Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
163: Penyerangan!


__ADS_3

Dua tembakkan terdengar hingga Mayang yang berada di dapur bersembunyi di bawah kolong meja. "Shitt! Lagi?! " geram Lesya masuk dan sorot matanya mengarah ke penjuru ruangan.


"Bundaa! " panggil Lesya berlari ke arah dapur. Betapa terkejutnya dia melihat Mayang gemetar ketakutan di bawah kolong meja yang ada. "Bunda?! " Mayang mendongkak dan menarik Lesya agar diam. "Syuutt! "


Lesya terdiam. Beberapa pekerja wanita mengurungkan dirinya di kamar mereka. Sementara beberapa bodyguard menjelajah isi rumah. Satpam rumah tersebut juga ikut membantu para bodyguard.


Dorr!!


Suara teriakkan seorang wanita terdengar hingga Lesya hendak keluar dan mengepalkan tangannya erat. "KELUAR LO ALEESYA!! " geramnya. Mayang menahan dan menggeleng agar Lesya tak keluar.


Para bodyguard mencari arah sumber suara dan mengarahkan senjata mereka ke satu sosok berjubah merah. "Angkat tangan!! " Orang tersebut tersenyum remeh. "Ketat juga ya penjagaannya? Beruntung banget Mayang bisa dapetin Angga! " remehnya.


Suasana tersebut terjadi di ruang tamu hingga Lesya yang tak dapat menahan diri beranjak keluar. Namun dirinya terhenti dan memasangkan Mayang jam pelindung di tangannya. "Teriak aja kalo bahaya ya bun! "


Mayang mengangguk dan menahan tangan Lesya yang hendak pergi dengan sorot mata menahan amarah. "Bunda tenang aja, aku bisa kok! " Akhirnya dengan berat Mayang melepaskan Lesya.


Tes!


Mayang menyeka sudut matanya yang sedikit berair. Sikap keibuannya sangat mendominasi dirinya. Dia tak rela jika seorang anak ikut campur dengan permasalahan orang tuanya. Apalagi wanita dan itu Lesya! Menantunya!


Lesya menatap tajam arah sosok wanita berjubah merah tersebut dan menarik satu alisnya ke atas. Tatapan tajamnya dan senyum miringnya terukir di wajah cantiknya. "Hello everyone! And, papa ups salah! Maksudnya tuan Gilang keluar dong masa mainnya ngumpet sih! " ledek Lesya kecil.


Gilang tertawa dan keluar dengan jubah hitamnya yang menutupi semua wajahnya begitu juga dengan wanita tersebut. "Wah! Lihat mainnya kroyokan! Persis seperti bapak kandung apa tiri ya? " ledek Gilang.


Lesya mengepalkan tangannya dan mencoba sabar agar tak terbawa emosi. "Wah.. Kasian sepertinya kekurangan kasih sayang dari nenek dan kakek hingga begini anaknya! " ledek Lesya tak kalah menusuk.


Gilang mengepalkan tangannya erat, emosi dengan ucapan pedas Lesya. Lesya mengangkat satu alisnya ke atas dan melipat kedua tangannya di dadanya. "Kenapa? Nusuk ya? Maaf deh uncle! " ucap Lesya dengan ekspresi sedihnya.

__ADS_1


Mata wanita tersebut dan Gilang membulat bersamaan. Sekarang mereka berdua sudah di kepung banyaknya bodyguard yang bertugas di rumah mewah itu. Kejanggalan terjadi di benak Lesya melihat wanita tersebut memasukkan tangannya ke dalam saku jubah. "Aunty Mily bawa senjata lain ya? " tanya nya polos.


Mily terkekeh sinis bak seorang physio. "Haha.. Bocah sial*n rupanya tak katarak ya! " ledek nya sedikit kagum dengan mata tajam Lesya yang dapat tahu jika dirinya adalah Mily.


Lesya tertawa kecil dengan nada sinis setelah itu dirinya berhenti tertawa dan menatap datar Mily dan Gilang. "Eum.. Aunty Mily yang baik hati. .. Ponakan mu yang pembawa si*l ini tahu kok! " ucapnya dengan nada dibuat manja.


"Tahu apa kamu?! " serkas Mily. Salah satu bodyguard mendekati Lesya dan menyuruh istri dari anak majikannya itu berlindung diri. "Maaf nona, biar kami yang mengurus mereka saja. " ucapnya.


Lesya menggeleng kecil mendengar teguran itu. "No paman! Turunkan senjata kalian karena mereka berdua ini keluargaku! " tegas Lesya. Alhasil pistol yang tertodong tak mengarah kepada Mily dan Gilang kembali.


Mily terkekeh sinis mendengarnya. "Bod*h! Bod*h! Haha... Kalian semua sangatlah bod*h! Goodbye and hope you come back to your senses! " Dengan cepat Mily memegang tangan Gilang dan mengarahkan satu botol kecil yang berasap.


Berlari memegang tangan Gilang, kedua manusia tersebut berhasil kabur dari penjagaan ketat rumah mewah tersebut. Sementara para bodyguard menutup mulutnya dan pingsan seketika.


Lesya masih berusaha melihat dan menajamkan tatapannya. Nihil! Asap dari botol tersebut berkabut hingga pandangan Lesya buram seketika.


Baik bodyguard maupun Lesya seketika pingsan begitu saja. Asap yang membuat mereka sesak dari Mily tadi, sudah menyebar hingga ruang tamu tersebut di penuhi asap. "Lyra sayang mereka pih! " gumam Lesya dengan mata yang sayu.


Tes!


Satu tetes cairan bening mengalir dari mata kiri Lesya begitu saja. Entah ada dorongan dari mana, Lesya memang menyayangi Mily dan Gilang. Merasakan sesak yang teramat di dadanya, Lesya akhirnya tak sadarkan diri di tengah-tengah banyaknya bodyguard dan beberapa satpam.


Berbeda dengan Mayang yang masih duduk terdiam di kolong meja. Mulutnya sedari tadi berkomat-kamit meramalkan doa agar Lesya dapat selamat. "Ya Tuhan, selamatkan Lesya! " gumamnya.


Pandangan mata Mayang sangatlah cemas. Dirinya berusaha tenang dan mencari keberadaan ponselnya yang berada di saku celananya. Setelah beberapa detik mencari, akhirnya Mayang mencari nama putranya itu. Elvan!


"Ayo nak angkat! " cemas Mayang. Mayang sudah keluar dan mondar-mandir menelepon Elvan di seberang sana. Baik Elvan dan Angga, sama sekali tak ada yang mengangkat teleponnya. Gelisah? Tentu saja!

__ADS_1


...~o0o~...


Entah perasaan apa ini, Elvan ingin sekali segera kembali karena merasa ada yang tak beres. "Jadi.. Bagaimana? " Elvan menatap pria tua di depannya dengan alis terangkat satu. "Maaf perusahaan kami tak dapat menerima anda! " tegasnya lalu pamit keluar.


Dengan sorot mata tajam, rahang yang ketat, badan yang tegap, Elvan berjalan dan membuka ruang meeting antara dua pihak perusahaan. "Kok perasaan Ayah gak enak ya nak? " molog Angga gelisah.


"Kita pulang Yah! " Angga mengangguk. Dengan cepat mereka berjalan menuju arah parkiran yang ada. Saat ini hari sudah menjelang malam. Matahari hampir terbenam di langit sore.


Selama di perjalanan, perasaan Ayah dan anak itu tak karuan. Ditambah Angga harus menahan nafasnya merasakan kecepatan mobil yang dikendalikan oleh Elvan berada di atas rata-rata.


Akhirnya dirinya dapat bernafas lega hanya sedetik saja. Karena Elvan dengan cepat keluar dan membanting pintu. Sorot matanya berubah melihat sekelilingnya. Ternyata mobil terparkir di depan gerbang bukan halaman rumah.


Keluar, Angga menghampiri sang anak dan menendang pagar gerbang. "BUKA!! " geram Angga. Emosi Angga memang sulit terkontrol kecuali satu. Mayang!


Mayang yang mendengar geraman Angga hendak berlari namun mendengar satu tembakkan kembali entah dari mana berasal.


Dorr!


"Lesya.. Maafin bunda gak bisa tolong kamu! Tapi.. Bunda lewat belakang buat nyamperin Ayah oke? " gumam Mayang seolah berbicara dengan Lesya.


Berlari menghampiri Angga melalui pintu belakang yang dapat mengarah ke arah halaman depan, Mayang menatap sang suami dan anak dengan pipi yang basah. "Bunda?! " ucap mereka bersamaan.


Mayang mengangguk dan membukakan pintu gerbang dengan cepat. "Kalian masuk! Lesya di ruang tamu gak tau ngapain! " panik Mayang. Elvan dengan cepat berjalan dengan langkah lebarnya dan melotot melihat keadaan Lesya saat ini.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Gadang kuy? Like dulu ya gaes🙏🏻


__ADS_2