
Episode 441: Isi
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Pemakaman masih belum dilakukan setelah kejadian di mana Luna pingsan. Efek dari wanita itu yang belum makan, membuat tubuh Luna melemah dan akhirnya pingsan. Penyebab lainnya juga dipastikan karena masih syok dengan kejadian yang kemarin baru terjadi.
"Vay nginap di sini dulu gak papa 'kan?"
Sang empunya nama menoleh ke arah Lesya yang menawari dirinya. Dia hanya membalas dengan anggukan tanpa jawaban sedikit pun. Coba bayangkan, anak sekecil Vay, sudah tak pantas kah mendapat bimbingan dari orang tuanya? Hingga dunia membuatnya kehilangan kedua orang tuanya? Pasti dalam kondisi bertepatan begini, Vay jauh lebih terpuruk dibandingkan Luna yang sudah dewasa.
"Vay ganti baju dulu yuk?"
Valen yang mendengar percakapan keduanya akhirnya angkat suara. Bocah kecil itu hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Valen yang menunjukkan arah ruang ganti. Sebelumnya, style pakaian Vay sudah dibawa dari rumah.
"Gw kasian sama dia, masih kecil loh."
Lesya mengangguk-angguk menyetujui ucapan Lisa. "Gw gak takut sama gimana kehidupannya, gimana cara berpikirnya, tapi gw takut aja mentalnya keganggu dan akhirnya buat cara berpikir, kehidupan, emosional dia juga ikut keganggu." ucap Lesya.
"Iya deh, ada yang lebih paham,"
"Gak jelas! Btw, ini si Luna pingsan atau tidur sih, lama bener?" decak Lesya. Pasalnya, hari sudah hampir sore. "Dia gak depresi terus diam-diam mati 'kan ya?" lanjut Lesya dengan ngawurnya.
Plak!
"Lo ngomong di saring dulu! Sembarangan ngatain anak orang."
Lesya meringis menerima lemparan bantal yang dilemparkan oleh Elita. Awalnya Elita fine saja dan asik bermain dengan anaknya. Namun, kata-kata yang dilontarkan Lesya begitu ngawurnya hingga dia terkejut mendengarnya.
"Sya,"
Lesya yang sedang mengusap keningnya beralih menoleh ke arah Amel yang memanggilnya. Menggerakkan dagunya sekali ke atas sebagai jawaban, Lesya seolah bertanya 'ada apa' pada Amel.
"Kayaknya si Luna bakal punya debay." ucap Amel. Lisa dan Lesya melotot terkejut mendengar ucapan dari Amel. Beberapa yang masih tersisa di sana juga menutup telinga saat mendengar pekikan kedua wanita tersebut.
"WHAT? HAMIL MAKSUD LO?"
"IYALAH, ya kali masuk angin."
"Seriusan Mel? Jangan kasih harapan palsu sama kita-kita loh!" ucap Lisa yang sama sekali masih tak menyangka.
Amel menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Dia memang mengambilnya buruan kedokteran, tapi dia mengambil praktek dokter bedah bukan kandungan.
"Kayaknya ya begitu ... soalnya gw pernah belajar sekilas tentang beginian, makanya gw saranin cek ke dokter kandungan aja takutnya beneran."
"Ngomong lah sama Valen, 'kan dia suaminya." kata Lesya sedikit sinis karena cara penguncapan Amel memberitahu mereka layaknya mereka yang bertugas menjaga Luna.
__ADS_1
"Gw kenapa?"
Sang empu yang baru kembali akhirnya menyahut percakapan ketiganya. Amel mulai menjelaskan kembali secara ulang kepada Valen. Tentu saja lelaki itu kaget dan akan segera membawa istrinya ke dokter kandungan besok. Tak hanya Valen, yang lainnya juga ikut terkejut.
"Tapi cuman feeling gw sebagai dokter lhoo ya! Kalau enggak, berarti ada yang bermasalah. Kalau beneran berarti buat syukuran, tapi kalau enggak harus cek kondisi dulu." ucap Amel dibalas anggukan paham oleh Valen.
"Gw kapan ya?" lirih Lisa.
"Gw herannya sama lo, Lis! Kemarin yang cetus buat bikin ide waktu itu elo, yang ketinggalan lo sendiri, rasain noh." balas Lesya yang mendengar lirihan Lisa.
"Sembarangan, lo juga kali! Noh Amel aja dokter tapi masih belom isi, Kentang aja juga masih belom isi padahal dia juga paham gimana caranya." kesal Lisa mengancang-ancangkan tangannya yang siap ingin memukul Lesya.
"Kasar, ga like!"
"Kata siapa gw dokter tapi belom isi? Udah kali, Nayla juga udah malah." bangga Amel membuat Lisa membulatkan mulutnya cengo. Akhir ini dia memang sibuk, itu sebabnya tak berkumpul lagi di markas gangster karena persiapan praktek pengacara.
"Lah dari kapan?" heran Lisa.
"Kalau gw dari dua bulan lalu, kalau Nayla baru 3 minggu 'kan ya, Nay?" ujar Amel beralih menatap sahabatnya yang sedang makan dengan disuap oleh Ken.
Nayla hanya mengangguk dengan pipinya yang masih diisi banyaknya makanan. Memang benar, hanya saja Nayla lupa memberitahu Lesya, Lisa, juga Luna. Dia pikir, Ken yang memberitahu teman-temannya membuat mereka tetap tahu tanpa diberitahukan.
"Woah, kita ketinggalan, Sya!"
"Bodo*amat, gw pulang deh capek, gerah, bye!" pamit Lesya yang langsung kembali ke rumah kedua mertuanya.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Setelah membersihkan diri, Lesya keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Berjalan ke arah ruang tamu, Lesya segera menghampiri dan duduk di sebelah Elena yang masih asik bermain dengan Axel, anaknya. Nama lengkapnya adalah, Axello Craushen Bryson.
"Hey, sapa Ontinya dulu Ax,"
Sangat terlihat jika Elena sedikit kesusahan mensejajarkan gerak Axel yang sangat ingin tahu ini-itu. Lesya terkekeh dan mengambil alih balok mainan yang hendak dimakan oleh Axel.
"Jangan dimakan oke? Ini mainan Ax, kalau mau makan mending minta Oma buat ayam goreng." ucap Lesya ngawur membuat Elena yang membereskan mainan sang anak terkikik geli.
"Mana bisa Sya! Dia baru bisa makan biskuit, bubur, itu doang palingan." ujar Elena membuat Lesya mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Menggapai tubuh Axel agar duduk di pangkuannya, Lesya hanya mengiyakan ucapan Elena yang pamit pergi ke toilet setelah selesai beberes mainan anaknya yang berantakan.
"Axel, ucul banget sih kamu!"
Lesya ingin sekali menggigit pipi tembam anak dari kakak iparnya. Sayangnya dia masih waras untuk tak membuat Axel menangis. Jika menangis, dia harus bertanggung jawab, itu artinya Alam bisa saja mengomelinya seperti saat itu.
Pernah Lesya mengira jika tangan Axel adalah ayam goreng, akhirnya sang empu menangis kesakitan merasakan jarinya yang digigit. Alhasil, Lesya diomeli oleh Lesya hingga saat itu Lesya berhasil membujuk Axel dengan membeli banyak mainan untuk bocah yang masih bayi itu.
"Axel, kapan ya Onti punya anak?"
__ADS_1
Lirihan Lesya itu dibalas ocehan-ocehan yang sama sekali tak dapat dipahami oleh Lesya. Lesya terkekeh dan mengecup sekilas pipi tembam Axel yang masih mengoceh dengan tangan yang diletakkan di pinggang seolah memarahinya. Arghh, lucuuu!
Tatapan Lesya beralih ke arah Elvan yang baru datang dengan wajah yang tampak segar. Dapat Lesya tebak jika suaminya baru saja membersihkan diri. Dengan inisiatif, Lesya memegang tangan Axel dan bergerak melambaikan tangan seolah menyapa Elvan yang terlihat letih.
"Aloo Oncel,"
Elvan menggapai tangan keponakannya dan menekan kedua pipi Axel dengan gemas. Axel yang tak terima tampak meraung-raung memperagakan suara harimau seperti suara yang ditontonnya di ponsel sang Mama—Elena.
"Kak Elen mana?" tanya Elvan.
"Ke toilet dia." jawab Lesya.
"Kenapa cari-cari? Kangen ya?"
Elena yang baru datang dari arah belakang dengan dua kotak membuat keduanya menoleh. Elvan kini sudah mengambil alih Axel dan menggeleng.
"Enggak, cuman kasian anak lo buat gw."
"Idih, enggak ya! Kalau mau ya buat sendiri sono, ogah gw bagi-bagi sama lo, sakit tau pas gw lahirin." ujar Elena mengerucutkan bibirnya manyun.
Lawan bicara hanya diam tak menanggapi. Tangannya terulur mengambil pesawat mainan dan mengarahkannya kepada Axel. Kedua lelaki berbeda usia itu kini sudah sibuk bermain mainan dan kembali merecoki apa yang sudah dibereskan Elena sebelumya. Beruntung Elena sabar dan baik hati, jadi dia tak perlu ngamuk ini-itu!
"Mau gak Sya?" tawar Elena.
Lesya menoleh dan mengambil langsung cookies yang ditawarkan oleh kakak iparnya. Elena memang tadi tak sengaja melewati dapur dan diminta Mayang agar membawa ke depan sebagai cemilan. Akhirnya di sinilah cookies buatan Mayang yang baru saja jadi.
Kedua wanita yang berbeda beberapa tahun itu saling berbagi cerita ataupun pengalaman saat kecil. Terlebih pada Elena yang sangat antusias saat dia menceritakan sifat-sifat aneh adiknya—Elvan. Berbanding balik dengan Lesya yang hanya sesekali menanggapi cerita kakak iparnya tanpa menceritakan pengalaman buruknya saat kecil.
Ditemani dengan cookies buatan Mayang, Lesya juga sesekali melirik ke arah sang suami juga Axel yang sangat asik bermain. Dapat Lesya lihat jika Elvan yang sedang melakukan tos pada Axel, terlihat sangat bahagia.
*Kapan ya gw punya anak? Rasanya gak pantes kalau gw gak kasih keturunan buat Papan.* batin Lesya seraya tersenyum lebar menanggapi curhatan Elena yang selalu sabgat sabar menjadi seorang kakak dari adik kutubnya.
Di sisi lain, Alam yang baru saja turun dan menghampiri mereka, memperhatikan cara senyum Lesya yang seperti tak biasanya. Karena ingin menghargai privasi adik angkatnya, akhirnya Alam bersikap santai seolah tak ada masalah apapun dan ikut bermain dengan adik iparnya juga anaknya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Bagi yang udah berkeluarga, boleh kasih tau gak di sini Axel itu keponakan Elvan sama Lesya 'kan ya? Author masih bingung, soalnya belum terlalu paham tentang silsilah keluarga besar.
Mau diskip cepet atau enggak?
Atau diskip sedikit biar keringkas?
Soalnya part udah banyak banget, hampir 450 episode, woahhh... kaget, masih ga nyangka bakal sesuai target!
__ADS_1
Btw, mau request tentang apa?