
Episode 398: Berhasil
Di sebuah rumah yang sangat luas kini sedang dipergunakan layaknya rumah sakit. Karena peralatannya yang lengkap membuat rumah mewah itu sedang melakukan tindak operasi.
Para pelayan yang bekerja juga semua dipulangkan kecuali Nic. Memang tugas pria itu lebih besar dibandingkan pelayan yang lainnya. Bahkan pria yang sempat ditolong Lesya dahulu itu kini mengabadikan hidupnya hanya untuk majikannya sampai akhir hayatnya.
Dan tepat di depan sebuah ruangan yang digunakan untuk operasi, kini tak sedikit orang merapalkan do’a agar yang bersangkutan dapat selamat. Sedari tadi saja Mily menenangkan Sella yang telihat gelisah. Bahkan Justine saja harus dititipkan sejenak kepada Maurine.
Di depan ruangan itu juga, sudah ada seorang lelaki yang menundukkan kepalanya. Dalam hatinya, dia mencoba menepis pikiran buruk dengan apa yang akan terjadi. Untung saja temannya—Valen terus memberinya dukungan positif agar tak berpikir macam-macam.
Bahkan tepat pada subuh hari, Henny saja sudah tiba dengan jemputan dari Valen juga Luna. Memang mama Luna itu menyusul paling akhir karena pekerjaannya. Namun Luna bersyukur dapat melihat orang tua tunggalnya dapat tiba dengan selamat.
Ceklek…
Suara pintu yang terbuka cukup nyaring di dengar. Hari ini yang bertugas adalah pasangan dokter, Candra dan Sarah. Untuk kali ini Andre sama sekali tak bertugas untuk Lesya. Jika Andre hanya bertugas menangani Leon saja.
Candra membuka maskernya dan tersenyum seolah meyakinkan mereka. "Operasinya berhasil! " ucapnya. Sontak mereka memancarkan senyum bahagia dan saling memeluk satu sama lain. Tak banyak kericuhan yang terjadi. Mereka hanya bersyukur karena setidaknya kedua ayah anak itu masih bernyawa.
Sella, Mily juga Gilang juga ikut mendorong brankar Galang agar berpindah ke tempat yang sebelumnya sudah disediakan. Jujur semalam Gilang sempat dinasehati oleh kembarannya agar tak terlalu keras dengan Lesya. Dan hingga saat ini, nasihat itu masih terpikir tanpa terlakui oleh Gilang.
Sementara untuk Lesya hanya menunggu sadar saja tanpa dipindahkan seperti Galang. Namun saat semuanya hendak masuk, mereka dikejutkan oleh kedatangan Lisa yang memberitahu jika Leon kembali drop. Tentu saja mereka semua terkejut mendengarnya.
Cakra saja yang terkejut dengan segera berlari ke ruangan Leon yang berada di lantai bawah. Bahkan pasangan kedokteran itu juga segera berlari untuk membantu tugas Andre. Namun hanya Candra karena Sarah harus mengurus Lesya yang baru saja selesai operasi.
"Gw-- Nanti gw liat Lesya nya, gak papa kan gw tinggal? " ragu Luna bertanya pada Elvan dengan hati-hati.
Elvan menoleh dan mengangguk pelan saja. Dengan segera Luna berlari diikuti Valen juga Henny setelah berpamitan dengan Elvan. Dan kini, hanya Elvan juga Lion yang berbarengan masuk ke dalam ruangan setelah Sarah. Karena Elena, Angga, juga Mayang secara reflek juga ikut berlari ingin melihat kondisi Leon.
Dan ternyata saat Sarah memeriksa kembali keseluruhan Lesya, sang empu itu berdehem seolah dia sudah bangun. Tentu saja mereka tersenyum senang dengan kesadaran pemilik rumah itu. Berbeda dengan Lion yang memilih diam tanpa menggeram sedikit pun agar tak mempersulit majikannya.
"Say ‘yes’ if you are aware, Sya! (Katakan ‘iya’ kalau lo udah sadar, Sya!) " kata Sarah.
"Yes," ucap Lesya.
"Good, gw cek dulu kondisi lo baru penutup matanya gw buka ya? " ujar Sarah dibalas deheman kecil dari Lesya.
Elvan tentu saja berjalan mendekat dan menggenggam tangan Lesya yang cukup dingin. Diikuti Lion yang hanya duduk anteng tanpa suara di lantai samping kursi yang ditempati oleh Elvan.
"Haus," keluh Lesya.
Dengan segera Elvan mengambilkan minum disertai sedotan yang sengaja diletakkan di gelas agar tak tumpah saat minum nanti. Dengan telanten Elvan membantu Lesya menenguk sebagian air dari gelas yang dia ambil.
"Lo Papan kan ya? " tanya Lesya ragu.
"Iya." jawab Elvan mengangguk kecil.
"Thanks," tulus Lesya berterima kasih karena selama ini, Elvan lah yang membantunya mengerjakan ini itu. Lelaki itu hanya menghela nafasnya dan duduk di kursi sebelah brankar setelah mengembalikan letak gelas minum tadi.
__ADS_1
"Pan, masa tadi gw mimpi aneh! " ucap Lesya tiba-tiba. Elvan mengerutkan keningnya bingung dengan pembicaraan Lesya. Bahkan Sarah pun sama bingungnya dengan Elvan.
"Mimpi apa? “ balas Elvan bertanya.
Gadis dengan mata yang masih diperban hanya menghela nafasnya agar lebih teratur. Sesekali dia memegang kepalanya yang sedikit berdenyut dengan sebelah tangannya yang diinfus.
"Tadi, gw ngeliat papi, mami sama Leon asik main di taman yang ada air mancurnya. Tamannya beda dari taman yang di rumah gw Pan! Lebih indah di sana, tapi sewaktu gw mau susul mereka, justru Leon bilang gini: “Ini bukan tempat kamu Sya, di sini aku udah bahagia ketemu orang tua aku, sama mami papi kamu.” katanya. " ucap Lesya dengan anehnya justru bercerita.
Sarah dan Elvan yang mendengar membelakkan mata mereka terkejut. Apa mungkin itu akan terjadi? Tapi ucapan Lesya begitu menohok mereka.
"Terus ya masa dia nguncapin kalimat perpisahan sih?! Contohnya gini: “Bilang sama Lisa jangan nangis terus, di dunia ini kita gak berjodoh mungkin, tapi kamu harus tau kalau aku sayang kamu!” gitu. Tapi Leon gak kenapa-napa kan Pan? " tanya Lesya sedikit khawatir dan memegang kembali genggaman Elvan.
"Hah? Em-- Iya," spontan Elvan.
"Syukur deh, kalau cuman mimpi doang." lega Lesya seraya menghela nafasnya panjang. Sarah yang sudah selesai mengecek keseluruhan kondisi Lesya tampak tersenyum cerah yang artinya tak ada masalah jika untuk gadis itu.
"Semua bagus! Mata lo juga mudah beradaptasi sama tubuh lo Sya, mau buka sekarang gak? " tanya Sarah dibalas anggukan kepala Lesya.
Dengan perlahan Sarah mulai membuka perban yang menutupi sebagian wajah Lesya. Sesekali Elvan ikut meringis di saat Lesya meringis pelan karena merasakan kepalanya yang berdenyut.
"Kak, kepala gw nyeri kenapa sih? " bingung Lesya. Sarah menggelengkan kepalanya. Jika setelah melakukan operasi, Sarah cukup paham dengan sikap Lesya yang terkadang sering kali mengeluh ini-itu karena hanya sekedar ingin tahu dengan kondisi tubuhnya.
"Namanya juga lagi beradaptasi Sya... Tahan seminggu mungkin," balas Sarah lalu meletakkan perban yang kini sudah tak lagi menutup sebagian wajah pasiennya itu. "Dah, sekarang coba buka mata lo tapi pelan-pelan! " lanjut Sarah memberi intruksi seraya mengambil sebuah papan kecil yang ada di sana.
Sesuai intruksi Lesya membuka matanya perlahan dan mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Menoleh ke kanan kiri, mulutnya cengo dan berteriak histeris.
Bahkan secara reflek Elvan yang berdiri karena kaget justru dipeluk erat oleh Lesya karena saking bahagianya. Sungguh, dia sangat bahagia ketika sudah bebas dari kegelapan yang dia rasakan selama hampir lima hari!
"Ehem-ehem dokternya di sini woyy! Udah dulu, sini test bentar! " sabar Sarah berdehem agar menyadarkan kedua pasutri itu. Lesya menoleh dan sontak melepaskan pelukannya.
Menyengir pelan, dengan segera dia kembali mengikuti intruksi dokter yang merawatnya saat sakit. "Test apa saya dok? " polos Lesya dengan senyum bahagia yang tak luntur dari bibirnya.
"Nih coba liat, sekarang yang ini warna apa? " tanya Sarah menunjuk ke arah salah satu warna papan di sana. Lesya membulatkan matanya kaget. Yakali dia ditanya seperti itu layaknya anak kecil.
"Ungu lah masa ijo?! " kesal Lesya.
"Nah good, " Sarah memundurkan dirinya hingga pojok ruangan dan mengambil salah satu papan lain yang dia bawa. "Nah, kalau ini angka berapa? " tanya Sarah melanjutkan ucapannya.
Lesya mengangkat alisnya satu. Dia sama sekali tak rabun. Bahkan jika dirasakannya, mata yang baru saja dia pakai sama persis dengan matanya yang sebelumnya. "Tiga belas." jawabnya.
"Good! Coba tolong matiin lampunya Van," pinta Sarah diangguki Elvan lalu mematikan lampu yang ada di ruangan itu. Tentu saja secara reflek Lesya berteriak kaget hingga membuat Elvan kembali menyalakan lampu ruangan itu.
"AKKHH?!! " pekik Lesya memegang kepalanya dan menutup matanya. Tangannya kini beralih meremas baju yang dia gunakan dengan erat. Bahkan keningnya mengeluarkan keringat dingin di ruang yang memiliki mesin pendingin.
Sarah dengan cepat berjalan cepat menghampiri Lesya diikuti Elvan. Dengan segera Elvan menggenggam tangan Lesya yang meremas dengan erat bajunya. Elvan juga kini dapat merasakan jika tangan gadis itu kembali dingin seperti saat hari pertama mengetahui kondisinya yang tak memungkinkan.
Sementara berbeda dengan dokter yang memeriksa keadaan Lesya. Sarah hanya diam di samping brankar Lesya seraya memperhatikan gelagat wajah pasiennya. Dan kini dia tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa? Ada yang sakit hem? " tanya Elvan lembut.
"Jangan! Please, ja-jangan dimatiin lampunya, gelap! " jujur Lesya yang saat ini masih tetap setia menutup kedua matanya dengan erat.
Sarah yang mendengar kejujuran dari Lesya menjentikkan jarinya. Elvan menoleh kepada Sarah seolah sedang bertanya pada dokter itu. Sarah hanya mengangguk pelan saja menyakinkan agar Elvan tak perlu khawatir.
"Sya, coba buka mata lo! Liat sekarang lo gak gelap-gelapan lagi kayak dulu, tadi itu gw sengaja buat test kecerahan mata lo doang! " ucap Sarah menjelaskan.
Mendengar penjelasan Sarah, sontak saja Lesya kini melemahkan kepalan tangannya dan perlahan membuka kedua matanya. Dia bernafas lega melihat ruangan sekitarnya ternyata sudah dihidupi lampu penerang.
"Sya denger ya! Lo punya kemampuan pencerahan mata sewaktu gelap kan? Nah, sekarang lo udah didonorin mata yang sama kemampuannya kayak lo, so di sini gw cuman mau mastiin lo bisa atau enggak, cocok atau enggak," kata Sarah menjelaskan secara rinci.
"T-tapi,"
"Iyaa.. Gw tau lo takut kan di gelap-gelap lagi? I know, di sini ada Elvan jagain lo. Biar gw aja yang matiin lampunya terus test lo lagi, oke? " sela Sarah yang paham dengan ketakutan Lesya.
Sang lawan bicara hanya diam lalu perlahan menganggukkan kepalanya pelan saja. Bagaimana pun juga niat Sarah baik untuk dia sendiri. Dengan perlahan Sarah kembali menjauh dan menutup lampu ruangan hingga gelap.
Lesya yang melihat sekelilingnya gelap hanya mengatur nafasnya agar paham dengan niat Sarah. Dengan genggaman Elvan yang menyakinkan dirinya, Lesya kembali melihat ke arah Sarah yang berdiri di satu sudut ruangan itu.
"Sya coba jawab, berapa jari gw yang keangkat? " tanya Sarah yang kini sudah mengangkat kesembilan jari-jari kedua tangannya. Lesya menajamkan pandangannya untuk menghitung jari-jari Sarah yang terangkat di keadaan gelap.
"Nine, " jawab Lesya.
Staakk!
Sarah kembali menyalakan lampu ruangan dan menganggukan kepalanya saja. Kembali berjalan mendekat ke arah brankar, dia meletakkan kembali papan kecil yang dia bawa untuk test.
"Good! Semua baik, di gelap juga gak rabun tapi, kalau bisa tolong dihindari ruangan gelapnya. Mungkin, Lesya sendiri masih trauma waktu dia gak bisa liat apa-apa dulu! " ucap Sarah bersaran.
Elvan hanya mengangguk kecil saja mendengar penjelasan Sarah. "Okey, makasih kak! " tulus Elvan dan dibalas anggukan kepala Sarah. Lion beralih berjalan dan sedikit berjinjit karena ingin melihat kondisi majikannya.
"Lionnnn.. Sini! " antusias Lesya sedikit membungkuk agar dapat mengelus bulu-bulu tebal harimau kesayangannya.
"Yaudah kalau gitu gw pamit ya, nyusul yang lain." ucap Sarah berpamitan dan hanya sekedar diiyakan saja dengan kompak oleh sepasang pasutri itu.
"KetBok, gw pengen liat kondisi pendonor nya dong! " pinta Lesya tiba-tiba.
Degg!
Elvan terdiam membeku mendengarnya. Namun sedetik dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Lesya harus tahu kan jika Galang adalah pendonor nya? Tak peduli apapun reaksi gadis itu, Lesya harus tahu seberapa relanya Galang. Pikir Elvan.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
WAWWWWWW... 2000++ WORD🙏🏻
__ADS_1
Padahal lagi sekolah tapi bisa nyampe segini ketiknya! Omaigad, gak nyangka senam jari segimana authornya :v
Please like and your comment gayss.. Kritik saran dipersilahkan di kolom komentar, thankss all... 🌻