
Leon, Lisa, keempat teman Elvan, Cakra, Alam, berjalan mendekat mengabaikan banyaknya orang yang masih diam mendengar ucapan Lesya. Mereka mendekat dan menemui para sandera yang sudah bebas dari ikatan tali.
"Gw lupa lo gak peduli sama gw! Sebagai ayah yang baik harusnya lo yang tanggung jawab atas semua kebutuhan anaknya! Dari dulu lo juga asal ninggalin mami di kamar gelap kan?! Kenapa dengan teganya lo kasih saran sama mami dan teror mami lewat pesan?! " lanjut Lesya lagi lalu menghempaskan tangan Galang kasar hingga pisau yang ada terjatuh ke aspal jalan.
"KENAPA GW BERHARAP DAPAT KASIH SAYANG DARI AYAH KANDUNG GW YANG JELAS-JELAS SAMA SEKALI GAK TERIMA GW?!! KENAPA GW HARUS HIDUP BEGINI DENGAN TIGA AYAH SEKALIGUS?!! KENAPA GW HARUS MASUK DUNIA GELAP YANG HARUSNYA GAK GW TEMPATI SEJAK KECIL?! KENAPA JUGA AYAH YANG BUANG GW TIBA-TIBA MUNCUL DENGAN NIATAN BALAS DENDAM PADA DARAH KANDUNGNYA SENDIRI?! "
Akhirnya, Lesya memejamkan matanya dan telinganya dia tutup erat setelah mengeluarkan sebagian isi hatinya. Masih sebagian namun dia lega setidaknya dia berbagi cerita walau dengan lantang dan keras dia teriakkan di depan wajah Galang, ayah kandungnya sendiri.
"Gw bod*h mau aja ya gw nunggu dan berharap lo akuin gw sebagai anak! Harusnya, dari dulu! Dari dulu aja gw bunuh lo biar hidup gw tenang tapi tangan gw kaku buat lakuin itu! Hati gw masih mau nerima lo di dunia! " lirih Lesya. Elvan yang mendengar mengelus punggung Lesya. "Udah-udah, mending kita pulang! " hibur Elvan berbisik dan hanya dapat di dengar oleh Lesya.
Galang masih diam tak berkata-kata mendengar putri sulung alias anak pertamanya dari Mila yang sudah tenang di alam sana. Lesya menunduk kecil dengan posisi yang berjongkok sementara Elvan yang sudah berada di sampingnya membawa Lesya ke dekapannya. Yah, Elvan saat ini dapat merasakan kesakitan yang dialami Lesya melalui baju seragamnya yang diremas oleh Lesya.
Sementara Letha hanya menatap lurus ke arah Galang seolah meminta penjelasan. "Jadi selama ini, gw punya tiga ayah? " lirihnya memecah keheningan. Sementara Mayang hanya diam dan perlahan menenangkan Letha yang mulai mencecar banyaknya pertanyaan dibantu oleh Maurine—kakak ipar Mayang.
"Sejak kapan? Kenapa gw gak tau? Apa lo selama ini nyembunyiin semuanya kak? Dan sekarang lo bilang kalau dia(Galang) ayah kandung lo? Apa dia yang dimaksud sama papa Gilang sesuai hasil tes DNA? Jawab kakk?! " bentak Letha mencoba mencari jawaban dari sang kakak yang masih diam tanpa suara.
Bahkan mereka sadar jika kelompotan Ice Blue perlahan mulai menghilang satu per satu kecuali Vayleen yang ditinggalkan sendirian di sana. Vayleen menatap Lesya dengan lekat. Dia sekarang paham mengapa Lesya dapat keras begitu dan dia juga paham mengapa Lesya saat di pasar malam bersikap lembut padanya.
__ADS_1
"Bom granat kebawa sama salah satu anggota Ice Blue! " ucap Lesya tiba-tiba yang melenceng dari alur pembicaraan. Bahkan Lesya masih tak mengubah posisi jongkoknya yang masih menutup wajahnya di dada bidang Elvan.
Luna mendelik mendengarnya. "Beberapa anggota Ice Blue sekarang keliatan banyak yang udah gugur! " balas Luna yang memang melihat banyaknya mayat di depan jalan sana. Kebetulan lumayan jauh dari sana. Namun dikarenakan Luna entah mengapa membawa teleskop dengan dua kaca yang berukuran mini. Dan hal itu membuat Luna dapat melihat dari kejauhan dengan bantuan alat itu.
"Jangan alihin pembicaraan! " datar Galang dengan nada dinginnya. Lesya mendongkok dan tertawa sinis bagaikan psychopath yang haus darah. "Buat apa gw gak alihin pembicaraan? Lo aja gak mau jawab pertanyaan gw kan? " enteng Lesya lalu kembali berdiri dan membantu Elvan beranjak.
"Jangan pernah temuin gw sebelum pertanyaan gw terjawab Tuan GALANG MARIVOULE ERTHAN" tajam Lesya lalu berjalan melangkah dari sana. Dia membawa Elvan ke arah mobil navy milik Elvan tentunya. "Yang lain urus diri sendiri! Sekalian jalannya juga di urus! " lanjut Lesya lalu berjalan ke arah bangku pengemudi tanpa melirik seorang pun.
Melihat kepergian Lesya, Luna hanya menghela nafasnya dan mengacak-acak rambutnya. "Ketauan mabok lagi nih nanti! " lirihnya. "Gara-gara anda yang asal lempar sana-sini benihnya tanpa mikir jadi gini kan?! Kalau sampai nanti gw denger kabar Lesya nangis gw petis leher lo pak tua! " kesal Luna lanjut menatap sengit Galang.
"SYA TUH SI TEH RIO LO APAIN?! " tanya Luna dengan berteriak agar Lesya dapat mendengarnya. Fyi, tadi Lesya mengikat Rio di ban motornya dengan kejam hingga saat dia menyalakan motor, Rio ikut terseret dengan keadaan yang sudah babak belurnya. Tentu saja sadis bukan? Dan di saat tiba di tempat tawuran itu, Lesya mendorong Rio hingga lepas dari ban motornya dan menabrak kepala Vion.
Benar saja Lesya tanpa beban membakar Rio dan kembali masuk ke dalam mobil. Letha menutup matanya karena tak menyangka Lesya akan sekejam itu.
Tak hanya itu saja namun semua yang ada di sana juga ikut bergidik ngeri melihat kekejaman seorang Lesya. Setelah itu, baru lah Lesya benar-benar pergi.
"Gw buat perhitungan ya sama lo pak tua! Udah kecium bau tanah masih aja main tarung, sini bye one! " ketus Luna.
__ADS_1
Valen dengan cepat menarik Luna agar tak menimbulkan keributan lagi di jalanan itu. "Dah-dah, jangan ngerusuh lagi lo! Yang luka mending urus lukanya dulu biar gak infeksi! " ucap Valen. Galang hanya diam saja mendengar hinaan terlontar dari mulut Luna yang dia kenal sebagai satu-satunya sahabat perempuan anak sulungnya dari Mila itu.
Perlahan Ken, Farel, Frans, Amel, Nayla dan Revan mulai pergi dari sana. Dan tentunya untuk kelima teman Elvan itu membereskan kerusuhan yang terjadi. Sementara Letha masih tak paham maksud dari kenyataan hidupnya saat ini.
Sementara Galang hanya melirik sinis ke arah Letha dan berjalan begitu saja. "Gil cabut! " ucapnya. Gilang hanya berjalan menuju motornya dan menatap tajam Angga. "Inget, belum selesai sampai lo tunduk ke gw! " bisik Gilang.
"G*la, mereka semua g*la! " Lisa akhirnya angkat suara dan beralih ke arah sang ayah yang sudah babak belur gitu. "Papa, gak papa kan? " tanya Lisa memastikan keadaan sang ayah. Arya hanya mengangguk kecil dan mengelus rambut anak bungsunya.
Sedangkan Alam berpamitan agar membawa Elena ke rumah mereka saja. Eumm, maksudnya kediaman Bryson. "Semuanya, kita pamit pulang dulu ya. " ucap Alam.
"Terus yang beresin ini siapa dah bang? " tanya Leon. Alam menggedikkan bahunya tak tahu. "Lo pada lah sono beresin! " jawab Alam enteng.
"Lah kok jadi gw?! " protes Cakra tak terima.
"Dari pada lo jadi santepannya si Lion mau hah? " tanya Alam menawarkan. Tentu saja Cakra menggeleng ogah-ogahan. Fyi, Lion adalah harimau cantik kesayangan milik Lesya di markasnya. Setiap ada mangsa, dipastikan Lesya memberikan tubuh mangsanya untuk hidangan terspecial harimau cantik kesayangannya itu.
Melihat kepergian Alam, satu per satu orang mulai pergi dari sana. Termasuk Lisa yang pamit pergi dengan keluarganya. Saat ini Mayang membujuk Letha agar kembali pulang di jalanan penuh darah itu. Pasalnya, banyak mayat yang masih terjejer di jalanan itu. Dan aroma darahnya sangatlah amis.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗