
Seorang lelaki sedang berjalan cepat ke arah satu mobil yang letaknya sedikit jauh dari keramaian. Dia adalah Elvan. Seragam da almamater OSISnya masih dia kenakan. Bahkan lelaki itu sendiri tak sadar jika dia masih menggunakan seragamnya.
Rambut sedikit acak-acakan dan seragam yang sedikit kotor menambah kesan bad untuknya. Namun lelaki itu tak peduli sama sekali. Mengetuk satu kayu yang menyangga, Elvan perlahan mendekat ke arah Andre—dokter pribadi khusus Tiger Wong. Ya, Andre. Masih ingat kah dengan lelaki yang sempat memeriksa Lesya?
"Gimana ndre? "
Sang pemilik nama menoleh. Jangan berburuk sangka terlebih dahulu gays! Andre dan Elvan hanya terpaut beberapa bulan saja. Lebih tepatnya Andre berbeda 4 bulan dengan Lesya. Tak heran jika dia dipanggil Andre. Oh iya, omong-omong juga Andre sudah menjadi dokter spesialis loh di usianya sekarang.
Dahulu Andre terlalu cepat untuk masuk sekolah karena jiwa semangatnya. Dan dia juga salah satu siswa yang berprestasi hingga satu dua kali meloncat kelas demi mengejar cita-citanya yang menjadi dokter. Dan saat rasa semangatnya hilang, Andre dipertemukan oleh Elvan yang bersedia membayar biaya sekolah Andre hingga lelaki itu dapat menjadi seorang dokter pribadi TW dan dokter spesialis.
"Gak aman! Hampir keguguran, kakinya juga bengkak, keningnya berasa disayat nyampe luka gini." jelas Andre beralih menatap Elvan yang terlihat khawatir itu. Fyi, dia juga sudah tahu jika kedua pasutri itu sudah menikah walau tak sempat datang karena adanya pasien darurat.
"Oh iya, dia juga tadi pingsan kayaknya lagi syok! Lagi pula kok bisa gini sih Van kejadiannya? " tanya Andre bingung. Elvan tak menjawab. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar dan berjongkok agar menyetarai tinggi brankar yang ditempati Lesya.
"Beneran hamil? "
Suara bariton Elvan justru memberi pertanyaan kepada Andre bukannya menjawab pertanyaan. Lelaki berjas putih itu mengangguk saja. Alisnya mengerut bingung di kala melihat wajah Elvan yang tampak tak berekspresi itu. Pikirannya hanya menampung jika Elvan merasa bersalah karena membiarkan kejadian ini menimpa Lesya dan calon anaknya.
"Kenapa? Lo gak senang jadi bapak? "
Elvan tak menjawab. Dia hanya terdiam lalu mengelus pipi putih Lesya yang tampak pucat itu. Dia tak menyangka saja dan juga masih bingung. Ada apa dengan dunia ini hingga dia mendapat sebuah kenyataan yang masih belum pasti?
"Van? "
"Ndre, tolong biarin gw di sini berdua sama dia! (Lesya) " pinta Elvan. Andre hanya mengangguk pelan saja. Dia sekarang tahu jika saat ini Elvan dalam mode menenangkan dan menjernihkan pikiran serta hatinya yang seolah sedang saling berperang argumentasi.
Setelah kepergian dari lelaki berjas dokter itu, Elvan masih diam menatap ke arah wajah pucat sang istri. Hati kecilnya berkata hasil analisa dokter mungkin salah. Namun setelah Andre yang memberinya dua kata yang membuatnya kaku tadi, membuat pikirannya sekarang sedang dilanda kebingungan.
Dua kata 'hampir keguguran' dan perkataan Letha di mobil seakan terngiang-ngiang di benaknya. Dia adalah manusia normal yang dapat marah, sedih, takut, cemas, senang. Dan sekarang dia takut jika calon anak yang dimaksud bukanlah darinya. Apalagi dia tahu selama ini dia belum pernah menyentuh Lesya sama sekali. Mereka hanya sebatas cium*n saja dan tak kurang ataupun lebih.
"Bangun dan jelasin maksudnya Le! " lirih Elvan lalu menyembunyikan wajahnya di brankar darurat yang ditempati Lesya.
Lelaki itu tampaknya sudah tak peduli lagi jika dia saat ini sedang diperhatikan oleh Lisa, Luna dan Letha di sana. Ya, ketiga gadis itu memutuskan melihat kondisi Lesya terlebih dahulu. Siapa sangka mereka melihat raut wajah Elvan yang terlihat sedih, kecewa, dan takut yang bercampur menjadi satu. Langka!
Lalu Valen? Lelaki itu sedang mengobrol dengan Cakra untuk saling menduga penyebab hilangnya kendali rem mobil yang digunakan oleh Lesya. Bahkan beberapa anak buah Elvan sudah membawa dengan hati-hati mobil Lesya yang rusak parah itu agar diperiksa.
__ADS_1
Oke balik lagi...
Letha merasakan sesak di dadanya di kala Elvan beralih mengencup sekilas kening dan punggung tangan Lesya. Memang gadis itu tak sadar namun dia merasakan sentuhan familiar di sekitarnya. Bahkan kedua bola mata gadis yang sedang tertidur di brankar itu perlahan terbuka walau dengan pandangan sayu.
"P-pan? " lirih Lesya lalu berusaha duduk layaknya orang normal. Dapat dikatakan Lesya sangat tak menyukai wajah kasihan dari orang lain. Termasuk Elvan sendiri.
Luna yang tanggap berjalan perlahan diikuti yang Lisa dan Letha di belakangnya agar menuju ke arah Lesya sekarang. Menyodorkan botol minum yang dia dapat, Luna dengan segera memberikan kepada Lesya yang celingak-celinguk mencari setetes air.
"Thanks! "
Luna mengangguk saja.
"Udah mendingan Sya? " tanya Lisa.
Lesya hanya mengangguk pelan setelah meneguk sedikit air yang diberikan oleh Luna. Gadis yang baru tersadar itu hendak berdiri namun di tahan oleh Elvan di sana. Karena tahu maksud dari raut wajah Elvan, Lisa dengan cepat memegang tangan Letha dan juga Luna.
"Sya kita pergi ke depan dulu ya siapa tau liat LC sama TW sodaraan! " pamit Lisa sedikit mengkode Lesya dengan tatapan matanya. Sang empu yang disebut hanya mengangguk paham dengan maksud tatapan Lisa saja. Kepergian ketiganya membuat gadis itu menahan nafasnya.
"Eh apaan sih gw mau liat kondisi Lesya ya! " protes Luna memberontak. Lisa hanya sedikit bersiul saja seolah mengkode agar Luna tetap diam. "Syut, biarin mereka kan berdua juga perlu ngomong kali tentang. . . " jeda Lisa.
Sementara di sisi Elvan, Lesya masih diam dengan gayanya yang sibuk memainkan kuku panjangnya. Dia tak berani untuk menatap mata Elvan saja. Terlalu mengerikan di pandang menurutnya. Kesan dingin lelaki itu baru kali ini dia takuti walau yah memang tak sangat mengerikan. Catat ya gays, cuman sedikit yang dimana mungkin hanya sebesar biji cabai saja!
"Jadi? "
Lesya hanya mendongkak dan menatap ke arah depan saja. Satu tangannya hanya memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut nyeri. Keningnya sudah diisi satu plaster untuk menutupi lukanya. Kaki kirinya juga sedikit dibalut perban agar tak infeksi nantinya. Seragam sekolah yang dia kenakan terlihat kotor karena sempat tersentuh tanah tadi.
"Jadi tadi waktu pergi dari sekolah niatnya mau balik ke rumah. Tapi gw rasa--- "
"Bukan itu Le! "
"Iya, gw tau maksud lo bukan itu kan! Tapi gw maunya jelasin kronologi tentang kecelakaan tadi dulu! "
"Ck, terserah dah! "
"Oke lanjut! Jadi gw pergi ke pantai buat tenangin diri dan tiba-tiba gw dapet telepon dari daddy. Nah, gw diminta pergi ke hotel Ert buat jadi salah satu saksi tanggung jawab uncle Gilang sama aunty. Gw ke sana juga rem masih aman dan sewaktu gw pulang dari hotel, tiba-tiba aja rem mendadak blong! "
__ADS_1
Alis Elvan mengerut bingung. Awalnya memang dia lebih tertarik mendengar penjelasan mengenai kandungan Lesya dibandingkan kronologi kecelakaan. Dan setelah mendengar kronologi dari Lesya yang sebagai korban, dia merasakan satu hal yang aneh di cerita tersebut.
"Di pantai ketemu orang yang lo kenal? "
Lesya menggeleng.
"Hotel? "
Lesya berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Siapa? "
"Ada daddy, tante Sella, baby jas-jus, aunty Mily, uncle Gil--- "
Elvan menghela nafasnya. Bukan jawaban ini yang dia maksud. Kembali menatap Lesya yang masih tak ingin melihatnya seraya memainkan kukunya, lelaki itu kembali angkat suara dan menyela.
"Maksud gw, lo ketemu sama orang yang bikin lo curiga gak Aleesya! " jelas Elvan menyela pembicaraan gadis di depannya. Lesya berdecak sebal mendengar penyelaan dari Elvan dan beralih menatap sorot mata lelaki yang duduk di samping brankarnya. Dia meringis ngeri saat kembali melihat tatapan tajam itu.
"Makanya ish pan, jangan potong dulu ngapa! Nih gw kasih tau ya tadi tuh di hotel gw ketemu sama temen kecil lo! Gandengan sama om-om pedo bahkan lo tau mereka ngapain? "
Elvan menggeleng di kala Lesya justru bertanya padanya. Nada bicara gadis itu tak seterbata tadi saat kecelakaan. Bahkan jika ditangkap dari sorot matanya, Elvan dapat tebak jika Lesya saat ini mendapatkan sebuah informasi menarik bagi orang lain namun tidak dengannya.
"Mereka tuh... " jeda Lesya lalu mengangkat kedua tangannya yang sudah dibentuk lancip dan menyatukannya. Elvan menautkan alisnya heran. Maksud Lesya ini peragaan seseorang sedang adegan kiss, begitu kah? Aneh saja gaya Lesya yang seolah layaknya anak polos.
"Ck, maksud gw tuh mereka cium*an Papan... Nah lo tau gak di depan mata gw bahkan ulet keket udah liat gw tapi urat malunya kagak copot-copot tuh waktu kepergok kissing! Nih ya, gw aja gak pernah kepergok kissing dan kalaupun itu pernah gw pasti malu karena gw masih normal! " ucap Lesya.
Elvan menatap aneh Lesya. Apa tak sadar kalimat akhir gadis itu membuat dirinya ingin tertawa meledek. Berdiri di tempatnya, Elvan beralih menangkup pipi Lesya dengan satu tangannya. Merapatkan wajah mereka, Elvan mengencup sekilas benda berwarna pink alami tanpa tulang di wajah istrinya.
Cup!
"Kayak gini? " tanya Elvan menaikan satu alisnya. Lesya hanya terdiam dan merutuki kebodohannya yang asal berbicara apalagi mengenai hal yang sedikit sensitif itu. Memang mereka sudah beberapa kali melakukannya namun tak urung telinga Lesya tetap memerah.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
__ADS_1
Yuhuu, update lagi nih gays jangan lupa jejak-jejaknya ya, thanks you all😘🙏🏻