
Lesya berlari menyusuri koridor sekolah. Koridor sudah sepi karena jam pelajaran sudah dimulai. Saat dia mengatur nafasnya di depan kelasnya, bahunya ditepuk oleh seseorang.
Lesya menoleh ke belakang. Dia mendapati pak Seto yang berdiri dibelakangnya. Dia menghela nafas lega rupanya bukan bu bunga yang menepuk bahunya.
"Huftt! Kirain bu bunga" Pak Seto menggeleng kepalanya, "Emang kalo saya bu bunga kenapa? "
Dengan santainya, Lesya jujur "Saya males pak kalo dihukum" Pak Seto menghela nafas panjang. Selalu saja begitu pikirnya.
"Ya sudah kamu masuk! Sekarang pelajaran saya" Lesya masuk saja dan berjalan menuju bangkunya.
Luna yang melihat Lesya baru tiba dan duduk di sampingnya tak heran lagi. Julukan badgirl, queen late in school dan troublemaker in school tak salah lagi untuknya.
Lesya menopang wajahnya dengan tangannya. Rasanya malas sekali untuk bersekolah. Bisa saja dia bolos dan bekerja namun, itu akan susah mengingat dia sudah dipecat. Hanya tinggal bekerja di cafe milik Elvan dan marketing.
"Ngapa lo? Lesu amat? " Lesya menoleh ke arah Luna yang bertanya kepadanya. Dia menghembuskan nafas kecil, "Gpp! Gw cuman males"
Luna menggeleng. Lesya dan Luna fokus dengan orang yang dibicarakan satu kelas. Pak. seto berada di kelas mengapa semua berisik? Pikir mereka.
"Ngapa Lun? " tanya Lesya melihat kehebohan isi kelasnya.
"Mene ke tehe! Kita cuman ngomong berdua sebentar udah seheboh ini" jawabnya.
Pak Seto yang sudah emosi menggebrak meja hingga seisi kelas terdiam. Tak hanya isi kelas yang terdiam namun, dua orang yang di depan kelas terperanjat kaget.
"Buju g¡le galak ya! " gumamnya.
"DIAMM! Kalo kedatangan murid baru disambut jangan heboh kayak gini! " tegas pak Seto.
Seisi kelas terdiam melihat kemarahan pak Seto. Lesya dan Luna membulatkan mulutnya berbentuk huruf 'O' saja.
"Oh, mubar toh! Ganteng kagak ya? " Lesya memutar bola matanya malas. Cogan mulu!
"Cogan mulu lo! Kalo cwek gimana? " ejek Lesya.
Luna memayunkan bibirnya, "Bersihin mata doang biar fresh! Kalo cwek, mudah² kagak cabe kayak Flora dkk"
__ADS_1
Lesya mengangguk. Semoga saja bukan musuhnya atau calon musuhnya. Sudah lama dia menantikan sebuah ketenangan. Namun selalu saja ada musuhnya. Alhasil ketenangan Lesya terganggu.
Luna bahkan menggelengkan kepalanya. Jika musuh Lesya masuk, Lesya pasti akan ribet sendiri. Terkadang dirinya juga tak tenang karena dia terkadang bersama Lesya.
"Yang di luar silahkan masuk! " Dua gender berbeda masuk ke dalam kelas. Lesya dan Luna menatap satu sama lain.
"Beg* kenapa dia disini? " Lesya mengangkat bahunya tak tahu, "Nanti kita intrograsi" Luna dan Lesya menarik senyum jailnya.
Sementara kedua murid baru tersebut menatap sekeliling kelas mereka. Satu murid yang bergender lelaki melihat sosok Lesya dan Luna.
"Mereka? Sial*n lo bang Alam! " gumamnya pelan yang di dengar oleh murid bergender perempuan sampingnya.
"Perkenalkan nama kalian" ucap pak Seto. Mereka mengangguk sebagai jawaban.
Perkenalan dimulai dari murid baru bergender lelaki, "Gw Leonard Putra I, panggil aja Leon " ucapnya datar.
Banyak siswi yang berbisik karena ketampanan yang dimiliki Leon. Walaupun mereka banyak yang lebih mendukung Elvan dkk, tetap saja ada yang mengagumi ketampanan Leon.
Luna dan Lesya hampir muntah dengan ocehan-ocehan siswi yang mereka dengar.
"Huekk! Tampan kagak rusuh iya" Lesya membenarkan ucapan Luna karena memang benar adanya.
Sedetik mereka menatap satu sama lain dan berkata, "Bang Alam! " Mereka tersenyum jail setelah berpikir satu misi.
"Gw Elisa Vellyna G, panggil aja Lisa" ucap satu murid baru yang bergender perempuan.
Leon, Lesya dan Luna tercengang. Rupanya mereka baru menyadari keberadaan teman atau musuh mereka. Luna menatap kesal ke arah Lisa tapi tidak dengan Leon dan Lesya.
"Huh! Musbar comeback! " kesal Luna. Lesya tak mempedulikan omongan Luna. Dia menatap jendela luar. Dia menopang wajahnya dengan tangannya.
Leon dan Lisa duduk dibangku yang sama. Mereka duduk di depan bangku Lesya dan Luna. Saat Lisa ingin duduk di bangkunya, Luna melototkan matanya kesal dibalas pelototan oleh Lisa.
"Baik kita lanjutkan materi yang kemaren" ucap pak Seto.
Saat pelajaran di mulai, Lesya fokus menatap luar jendela. Jika kalian mau bertanya mengapa Leon dan Lisa duduk di depan meja Luna dan Lesya? Karena seharusnya Letha dkk yang disana.
__ADS_1
Letha dkk pindah ke depan. Meja kedua terdepan. Jadi jauh dari meja Lesya dan Luna karena meja mereka paling belakang pojok jendela. Dan di depan mereka ada Leon dan Lisa. Semoga paham!
Waktu terus berlalu hingga tak terasa istirahat akan tiba. Leon sudah berlari ke arah kantin takut oleh Lesya. Luna yang menyadari langsung mengejar Leon. Begitu juga dengan Lesya.
Selama perjalanan di koridor, mereka sudah banyak menyenggol bahu murid lain. Banyak umpatan yang terdengar di telinga mereka namun tak mereka hiraukan sama sekali.
"YON! BERHENTI KAGAK LO!! " Leon sama sekali tak berhenti. Dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
Mereka sudah memasuki kantin sekolah. Keadaan kantin sangat ramai diisi guru, siswa bahkan anggota OSIS.
Tanpa sengaja Lesya menyenggol bahu salah satu siswi culun yang membawa mangkok bakso panas. Alhasil mangkok tersebut jatuh dan pecah. Seisi kantin menoleh ke arah sumber. Begitu pula dengan Luna dan Leon.
Saat Lesya ingin berjalan satu langkah, kakinya kesleo menginjak tumpahan bakso tersebut. Luna dan Leon berlari ke arah Lesya yang kesakitan.
"Shht! Sakit! " gumamnya kecil tak di dengar siapa pun.
"Sakit Sya? " dengan polosnya Leon bertanya kepada Lesya. Luna memukul leher Leon pelan, "Sakit lah beg*! Bantuin napa"
Luna membantu Lesya berdiri begitu juga dengan Leon, "Kagak sih, cuman nyeri doang" jawab Lesya.
"Ya elo sih lari-lari! " Lesya memukul tangan Leon kasar, "Mirror dong! Kalo gw kagak ngejar lo juga gak bakal kayak gini"
Leon meringis. Sudah dapat bogeman Luna, dapet juga oleh Lesya pula. Sksk, miris!
"Iya gw salah! Eeh celana lo kok merah? " Sontak Lesya melihat celananya yang merah darah.
"Darah! Omaigad, UKS sono! " Lesya tak bergeming dia menatap celananya yang sedikit merah karena darahnya.
"Tapi kok bisa berdarah? " polos Luna. Lesya menyentil kening Luna, "Kena serpihan beling lah beg*! " Luna menyengir.
Lesya menoleh ke sampingnya. Terlihat gadis culun yang menunduk sambil menangis melihat tumpahan bakso miliknya. Tangisannya pecah begitu saja.
"Dih kok nangis sih? Kaki gw aman kagak bunt*ng" gadis culun itu makin menangis histeris.
"Yaah, Yon yon salah lo sih" ucap Lesya. Leon melotot tajam.
__ADS_1
Suara deheman bariton familiar terdengar jelas di telinga Lesya. Lesya yang sudah tau siapa orangnya menghela nafas panjang.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗