Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
149: Bagi tim!


__ADS_3

Aula tampak sudah mulai sepi. Lesya yang melihat siswa yang hendak memotret bagian rok Letha, adiknya namun tertahan olehnya ingin pergi dengan cepat segera menyusulnya. "Oy! Duluan ya! "


Luna, Leon dan Lisa mengerutkan keningnya melihat Lesya berlarian menerobos keramaian dengan cepat. "Lah mau kemana tuh anak? " gumam Luna.


Lesya yang sudah terlepas dari kerumunan keramaian menoleh ke sana sini. "Shitt! Dia lolos! " Tak menyerah, Lesya berjalan menuju koridor yang sedikit sepi dan mendengar dimana adanya suara rintihan seseorang.


Mendekat dan mengintip, Lesya terkejut dengan salah satu anggota intim OSIS memukul babak belur siswa yang Lesya cari. "Farel! "


Yap! Farel menghajar terus-terusan siswa tersebut dan berlalu begitu saja merapikan kemejanya. Pergi, Lesya keluar dan menendang punggung orang tersebut dari belakang.


Bugh!


"Argh! " Lesya menatap sinis dan mengeluarkan ponsel siswa tersebut dan menghancurkannya hingga tak terbentuk.


Pyarrr!


Tanpa rasa bersalah Lesya menghajar orang tersebut hingga yang tadinya sudah babak belur justru bertambah babak belur.


Bugh! Plak! Bugh!


"Lo diajarin orang tua lo gak sih?! Jadi cowok jangan bej*t lo! Pikiran lo perlu dicuci atau lo mau gw yang cuci hah?! Sekarang lo tinggal pilih! KELUAR DARI SEKOLAH ATAU GW SEBAR AIB LO DI MADING?! " tekan Lesya.


Siswa tersebut menunduk takut. "I-iya! Sa-saya keluar! Per-permisi! " Lesya menendang masa depan milik seorang lelaki tanpa rasa bersalah. "Gw tunggu beritanya! "


Pergi, siswa tersebut memegang adik kecilnya dan meringis sangatlah kesakitan. Lesya yang kini penampilannya acak-acakkan sudah tak terlihat di pandangan siswa tersebut.


Tanpa disadari ada tiga pasang mata yang melihat semua itu. Mulai dari Farel hingga Lesya. Bahkan mereka meringis kecil di saat Lesya dengan keras menendang barang pusaka milik lelaki.


"Kok saya ngeri ya? " gumam Angga. Pak Rio mengangguk kecil. "Sakit gak ya itu? " timpalnya kecil.


Yap! Itu adalah Angga, pak Rio, dan Elvan yang hendak membicarakan persoalan outing. Namun Elvan hanya melihat dan melotot kan matanya tak percaya melihat kekasaran Lesya.

__ADS_1


Angga menepuk pundak Elvan yang tampak diam saja sedari tadi. "Kuatkan imanmu El! " Elvan menatap datar ayahnya itu. Pak Rio meringis. "Sudah mari kita lanjutkan! Permasalahan Lesya tadi, biar saya yang urus! " ucapnya tak enak hati.


"Gak usah pak! Saya yang urus! " Pak Rio hanya mengangguk saja mendengar tawaran Elvan. Mereka kembali berjalan menuju ruang kepala sekolah.


Angga bergumam kecil mengingat kejadian tersebut. "Mirip denganku dan Arga yang badboy waktu SMA! " gumamnya kecil. Elvan yang mendengar berpura-pura menutup telinganya seolah tak mendengar gumaman kecil Angga.


~o0o~


Lesya yang sudah masuk ke dalam kelasnya dengan menenteng tas ranselnya yang sangatlah enteng. Bagaimana tidak? Di dalam tas tersebut hanya ada satu lembar kertas dan satu pulpen saja.


Dengan langkah santai dirinya duduk di sebelah Luna dan meletakkan tas ransel nya di atas meja. "Dari mana lo? " tanya Luna.


"Babak belur sama hama! " Luna mangut-mangut paham saja. Dia paham apa maksud dari Lesya itu. "Btw, guru biologi ada urusan pribadi! "


Lesya mengangkat turunkan tangannya girang. "Yess! Jamkos! Uhuyyy! " Leon yang berada di depan Luna memutar balikkan tubuhnya dan menatap malas Lesya. "Tapi, kita digabung sama kelas A belajar kimia! "


Senyum Lesya luntur mendengar penjelasan Leon. Lisa yang mendengar pembicaraan singkat itu hanya memutar balik tubuhnya dan menimpali ucapan Leon. "Dan pelajaran biologi diundur waktu kita belajar kimia! "


Lesya menghela nafasnya panjang dan membenamkan wajahnya di tas ranselnya. "Aaaaa... Pliss gw pengen jamkoss! " seraknya sedikit berteriak. Beruntung sebagian murid sudah pergi menuju ruang laboratorium.


Lisa memutar bola matanya malas sekilas. "Lebay lo! Yok ke laboratorium! " Mereka berjalan malas menuju laboratorium dimana pelajaran kimia berlangsung dalam bentuk praktek.


Ceklek!


Lisa yang membuka sementara Luna dan Lesya menyelenong masuk dengan asal terlebih dahulu. Malas, akhirnya mereka duduk di kursi pojokkan. "Ketok dulu! " peringat pak Raka.


Lesya menggedik-kan bahunya acuh. Dia menunjuk ke arah Lisa yang berjalan menuju arahnya dengan kesal. "Dia yang buka pintu! "


Lisa melotot tak terima. "Harusnya gw yang buka lo yang ketok! " Lesya menyenye malas menanggapinya. "Harusnya ketok dulu baru buka! " Lisa mendengus kesal tak terima.


"Udah! Kita lanjut belajarnya! Dan sekarang kita bagi tim! " Leon menarik Lisa agar duduk di meja dimana Lesya dan Luna duduki.

__ADS_1


Tim 11: Nayla, Amel, Letha, Farel, Frans, Ken.


Tim 12: Luna, Lesya, Leon, Lisa, Valen, Amanda.


Lesya yang mendengar dirinya bersekelompok dengan Amanda, mendelik tak terima. "Loh pak?! Saya mau protes! " Pak Raka dengan cepat menggeleng. "Tak ada protes-protes! Diem dan kerjakan yang saya bilang! "


Amanda dan Lesya menatap sengit satu sama lain. Dimana Amanda duduk tepat di depan Lesya, Luna samping kanan Lesya, Lisa samping kanan Amanda, dan Leon samping kiri Amanda.


Posisi:


Lisa × Amanda × Leon


kosong × Lesya × Luna


Valen yang berjalan menuju mereka semua duduk di bangku menurutnya paling tepat. Dia tak ingin berurusan dengan dua gadis yang saling melemparkan tatapan sengit.


Valen duduk tepat di antara Leon dan Luna. Bahkan tengah-tengah! Hingga Luna mendelik melihat rivalnya. "Ngapain duduk di samping gw?! Ada noh bangku sebelah! " ucapnya tak terima.


Valen meringis dan membisikkan beberapa kata kepada Luna. "Mereka kenapa sih? Serem oy! " Luna hampir tertawa lepas mendengarnya. Seram? Sudah biasa! Pikirnya.


"Oh, jadi lo di sini gara-gara mereka? " bisik Luna balik. Valen mengangguk saja. Rupanya mereka yang berbisik terlihat di kaca mata dan mata pak Raka. "Ekhem! Yang bisik-bisik di belakang mau nerangin di depan? "


Dengan cepat Luna menggeleng. "Enggak pak! Lanjut-lanjut! " Di saat pak Raka hendak menerangkan pelajaran, Elvan masuk dengan santainya membuat pak Raka ingin menahan nafasnya. "Ketok dulu! "


"Lupa! " Pak Raka mengangguk saja dan melihat sekelilingnya yang sudah penuh kursi kecuali satu! Samping Lesya!


Menunjuk ke arah kursi samping Lesya, Pak Rio menyuruh Elvan duduk di sana. "Kamu duduk di situ! " Tanpa basa-basi, Elvan berjalan tanpa menghiraukan sorakkan hiteris kaum hawa yang mengajaknya duduk disamping nya.


Lesya menoleh dan menatap Elvan yang duduk tanpa permisi. "Lah? Ngapa lo di sini? " Luna menoyor kepala Lesya kecil. "Yee.. Musuhan mulu sih lo makanya gak inget tempat, waktu, sekeliling! "


Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal saja. "Mana gw tau! " jawabnya. Pak Raka memulai pembelajarannya dan dengan tenang pelajaran berlangsung.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2