
A Story of Aleesya
Episode 395: Perebutan Kekuasaan
Sesuai rencana, kini Lesya berjalan dengan dituntun oleh Sella dan Mily. Walau terasa asing, Lesya tetap ingin membantu Galang yang hendak kembali merebut takhta warisnya.
Iyap! Jadi Galang beralasan jika mereka akan pergi ke rumah aslinya dengan alasan perebutan kekuasaan warisan. Bukan apa-apa tapi pada dasarnya kedua orang tua Galang yang sudah lama meninggal menyuruh satu asistennya untuk tak memberikan kekuasaan warisan sebelum adik yang dihilangkan kedua kembaran itu kembali.
Dan kini mereka dapat kembali ke sana dengan Lesya yang merupakan saksi sekaligus pewaris selanjutnya sebelum Justine. Lesya pun setuju walau tak diberitahu jika dia adalah pewaris selanjutnya. Galang sengaja tak memberitahu karena dia tak ingin Lesya tiba-tiba menolak rencananya.
Gilang juga pasrah saat membawa Lesya pergi karena bagaimana pun juga dia dan saudara kembarnya, Galang harus merebut apa yang seharusnya milik mereka. Dengan Lesya, mungkin masih bisa kan? Ya harus, harus bisa!
Sebuah mobil yang mereka tempati kini sudah memasuki halaman rumah mewah yang terletak di pusat kota. Perlahan mereka turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu masuk rumah tersebut.
Melihat Lesya yang kesulitan berjalan walau sudah dituntun Mily juga Sella, dengan inisiatif tinggi Galang mengkode keduanya agar dia saja yang mengurus. Sella dan Mily hanya mengangguk pelan saja saat melihatnya dan beralih memberikan tangan Lesya pada Galang.
Berjalan di belakang ayah dan anak itu, Gilang yang melihat hanya memutar bola matanya malas saja. Memang, abangnya ini kini berubah dan yang membuatnya muak adalah sifat manis Galang walau ditutupi dengan muka datarnya. Kalau kata Gilang, semua itu adalah drama.
"Nanti, jangan dengerin anak setaan ngomong! Di dalem ada kurang dari 4 anak keturunan setaan yang bakal ngelakuin perlawanan perebutan warisan ini, paham? " bisik Galang pelan agar tak didengar yang lainnya kecuali Lesya.
"Hm," angguk Lesya paham.
Bukan tanpa alasan Lesya membantu. Namun dia mau nama papinya juga mendapatkan keadilan walau hanya sekedar di lingkungan keluarganya. Dia tak mau nama papinya terhapuskan begitu saja oleh pihak keluarga asli.
Charlie Gatara Marvoell, nama asli sang papinya. Pemilik nama itu membutuhkan keadilan juga dalam pembagian warisan. Bukan matrealis. Dia tahu jika tak ada gunanya jika harta itu diberi nama Gatara alias Argantara. Namun setidaknya, kedua saudara kandung sang papi mendapatkan keadilan.
Lesya tahu selama ini harta milik keturunan marga Marvoell, diambil alih oleh saudara angkat Galang. Memang kedua orang tua ayah kandungnya mengangkat sebuah anak menjadi anaknya agar keturunan mereka tak punah. Padahal, anak kandungnya dia asingkan di negara orang. Ckck, kejam!
Lesya juga tahu kata-kata 'anak setaan' yang diucapkan Galang adalah saudara angkat yang dimaksud. Dan itu sebabnya Lesya hanya mengangguk paham saja.
Mendengar adanya tamu yang datang, dengan segera seorang lelaki di sertai dengan keluarganya datang menghampiri mereka. Mereka cukup terkejut saat melihat wajah Galang yang merupakan anak dari pemilik rumah yang asli. Tentu saja mereka mengingat siapa anak kandung pemilik rumah.
Tak hanya itu bahkan seorang lelaki yang bertugas menjadi asisten pemilik rumah juga datang karena dia tahu Galang akan kembali. Ya, sebelumnya Galang sudah memberitahu jika dia akan kembali sesuai janjinya beberapa tahun lampau.
"Charlos, is that you? (Charlos, apakah itu kamu?) " tanya lelaki itu.
__ADS_1
"Yeah, it’s me! (Ya, ini aku!) " jawab Galang.
Fyi, nama asli Galang adalah Charlos Marvoell. Jadi sebagai pendonor Lesya nanti, dia menggunakan nama itu agar terkesan barat bukan Indonesia. Lesya juga yang menyadari jika nama asli ayah kandungnya adalah Charlos, seketika di dalam benak, tersimpan rasa curiga jika sang pendonor adalah daddynya sendiri.
"And than, where is Charles a naughty boy? (Lalu, di mana Charles si bocah nakal itu?) " tanyanya lagi. Pemilik nama yang dicari itu tampak mendengus tak terima saat kembali dikatai ‘bocah nakal’ oleh lawan bicaranya itu.
"I’m not naughty boy Will (Aku bukan bocah nakal Will)," bela Gilang.
Iyap! Di negara asalnya, Gilang biasa dipanggil Charles Marvoell. Dan untuk marga ‘Erthan’ sebenarnya adalah marga baru untuk mereka. Dan semua di awali oleh Galang sendiri tanpa bantuan orang lain. Itu sebabnya Galang patut mendapatkan gelar bahwa dia adalah salah satu pembisnis tersohor.
Pemilik nama Will tampak tertawa pelan. Usianya bertambah tua. Beruntung amanah majikannya dia jaga dengan baik. Dan kini tamu terhormatnya sudah datang sebelum dia pergi abadi menyusul majikannya. Setidaknya, waktu yang selalu dia tunggu sudah tiba!
"Can you speak Indonesian? (Bisakah kamu berbicara Bahasa Indonesia?) " tanya Lesya datar. Will mengerutkan alisnya bingung dengan kehadiran Lesya.
Gadis pemilik nama Aleesya itu tampak semakin mengeratkan genggamannya pada lengan kekar Galang karena dia tak tahu bagaimana bentuk rupa yang lainnya. Galang sendiri sama sekali tak masalah begitu juga dengan Sella.
"Yes, I can! " jawab Will. "Oh iya, mari masuk semua," lanjut Will mempersilahkan mereka masuk. Mereka hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu. Gilang tampak tidak suka sekaligus emosi saat melihat bingkai foto-foto keluarga mereka sama sekali tak terpajang.
"Will, kenapa semua foto kami gak ada? "
"Huhh, orang itu! Gw pastiin kedepak dari rumah kalau semua udah berubah! " kesal Gilang dengan logat Indonesianya.
Mily yang mendengar mendengus sebal. "Moncongmu! Depak-depak, foto adek kandung lo aja lo sendiri yang depak! Untung anaknya yang balik mungut, rasain sih ini karma lo." ketus Mily.
"Ya mana gw tau kalau dia adek gw?! Lagian tuh anak(Lesya) gak bilang." ucap Gilang membela dirinya sendiri. Mily hanya melotot sebal saja. Entah sejak kapan dia lebih membela keponakannya dibanding Gilang yang pernah masuk dalam list ‘cogan tampannya’.
Galang dan Sella yang menuntun Lesya sama sekali tak menanggapi keributan pasangan di depan. Sudah biasa, besok juga akur lagi kok mereka. Berbeda dengan Will yang sama sekali sedikit tak paham dengan keributan keduanya.
..._________________...
Di sebuah ruangan dengan nuansa putih berdominasi abu-abu kini diisi oleh dua pihak keluarga. Tiga tatapan tajam saling beradu seolah tak ingin kalah saat ini. Ruangan dingin itu terasa lebih mencekam saat di dominasi beberapa tatapan tajam ataupun sangar.
Bahkan ruangan itu sama sekali tak menggunakan bahasa Indonesia. Mereka terkadang mengumpat dengan bahasa asal mereka. Entah Prancis ataupun Indonesia. Seperti nama hewan, mungkin akan dilibatkan dalam hal ini.
"Bukankah mereka tidak diperbolehkan kembali Will? "
__ADS_1
Ben, saudara angkat Gilang yang kini mewarisi sebagian harta gono-gini keluarga yang mengasuhnya kini angkat suara. Ben juga tampak tak senang dengan kedatangan dua saudara kembar itu karena takut posisinya terancam.
"Ya seharusnya begitu! Tapi sesuai perjanjian, mereka diperbolehkan masuk dan kembali seperti semula dengan syarat menemukan frère cadet(adik laki-laki) mereka. Jika bukan adiknya, pewarisnya juga bisa." jelas Will dengan bahasa Prancisnya.
[NB: Pewaris yang dimaksud itu kayak keturunan. Jadi maksudnya di sini keturunan Arga-Gatara. Di sini juga bisa juga disebut anaknya.]
"Tak adil! Saya dan anak saya sudah terlanjur mengurus perusahaan dan kami tak bisa remettre(menyerahkan) begitu saja pada mereka dong! "
Ben yang tetap tak ingin posisinya tergeser dengan tanggap membuat alasan seolah dia yang tak dihargai. Memang benar jika pria berkepala hampir lima itu memiliki satu anak perempuan yang berbeda tiga tahun dengan Lesya. Bahkan usia Ben juga lebih tua dibandingkan usia Galang.
"Lebih tak adil di saat pewaris asli sama sekali tak mendapat bagiannya, oncle." sahut Lesya dengan nada datarnya. Bahkan dia tak menggunakan bahasa gaulnya saat berdebat saat ini. Dia tahu jika lawan bicara yang sedang protes itu tak dapat berbahasa Indonesia.
[Oncle sama Uncle beda ya. Oncle panggilan Prancis dalam menyebut paman. Uncle juga artinya paman. Tapi di cerita ini, panggilan Uncle itu khusus untuk Gilang dari Lesya.]
"Kita tak masalah tak mendapat saham, tapi kita ke sini hanya mempertahanan yang seharusnya les notres (milik kami), Ben! " tekan Galang.
Ben tertawa sumbang. Sungguh, pria itu tak ingin tergeser dengan posisi Gal—maksudnya Charlos. Ben pernah mendengar jika perusahaan yang dibangun pria itu hampir memasuki top International. Dan dia tahu sebesar apa perusahaan bernama Erthan dan Fyo itu.
Sementara perusahaan yang dia jalani, berada jauh di bawah Galang. Bukan berpihak pada Galang, namun perusahaan pusat keluarga angkatnya, Ben belum bisa mendapatkannya. Bahkan untuk menjadi staff biasa di kantor pusat saja dia tak diperbolehkan oleh Will. Why? Karena Will tahu bagaimana tamaknya Ben akan uang.
"HAHAHA… Dasar rakus! Kau punya perusahaan milikmu kenapa harus meminta kembali pada kami hah?! " ketus Ben dengan wajah memerah.
"Karena perusahaan yang berada di tanganmu hanya menimbulkan kerugian besar, petite souris(tikus kecil) " ketus Gilang. Dia juga sudah mendengar kabar perusahaan milik keluarganya yang beberapa kali mengalami tragedi korupsi.
"Jangan sombong kamu! Perusahaanmu bukan punyamu tapi punya orang lain." ledek Ben yang mendengar kabar jika perusahaan Fyo bukan milik Gilang. Mengepalkan tangannya erat, Gilang menunjuk ke arah Ben yang tersenyum seolah meledek dirinya.
"LO?!!! "
"Heh, setidaknya uncle ngambil alih perusahaan papi biar perusahaan papi gak down, stupid! " lantang Lesya membela Gilang hingga sang empu membulatkan matanya tak percaya.
"Hey, déchets(sampah) dari mana lagi ini! Kamu diam ya, saya tak memiliki urusan dengan kamu! " bentak Ben menunjuk ke arah Lesya namun dengan segera ditepis kasar oleh Galang.
"Sampah? " ulang Lesya dengan nada rendah. "SAMPAH LO BILANG HAH?!! " bentak Lesya tak terima dan melemparkan pisau lipat ke arah Ben.
Lesya berbalik membentak bukan karena tak terima dibentak. Namun karena dia tak suka jika harga dirinya diturunkan hanya dengan satu kata. Dia memang tak dapat melihat. Namun bukan artinya dia tak dapat merasakan dan mendengar dari mana bentakkan itu berasal. Dia tak bodoh dan setidaknya, pria tamak itu harus diberikan pelajaran kecil darinya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗