
Episode 425: Conflit à Nouveau
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Suara langkah kaki mengalihkan pandangan mereka. Pemilik nama tengah Aleesya itu kini sudah ditunggu oleh kelima orang yang menunggunya di ruang tamu. Segera gadis itu duduk di single sofa yang ada, kini dia memantapkan hati untuk tak menjadi pribadi yang mudah lemah saat ini.
"Langsung aja, gw ngantuk." kata Lesya.
"Ck, gak diajarin tata krama lo ya?" sinis Lita yang kebetulan ikut dalam sesi ini.
Awalnya Lita hendak mampir ke markas sang adik yang sempat mengajarkannya ilmu seni bela diri. Dan saat itu kebetulan Elvan datang dan memberitahukan hal yang sebenarnya. Lita terpancing emosi dan memilih ikut mencari keberadaan Lesya dengan Elvan. Akhirnya di sini lah mereka. Lokasi yang ditunjukkan dari gelang tangan pasangan yang pernah diberikan Elvan pada Lesya.
"Dulu iya, habis tuh enggak lagi. Kenapa? Tertarik ajarin gw tata krama? Maaf, gw gak perlu." balas Lesya tenang.
Lita mengepalkan tangannya dengan kuat. Kesan pertama melihat penampilan adik sepupu iparnya sangat tak baik. Semua kesan jelex bagi Lita mengarah pada Lesya, sepupu iparnya.
"Udah, Kak. Sya, lo kenapa serang markas kita?" tanya Lisa menahan tangan kakaknya yang terlihat geram.
Lesya mengangkat satu alisnya bingung dengan jenis pertanyaan yang dilontarkan oleh Lisa. Dia menyangga satu kakinya pada satu kaki sebelahnya dengan anggun seolah tak ada masalah. Tak lupa tangannya yang dilipat di depan dada, membuat kesan dingin dan angkuh pada wajah pemilik nama Aleesya itu.
"Enggak-enggak, gw gak serang markas kalian!" sangkal Lesya menggelengkan kepalanya. "Gw datang cuman bebasin adek gw doang. Harusnya tanya sama anggota lo, kenapa serang gw, begitu." lanjut Lesya mengoreksi ucapan Lisa.
"Lesya, gw tau lo---
Luna yang hendak angkat suara kembali tersela karena suara Lesya yang lebih dahulu memotongnya. Lesya tahu kemana arah pembicaraan Luna saat ini.
"Nope! Lo gak setau itu tentang kehidupan gw Aluna. Jangan ikut campur buat urusan kali ini!" tekan Lesya memperingati. Aluna, sahabat dari anak pemilik rumah itu tampak terdiam sejenak kemudian terkekeh sinis.
"Oke, fine! Tenang aja, gw gak ikutan."
Valen yang berada di samping Luna hanya dapat menggenggam tangan tunangannya yang tampak tersinggung dengan kata-kata Lesya. Mulut Lesya memang tajam hingga mampu membungkam lawan bicaranya dengan mudah dengan kata-kata pedasnya.
"Pakk Ketu?"
Valen kini berbisik menyadarkan Elvan dari lamunannya. Sang empu yang dipanggil hanya mengangguk paham dengan maksud dari kode mata wakilnya. Di saat ini, dia harus bersikap se-profesional mungkin untuk kepentingan gangsternya juga kepentingan pribadinya.
"Harusnya lo bisa bedain urusan pribadi sama gangster Queen Ellion, masalah begini---
"Gak tuh! Awalnya kalian sekap Letha setelah perang waktu itu kan? Dan itu melibatkan gangster dong? Kalau lo nyuruh gw bersikap profesionalisme, itu udah gw lakuin kok." sela Lesya memberi penjelasan dengan enteng.
"Tapi lo udah buat anggota kami banyak yang keluka, Aleesya." sentak Lisa yang memang mudah terpancing emosi. Sang lawan bicara hanya menganggukkan kepalanya seolah mengiyakan ucapan Lisa yang memang benar adanya.
"I know, but kalian yang mulai dulu!" ucap Lesya tak kalah menyentak. "Kalau kalian gak halangin gw yang mau keluar, gak bakal ada yang keluka!" lanjut Lesya dengan raut wajah kurang suka.
__ADS_1
Kini, Lita angkat suara karena melihat adiknya yang terdiam. "Tapi cara lo salah! Tahanan kami emang pantas ditahan." ujar Lita dengan pandangan mata yang tajam. Lesya yang mendengar terkekeh sinis seolah mengejek.
"Tau ceritanya aja enggak tapi sok-sokan bilang tahanan pantas ditahan?" sinis Lesya yang merasa tak suka dengan sosok Lita. Sangat pemarah!
Ketua Tiger Wong itu kini menghela nafas menyadari situasi semakin kacau. Anggotanya dengan Lesya tak ada yang ingin berbicara dengan tenang. Tak ada yang mau mengalah karena sikap keras kepalanya. Segera dia menatap kedua sepupunya dan menyuruh agar tetap tenang dengan kode kedua matanya.
"Kalau gitu, gw yang bilang tahanan pantas ditahan bisa?"
Lesya menoleh pada Elvan dan terdiam sejenak. Dia menggeleng seolah menjawab dengan kata tidak. Sontak ketua Tiger Wong itu menaikkan satu alisnya bingung dengan gelengan dari lawan bicaranya.
"Gak pantes sih! Seharusnya gw yang pantas buat tentuin tahanan itu ‘ditahan atau tidak’ kan? Setelah perang, kalian asal tahan Letha tanpa persetujuan gw. Di saat gw gak bisa liat apa-apa, kalian kurung Letha bahkan borgol dia. HARUSNYA GW YANG NENTUIN DIA ‘DITAHAN ATAU ENGGAK’ !"
Lesya segera menutup mulutnya setelah berteriak marah mengeluarkan unek-uneknya. Tindakan yang sangat jauh dari luar nalarnya membuat Lesya berpikir cara agar kembali tenang.
Obat yang dia sembunyikan segera dia ambil secara diam-diam dan melahapnya langsung. Dia berada di luar kendali untuk saat ini. Bahkan yang lainnya juga ikut tersentak dengan bentakannya.
"Lesya?!" kaget Luna yang menyadari perubahan sahabatnya. Gadis itu berdiri dan hendak menyentuh pergelangan tangan sahabatnya. Naas sayang, justru tangannya lah yang ditepis.
"Lesya jangan minum obatnya! Muntahin sebelum lo--
"GW BILANG JANGAN IKUT CAMPUR LUNA!!"
"Sya?"
"Enggak, sebelum lo muntahin oba--
"Pergi! PERGI DARI SINI! Kalian juga pergi!"
"What? Lo ngusir?" tanya Lita tak suka.
"Ini rumah Papi gw, gw bebas dong nerima tamu atau enggaknya." ketus Lesya yang sudah berdiri dengan menunjuk arah pintu rumahnya. "PERGI GW BILANG!" lanjutnya lagi membentak.
"Sya," lirih Luna memanggil.
"Diam, Lun. Kalau lo mau tanya lagi gw pilih siapa, jawaban gw tetap sama kayak dulu. Letha lebih penting, paham!" tegas Lesya tajam tanpa mempedulikan tangan Luna yang mulai mengepal setelah mendengar ucapannya.
Plaakkk!
"Lo-- Wah, gw gak ngerti kenapa gw bisa betah sama lo! Lo jahat buat gw bisa tertarik sama diri lo. Selama ini lo anggap gw apa? Anj*ng lo? Wah, gw baru tau ternyata LO PENGECUT, SYA!" geram Luna tanpa sadar. Ucapan sahabatnya sangat menusuk dan menohok hatinya.
Lesya memegang pipinya yang pertama kalinya ditampar oleh sahabatnya. Dia tersenyum sinis lalu menganggukkan kepalanya seolah setuju dengan ucapan dan umpatan sahabatnya yang lebih mengarah pada-- fakta, maybe.
"Ya. Gw Aleesya Michella Fyo yang punya darah dari anak kandung Marvoulle yang sekarang pendiri marga Erthan. Gw lahir di luar nikah, haram kan? Gw juga punya darah keturunan pengecut. Bahkan gw pembawa sial bagi lo Luna."
__ADS_1
"Jadi, sebelum kalian yang kena kesial*n bagi gw, tolong pergi dari sini!" usir Lesya menunjuk ke arah pintu rumahnya.
Saat hendak pergi dari sana, lebih dahulu Elvan mencekal tangannya. Segera Lesya menepis kasar cekalan tangan yang menahannya. Diam-diam dia menahan geram sekaligus tertusuk dengan kelanjutan ucapan lelaki tersebut.
"Gw gak akan pandang bulu lagi. Mangsa gw, gak akan pernah bisa lolos begitu aja dari gw. Karena lo bebasin dari belakang gw, jangan salahin gw yang rebut balik dari belakang lo!" peringat Elvan datar lalu segera pergi dari sana.
"Kalau bisa, kalau enggak?" sinis Lesya.
Lesya segera berbalik dan melangkahkan kakinya pergi dari sana. Dari tangga dia dapat melihat raut wajah Luna juga Lisa yang menatapnya dengan pandangan yang dalam. Tak ingin terlalu terbawa dalam perasaan, Lesya melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Musuhan? Ckck, kasian!" cibir Gilang menyenderkan kepalanya di depan pintunya. Sang lawan bicara hanya berdehem pelan saja. Niatnya yang ingin tidur terurungkan karena moodnya yang sudah hancur. Bukan karena Gilang, tetapi karena keributan barusan itu. Dia cukup syok dengan apa yang terjadi.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Suasana malam tampak lebih lama bagi seorang Aleesya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas namun matanya tak kunjung ingin tertutup.
Dia sudah mencoba membuat diri agar lelah dan mengantuk. Bahkan dia sudah meneguk tiga gelas susu agar segera tidur. Hasilnya nihil, tak bekerja.
Berjalan mengambil kunci motor dan menggunakan jaketnya, Lesya segera turun dari kamar tuk sekedar mencari angin. Cara satu-satunya adalah meminum pil tidur agar dapat tertidur.
Dan dikarenakan stok miliknya habis, alhasil tengah malam begini Lesya memilih berkendara tanpa halangan orang rumah yang asik di alam mimpi.
Cukup lama tuk mencari apotek yang tetap buka pada tengah malam, Lesya turun dan memasuki salah satu apotek yang masih buka saat ini.
Setelah mencari obat tidur dan salah satu obat penenang untuknya, segera Lesya membayar ke kasir. Sayangnya, dia harus mengantri karena apotek itu cukup ramai pembeli. Mungkin, hanya tiga empat orang saja di sana.
"Lesya?" sapa Felicia.
Lesya mengeryit bingung dan mengangguk membalas sapaan dari wanita yang saat ini menggunakan seragam kasir. Sepertinya Felicia memang kerja di apotek itu. Pikir Lesya yang memang tepat sasaran.
"Kerja di sini?" tanya Lesya.
Lawan bicaranya mengangguk dan mengambil barang belanjaan 'mantan' adik angkatnya itu. Dia sedikit terkejut saat melihat obat-obat yang dibeli pembelinya kali ini. Namun, seberusaha mungkin dia tak ikut campur karena dia cukup sadar diri dengan apa yang dia perbuat di masa lampau.
"Iya. Hari ini hari terakhir gw kerja, makanya dapet shift malam. Lagian Vay udah gw titip kok jadi aman."
Paham dengan penjelasan Felicia, Lesya hanya mengangguk dan mengeluarkan dua lembar uang merah dari sakunya. Setelah membayar belanjaannya, Lesya mengambil alih kantung kresek yang sudah diberisikan obatnya.
"Jangan terlalu sibuk kerja! Ingat ada orang yang butuh lo walau dia gak bilang. Beda status lo yang dulu dan beda status lo sekarang. Lagipula, Vion masih ninggalin hartanya kan? Gunain aja itu buat kehidupan lo sama Vay."
Felicia terdiam. Dia kini tersadar setelah kepergian Lesya. Menatap langit malam, Felicia mengusap sudut matanya yang sedikit basah. Pembelinya yang terakhir adalah Lesya. Dan kini apotek itu mulai sepi. Hanya dia seseorang yang di sana.
"Iya pengennya gitu, tapi gimanapun juga gw harus tetap kerja tanpa ngandelin hartanya Vion." lirih Felicia setelah merasakan kepergian Lesya dari apotek tempat dirinya bekerja. Dia menunduk dan menghitung total banyaknya uang yang terkumpul di kasir apotek itu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗