SAJA BERTINDAK LEBIH DARI INI!" bentak sang Papa, biasa dipanggil Papa Gilang.


Mila, langsung diam tak berkutik. Bisa saja dia melawan, tapi anak-anaknya akan jadi korban. Dia tak mau hal tersebut terjadi. Gilang hanya menyerigai puas akan penurutan Mila.


Ceklek...

__ADS_1


Lyra membuka pintu dan melihat pemandangan yang biasa dilihatnya. Pemandangan yang di mana sang Mami diikat disebuah kursi ditambah kaki dan tangannya yang terikat. Dia benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran gila Gilang—sang Papa.


Gilang dan Mila menoleh ke arah pintu dan mendapati Lyra yang menatap mereka datar. Gilang menyerigai jahat dan mendekati Lyra yang berjalan menuju Mila.


Sret...


Disaat ingin membebaskan Mila, Lyra diseret menuju gudang secara kasar oleh Gilang. Dirinya yang sudah tau akan dibawa kemana, hanya pasrah akan keadaan.


Mila hanya bisa menangis sambil berusaha membebaskan diri. Dia tak rela anaknya dijadikan tumb*l karena dirinya. Para pelayan hanya diam ditempat, karena jika mereka ikut campur maka mereka sendiri yang kena. Ditambah mereka akan dilaporkan ke pihak berwajib oleh Gilang.


Bugh...


Saat sampai ke dalam gudang, Gilang segera mendorong paksa Lyra ke dalam hingga membentur tembok.


Bugh...


Srett...


Plak...


Di sinilah penyiksaan Lyra dilakukan. Diseret, dipukul, dicakar, ditendang itu semua hal biasa yang dilakukan Gilang terhadap Lyra. Dia mencurahkan semua amarahnya melalui Lyra.


Lyra hanya diam, tapi dia diam bukan artinya menyerah. Namun, karena dia tahu, jika dia melawan, kembaran sekaligus adiknya akan jadi tumb*l seperti dirinya.


"Diam di sini, anj*ng pintar!" ucap Gilang yang menyudahi aktivitasnya.


Gilang segera pergi dari gudang tersebut dan meninggalkan Lyra sendirian di sana. Gudang tersebut dikunci dengan rapat sehingga Lyra tak dapat keluar dari sana.


Lyra hanya menghela nafas lesu sambil berjalan ke arah kotak P3K yang tersedia di sana. Dengan langkah bertatih-tatih dan berusaha sekuat tenaga, akhirnya Lyra berhasil ke tempat kotak P3K. Hal itu disiapkan oleh Mila sewaktu-waktu sang anak disiksa oleh Gilang. Benar saja P3K tersebut digunakan.


"Perset*n lo! Oh, $hitt, sakit!" ringis Lyra mengobati lukanya di tangan, kaki dan kepalanya.


...~o0o~...


Matahari telah bersinar. Lyra terbangun dari tidurnya. Dia melihat sekelilingnya yang ternyata di dalam gudang. Dilihatnyalah jam yang tertera di sana sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Jam delapan? Pasti sekolah udah tutup, enaknya ngapain, ya? Ke cafe ajalah, udah dua hari gw gak ke sana." Lyra bangkit dan membuka pintu yang sudah terbuka.


Jika hari sudah pagi, Gilang akan membuka pintu gudang karena dia lebih suka penyiksaan Lyra dilakukan malam bukan pagi.


Ceklek...


Lyra berjalan menyusuri rumahnya dan sudah tiba di kamar miliknya sendiri. Dengan langkah cepat, Lyra bersiap-siap mandi dan kini memakai hoodie navy yang cukup longgar dan celana hitam oversize. Dia memilih oversize agar lukanya tak terlalu perih.


Dengan cekatan Lyra mengambil kunci motornya dan turun ke bawah dengan muka datarnya.


Dilihatnyalah bahwa Gilang tak berada di ruang makan, pertanda dia sudah berangkat ke kantor. Masalah maminya? Pasti maminya pergi entah kemana. Begitulah kehidupan keluarga Lyra.


Dengan langkah cepat, Lyra berjalan ke arah parkiran khusus motor. Dan dia menancap gas ke arah tempat kerjanya.


Brumm...


Setelah sampai di cafe, Lyra segera memarkirkan motornya dan melepaskan helmnya.


Ceklek...


Lyra langsung berjalan menuju dapur dan mengenakan celemek nya. Bagiannya adalah petugas cuci piring.

__ADS_1


"Baru dateng? Kemaren kemana aja lo?" sinis Yara.


Lyra tak mempedulikan omongan Yara. Telinganya sudah kebal bagaikan baja akan ucapan manis dan pedas seseorang. Justru, dia pergi ke dapur untuk mencuci piring.


"Heh, lo denger gw gak sih anj*ng? Inget ya, gw bisa aja mecat lo dari sini!" sombong Yara.


Lyra tetap melakukan pekerjaannya dan menganggap omongan Yara tersebut angin lewat. Karena geram, Yara langsung mengangkat tangannya hendak menampar Lyra. Sayangnya gagal, Lyra berhasil memegang tangan Yara dan mendorong Yara ke tembok hingga terbentur.


Walaupun hanya dengan mendorong saja, Yara pingsan karena kekuatan Lyra mirip seperti kekuatan para lelaki, bagi Yara. Inget! Cuman bagi Yara saja.


"Ck, lemah! Segitu aja udah pingsan, kalau lebih dari itu mungkin udah mαti!" sinis Lyra.


Lyra melanjutkan aktivitasnya tanpa mempedulikan Yara yang pingsan tak berdaya. Saat pelayan yang lain membawa nampan, dia terkejut bahwa managernya pingsan. Pelayan tersebut langsung menyerahkan nampan tersebut kepada Lyra dan berlari ke depan mencari pertolongan.


Lyra hanya menerima saja. Toh, isi dari nampan itu memang untuk dicuci, bukan dimakan. Para pelayan yang lain mendekat kesana dan menggotong Yara keluar. Mereka berniat membawa Yara ke rumah sakit, takut ada hal yang tak diinginkan.


Sekitar jam sembilan malam, Lyra selesai melakukan pekerjaannya di cafe dan bersiap untuk pulang.


Ceklek...


Lyra pun menancap gas dan membelah keramaian di kota. Setelah menempuh waktu 30 menit, akhirnya dia sampai ke rumahnya. Setelah memarkirkan motor dan melepaskan helmnya, Lyra berjalan ke rumah.


Ceklek...


Lyra terkejut akan kedatangan Lara di rumah. Pasalnya, Lara sangat malas menginap di rumah. Dia lebih suka menginap di rumah temannya.


"Lho, Kakak baru pulang? Emang dari mana?" tanya Lara yang tak tahu tentang identitas kakaknya sekaligus kembarannya.


Lyra tersenyum paksa sambil meyakinkan sang adik, Lyra menjawab, "Keluar bentar jalan-jalan nyari angin," Lara mangut-mangut percaya saja.


"Kamu mau kemana? Kok bawa koper gitu?" Lyra mengalihkan pembicaraan takut dicurigai sang adik. Memang Lara menyeret koper besar, seperti orang mau pindahan.


"Eh iya, aku mau pindah ke rumah NAT, Kak," jawab Lara tersenyum.


Deg


Antara perasaan senang dan sedih yang Lyra rasakan. Dia senang jika adik sekaligus kembarannya tak disakiti oleh Gilang. Cukup dirinya saja yang tersiksa. Namun, dia sedih jika kehilangan sang adik. Dia memang sudah terbiasa ditinggal, tapi hatinya berkata tidak.


"Aku udah izin sama Mami kok, Kak. Oh iya, kalau Papa nanyain aku, bilang aja aku pindah ke NAT, ya?" lanjut Lara.


Lyra tersenyum kecut dan mengangguk. Biarlah sang adik pergi asal tak disakiti oleh Papanya itu. Begitulah kira-kira pikiran Lyra.


"Mau di antar gak?" tawar Lyra.


"Gak usah, Kak. Itu ada supirnya Nayla di depan." Lara menunjuk ke salah satu mobil yang memang supirnya Nayla.


"Yaudah, hati-hati, ya! Besok kita ketemu lagi. Jaga kesehatan, jangan lupa teratur makan dan kalau butuh sesuatu bilang sama Kakak, ya?" pesan Lyra.


"Iya Kakak Lyra yang cantik. Lara pergi dulu, ya? Mwahh," Lara menguncup pipi Lyra.


"Sini kopernya, gw bawa. Yuk, gw antar ke luar!" ucap Lyra. Lara hanya mengiyakan ucapan sang kakak.


Seperti janjinya, Lyra mengantarkan Lara ke depan rumah. Koper Lara sudah dimasukkan ke dalam bagasi.


"Inget, kalau butuh uang minta sama Kakak!Jangan minjam ke orang lain, itu namanya ngutang. Jangan lupa jaga kesehatan, makan yang teratur, tidur yang cukup. Jangan keluyuran malam-malam. Paham? " pesan Lyra.


"Paham Kakakku. Udah ya, babay...." Lara melambaikan tangannya ke arah Lyra. Lyra pun membalas lambaian kembarannya.

__ADS_1


Perlahan Lara meninggalkan perkarangan kediaman Fyo. Sementara Lyra sudah kembali ke kamarnya sambil tersenyum kecut di balkon kamarnya. Perlahan rasa kantuk sudah terasa bagi Lyra. Lyra pun segera beranjak ke kamarnya dan terlelap di kamarnya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2