Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
453: Une Paire de Jumeaux


__ADS_3

Luna berjalan bolak-balik di depan ruang inap yang ditempati oleh sahabatnya. Saat pulang dari rumahnya, Luna sempat mengantarkan Lesya ke dalam rumah. Luna sendiri agak ngeri melihat cara berjalan Lesya yang dengan perut lebih besar dibandingkan wanita biasanya.


Namun, saat menutup gerbang, Luna panik sendiri melihat Lesya yang terpeleset di teras rumah. Luna yang takut juga panik akhirnya membawa Lesya ke rumah sakit dengan bantuan beberapa ART yang lewat. Sementara dia yang akan menyetir mobil milik Lesya.


Luna juga sudah menitipkan kedua anaknya pada dua pembantu di rumahnya. Vay juga mengerti dengan kondisi Luna yang was-was, akhirnya mengiyakan permintaan Mamsy angkatnya. Toh juga Lesya lebih membutuhkan di situasi begini.


"Gimana Lun?"


Luna menoleh ke arah sumber suara dan menghentikan langkahnya. Ada Valen juga Elvan yang baru datang dengan langkah tergesa-gesa. Sebelumnya dia sudah menghubungi keadaan Lesya pada Valen dan Valen memberitahu pada Elvan. Kebetulan keduanya sedang berada di satu posisi yang sama.


"Lo masuk aja deh! Tadi sih katanya cuman nyeri," jelas Luna menyuruh Elvan untuk masuk ke dalam ruangan.


Tanpa basa-basi Elvan segera masuk ke dalam dan berjalan menghampiri Lesya. Dokter di sana yang paham juga sedikit menyingkir dari posisinya seolah membiarkan keduanya bertemu.


"Gimana, Dok?" tanya Elvan.


"Lahirannya dipercepat, Pak. Mungkin sebentar lagi Ibu akan mengalami kontraksi," jelas dokter tersebut.


Elvan hanya mengangguk dan meminta satu suster untuk memberitahu Valen agar meminta bantuan bawaan yang sudah disiapkan. Suster yang dimintai tolong hanya mengiyakan saja.


"Pan," panggil Lesya lirih.


Bibir pucat itu kini bersuara. Segera Elvan menggenggam dan mengelus pucuk rambut istrinya. Tak dia bayangkan wajah manja yang biasa dia lihat akan berubah sepucat ini. Hatinya tersentil karena tak bisa menggantikan posisi sang istri di posisi puncak perjuangan.


"Kenapa, hm? Sakit ya? Dedek nya nakal ya sama Mami cantiknya ini?"


Suara bergetar dari Elvan membuat Lesya tertawa pelan. Lesya paham pasti suaminya juga tertampar di saat membayangkan dia lahir dari rahim mendiang mertuanya. Kepala Lesya menggeleng-geleng pelan dan mengusap pelan sudut mata Elvan dengan lembut.


"Enggak tuh, mereka baik. Cuman mereka mau lahir makanya begini. Jangan cengeng! Bunda bisa berjuang kok lahirin kamu, masa aku enggak sih?"


Elvan tersenyum tipis dan mengelus kepala Lesya pelan. Lututnya dia jadikan penumpu agar dia dapat menjangkau posisi tidur Lesya. Dapat dia rasakan jika atmosfer sekeliling ruangan berubah dingin. Matanya juga menangkap di mana darah mulai keluar dari bawah perut sang istrinya. Sepertinya proses keluar akan segera dimulai.


"Bertahan ya?" pinta Elvan lirih.


Sudut bibir Lesya berkedut. "Aku udah banyak ngelakuin operasi dalam keadaan sadar, masa sih gak bisa bertahan begini aja? Jangan nakutin deh!" cebik Lesya.


Tiba-tiba Lesya merintih kesakitan seraya memegang perutnya yang merasakan sakit. Dokter dan perawat mulai bersiap untuk melakukan tugas mereka. Sebaliknya, Elvan kini sudah mulai membisikkan hal-hal positif agar sang istri dapat bertahan dari maut.


"Tarik nafas Bu, lalu hembuskan!" intruksi dokter yang diikuti oleh Lesya tanpa satu bantahan. Hanya tersisa sedikit lagi.


Dapat Elvan rasakan dari punggung tangannya bagaimana sakitnya. Genggaman Lesya semakin erat dan itu artinya rasanya semakin sakit. Elvan juga dapat lihat dari sudut mata Lesya yang mengeluarkan satu tetes cairan bening.


Erangan demi erangan terdengar hingga suara tangis bayi pecah membuat Lesya terbaring lemas. Tak sampai situ, Lesya kembali menggerang karena sakit membuat dokter dan yang perawat kembali melakukan tugas mereka lagi.


"Kenapa, Dok?" tanya Elvan panik.


"Ibu hamil kembar, Pak. Tarik nafas ya Bu, lalu hembuskan! Satu lagi ini Bu," intruksi dokter menjawab.

__ADS_1


Elvan tersenyum tipis dan kembali berbisik menyemangati istrinya. Sang lawan bicara juga tak kalah bahagia akhirnya menampilkan senyumnya karena tak menyangka. Tiba di puncak perjuangan, Lesya berteriak bahkan melepaskan genggaman tangannya.


Owee... Oweee...


"Wah, selamat Pak, Bu, bayinya kembar laki-laki dan perempuan. Mereka sehat, berat badannya normal seperti bayi lainnya," ucap dokter tersebut memberitahu membuat Elvan membulatkan mulutnya karena tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Makasih, Dok! Makasih," tulus Elvan.


"Sama-sama, Pak. Ini sudah jadi tugas saya. Oh iya, nanti Ibu nya dipindahin ke ruang inap ya Pak," ucap dokter itu lagi diangguki antusias oleh Elvan.


Kini Elvan beralih pada Lesya yang masih terbaring lemah di brankar. Mata sayu nan lesu karena cukup lelah untuk berjuang melahirkan kedua anaknya. Elvan sendiri cukup ngeri walau hanya karena pelipis Lesya yang basah.


"Sayang, makasih mau jadi ibu dari anak-anak kita! Makasih mau berjuang sampai sini, love you," bisik Elvan.


Lesya hanya mengangguk sekilas dan menatap Elvan dengan mata sayunya. Lesya dapat rasakan saat benda kenyal menempel di keningnya yang basah. Kedua tangan yang saling menggenggam seolah saling menyalurkan kebahagiaan mereka.


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Suasana kamar inap sudah ramai. Luna dan Valen sudah membawa dan menghubungi pihak keluarga besar agar berkumpul. Tak hanya itu, keduanya rela kembali ke rumah untuk mengambil barang dan menjemput kedua anak mereka. Kata mereka, anggap saja kenalan pertama antar tetangga dekat.


"Jangan diunyel, Kak!"


"Pegangnya pelan-pelan!"


"Benyok dikit, pulang tinggal nama!"


Ocehan-ocehan Elvan yang cukup posesif karena kedua anaknya yang dioper sana-sini cukup membuat mereka kesal. Namun, lain halnya bagi Elvan yang memang sedikit ngeri melihat cara gendong kedua anaknya di tangan orang lain, selain kedua mertuanya yang pro.


"Gak peduli," balas Elvan acuh.


"Huweee ... gemuk banget sih! Udah buat nama 'kah? Atau mau gw rekomendasi? Enggak ya? Yaudah aaaa... sayangnya Mami, umumu... lucu banget sih kamu Nak,"


Lesya melempar bantal yang dia pegang ke arah Lisa. Lisa memang sengaja berdrama seolah dia adalah ibu dari anak lelaki yang Lesya lahirkan. Beruntung saja Lisa dengan sigap menghindar.


"Sembarangan lo! Masalah nama gak usah lo pikirin!" sinis Lesya. Mendengar sedikit keributan, sang adik menangis kencang membuat si sulung juga ikut menangis karena merasa terganggu.


"Kayaknya mereka haus. Nah disusuin dulu Sya," ucap Sella memberitahu seraya menyerahkan cucu kedua yang berjenis perempuan pada Lesya dengan hati-hati. Begitu juga dengan Elvan yang sigap mengambil alih anak lelakinya dari tangan Lisa. Lisa, sepupunya rusuh!


"Sana keluar!" usir Elvan. Sebelum melakukan protes, Lisa dan Elena terlebih dahulu ditarik keluar dari ruangan. Keduanya butuh waktu berbicara untuk menentukan nama.


"Sulung atau bungsu dulu yang duluan?" menolog Lesya bingung karena kedua anaknya sama-sama menangis kencang. Elvan memutar bola matanya dan ikut bingung juga bagaimana cara penanganannya. Mereka masih pemula.


"Dua-duanya aja deh," gumam Lesya.


Akhirnya sepasang kembar yang baru lahir beberapa jam yang lalu mulai disusui oleh ibunya. Wajah tenang dari keduanya membuat Lesya menatap lekat-lekat kedua anaknya.


"Kok mereka lebih mirip elo sih?" kesal Lesya tak terima. Elvan yang asik memandangi anaknya, terkekeh mendengarnya. Bagian rambut, mata, hidung, alis, dan rahang kedua anaknya memag lebih mendominasi dirinya.

__ADS_1


"Karena gw bapaknya!" enteng Elvan.


"Gak terima ih! Masa cuman bagian mata yang cewek sih yang mirip gw? Gak adil banget," gerutu Lesya memoyongkan bibirnya. Elvan hanya tersenyum geli dan mengecup bibir Lesya yang monyong.


"Lo mungkin bosan dengernya, tapi gw mau bilang makasih lagi karena udah bersedia jadi ibu dari anak-anak gw," bisik Elvan. Lesya mengangguk dengan senyum tulusnya. Cukup tak menyangka perjalanan panjang mereka membuahkan sepasang buah hati.


"Udah-udah jangan buat melow! Ini juga anak gw, jadi gw harus tanggungjawab sama apa yang Tuhan kasih," ujar Lesya mencairkan suasana. Lawan bicara menganggukkan kepalanya setuju.


"Namanya, udah ada 'kan?" tanya Elvan.


"Ada. Kalau yang paling bocil, yang cewek namanya Sharoon Kenzia Micaella Fyo," jawab Lesya berusaha mengingat rangkaian nama yang dia siapkan beberapa hari yang lalu.


"Kenapa Fyo?" bingung Elvan.


"Gak suka ya? Yaudah ganti Grey aja, niatnya cuman buat nama Fyo biar gak kehapus aja. Justine ikut marga Erthan, kalau Nic ikut marga Marvoell. Gw sendiri juga udah ikut marga Grey,"


"Iya gak papa kok. Aku cuman bingung aja karena rangkaian namanya bagus," puji Elvan sengaja karena tak ingin membuat sang istri sedih. Toh dia juga tak masalah karena masih ada satu anak yang ikut mengarah marganya.


Lesya tersenyum. "Beneran? Padahal nama Sharone diambil dari Bunda. Kalau Micaella biar ikut nama ketiga gw," beritahu Lesya dengan antusias.


Elvan tersenyum. "Kalau yang cowok?"


"Kalau si sulung namanya Shannon Kenzio Gregous Grey. Dia ikut nama lo, Gregorius sama Gregous. Gimana? Bagus gak? Atau mau nambahin?"


Elvan menggeleng dan tersenyum lembut. "Namanya keren. Mami nya cantik. Papi nya gimana dong?" puji Elvan diakhiri dengan sudut bibirnya yang melengkung ke bawah.


"Papi nya kutub tapi ganteng,"


"Ciee, suka sama Papi nya hm?"


"Astaga, asal nyeplos!" runtuk Lesya.


Suasana ruang inap tampak lebih berwarna. Setelah dirasa kedua pasang kembar sudah tertidur karena kenyang, Elvan memindahkan ke inbox dengan hati-hati. Saat itu, barulah para tamu yang menunggu diperbolehkan masuk.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Hello gays, maaf ya kalau aku mulai gak rutin update! I'm sorry banyak-banyak🙏🏻


Jadi, aku masih pelajar dan aku sendiri sibuk. Aku tau kalian juga sibuk, tapi karena dulu msih zamannya stay at home alias sekolah online, aku masih sempat buat nulis.


Kalau sekarang keadaan udah berubah. Aku udah mulai masuk *** secara langsung. Otomatis aku jauh dari jangkauan namanya ponsel.


Kemudian akhir ini aku ditawarin buat ikut Kompetisi Nasional di bagian pelajaran matematika. Orang tua aku setuju dan nyuruh aku belajar-belajar-belajar. Handphone ku juga disita kalau lagi belajar biar gak terganggu, begitu juga buat laptop.


So, I'm sorry🙏🏻

__ADS_1


(GAK SUKA SKIP!)


•|| [author cuman sekedar curhat karena gak punya temen curhat hehe...]


__ADS_2