
Ruang makan kini sudah tampak bertambah ramai setelah kedatangan Lesya dan Elvan. Disusul oleh Letha beberapa menit kemudian datang dengan wajahnya yang sedikit berseri. Luna, Lisa dan kedua teman Letha tampak bingung dengan raut wajah Letha.
"Taraa... Dah jadi tapi gw ragu sama rasanya. " ragu Alam meletakkan hasil masakannya di meja makan. Para remaja itu tak langsung memakannya karena kondisi ikan yang menjadi bahan utama masak Alam tampak sedikit gosong.
"Bang lo gak bakar dapur kan kayak di Prancis? " tanya Lesya sedikit merasa aneh. Alam berdecak malas dan melepaskan apron yang dia kenakan. "Ya enggak lah! Ya kali gw bakar rumah orang, cukup hanya rumah lo yang di Prancis jadi korban gw! " sombong Alam.
"Nyolot juga lo ya calon bapak! " cibir Ken yang mendengar nada bicara Alam. Sang empu hanya menggedikkan bahunya acuh saja. Masih dalam situasi yang sama, mereka semua hanya menatap tanpa berniat melahap sedikit saja. Alam tak masalah sebenarnya karena dia tahu makanan yang dia buat itu sedikit gosong.
Leon memberanikan diri mencicipi sedikit hasil masakan Alam dan memasang wajah tampak enegnya. "Anj*r, rasanya! " desis lelaki itu. Alam hanya mengangkat satu alisnya saja. "Gimana? Enak kan? " tanya Alam tersenyum dengan bangganya.
"Ketauan pait bangga lagi! Dah, mending gw pesen online aja! " sahut Luna yang sudah tahu hasil jawaban Leon. Wajahnya saja tak bersahabat sudah pasti rasanya tak bersahabat. Dengan segera Luna merogoh ponselnya dan memesan online makanan yang diinginkan melalui aplikasi di ponsel pintarnya. Kasihan Leon korban!
"Rasanya gimana beb? " tanya Lisa.
"Paittt banget! " jawab Leon lalu dengan cepat meneguk jus mangganya yang dibuat oleh Mayang sebelumnya. Lisa hanya menepuk-nepuk pundak sang kekasih agar lebih tenang meneguk minumannya. Dia kekasih yang baik kan?
"Wah parah nih bang Alam gak ikhlas masaknya, hayoloh anak orang jadi korban! " ledek Valen menyahut. Alam menatap tajam ke arah Valen dan berdecak malas. "Dih lagian nyuruhnya dadakan mirip lagi ulangan sekolah aja gw! Elo sih Sya gak nyuruh orang bantu dikit gitu! " malas Alam justru beralih menyalahkan Lesya yang duduk anteng.
"Enak aja nyalahin gw! Siapa suruh tuh tangan gak digunain berkarya atau gak ganti profesi dikit jadi masterchef kayak bang Cakra?! " bantah Lesya tak terima.
"Dih, jangan samain gw sama Ceker lo ya! Tuh emang karena dia hobby ngerampok makanan orang makanya bisa bedain rasa! Lah gw? Hidup gw kan fine-fine terus ya Sya walau gak bisa masak! " sengit Alam.
"Nah makanya gw suruh lo masak biar anak lo nanti ngerasain masakan bapaknya bangg.. Lagian kali-kali elah lo masak mumpung kak Elen lagi hamidun! Harusnya lo jadi bapak siaga on time tiap hari! " ledek Lesya tak kalah sengit.
"STOOOP, udah Sya gw gak masalah kok! Lagian ini baru pertama kali masak ikan kan? Yaudah gak papa, i'm fine. " lerai Elena. Lesya hanya tertawa meledek saja pada Alam dan Alam hanya menatap kesal saja pada Lesya. Tak marah namun hanya kesal. Elena menghembuskan nafasnya lega karena tak mendengar keributan lagi.
Mayang? Dia pergi gays. Why? Ini kan lagi kumpulan anak remaja bukan ibu-ibu sepertinya. Jadi, wanita itu memutuskan pergi saja daripada di sana menjadi nyamuk. Toh dia tak melakukan sesuatu yang menarik kan? Biarlah para remaja saja yang menghabiskan waktu mudanya dengan canda tawa khas masa abu-abu.
"Eh btw kelas lo pada udah buat makanan carnaval nanti gak? " tanya Revan membuka suara. Dengan kompaknya Lesya dkk dan Letha dkk menggeleng bersamaan. Mereka bahkan melupakan tujuan utama mereka ke sana karena asik sibuk saling melempar canda tawa.
"Apaan Sya jadinya? " tanya Luna menyenggol sikut sang sahabat. Em, mereka memang duduk bersebelahan. Why? Tentu saja karena mereka sepaket sahabat dan masalah duduk saja tak dapat terpisahkan oleh siapapun, wkwk..
"Papeda ae, biar gampang buatnya nanti. "
"Papeda dari Papua kan? " tanya Valen memastikan. Luna berdecak pelan dan memutar bola matanya malas. "Enggak, papeda dari Korea! Yaiyalah, makanya banyak-banyak makan makanan pinggir jalan lebih kerasa Indo-nya! " cibir Luna.
__ADS_1
"Iyain aja dah, males gw debat sama lo yang gak ada abisnya! " decak Valen.
"Gw do'ain kalian jodoh, amin! " sahut Lisa tiba-tiba. Alis Luna dan Valen berkerut bersamaan. "Maksud lo kita berdua? Idih, ogahh! " tolak mereka dengan nada mereka yang kompak.
"Cieee... "
Luna hanya mengalihkan pandangannya saja ketika kata yang tak ingin dia dengar keluar. Berbeda dengan Valen yang hanya memutar bola matanya malas dan berpura bermain ponselnya saja. Padahal dia tak tahu ingin berbuat apa di situasi ini. Bahkan Elena dan Alam yang menyimak juga ikut menggoda kedua pasangan itu. Alam juga kini sudah duduk di salah satu kursi samping sang istrinya.
"Gw lagi bahas papeda ini ngapa jadi bahas Luna sama Valen sih? " heran Lesya yang sedari tadi menyimak. Luna mengangguk setuju dengan pemikiran sang sahabat yang membelanya. "Noh, denger tuh?! " sewot Luna meledek.
"Kan mereka tunangan, biarin aja kali nentuin tanggal nikah sendiri tanpa cia-cie kalian! " polos Lesya melanjutkan ucapannya. Senyum Luna luntur mendengarnya. Dia kira Lesya memihaknya padahal tidak.
"Jahat lo Sya! " sebal Luna lesu.
"Ahaha anj*r.. Sabar Lunaaa! Sok-sokan manyun gitu bilang aja suka kan sama sobat gw, hayoloh! " ledek Revan tanpa sadar maksud dari ucapan Lesya. Sedetik dia terdiam dan mencerna maksud dari perkataan Lesya. "Waitt, tadi lo bilang tunangan kan. Siapa yang tunangan? "
Tak!
"Nah iya, ya kali tiba-tiba profesi Luna hampir nyamain elo Sya! " timpal Alam heran. Lesya menatap aneh Alam. "Profesi apaan dah gw bang? " bingung Lesya.
Tak!
Jawaban itu mampu membuat Lesya melempar kulit kacang ke arah Alam. Berbeda dengan sang empu sama sekali tak meringis kesakitan karena justru tak melukai dirinya. Tersentuh kulit kacang lemparan Lesya saja tidak. Bye the wah, jarak mereka duduk sedikit jauh man!
"Gak kena wlee.. " ledek Alam pelan lalu menjulurkan lidahnya bagaikan anak kecil. Elena yang berada di sebelah Alam dengan cepat mencubit pinggang lelaki itu dari samping. Tentu saja Alam meringis kesakitan merasakan cubitan itu.
"Udah mau jadi bapak masih tingkah bocil, ngaca bradeer! " ketus Elena menohok. Alam hanya meringis mendengarnya. Behh, untung mentalnya baja jadi it's oke jika disinggahi kata-kata keras yang menggambarkan dirinya itu.
"Beh, savage kakak boss! "
"Hormat buat kakak boss! "
Elena hanya tertawa pelan saja saat beberapa dari mereka memperagakan gaya hormat bagaikan sedang upacara, walau sekilas. "Haha, apaan sih biasa aja kali! " geleng Elena terkekeh pelan. Alam yang melihat senyum sang istri hanya mencebik kesal sekilas. Namun tak dipungkiri dia ikut bahagia melihat senyum manis itu mengembang lebar.
"Stopp kiddingnya! Jadi kan papeda makanannya? " serius Nayla mengalihkan pembicaraan karena hendak segera pulang. Lesya mengangguk pelan saja mengiyakan pertanyaan Nayla.
__ADS_1
"Hm, yang ngurus keperluannya nanti anak-anak perempuan! Sementara yang laki-laki bakal dekor! Nah, pengurus kelas nanti tinggal nyurah-nyuruh, gampang kan? " enteng Lesya menjawab.
"Enak aja, gak terima ya gw! Bukannya ikut bantu yang ada elo yang nyantai nanti! " dengus Lisa yang tahu isi pikiran Lesya. Sang empu hanya menyengir saja dan mengangguk polos. "Yaiyalah! Gw punya banyak karyawan gini ngapa harus turun tangan? " santai Lesya.
"Duain sama echa gw mah! " timpal Luna.
"Ketauan nih nanti mau nyantai kan? Sksk, nanti waktu carnaval gak cuman seisi sekolah yang ikut, ada pemilik sama penanam saham juga hadir. " ucap Elena memberi tahu. "Nah di situ juga pergantian pemilik sekolah yang bakal dikasih sama anaknya, makanya penanam saham juga ikut dateng." lanjut Elena.
Lesya beralih menatap Elvan seolah bertanya pada lelaki itu. "Kok lo gak kasih tau sama gw sih? " tanya Lesya bingung. Elvan mengangkat bahunya tak tahu. Alis kedua pasutri itu berkerut bingung setelah mendengar penjelasan sang kakak, Elena. Terlebih Elvan yang memang belum di beritahukan oleh Angga mengenai hal tersebut.
"Gw aja gak tau! " jawab Elvan jujur.
Lesya beralih menatap Elena dengan tatapan bingungnya. Sang empu yang ditatap hanya menyengir saja. "Gw baru tau sih dari sambungan telepon Ayah tadi sama Alam." jawab wanita itu. Oke, Elena bukan gadis lagi mari kita panggil wanita.
"Mungkin nanti ayah bakal kasih tau pas pulang. " lanjut Elena dan dibalas anggukan kepala Lesya pertanda paham. Berbeda dengan Luna yang tak paham arah jalan pembicaraan akhirnya angkat suara. "Maksudnya gimana sih? Emang lo tau siapa pemilik sekolah Sya? " tanya Luna dibalas anggukan kepala Lesya.
"Ayah! "
"Ayah siapa? Ngomong yang jelas jangan ngegantung! Lo pikir gw paham ayah-ayahan lo elah! " sewot Luna malas. Lesya yang mendengar hanya memutar bola matanya malas saja menatap Luna.
"Ayah Angga! Emang ada lagi ayah gw selain ayah Angga?! " kesal Lesya mendengus malas. Mata Luna melotot mendengarnya. Wait, maksudnya pemilik sekolah Gregus itu ayah dari ketua OSIS di depannya? Ayah mertua sahabatnya? Bahkan pemilik rumah yang sedang dia tempati itu? Wah, otak cerdas Luna sedang menerawang seberapa kayanya keluarga Grey. Untung dong Lesya?
"Bentar, seberapa banyak sih harta karun yang dipegang sama mertua lo Sya? "
Bisikan Luna itu membuat Lesya hanya terkikik mendengarnya. Dia menggeleng tak tahu karena memang benar dia tak terlalu mengetahui seberapa banyak harta kedua mertuanya. Jika Angga adalah CEO terkenal, Mayang adalah pemilik butik terkenal dan disusul Elena yang hampir menyetarai sang bundanya. Elvan? Jangan salah ya, Elvan juga memiliki beberapa cabang Cafenya mulai dari dalam hingga luar negeri. Kok nambah ya? Sebenarnya begitu tapi author belum sempat kasih tau, wkwk.. Oh iya, lulus nanti juga Elvan langsung turun tangan tanpa sesekali masuk perusahaan sang ayah (later).
Kira-kira seberapa banyak?
Banyak banget lah ya?
Holang kayah beda lagi damagenya!
"Kayaknya nama ayah disebut ya? Ada apa? " tanya Angga yang mengejutkan mereka di sana. Sontak saja mereka menoleh dan melihat keberadaan lelaki tegap dengan wajahnya yang awet muda.
"Panjang umur baru diomongin! " lirih Lesya geleng kepala. Untung tak ada yang mendengar jadi dia tak perlu menguras tenaganya untuk berdebat lagi.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗