
Candra memijit kepalanya pusing. "Shutt up pliss!! Gimana gw mau ngomong kalau lo pada nyerocos? " Sarah mengangguk setuju. "Bentar diem dulu gw mau ngomong elah! "
"Tinggal ngomong! " kompak mereka kecuali Elvan. Elvan bukannya tak peduli keadaan Lesya saat ini namun dia tak seperti yang lain. Menunggu, mendengar penjelasan dan masuk menjenguk Lesya yang akan dia lakukan nanti.
Tiba-tiba mereka menoleh dengan kehadiran mama Luna yang tak lain Henny. "Gimana keadaan Luna? " tanyanya panik. Sarah berusaha menenangkan Henny. "Tan, tenang dulu! Luna baik-baik aja! Hanya saja jangan biarkan dia banyak gerak karena tulang di tangannya sedikit patah! Butuh beberapa hari untuk memulihkannya! " jelas Sarah.
"Lalu? Gimana Lesya? Dia baik-baik aja kan? Apa ada luka parah? " tanya Mayang beruntun.
Elena menahan Mayang yang hendak bertanya lebih banyak. "Bun, bun! Tenang dulu! Dengerin dulu penjelasan dokter! " Mayang menghela nafasnya dan menyuruh Candra agar segera menjawab pertanyaannya. "Jawab! "
Candra menghela nafasnya sebelum memulai penjelasan. "Lesya koma! Detak jantungnya berada pada denyut rendah manusia umumnya! Dan selain itu, dia mengalami retak pada satu tulang kakinya yang terbentur besi! Kemungkinan besar, butuh beberapa bulan untuk memulihkannya! Pendarahan di kepalanya sudah kami tangani dan hanya menunggu waktu agar dia kembali sadar! " ucap Candra menjelaskan secara rinci.
Banyak diantara mereka tak percaya jika Lesya koma. Cakra tak menyangka jika Lesya mengalami koma kembali hanya berusaha tegar. "Trus sekarang boleh dijenguk? "
Candra menggeleng. "Untuk Lesya masih belum! Tunggu dipindahkan ke ruang biasanya baru boleh dijenguk! Daya tahan dan imunitas tubuh yang Lesya miliki sangat kuat yang membuat kami perlu menghitung hari sadarnya! " jelas Candra.
Leon mendongkak menatap kosong Candra. "Berapa lama dia koma bang? " Candra menautkan alisnya dan menjawab. "Kali ini gak terlalu parah seperti yang sebelumnya! Kemungkinan hanya perlu beberapa minggu! " jawab Candra.
"Baguslah! Asal jangan setahun! Cape gw ngurus markas kalau Lesya setahun komanya! " lirih Cakra yang hanya dapat didengar Elvan karena mereka bersampingan.
____________
Setelah dipindahkan ke ruangan yang sama, yaitu ruangan khusus pemilik rumah sakit, mereka yang datang berkumpul dan menatap orang yang mereka sayangi sedang menutup mata.
Ruangan tersebut lumayan luas karena Lesya mendesain sesuai dengan ucapannya kepada Alam dan Luna dahulu.
__ADS_1
‘Gw bakal desain rumah sakit ini khusus buat kita! Kalau gw sama Luna barengan koma, bisa langsung satu kamar nikmatin penderitaan! ’ ucap Lesya saat itu.
‘Idih! Koma aja bilangnya penderitaan! ’ ejek Alam.
‘Gw gak masalah! Karena kita sahabat! Satu sakit? Dua-duanya sakit! Haha! ’ tawa Luna.
Alam mengingat dengan jelas kenangan saat itu. Itu terjadi saat dimana di saat mereka handak mendesain ulang rumah sakit menjadi lebih baru dan mewah.
Mereka terdiam beberapa saat hingga terdengar ucapan Lisa yang membuat Cakra menatap tajam gadis itu. "Gak mau telfon keluarganya? " tanya Valen.
"Gw keluarganya! Buat apaan di telfon lagi?! " balas Cakra ketus. Lisa mencibir. "Ya masa gak ada satupun keluarga Lesya yang dateng sih?! Padahal jelas-jelas lagi koma! " tanya Lisa tak habis pikir.
Leon mendongkak. Sedari tadi dia hanya menunduk. "Jangan panggil keluarganya siapapun itu! Mau Letha, tante Mila, tante Mily, om Gilang, atau siapapun! " tegas Leon membuat Lisa bingung. "Kenapa? "
"Kalau gak tau gak usah ikut campur! " ucap Alam tiba-tiba. Pandangan matanya mengarah ke arah Luna yang tanpa sengaja jarinya bergerak. Sontak dia berdiri memastikan hal tersebut. "Kenapa? Ada yang salah? " tanya Cakra.
"Luna!! "
Leon beranjak berniat memanggil kan Sarah agar segera datang ke sana. Sementara Henny menghampiri sang putri diikuti oleh Cakra di sampingnya. "Ma-mah! " panggil Luna dengan nada kecilnya karena baru sadar.
"Kenapa? Air? Sini! Pelan-pelan! " Cakra membantu Luna yang ingin duduk di ranjang. "Auuu! Sa-kit! " Luna memegang tangannya yang terasa sakit digerakkan.
Dengan cepat Leon dan Sarah yang baru saja tiba datang menghampiri Luna. Henny menyingkir sebentar karena tahu jika putrinya harus diperiksa. "Tangannya jangan digerakkan dulu nanti patah! "
Dengan santainya Luna menjawab. "Ya tinggal tempelin lagi, gampang kan! " Sarah memutar bola matanya malas. "Sebelum patah, gw amputasi tangan lo! Mau?! " Sontak Luna menggeleng cepat.
__ADS_1
"Galak bener! Ouch, Lesya mana?! " tanya Luna memegang kepalanya. Karena yang sedikit patah hanya tangan kiri Luna saja. Semua terdiam mendengar pertanyaan Luna yang terlontar baru saja.
Gorden biru yang sengaja di pasang agar membiarkan waktu tenang untuk Lesya yang terlelap di alam mimpinya membuat Luna tak dapat melihat sahabatnya itu. "J-jang-an bilang? " terka Luna menebak.
"Jangan mikir yang aneh! Kalau lo sakit gw yang repot! " jawab Sarah mencoba mengalihkan pembicaraan. Luna menatap kosong arah depannya. Dia paham sekarang jika Lesya mengalami koma.
Berbeda di sebelah Luna, seorang gadis cantik terbaring dengan wajah pucat nya. Lelaki yang menemaninya sedari tadi, berharap dan menunggu jika gadis tersebut membuka matanya sekarang.
Setelah menyatukan gelang mereka, Elvan mengambil ponselnya dan mencoba melihat kejadian melalui hubungan camera yang ada di gelang Lesya dengan ponselnya. Dirinya beranjak berdiri dan hendak melangkah. Namun sebelumnya dia mengelus pipi gadis tersebut dengan lembut. "Jangan ke mana-mana! "
Suara bisiknya hampir tak terdengar. Dia juga bingung mengapa dirinya mengucapkan hal itu? Dia melihat ke arah samping dimana layar monitor menunjukkan jika denyut jantung Lesya bertambah menjadi 89 per menit di sana.
Setelah melihat layar monitor, Elvan melangkah dan melihat Luna yang memandang kosong arah depan dengan posisi duduknya. Kepalanya diperban sama seperti Lesya. "Van? Gimana? "
Mendengar suara bundanya, Elvan menoleh dan menggeleng. "Masih belum sadar bun! " jawabnya.
Luna mengalihkan pandangannya dengan perlahan ke arah gorden yang menutupi brankar sebelahnya. Sekarang dia yakin jika sahabatnya berada di sana saat ini.
Elvan berjalan mendekati arah brankar Luna dan memperlihatkannya isi ponselnya. Awal mula bagaimana mobil yang ditumpangi Lesya, Luna, dan Lisa dapat meledak. "Begini ceritanya? " Mata Luna memicing dan mengangguk. "Bener! Sniper ketua devisi satu yang lakuin! "
Cakra yang berada di samping Luna mengepalkan tangannya kuat. "Sekarang apa keputusan lo? " tanyanya. Luna menggeleng. "Gw gak tau hukum apa! Harus queen yang tanganin se-semua! G-w gak tau hukuman yang pantes buat dia! " lirihnya menunduk.
Sarah mengelus pundak Luna. "Berdo'a aja biar Lesya cepet sadar! " ucapnya dibalas anggukan dari kepala Luna.
Sementara Elena, Mayang, Angga tak paham apa maksud dari markas, queen, dan ketua devisi dari ucapan yang mereka dengar. Apa kaitannya dengan Lesya? Hal tersebut mengapa sangat berkaitan dengan dunia gengster? Pikir mereka.
__ADS_1
"Maksud dari queen? Siapa? " tanya Elena tiba-tiba membuat mereka tersentak.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗