
Luna dan Lesya hanya tertawa receh saja melihat wajah malas lisa. "Mental masih aman kan dek? " sahut Elena ikut-ikutan. Alam tertawa kecil mendengarnya. "Hon, jangan ikut nyaut! Biarin aja yang kena mental! " tambahnya.
Lisa menutup telinganya berpura tak mendengar jika semua orang memojokan dirinya. "Aaakh, tau lah! Jangan denger Lis! Anggap aja angin lewat, mereka kurang obat kayaknya! " ucap Lisa mengelus dadanya seolah dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
"Buahaha.. Makanya jangan nyeplos kalau gak tau ada yang lebih atas! " ledek Lesya memegang perutnya yang terasa geli karena merasa jika perutnya sedang diaduk-aduk bagai adonan.
Luna mengangkat satu tangannya dengan telapak tangan yang terbuka. "Stoopp Tapasya! Mending ngedj bae dari pada bahas beginian! " usul Luna mengeluarkan ponselnya dan mencari lagu DJ yang dia sukai di ponselnya. Mereka hanya mengangguk setuju dengan usulan Luna.
"Hiyyakk!! "
"Aku suka goyang body mama muda! "
"Woe, salah-salah! Kok jadi mama muda sih?! "
Elena yang melihat keseruan antara Luna dan Lisa yang terus berdebat untuk memutar masing-masing kesukaan mereka memutuskan untuk ikut bersama. "Ikuuttt! " pekiknya. Luna dan Lisa tak menjawab namun justru terus berdebat tanpa mempedulikan pekikan Elena.
Lesya yang malas memasang radio dan mengajak Elena bersama saja tanpa Luna dan Lisa. Menyetel musik rock kesukaan Lesya, Luna dan Lisa yang berdebat justru ikut bergabung dengan Elena dan Lesya.
"Woee tunggu! " ucap Lisa. Luna memutar bola matanya malas. "Lagu DJ kalah sama lagu rocker cuyy! " tambah Luna.
Sementara Alam dan Elvan merapikan stik PS yang berserakan akibat keempat perempuan yang asik pada aktivitas mereka. Mereka hanya geleng kepala saja melihat kelakuan keempat perempuan itu. Dan Letha sendiri hanya duduk manis melihat pemandangan yang dirinya kurang sukai. Letha sama sekali tak suka dengan alunan musik rock yang hanya membuatnya sakit telinga saja!
"Siapp bree? " tanya Lesya.
__ADS_1
Lesya mulai menekan tombol on di radio. Perlahan alunan musik rock yang menggema di ruang tamu membuat keempat wanita itu berjingkrak-jingkrak, meloncat, dan saling rusuh satu sama lain. Elena yang tak mempedulikan usianya yang bukanlah anak SMA juga ikut rusuh dengan ketiga remaja SMA itu.
Bahkan Lisa yang malas merasakan Luna yang terus menyenggolnya membawa bantal sofa dan memukulnya ke arah Luna. Sementara lesya dan Elena perlahan duduk di sofa seraya mengatur nafas mereka agar kembali normal. "Adeeh, capek! " gumam Elena.
Pukk!
Luna melotot tak terima dan mengambil satu bantal sofa yang ada. Alhasil mereka berdua saling bertengkar dengan bantal sofa yang dijadikan senjata mereka. Lesya geleng kepala dan memberhentikan radio yang berbunyi musik. "Biarin dah! Nanti juga cape sendiri mereka! " pasrah lesya berbaring di salah satu sofa panjang.
"Dari zaman dinosaurus sampai sekarang mereka berdua emang jarang akur! Makanya itu, sekali Lisa ketemu Luna harus dicegah sebelum adanya perang begini! Ribut kan? " ujar Alam duduk di samping Elena, istrinya.
Elena hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Haha, bener tuh! Sebenarnya, apa sih yang buat mereka jadi musuhan gini? " tanya Elena bingung.
Lesya yang tak seimbang berbaring, akhirnya jatuh ke bawah sofa dan berguling di karpet. "Cuman karena gw gak sengaja lempar botol ke Lisa! " jawab Lesya setelah berguling di atas karpet tanpa rasa sakit sama sekali.
"LUNAAA... LO GAK BALIK KANDANG HAH? " ucap Lesya sedikit berteriak agar Luna dapat mendengarnya. Sontak Luna melempar bantal sofa ke arah Lesya dan berlari pergi menuju rumahnya. "Eiya, gw lupa! Bye-bye semuanya, Luna pamit yaa! " pamit Luna melambaikan tangannya.
Lisa yang duduk di sofa samping Elena mengibaskan tangannya mengipasi arah wajahnya. Sementara Lesya yang tengkurap, melihat Elvan yang sibuk memainkan PS sendirian. "Widih, bisa main PS juga lo? " tanya Lesya.
Lisa memutar bola matanya malas. "Lagi pula ya, PS yang ada di rumah ini punya dia semua! Ada sih punya gw di sini sama punya kak Elen, tapi punya dia paling banyak! " kata Lisa mencibir Elvan.
Lesya mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Hanya mengangguk menanggapi ucapan Lisa, dia justru ikut bergabung memainkan PS yang Elvan mainkan. Lisa mendengus malas dan beranjak berdiri menuju kamarnya. "Taulah! Gw ke kamar dulu! " kata Lisa berpamitan.
Elena hanya terkikik kecil melihat wajah malas Lisa di saat dikacangi oleh Lesya. "Ahaha... Rasain lo Lis! Udah lah, gw juga mau ke kamar ngerjain tugas! " ujar Elena beranjak pergi. Alam juga beranjak pergi mengikuti Elena ke kamar. "Ikuuttt! "
__ADS_1
Kini di ruang tamu hanya terdapat Lesya, Elvan dan Letha saja. Letha sudah bosan berdiam diri terus sejak tadi, akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Elvan. Alhasil Elvan saat ini duduk di antara kedua kakak beradik kembar.
Lesya hanya melirik sekilas dan lanjut bermain PS lagi. Sorot matanya menatap kosong hingga Elvan menyenggol sikut Lesya agar sadar. "Woy, mikir apaan sih Le? " tanya Elvan.
Lesya tersadar dan melotot melihat layar PS yang menandakan dirinya yang sudah kalah dari Elvan. "Aaa.. Masa gw kalah sih?! Ulang-ulang! " ngegas Lesya tak terima. Elvan melotot tak terima. "Lah, salah sendiri! Siapa suruh lo malah ngelamun? " bantah Elvan.
Letha mengangguk setuju dengan ucapan Elvan. "Nah bener tuh kata Elvan kak! Salah kakak sendiri yang melamun waktu main! " kata Letha. Lesya hanya mendengus malas dan menatap tajam Elvan. Sementara Elvan hanya memasang wajah polosnya tanpa dosa.
Mayang yang hendak mengambil minum di dapur, tanpa sengaja melihat mereka duduk anteng di karpet. Dirinya memijit keningnya yang terasa pening. "Kalian gak liat jam? Tidur, udah malam! " kata Mayang.
Lesya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Mayang. Dengan cepat mereka mengemasi alat-alat yang mereka mainkan tadi. Sementara Letha bingung bagaimana mengemasi alat-alat itu hanya diam saja. "Eum, apa ada yang bisa aku bantu? " tanya Letha polos.
Lesya menggeleng kecil saja. "Gak usah tanggung juga, mending duluan aja ke kamar, nanti gw nyusul! " kata Lesya.
Setelah rapi, mereka bertiga melangkah menuju kamar mereka. Dan s*alnya, saat mereka berada di lantai 3, mereka menemukan Lisa berdiri dengan tangan yang di lipat tepat di depan pintu kamar Lisa sendiri. "Ngapain lo di sini? " tanya Lesya bingung.
Lisa menoleh dan memasangkan Letha headphonenya dengan alunan musik yang memekikkan telinga Letha. Di saat Letha ingin melepaskannya, dengan cepat Lisa menahan. Sementara mata Lesya melotot mendengar suara ******* terdengar dari luar. "INGAT TEMPAT BANG! MASIH ADA YANG POLOS NIH! " kata Lesya menggedor-gedor pintu milik Elena.
Sontak saja Elena dan Alam yang berada di dalam kamar berhenti melakukan aktivitas mereka dan menyalakan kedap suara. Wajah mereka merah padam karena tak tahu jika aktivitas mereka terdengar hingga luar. "Mamp*ss! " gumam Alam.
Berbeda dengan lelaki tegap yang tak lain Elvan, dia justru hanya diam dengan raut wajah biasa saja. Sudah kesekian kalinya dia mendengar suara ini. "Malu-maluin! " kecilnya bergumam hingga tak ada yang mendengar.
Di saat Elvan hendak kembali melangkah menuju kamarnya, dia menyempatkan dirinya untuk melihat wajah Lesya yang justru mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗