
Lesya tak mempedulikan di sekitarnya. Dirinya masih dalam siratan lagu yang membuat dirinya gencar. Elvan sedikit menunduk karena Lesya lebih pendek dibandingkan dirinya. "Pan? " lirih Lesya.
Elvan menaikkan alisnya bingung. Kata-kata Lesya mengandung rasa takut di dalamnya. Dia dapat mendengar itu. Matanya menatap sekeliling dapur.
Rupanya jendela terbuka dan kayu balok tergeletak di bawah lantai meja makan. Bukan hanya hal itu saja! Dia juga melihat pisau yang terlempar di sudut dapur.
Karena Lesya tak kuat lagi menahan kakinya yang sakit, dirinya terduduk lemas menyandar ke dinding tembok dapur. Tanpa rasa peduli, Lesya mengacak-acak rambutnya dan menutup kedua telinganya seolah tak ingin mendengar satupun suara.
"Apa yang terjadi? " tanya Elvan. Perlahan Elvan berjongkok dan meletakkan satu paper bag di sampingnya. Lesya menggeleng kecil. "La-gunya. . . " lirihnya.
Dengan sigap Elvan mematikan lagu dari speaker yang terpasang tak jauh dari sana. Setelah merasa lebih tenang, Lesya menundukkan kepalanya. Matanya sudah memerah dan kakinya dia selonjorkan ke depan.
Elvan yang berbalik ke arah Lesya kembali menghampiri dan menepuk-nepuk pundak Lesya. "Udah-udah! " ucapnya.
Lesya menepis kasar tangan Elvan dan merangkak mengambil pisau yang ada di sudut dapur. Dengan cepat dirinya menyodorkan ke arah Elvan yang dia kira adalah Vion. "Ngapain? " tanya Elvan bingung yang tak tahu maksud Lesya.
"Gak usah pura-pura beg* lo! Karena lo, papi gw gak ada! Karena lo juga, gw kehilangan sosok penyemangat hidup gw! Karena lo, gw begini! Berapa kali gw udah bilang sama lo? Papi gw gak pernah misahin lo dari keluarga lo brengs*k!! "
Lesya sudah tak tahan lagi. Dalam pandangannya, dirinya saat ini berbicara kasar dengan Vion, orang yang menyebabkan Arga tiada. Lesya terus maju dan tak mempedulikan jika kakinya perlahan dapat bergerak.
Berbeda Elvan yang disodorkan pisau oleh Lesya tepat di wajahnya tetap diam ditempatnya. Sekarang dia tahu penyebab Lesya aneh begini. Tanpa rasa takut ataupun gencar, Elvan justru berjalan ke arah Lesya dan mengangkat tangannya.
Elvan mengelus rambut Lesya dimana membuat pisau yang ada ditangan Lesya jatuh seketika ke bawah. Yah, Lesya dapat merasakan kehangatan dari telapak tangan kekar dari Elvan. Dirinya perlahan mulai merasa tenang dan mengatur nafasnya agar kembali normal lagi.
__ADS_1
"Huftt! " Lesya berjalan mundur ke belakang dan menyenderkan ke temboknya. Elvan yang melihat kaki Lesya perlahan mulai dapat berjalan, tersenyum simpul. Menghampiri gadis yang terlihat ketakutan itu, Elvan membawanya ke pelukannya. "Udah, gak ada lagi dia! "
Lesya mengangguk dan membalas pelukan Elvan. Tak berselang lama Lesya justru tertidur dalam pelukan lelaki yang menenangkan dirinya. Elvan yang mendengar dengkuran kecil Lesya dan nafasnya mulai tenang mengangkatnya dan membawanya ke arah ranjang kamar.
____________
Beberapa waktu berlalu, Lesya terbangun dan melirik sekitarnya. Rupanya Elvan berada di sofa kamar mengerjakan semua tugasnya yang hampir tertunda. Ingatan mengenai kejadian barusan membuat dirinya terdiam dan tak ingin beranjak kemanapun kecuali membolak-balikan dirinya di ranjang alias tidur!
"Udah bangun lo? " tanya Elvan tanpa mengalihkan pandangannya dari tugas-tugasnya. Lesya hanya mengangguk tanpa menjawab. Perlahan dirinya mengecek ponselnya dan melihat perkembangan sejauh mana perusahaan milik keluarga Fyo berkembang.
Dirinya berdecak malas dan hampir membanting ponselnya. Nihil! Tak ada perubahan yang dia lihat dari data-data justru semakin menurun. "Ck! Apa harus gw yang turun tangan?! " gumamnya.
"Makan dulu! " ucap Elvan tiba-tiba.
Lesya hanya berdehem kecil saja dan menyimpan kembali ponselnya di nakas. Dengan malas, dirinya beranjak dan hampir terjatuh karena tak seimbang berdiri. Untung saja tangannya masih memegang selimut yang ada sebagai penopang dirinya. "Syukur aja! "
Lesya yang melihat Elvan mengemasi semua tugasnya terdiam. Aneh saja menurutnya! Elvan sangatlah rajin, sedangkan dia? Jika niat saja dia akan rajin! Yang menjadi pertanyaannya sekarang, apa Elvan tak malu begitu dengan sikapnya? Biasanya, segala perkara rumah tangga yang dia kenal sangatlah memandang sikap, penampilan dan attitude. Dia kan minus sikap!
Elvan menghampiri Lesya setelah mengemasi barangnya dengan alisnya yang berkerut. "Kenapa? Ada yang salah kah? " tanya Elvan. Lesya menggeleng saja. Kikuk kan jadinya! Pikir Lesya.
Elvan memilih percaya saja dan membantu Lesya berjalan ke arah dapur. Lesya sendiri merasa sedikit nyeri pada sebelah kakinya. Hanya sedikit saja rasanya, berbeda saat tadi yang lumayan sakit. Tak ambil pusing, Lesya merasa biasa saja. Toh sedikit doang!
Lesya menganggukan kepalanya di saat mereka berdua sudah mencicipi masakan baru Elvan. Iya makanan baru! Makanan yang tadi, sengaja Elvan buang karena sudah kotor. Dan perkara soal kejadian Lesya tadi, dirinya sudah membuat perhitungan dengan pelaku.
__ADS_1
"Eum, lumayan! Lo jago masak juga ya? " tanya Lesya. Elvan mendongkak dan menggeleng. "Gak juga! Dulu gw sering hancurin dapur sih! " jawabnya santai.
Lesya tercengang. "Gw tebak waktu bunda masak lo ikutan! Ngaku lo! " Elvan hanya mengangguk disertai senyum tipisnya. "Dulu gw liar orangnya! Susah nurut! "
"Menurut gw wajar sih laki-laki susah nurut! Because, zaman remaja itu dimana waktu susahnya diatur karena rasa penasaran akan dunia luar! Istilahnya sama kayak bayi yang mau tau lingkungannya itu apa aja! Makanya susah diatur! " ucap Lesya santai.
Perlahan Lesya tersadar. "Wait! Emang lo dulu bandel gitu? K-kok? Bandel dari mananya? " Elvan menautkan alisnya paham maksud Lesya. "Ayah minta gw jadi OSIS! So, jadi OSIS itu kan harus jaga sikapnya ya, jadi gini! " jawabnya.
Lesya mangut-mangut mengerti akan penjelasan Elvan. "Kecelah lo! Terus kalau lo udah gak jadi OSIS lagi, lo mau bolos bareng gitu sama gw? " tanya Lesya asal menyeplos dengan wajah polosnya.
"Mungkin, "
Lesya membulatkan mulutnya tak percaya. Padahal dia hanya melantur saja berbicara. Tak menyangka Elvan menyetujui pertanyaannya itu. "Tapi, lo gak hukum gw kan karena ngajak lo bolos? " tanya Lesya lagi dengan polosnya.
Elvan menatap gemes ke arah Lesya. Menurutnya, akhir ini sikap kekanakan Lesya mulai keluar. Dan, itu sangatlah imut di hadapannya. Yah, mungkin dia sudah jatuh cinta dengan rivalnya di sekolahnya itu! Maybe~ Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu isi hatinya. Termasuk author, haha!
"Kalau gw gak berhak hukum lo, kenapa enggak? " Lesya lagi-lagi membulatkan mulutnya tak percaya. Mudah saja jika dirinya kabur dari OSIS, asal yang mengejar bukanlah Elvan!
Cup! Staak!
"Iya-iya! " jawab Elvan. Lesya diam membeku. Bahkan sendok yang dia pegang jatuh ke bawah meja karena terkejut. Hah? Apa? Ada apa? Apa itu tadi? Pikir Lesya yang mulai nge-bug.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1