Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
415: Meet Lisa


__ADS_3

"A-aaa… Tuan Gilang, s-saya Arelan, salah satu penanggungjawab proyek anda." sopan ayah Chatrin itu.


Lesya yang mendengar ayah dari musuhnya sedikit takut, dengan segera melingkarkan tangannya di lengan Galang. "Daddy, pergi aja yuk! " ajak Lesya sengaja dengan wajah polosnya.


Dengan sengaja Lesya sedikit mengeraskan panggilan ‘daddy’ agar diketahui oleh satu keluarga yang belum tahu siapa dirinya itu. Galang menautkan alisnya bingung. Sejenak dia berpikir dan paham maksud dari putri sulungnya itu.


"D-daddy? " beo mereka kaget.


Lesya menatap keluarga Chatrin di depannya dengan alis yang terangkat satu. Rasa menantangnya ingin keluar namun dia masih tahu sedang di mana dia berada. Bisa-bisa dia diskors oleh guru BK tercinta. Oh no, dia masih mau ujian kelulusan dan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.


"Kenapa? Gak suka? " polos Lesya.


"****! Sialan lo Sya! " umpat Chatrin.


Chatrin yang tampak tak terima hendak kembali melangkah namun segera tertahan oleh kedua orang tuanya. Berhubung petugas kemanan sekolah baru saja datang dan melerai, beruntung amukan Chatrin itu dapat ditahan.


"BRENG*SEK LO SYA" amuk Chatrin.


"Gak peduli wlee.. " ledek Lesya memeletkan lidahnya ke arah Chatrin.


Sementara Luna tertawa ngakak melihat raut wajah Chatrin yang justru bertambah ngamuk saat diledek oleh Lesya. Coba kasih tau Lesya, apa sih salah dia sama Chatrin? Lihat saja, musuhnya itu sangat tak suka dengannya. Padahal, pertemuan mereka saja berawal dari upacara sekolah.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Sebuah cafe yang cukup ramai kini diisi cukup lebih dari pembeli dari biasanya. Karena sekolah yang mereka tempati kini sudah menjadi tahap terakhir pembelajaran sebelum ujian berlangsung, akhirnya cafe yang cukup terkenal itu menjadi penampung rasa letih mereka.


Di dekat kaca cafe, sudah ada Lesya juga Luna yang asik menyesap minuman mereka tanpa gangguan. Sesekali melempar canda dan tawa hingga melihat satu sosok dengan pandangan mata yang kosong duduk diam di ujung kaca cafe.


"Lisa? " beo Luna bergumam.


Lisa, sosok yang selalu mencari ribut dengannya kini menjadi pendiam. Sebenarnya, Lisa juga masih ikut bersekolah setelah pulang dari negara asing. Namun, perubahan sikapnya yang lebih terlihat suka menyendiri membuat dirinya selama ini tak nampak.

__ADS_1


"Sya, gw kasian sama Lisa! Dia patah hati sekaligus galau sejak Leon koma. Kita ke Lisa juga udah jarang ngomongan. Gimanapun juga Lisa kan pacarnya Leon, dan satu hari sebelum Leon meninggal," jeda Luna merasa iba dengan kondisi Lisa bagaikan tak memiliki semangat hidup.


"Leon, dia titip Lisa ke kita Sya." lirih Luna menyambung ucapannya. Lesya terdiam merenung ucapan Luna. Benar juga, selama ini dia sengaja memberi jarak karena tak mau tiba-tiba Lisa mengamuk dan menyalahkan dirinya seperti saat itu.


Tapi--


Melihat tatapan Lisa yang kosong, Lesya dapat rasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai. Bukan itu artinya dia juga sudah melupakan sosok Leon. Tidak sama sekali. Dia menghela nafas pelan dan mengangguk menyetujui ajakan sahabatnya tanpa menjawab.


Berjalan dengan langkah perlahan, Lesya di sini hanya akan menjadi penonton yang baik saja. Dia tak mau akibat keberadaannya, Lisa kembali menyalahkan dirinya hingga hubungan antara mereka semakin keruh.


"Lis," panggil Luna pelan.


Sang pemilik nama tak bergeming. Elusan di punggungnya sama sekali tak membuat Lisa menoleh. Dengan stok yang sebelumnya dia siapkan, Luna agar berhadapan dengan Lisa.


"Lis, how are you? " tanya Luna berbasa-basi.


"Not fine," singkat Lisa.


"I know gimana rasanya jadi lo. Gak cuman lo yang rasain kehilangan orang yang disayang, gw juga pernah rasain, Lis." tutur Luna dengan nada pelannya.


Tak ikhlas? Iya.


Sedih? Sangat.


Bersalah? Iya juga.


Terlebih pada kenangan terakhir mereka yang sama sekali tak dalam keadaan yang baik. Dan saat siap perang, mereka juga tak berinteraksi kecuali Leon yang selalu terkena pukul saat dia yang hampir lengah dengan para musuhnya saat perang besar-besaran saat itu.


Dan karena rasa bersalah itu, Lisa terus menyalahkan dirinya terus mengikutinya. Tanpa dia sadari, karena tolakan logika nya yang tak mau disalahkan oleh siapa dan apapun, dia justru menyalahkan orang lain atas kepergian sang kekasih.


"Lis, gw mohon sama lo. Walaupun gw tau lo ga bisa ikhlasin Leon, tapi please banget Lis... Gw mau Leon bahagia, walau dia gak ada di sisi kita, dia tetap di hati kita Lis." lirih Luna beralih mengelus punggung tangan Lisa yang masih sedikit bergetar sejak beberapa hari lalu.

__ADS_1


"Hati? " ulang Lisa lalu tersenyum sinis pada dirinya sendiri. "Hati apa yang lo maksud? Sorry, gw ragu sekarang." sambung Lisa dengan nada sedikit bergetar karena menahan tangis.


"Ragu? " beo Luna kaget.


"Ya... Waktu pergi aja Leon lebih tertarik bicara tentang lo Sya walau memang libatin nama gw. Dan gw ragu sama isi hati Leon sebelum itu. D-dia suka sama lo kan? Gw cuman pelampiasan dia doang kan? " tanya Lisa mengeluarkan beban pikirannya selama ini.


Luna melepaskan genggamannya pada Lisa. Dia melirik Lesya dengan perasaan yang tak tahu harus berbicara apa lagi. Pasalnya, setiap berbicara dengan Lisa untuk tak terlalu terpuruk dalam kesedihan, Lisa selalu memberontak tak menerima saran yang diucapkan oleh orang tuanya juga teman-temannya.


"Lo salah! "


Lesya dengan segera meluruskan jalan pikiran Lisa yang menuduhnya. Memang benar. Luna juga sudah bercerita padanya. Mendiang Leon, sahabatnya itu, dia terus berbicara mengenai Lesya juga gangster sesekali nama Lisa ikut andil walau hanya terkadang. Katanya.


Lisa menatap Lesya dengan perasaan yang tak menentu. Antara tak percaya, masih kesal, menyalahkan, entah lah Lisa sendiri tak tahu. Lesya menampilkan senyum miring nya dan menyesap boba yang dia bawa sebelum hendak menghampiri Lisa bersama sahabatnya.


"Leon, dia sayang banget sama lo Lis! Sewaktu gw operasi, dia bilang dari mimpi gw: “Bilang sama Lisa jangan nangis terus, di dunia ini kita gak berjodoh mungkin, tapi kamu harus tau kalau aku sayang kamu!” gitu." jujur Lesya berterus terang dengan tenang.


"Dia sayang sama lo, dia mau lo gak terus-terusan nangis. Maksud gw-- lo boleh nangis asalkan jangan lupa sekitar lo! Nyokap lo, bokap lo, kakak lo mungkin terus bujuk lo biar jiwa Lisa yang dulu kembali, Lis." timpal Luna membujuk.


"Lisa! " panggil Lesya pelan. "Lo tau seberapa cinta nya Leon sama lo? Dia pernah bilang, dia cinta sama lo tapi gak terbentuk. Cinta dia kayak air, mengalir mengikuti wadahnya. Dan kalau air tanpa wadah, coba lo pikir seberapa cinta dia sama lo." lanjut Lesya dengan pelan.


Luna menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Lesya. "Iya Lis, dia cuman kagum sama kita berdua. Kita memang dekat tapi gak se istimewa lo di dalam kehidupan dia Lis." sambung Luna sedikit bernada datar karena mulai sedikit kesal dengan tolakan logika Lisa.


"Tinggalin gw sendiri! "


Suara dari Lisa yang terangkat membuat kedua gadis itu saling memandang dan segera beranjak. Mereka tak kembali ke meja sebelumnya namun keluar cafe karena ingin mengunjungi makam mendiang sahabatnya pada siang hari dengan cuaca yang berawan. Adem!


Mumpung besok libur dan hari ini adalah hari terakhir pembelajaran, mereka berniat mengunjungi makam sang ayah mereka juga nanti. Dan kini, dua motor sport dengan warna berbeda sudah meleset ke arah yang mereka tuju.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Hay gays, mohon maaf kalau kemarin telat update. Entah seterusnya begitu, maafkan ya🙏🏻 Tugas di dunia rl-ku banyak banget dan deadline nya cepet-cepet semua kayak kereta.


Oh iya, buat spoiler bab selanjutnya, bakal mengharukan, tapi aku lebih fokus ke Lesya nya aja ya. So, tungguin kelanjutan hingga novel ini tamat nanti...


__ADS_2