Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
203: Mau sate!


__ADS_3

Valen melotot tak terima. "Eeyyy! Enak bener! Gw cuman mastiin doang bukan ngebocorin! Serius gak bocor dah gw! " ujar Valen mengangkat kedua jarinya.


"Bener lah! Mau bukti apaan? Surat nikah? Status KTP? Cincin kawin? " tanya Elena malas. Valen menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Gw kok gak diajak sih waktu itu? Jahat lo pada! Kan gw pengen liat gitu! Sepasang rasa benci berubah menjadi cinta! " drama Valen.


"Jiakkkhh!! "


"Hiyakk! "


"Cepek cepek jdarrr! "


Baik Luna, Leon, dan Lisa bersorak mendengar kalimat terakhir Valen. "Bac*t!" kata Elvan yang malas disoraki. Angga berdehem seolah memperingati cara bicara Elvan barusan. "Ekhemm!! "


Setelah perbincangan kecil terdengar, membuat Candra akhirnya menutup kembali gorden agar tak mengganggu tidur dan masa pemulihan Lesya.


Sekarang ini, Elvan yang menjaga Lesya yang masih belum sadarkan diri sendirian dengan posisi gorden yang tertutup. "When you wake up? " tanya Elvan menopang wajahnya dengan satu tangannya menatap wajah pucat gadis itu.


"Katanya kuat, tapi kok gak bangun? " lanjut Elvan bergumam.


Elvan mendekatkan wajahnya dengan wajah Lesya. Dirinya mengelus kepala Lesya yang diperban sedikit dengan lembut. "Sakit ya? " tanya Elvan kembali bergumam.


Boleh jujur? Elvan sangat kehilangan sosok cerewet yang selalu berucap menyerocos saat ini. Sosok tersebut justru tertidur lelap di alam mimpinya sejak ledak nya mobil yang gadis itu tumpangi.


Menoel-noel pipi Lesya, Elvan dapat melihat adanya pergerakkan dari Lesya dari matanya yang berair. Memang benar adanya jika mata gadis itu sedikit basah. "Kok nangis? " gumamnya lagi mengusap mata Lesya yang sedikit basah.


Mata Elvan melotot di saat melihat mata gadis yang terbaring di brankar itu terbuka. "A-air! " lirih Lesya kecil hampir tak terdengar kecuali Elvan.

__ADS_1


Dengan sigap Elvan mengambilkan botol air dan perlahan membantu Lesya minum walau hanya sedikit saja. "Mau gw panggil dokter? " Lesya menggeleng dan memegang kepalanya yang terasa nyeri. "G-gw di-mana? " tanya pelan.


"Jangan banyak gerak! Lo sekarang di rumah sakit! " Lesya kini paham jika dirinya berada di rumah sakit. Perlahan dirinya ingat jika mobil yang dia tumpangi oleh Luna dan Lisa terlempar bom.


"Sa-kit! " keluh Lesya memegang kepalanya. Elvan sontak menempatkan kedua tangannya di kedua pelipis Lesya. "Bentar! " ujar Elvan.


Lesya menahan tangan Elvan yang hendak pergi. "Ja-ngan! " geleng Lesya melarang. Elvan berbalik dan mengangkat satu alisnya. "Kenapa? " Lesya menggeleng cepat. "Ba-nnngggg!!! Uhukk!! " panggil Lesya dengan suara yang sedikit serak lalu terbatuk kehabisan suara.


Elvan menutup telinganya sejenak dan menepuk-nepuk punggung Lesya yang tersedak itu. "Bisa gak teriak? " datar Elvan malas. Lesya menggeleng. "Uhukkk! Eng-gak! " jawabnya tak kalah datar.


Sontak yang berbincang sedari tadi tersentak dan membuka gorden penutup. Mereka terkejut melihat Lesya yang rupanya sudah bersandar di sandaran brankar. "Minggir bentar! " kata Candra.


Elvan menurut dan membiarkan Lesya di periksa oleh Candra. Mayang menghampiri Lesya dan bertanya. "Ada yang sakit? Bilang sama bunda! "


Lesya tersentak dan menoleh ke arah Mayang. Dirinya baru menyadari kehadiran Mayang di sana. Em, bukan itu! Namun dia baru menyadari keberadaan Elena, Angga, Valen, dan Lisa di sana. Biasanya di saat seperti ini, dirinya merasakan suasana yang sangatlah sepi.


Lesya yang merasakan sakit sontak memukul lengan Candra. "Auuuu! Apa sih Sya?! " rintis Candra. Lesya tak menjawab namun hanya memegang kepalanya yang berdenyut. "Sakit ya Sya? Tahan dulu! Perban nya kelepas! " tebak Mayang.


Candra kembali memperbaiki perban yang terlepas dari kepala Lesya. "Dah selesai! Jangan banyak gerak dulu! " pesan Candra yang diangguki kepala Lesya. "Dah, gw ke ruangan gw dulu! Permisi semua, " pamit Candra.


"Gw juga pamit ya! Ada jadwal praktek! Jangan banyak gerak dulu! Permisi semua! " pamit Sarah menyusul Candra.


Alam yang ingin membicarakan masalahnya dan Elena, dengan cepat menarik Elena keluar dari ruangan tersebut. Sebelumnya, dia izin pamit kepada orang-orang yang ada di sana untuk membawa Elena keluar.


Elvan dapat melihat raut wajah kakaknya yang sedikit kesal, apa lagi sedari tadi mereka duduk berjauhan membuat dirinya bingung ada masalah apa mereka sebenarnya. Karena biasanya, Alam dan Elena selalu berdekatan bagaikan sepasang sendal jepit! Sekarang?

__ADS_1


Lesya mengulurkan tangannya berusaha menutup gorden karena merasakan silau dimatanya. Beruntung Elvan yang berada di sana dengan sigap menutup gorden seolah tahu apa yang Lesya butuhkan.


"Lesya sekarang butuh apa? Bilang sama bunda! " tanya Mayang. Lesya menggeleng namun jarinya menunjuk ke arah gelas air putih di nakas.


Dengan sigap Mayang mengambil dan membantu Lesya meneguk air putih perlahan. Mata Lesya mengarah ke segala sudut ruangan. "Ra-me bener! " ucapnya.


"Iya, soalnya mau ngelayat lo! " asal Cakra. Lesya menatap tajam Cakra seolah menandakan jika mereka tak bersahabat. "Na-si kotak dulu baru ngela-yat! " balas Lesya sengit menatap tajam Cakra.


Lisa yang sedari tadi memainkan kukunya ikut menyahut. "Masih sakit ngurusin nasi kotak! Sehat gak sih lo! " sahutnya. Lesya mengangguk. "Gw sehat lahir batin! Btw, tuh muka lo bonyok kenapa? " tanya Lesya lupa akan kejadian yang menimpanya.


"Yee.. Pikun lo Sya! Lo lupa penyebab lo ke sini? " malas Luna. Lesya menggeleng dan menjawab dengan polosnya. "Gw kan ke sini karena gw yang dibawa ke sini! " jawabnya. Luna menepuk jidatnya sendiri bingung. "Kuatkan hambamu ini Tuhan! " gumam Luna kecil.


"Oh, sekarang gw ingat! Trus apa kabar tuh orang? " tanya Lesya yang mulai paham dan teringat dengan ketua devisi bagian sniper nya yang melemparkan bom ke arah mobil milik Lisa.


Luna menggelengkan kepalanya tak tahu. "Mana ku tau! Gw aja baru sadar malah nanya dia! " balas Luna malas. Lesya mengangguk paham dan justru mengalihkan pembicaraan. "Trus apa kabar mobil lo Lis? " tanyanya basa-basi.


Lisa sontak berdiri mengingatnya. "Omaigat!! Mobil kesayangan gw!! Kenapa baru ngingetin sih?! " pekik lisa. Angga menyuruh Lisa agar tenang. "Udah duduk lagi! Nanti om beli yang baru! "


Lisa melengkungkan sudut bibirnya ke bawah dan kembali tertarik ke atas mendengar ucapan Angga. "Yang bener om?! Belinya yang versi terbarunya aja ya om! Yang baru rilis itu loh! " tanya Lisa.


Angga mengangguk saja. Dirinya cukup paham apa yang disukai oleh keponakannya. Karena selain ayah Lisa dan dirinya bersahabat, karena Lisa adalah keponakan yang dekat dengannya. "Iya-iya! Yang baru rilis om beli deh! "


"Mau sate! " ucap Lesya tiba-tiba.


Pasang mata mengarah padanya. Heran dengan maksud Lesya yang menginginkan sate. Namun hal itu tak asing lagi bagi Cakra, Leon, dan Luna di sana. "Gw lagi nih? " tanya Leon malas yang sudah tau arah pikiran queennya itu sekarang.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2