Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
296: Panas


__ADS_3

"Biarin aja wlee.. Gw kan orangnya rajin belajar gak kayak lo yang duduk-duduk doang! " balas Luna meledek. Lesya menghentikan tawanya dan memutar bola matanya malas ke arah dapur. "Justru harusnya lo yang berterimakasih sama gw Lunaa.. Karena gw yang bakal nyicipin kue lo, bukannya ngeledek! " balas Lesya.


"Yeee... Gw kan punya mulut, jadi gw bisa rasain sendiri kaleee.. " balas Luna. Lesya tertawa kecil mendengarnya. "Yang bilang lo gak punya mulut siapa? " polosnya.


Mayang yang di sana hanya geleng-geleng kepala dengan beberapa ART yang bekerja di sana mendengar perdebatan sepasang sahabat itu. Luna melirik dan menunjuk ke arah Letha yang baru saja tiba di sana dan berjalan ke arah mereka. "Pssttt! Sya, tuh adek lo! " bisik Luna. Lesya menoleh ke arah belakang dan benar saja sudah ada Letha di sana. Mungkin hari saja kembali!


"Haii semua, lagi buat kue ya? Letha bantuin yah" tawar Letha dengan senyum manisnya. Jika dibilang, Letha pandai memasak terutama kue. Jadi dia menawarkan saja siapa tahu dia dapat mengisi harinya dengan membuat kue.


Luna menoleh dan mengangguk saja. Biarlah asal tidak membuat keributan. Akhirnya baik Letha dan Luna ikut membantu Mayang yang membuat kue. Mulai dari cemilan, kue bolu bahkan ada juga mereka sempat membuat dessert.


Tentu saja tanpa sadar Lesya yang lama menunggu tertidur di atas meja dengan posisi duduknya. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya dan wajahnya juga ditopang oleh kedua tangannya yang menjadi alas kepala. Sepertinya karena lelah berpikir panjang Lesya lebih memilih tertidur saja untuk mengurangi bebannya.


Hari sudah menunjukkan pukul 16.30 sore dan mereka yang berkutat di dapur akhirnya selesai bekerja membuat ini itu. Luna bertepuk tangan melihat ukiran kue yang dia buat mulai meningkat. Selama belajar dengan Mayang, baru kali ini dia berhasil tanpa bantuan orang lain.


"Yeeyyy! Akhirnya jadi juga walau gak bagus sih! " lega Luna bersorak senang. Mayang terkekeh kecil mendengarnya. "Udah bagus kok masih bilang jel*k sih? Cakep kok kue kamu, kita tunjukin ke Lesya dulu deh yuk! " ajak Mayang.


Luna mengangguk. Dia tak sabar melihat reaksi Lesya yang akan terkejut melihat kue cantik yang dia buat. Dan di saat mereka keluar dengan membawa kue masing-masing mereka, cukup terkejut melihat Lesya yang rupanya sudah tertidur. Namun mereka bertambah terkejut melihat Lesya yang justru menutup telinganya saat tertidur dan meracau entah apa yang dimimpikan.


"AKHHH?! " Lesya sontak yang tertidur terbangun dan terkejut dengan apa yang dia mimpikan. Wajahnya sedikit berkeringat dan keningnya berkerut bingung sementara mulutnya meringis kecil. Bahkan gadis itu tanpa pamit berjalan cepat ke arah kamarnya saja.


"S--- "


Mayang dengan cepat menahan Luna yang hendak menyusul Lesya. Melihat sahabatnya berteriak begitu membuatnya penasaran tentang apa yang dimimpikan. Luna menghela nafasnya mendengar nasihat bijak dari Mayang agar membiarkan Lesya sendiri terlebih dahulu. "Biarin, dia butuh waktu sendiri buat nenangin dirinya! " kata Mayang.


Mau tak mau Luna menurut saja. Memang benar jika bagaimanapun Lesya menganggapnya sahabat, dia tetaplah seseorang sahabat yang tak mempunyai hak yang tinggi untuk asal bertanya privasi Lesya. Dia tahu beberapa hal pasti membutuhkan privasi kuat orang itu sendiri. Tak sembarang asal bocor selain dari keinginan orang tersebut!


Secara bersamaan mereka meletakkan masing-masing kue yang mereka buat dan menoleh ke arah suatu suara familiar di telinga mereka.


"Bunda? "


Mereka bertiga menoleh bersamaan dan menemukan Elvan yang berjalan menghampiri mereka. Elvan yang memang baru saja pulang dengan cepat menyalimi tangan bundanya. Mayang menepuk pundak Elvan pelan dan matanya mengarah pada satu kamar yang sedikit terlihat dari bawah. Kamar Elvan!


"Susul gih Lesya di kamar! " ujar Mayang.

__ADS_1


Elvan hanya mengangguk paham saja. Dia sudah tahu maksud dari pembicaraan Mayang itu apa. Namun sayang, dia tak tahu jelas apa penyebabnya. Saat Elvan hendak pergi menyusul Lesya, suara Luna membuat Elvan melirik sekilas gadis itu. "Eh bentar, gw minta lo jangan ingatin dia tentang masa lalunya, pecah nanti kepalanya! " ucap Luna diangguki samar oleh Elvan. Pecah? Ada-ada saja Luna!


Letha menatap kepergian lelaki idamannya menyusul sang kakak. Dia cukup penasaran jika Lesya tak tidur bersamanya, naas dimana kakaknya itu tidur? Kolong jembatan? Ya kali!


Dia juga tak akan membiarkan Elvan dapat berdua bersama dengan sang kakak. Itu sebabnya dia pamit berpura hendak ke kamar saja untuk bersih-bersih. Sementara Luna pamit pulang ke rumahnya dengan membawa beberapa kue yang dia masak. Sedangkan Mayang, wanita itu mulai mempersiapkan kedatangan sang abangnya ke rumahnya.


~o0o~


Lesya menoleh mendengar suara pintu yang di buka. Dia memang sudah ada di balkon kamar sejak tadi guna mengatur nafasnya agar lebih tenang. Sekalian saja dia menghabiskan cokelat panasnya yang perlahan mulai mendingin. Dia dapat melihat jika Elvan yang masih menggunakan seragam almamater OSISnya yang artinya jika lelaki itu baru saja pulang.


"Kenapa lagi lo? " tanya Elvan saat sudah duduk di sofa, lebih tepatnya di samping Lesya. Gadis itu hanya menggeleng kecil saja. Kali ini dia tak ingin merepotkan Elvan lagi.


Elvan hanya menautkan alisnya bingung. Dia sadar jika Lesya berbohong padanya hanya melalui sorot matanya. Karena memang dia letih, akhirnya dia berbaring tidur di paha Lesya. Lesya tentu saja tersentak kaget sekaligus risih saat Elvan memeluk pinggangnya.


"Pan--- "


Ucapan Lesya itu tersela. Elvan sudah tahu apa yang ingin di bicarakan Lesya. Ditambah suara ngegas khas milik gadis itu membuat Elvan mau tak mau menyela ucapan Lesya.


"Sebentar doang! "


"Lo udah di tidur Pan? " tanya Lesya ragu-ragu. Tangannya bergerak mengusap rambut pendek nan halus milik Elvan. Laki-laki itu hanya berdehem kecil saja. Sebenarnya dia hanya memejamkan matanya saja bukan tertidur.


"Boleh gak ya kira-kira kalau beberapa hari gw tinggal di apartemen gw dulu? Tapi kayaknya gak mungkin deh, bunda pasti gak izinin kan ya? Em, kabur gak ya? Kangen gw sama suasana apart! " gumam Lesya bermenolong. Dia menghela nafasnya panjang dan bersandar melipat kedua tangannya di dada.


"Cuma mimpi Sya, sadar lo! Lagian ngapain ngurusin dia sih?! Lo juga gak tau siapa orang itu dan itu cuman mimpi Sya! " gumam Lesya lagi beralih menepuk-nepuk pipinya.


"Mimpi apa? " tanya Elvan tanpa mengubah posisinya. Lesya sedikit terkejut dan menggedikkan bahunya tak tahu. "Gak tau, berbayang gak jelas! Tapi banyak darah di atas orang itu sama yang gw liat orang itu ditusuk di bagian kepalanya. Gak tau siapa tapi dia bilang gini sama gw di mimpi ‘maaf udah buang kamu, terima kasih sudah harapin saya! ’ gitu! " ucap Lesya akhirnya memilih jujur dan menirukan cara bicara orang yang dia sebut itu.


Elvan membuka matanya dan beralih menatap Lesya dari bawah. Alisnya mengeryit bingung. Tentu saja dia dapat menebak satu orang yang dimaksud oleh Lesya tadi melalui cara Lesya meniru suara orang itu.


"Tau lah pusing gw mikirnya! Lagian itu cuman mimpi buruk gw aja. " pasrah Lesya. Tak sengaja Lesya yang notabenya belum makan siang sejak tadi mengeluh butuh makan dengan suara perutnya.


Kruyuuukk!

__ADS_1


Sontak saja gadis itu meraba perutnya yang berbunyi lumayan keras. Malu, satu kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya saat ini. Apalagi dilihat oleh Elvan yang tersenyum aneh padanya seraya mengangkat satu alisnya. "Laper lo? "


Lesya memejamkan matanya sejenak dan melemparkan Elvan bantal sofa. Kesal rasanya saat tahu jika Elvan lah yang mendengar bunyi perutnya. "Tau akhh, lo ngeselin! " kesal Lesya.


Elvan menunjuk dirinya sendiri dan tentunya membalas lemparan bantal Lesya. Alhasil mereka perang bantal dengan menggunakan bantal sofa sebagai alat serang. Elvan juga bingung dimana letak kesalahannya. Padahal niatnya untuk mengajak Lesya makan di luar saja sekaligus mengalihkan pikiran gadis itu.


"Lah, salah gw apa? " ucap Elvan bingung. Lesya menghentikan aksinya dan menghentakkan kakinya kesal. "Salah lo itu denger suara... " jeda Lesya kembali canggung karena permasalahan bunyi perutnya saja.


"Suara perut lo kan? Yaudah sono ganti baju, kita makan di cafe gw aja! " finish Elvan. Mata Lesya berbinar mendengar kata cafe yang Elvan ucapkan. Secepat kilat dia asal melempar bantal yang dia pegang dan berganti baju di walk in closet.


Elvan hanya geleng-geleng kepala saja melihatnya. Dia ikut melemparkan bantal sofa yang dia pegang dan menunggu gilirannya berganti baju. Sementara Letha yang berada di depan kamar Elvan bingung apa yang terjadi di dalamnya. Memang peredam suara sudah diaktifkan Elvan setiap saat hingga Letha saja tak dapat mendengarnya.


"Hisss, mereka ngomong apaan sih? Lagian ngapain ya kakak masuk ke dalam kamar ini? Ini kan kamar Elvan! Apa mungkin ya Elvan izinin kakak masuk? Kalau memang Elvan yang izinin, kenapa gw enggak masuk aja dari tadi? " binar Letha mengira dirinya dapat masuk ke dalam kamar lelaki idamannya. Sayangnya saat dia memegang knop pintu justru pintu itu terkunci rapat.


"Hah? Ngapain mereka di dalam nyampe ngunci pintu? Jangan-jangan. . . " Pikiran Letha melayang kemana-mana. Sudah berapa kali dia berjalan bolak-balik di depan pintu kamar Elvan hingga pintu terbuka, dia menoleh.


Ceklek!


"Woyy, tunggu Pan! " ucap Lesya dari dalam kamar berlari keluar.


Lesya keluar dengan kaus hitamnya dan juga celana hitam model yang disobek-sobek di bagian lututnya. Tak hanya itu dia juga menggunakan jaket merah maroon berlengan panjang dengan rambut yang di gerai acak-acakan. Sementara Elvan menggunakan kaus oblong hitam dipadukan jaket merah maroon berlengan panjang yang sama seperti style Lesya. Namun bedanya celana hitamnya tidaklah berbolong sobek. Rambutnya juga masih acak-acakan tak jelas yang menampilkan sisi badboy nya.


Lesya menoleh ke arah Letha yang berdiam diri di sana melihat kedatangannya keluar dari kamar Elvan. Sementara Elvan menutup pintu rapat dan menekan satu tombol di gagang pintunya yang hanya tersambung pada sidik jarinya saja. Dia sengaja menutup pintu dengan sidik jarinya karena waspada dengan kehadiran Letha. Dia tak mau gadis yang merupakan kembaran istrinya masuk tanpa izin. Apalagi banyak data-data penting di dalam kamarnya!


"Kalian mau kemana? " tanya Letha bersikap biasa saja. Berbeda dengan suara hatinya yang panas. Ditambah lagi dengan style pakaian yang digunakan Lesya dan Elvan sama persis alias baju couple.


Lesya hanya menatap Elvan sekilas dan berbalik ke arah Letha. "Kita mau ke... Cafe! Ayok, keburu malem! " ajak Lesya menarik tangan Elvan.


"Ikutt! " pinta Letha memelas.


Lesya terhenti dan berbalik menatap wajah memelas sang adik. Haruskah? Namun mendengar jawaban Elvan membuat dirinya merasa lega. Dapat dia rasakan juga jika Elvan saat ini sudah merangkul pinggangnya seolah memberitahukan kepada Letha jika Lesya adalah miliknya. Letha panas gak tuh? Bukan panas lagi namanya tapi bertambah panas lagi melihatnya!


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


>>><<<


Lumayan nih ngetiknya panjang. Mau tau berapa? 1700+ karakter nih nulisnya masa pelit neken tombol like aja gitu? Gak ada niat juga mau kasih gif buat nambah semangat author yang pemula ini?


__ADS_2