Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
294: Dad and Daughter


__ADS_3

Berbeda jika kantin tampak ricuh, kali ini di taman sekolah tampak sepi. Suasana indah membuatnya semakin nyaman berada di sana. Lesya memejamkan matanya dan memfokuskan hatinya untuk lebih tenang dan fokus. Tangannya dia letakkan dan pautkan di depan meja batu bulat yang ada. Suasana tampak tenang sekarang karena hanya ada Lesya saja di sana. Lesya bagaikan orang sedang berdo'a di sana. Dan nyatanya, Lesya hanya membutuhkan ketenangan saja!


Bruk!


Dapat Lesya rasakan jika di sampingnya sudah terisi satu orang di sana. Mulai tercium dari indra hidungnya, Lesya dapat mengetahui aroma parfume yang digunakan oleh orang yang duduk di sebelahnya adalah aroma khas lelaki.


"Apa saya mengganggu? " tanya orang itu.


Lesya dapat tahu mulai dari nada bicara dan suara familiar itu. Memang mereka jarang bertemu namun Lesya sangat menghafal nada khas dan suara orang itu. Galang, sang ayah kandungnya! Itu dia.


"Sangat menganggu, tapi sayangnya gw gak keberatan sama sekali! " jawab Lesya tak kalah dingin dari nada bicara Galang.


Galang tertawa kecil dan beralih menatap anak sulungnya dengan mendiang Mila. Sangat cantik dan rupanya mirip dengan wajahnya. Sangar, dingin namun cantik. Sedangkan dia sangar, datar namun dia tetap tampan walau sudah setengah abad.


"Kayaknya lo memang turunan gw! Bagaimana kalau lo ikut gw dan tinggal di rumah gw? " tawar Galang dengan wajah yang perlahan dengan nada yang mulai biasa saja saat berbicara dengan Lesya.


Mengingat jika Lesya adalah anak sulungnya dengan mendiang Mila yang sudah tiada, membuat dirinya ingin mengajak Lesya kembali ke rumahnya. Dia tak mau jika anak dengan wajah mirip dengannya terlantar begitu saja. Hanya itu! Jika perkara Letha, Galang kurang setuju. Karena dia tahu karena jika Letha tak menyukai kembarannya sendiri.


Dapat kalian sebut jika Galang memang sudah berubah saat dia perlahan mulai beranjak dewasa. Bahkan dia juga perlahan mulai tahu apa arti dari sebuah kata ‘cinta’ yang tak pernah ada di kamusnya. Dia sudah merasakan saat 1 tahun terakhir ini. Dan kali ini dia ingin menyempurnakan arti dari kata itu.


Apa ini baru saja di mulai? Apa ini akan membawa kebahagiannya juga? Apa dia harus menerima tawaran Galang? Em, lebih baik dia bersama dengan sebuah keluarga yang berbaik hati menampung dan memberikan sebuah kasih besar untuknya dibandingkan pergi dengan orang yang dia harapkan namun baru saja menawar. Apalagi Lesya yang mulai paham apa itu maksud dari ‘status pernikahan’ membuat dirinya tak enak meninggalkan keluarga Grey yang sangat tulus kepadanya sejak lama. Itulah kira-kira isi dari pikiran Lesya.


Melihat Lesya yang membuka mata tanpa meliriknya membuat Galang menghela nafasnya. Mereka secara bersamaan menatap lurus ke depan dengan wajah yang tak dapat diartikan. "Bukannya lo tau siapa gw sekarang bagi anak bungsu ayah Angga? " ucap Lesya.


"Yaa.. Kalian sudah menikah bukan? Dan itu tanpa kehadiran kembaranmu yang menyukai suamimu bukan? " ujar Galang. Lesya terkekeh sinis dan mulai beranjak berdiri diikuti Galang secara bersamaan.

__ADS_1


Mereka entah satu hati atau satu tujuan atau juga memang sudah merencanakan lewat hubungan batin ataupun juga memang kebetulan, pasangan ayah anak itu berjalan meninggalkan taman. Mereka menjadi pusat perhatian di koridor karena kemiripan wajah.


Hingga tanpa sengaja Lesya yang memang sedang mengumpat di dalam benaknya perkara Galang yang mengikuti dirinya membuat dia tak sengaja menabrak seseorang yang tak lain adalah pak Feri.


"Eh, sorry! " ucap Lesya lalu membantu merapikan buku-buku pak Feri yang berserakan. Tak urung Galang ikut membantu merapikan buku guru itu karena tak sengaja melihat pandangan aneh pak Feri dengan anak sulungnya.


Bahkan tanpa sengaja pak Feri menyentuh pergelangan tangan Lesya. Namun dengan cepat Galang menengahi dan berpura mengambil buku di tengah. Lesya hanya bersikap biasa saja memang menurutnya tak ada yang aneh. Hanya saja dia risih dengan sentuhan tangan pak Feri. Tahu kan dia sangat anti saat disentuh?


Setelah itu Lesya berdiri dan meletakkan dengan enteng buku yang dia pungut ke dalam tangan pak Feri. Dia melirik tajam ke arah semua siswa-siswi yang masih menatap dirinya. Ini sebabnya dia tak ingin terkenal sebab merasa risih dengan banyak tatapan dari orang banyak.


"APA LIAT-LIAT?! " ketusnya tajam.


Kriingg..


"NAH SONO BUBAR! MURID TELADAN KAN LO PADA, BELAJAR NOH?! " lanjut Lesya galak. Alhasil mereka yang takut berlari kecil pergi dari koridor itu menuju kelas mereka. Lesya beralih menatap pak Feri yang masih menatap dirinya. Kali ini dia tahu apa yang aneh dan rupanya itu dari tatapan aneh pak Feri untuknya!


"Apa sih?! " kesal Galang mengusap pergelangan tangannya. Yaps, walau dia kasar, lelaki setengah abad itu memang masih memiliki hati untuk mengajak Lesya dan Letha bersamanya. Lesya menatap datar Galang. Sudahlah, lebih baik dia mengusir lelaki itu saja.


"Pergi gak? " usirnya.


Galang mengangkat satu alisnya menatap balik Lesya yang kini tengah mengusir dirinya. Dia tertawa sinis sejenak dan menggeleng. "Lo batu ya? Atau emang lo keturunan gw? " ucap Galang.


"Iya gw emang keturunan lo tapi, gw gak pecundang kayak lo! " balas Lesya menohok. Galang hanya mengangkat bahunya tak tahu dan mengangkat satu jarinya. "Cuman karena satu alasan gw datang ke sekolah ini! " katanya.


Lesya hanya menyenye kecil saja. Malas sekali mendengar ucapan yang menurutnya tak berfaedah untuknya.

__ADS_1


"Call me daddy! " dingin Galang.


Lesya tersenyum sinis. Matanya menatap tajam ke arah Galang tanpa rasa takutnya. Menurutnya, seharusnya dia tak perlu test DNA antara dirinya dan Galang bukan? Karena hal itu justru membuat dirinya tak menyangka dan terpukul saat kecil. Namun sayangnya nasi sudah menjadi bubur dan itu tak dapat diubah lagi. Saat ini dia juga bersyukur tahu siapa ayah kandungnya yang tak lain Galang.


"Not that easy! " bantah Lesya.


Galang menajamkan pandangannya. Ini pertama kalinya keinginannya ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis, perempuan pula, anaknya juga pula. Rasanya dia sedang berhadapan dengan Angga dan Arga saat ini. Ck!


Galang menghela nafasnya. Ini adalah pertama kalinya menerima kekerasan dari orang lain. Karena biasanya dialah yang keras, bukan orang lain. "Lo gak mau bunda kesayangan lo jadi korban selanjutnya? " ancam Galang dengan nada tenangnya. Sontak saja Lesya menajamkan pandangannya karena tersentak dengan ucapan Galang.


"Cepu, bawa bunda! Yaudah sana pergi, istri sama anak lo nunggu di rumah noh! " ketus Lesya. Galang memutar bola matanya malas. Dia juga tak ingin berlama-lama di sana. Buat panas saja!


Galang sebelumnya memberi nasihat bijak pada putri sulungnya. Rasanya dia sedang bercermin namun bedanya Lesya adalah perempuan yang masih muda sementara dia adalah lelaki berusia setengah abad.


Mengelus rambut Lesya dengan lembut, entah mengapa Galang justru tersenyum tulus kepada Lesya. "Jadi anak baik, jangan mau kayak daddy yang pengecut! Jaga Letha dan orang di sekitarmu karena Vion bukanlah ketua asli Ice Blue! Jangan deket-deket sama cowok, nanti ada yang panas termasuk sama guru sendiri! Jangan terlalu repotin keluarga Grey, daddy gak mau punya utang budi sama mereka karena mau rawat anak bandel di sana! "


Lesya tersentak di saat merasakan tangan kekar memeluk dirinya. Yah, Galang mungkin merasakan dirinya yang lemah saat ini. Dengan cepat lelaki itu memeluk anak sulungnya dengan erat seolah ada hal yang mengganjal di dalam dirinya.


Sementara Lesya diam tak bergeming menerima perlakuan lembut pertama kalinya dari ayah kandungnya. Namun saat hendak melepas pelukannya, justru Galang yang tersentak ternyata Lesya menahannya dan memeluknya erat. Beberapa menit berlangsung Galang melepaskan pelukannya dan melirik jam tangannya. Dia kembali mengusap pucuk rambut Lesya dan berlalu pergi tanpa pamit dengan anak gadisnya itu.


"Gimana hangat gak pelukannya? " tanya seseorang beralih merangkul pundak Lesya. Tentu saja gadis itu menoleh ke samping dan menemukan Elvan di sana. Dia baru menyadari jika dia berada di depan ruang OSIS, pantas saja.


"Hem hangat, bahkan ini pertama kalinya apalagi sama ayah kandung sendiri! " jawab Lesya. Elvan mengacak rambut Lesya dan melepaskan rangkulannya. Lelaki itu memang baru saja dari ruang OSIS dan hendak pergi ke kelasnya. Hanya sendiri tanpa temannya.


"Yaudah, sana noh kelas musik dari tadi udah mulai! " ucap Elvan. Lesya hanya berdehem pelan dan berdecak kesal saat rambutnya diacak-acak oleh Lesya. Dia menatap kepergian Elvan dan berbalik berjalan ke arah ruang musik.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2