
Dia tak takut dengan Elvan namun ini memang kesalahannya yang tak sengaja melepaskan nampan akibat dijambak oleh Ria.
Jujur saja, Elvan tak masalah dengan barangnya. Namun dia menyayangi barang itu karena barang pertama yang dia beli dari hasil kerja kerasnya.
"Ya maaf! Lo sendiri liat kan? Gw dijambak sama gorila? " bela Lesya.
"Tapi kenapa lo ladenin? " datar Elvan. Lesya mengepalkan tangannya di bawah.
Sementara Ria yang mendengar percakapan mereka dari luar tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa membuat Lesya menderita.
Jujur saja dia tak suka dengan keberadaan Lesya di cafe. Setelah cukup menguping pembicaraan Lesya dan Elvan, Ria kembali mengerjakan tugasnya.
"Trus mau lo apa? " sabar Lesya. Dia berdoa di dalam hatinya untuk diberikan kemudahan dari papan berjalan di depannya ini.
"Ada dua yang harus dipertanggung jawabkan! " Lesya mengangga karena dia yakin hukumannya akan sulit.
"Satu! Lo harus bertanggung jawab atas keributan yang melibatkan diri lo, Dua! Lo harus bertanggung jawab atas pecahnya barang kesayangan gw! " tekan Elvan.
Lesya melotot tak percaya. Dalam keadaan tak sadar, Lesya menggebrak meja Elvan, "Apa-apaan lo! Lo pikir gw babu lo?! "
Elvan menatap tajam Lesya yang menggebrak meja miliknya. Lesya menciut dan memundurkan langkahnya ke belakang.
"Shift lo hari ini sampe sore! " dingin Elvan. Lesya pasrah saja. Lain kali dia pasti akan membalas Ria lebih dari ini.
"Dan lo harus bayar ganti rugi! " Lesya melotot tajam. Dia ganti rugi? Pikir Lesya.
"Berapa? " datar Lesya mengambil amplop dari sakunya. Sebenarnya dia mau memberikan uang itu kepada Letha.
"1 M! " Lesya melotot tak percaya kepada Elvan. Elvan dengan santainya memainkan laptopnya melirik sekilas ekspresi Lesya saat ini.
"Lo meres gw ya? Bo'ong banget kalo gelas butut kayak gitu harganya 1 M?! " Elvan tak merespon ucapan Lesya sama sekali. Dia terlalu fokus dengan pekerjaannya saat ini.
"Duduk! " tegas Elvan. Lesya menurut karena cukup pegal berdiri terus.
"Alasan lo kerja? " datar Elvan mengetik sesuatu di laptopnya.
"Dapet duit lah! Pertanyaan lo gak bermutu tau gak?! " Elvan tak peduli sindiran Lesya.
"Bukannya lo udh kaya ngapain kerja? " Lesya terdiam. Elvan sadar karena Lesya yang terdiam karena pertanyaannya.
Elvan melirik Lesya. Lesya segera menunduk tak mau dirinya dilihat oleh Elvan. Dia masih menutup mulutnya seolah enggan berbicara.
__ADS_1
Elvan mengangkat satu alisnya ke atas melihat Lesya yang menunduk. Elvan menekan satu tombol panggilan darinya untuk Ria.
Suasana mendadak hening. Tak ada jawaban sama sekali dari Lesya. Lesya kembali mengangkat wajahnya menatap Elvan.
Saat dirinya ingin menjawab pertanyaan Elvan, ada yang mengetuk pintu ruangan dari luar. Elvan masih berkutat dengan laptopnya. Lesya melirik pintu dan Elvan bergantian.
Apa itu tema-teman Elvan? Pikir Lesya. Elvan angkat suara mempersilahkan orang yang mengetuk masuk. Dan Lesya menatap Elvan dengan tatapan tak bersahabat.
Rupanya Ria datang dengan wajah angkuhnya. Jujur saja Ria senang bahkan sudah berdandan bak ondel-ondel sebelum masuk ke ruangan Elvan.
Ria ingin duduk di kursi samping Lesya namun diurungkan karena suara Elvan. Bahkan menyentuh kursi saja belum sempat.
"Siapa suruh duduk? " dingin Elvan. Lesya bergidik ngeri mendengar itu.
Ria menunduk seraya berdiri. Harga dirinya jatuh di hadapan Lesya. Lesya hampir tertawa melihat ekspresi Ria. Namun dia menahan itu karena tatapan tajam Elvan.
Jujur saja dia tak takut dengan Elvan. Namun dia hanya tahu dimana dirinya berada dan situasi apa saat ini.
"Kamu sy pecat! " dingin Elvan tanpa menatap Ria sama sekali.
Ria gelagapan. Dia tak tahu apa salahnya. Dia menatap tajam Lesya setelah tau apa masalahnya. Lesya yang ditatap hanya cuek saja karena tak penting baginya.
"Data yang kamu kasih kurang pas! Dan CCTV membuktikan bahwa kamu telah korupsi uang di cafe sy! " tegas Elvan.
Lesya menatap Ria. Rupanya tanpa dia kasih tahu pemilik cafe sudah tahu kejadian busuk Ria. Ria menatap tajam Lesya. Lesya mengangkat alisnya satu tak tahu apa-apa.
Ria mengepalkan tangannya kuat. Elvan menatap dingin ke arah Ria. Dia tak suka dengan yang namanya penghianat. Ria terdiam menunduk takut dengan tatapan Elvan.
"Keluar dan pergi! " dingin Elvan. Ria pergi dan membereskan barangnya. Sebelum dia benar-benar pergi, Ria menatap geram Lesya.
Setelah Ria pergi, Elvan menatap Lesya tajam. "Lanjutin! " Lesya menoleh ke arah Elvan.
"Masih inget aja ini bocah! " gumam Lesya jengah.
"Lanjutin apaan? " tanya Lesya pura-pura lupa.
"Gw gk suka ngulangin ucapan gw" tajam Elvan. Dia mengetik sesuatu di layar laptopnya yang pasti tak tahu itu apa.
"Apa hubungannya sama lo? " datar Lesya. Lesya segera pergi dari ruangan Elvan dan mendobrak pintu ruangan dengan kasar.
"Heh! " gumam Elvan. Dia melanjutkan pekerjaannya hingga tak terasa hampir sore.
__ADS_1
Elvan menutup laptopnya dan melihat jam digital di mejanya. Saat ini ternyata sudah pukul 18.25 rupanya. Elvan melihat ponselnya dan mendapatkan notifikasi dari Valen.
📩 Valen
Bro, gw ama yang lain duluan
balek ya
^^^📩Elvan kutub^^^
^^^Hm.^^^
Setelah menjawab pesan singkat Valen, Elvan melangkah keluar dari ruangannya. Tak lupa dengan menutup pintu dan AC serta lampu ruangan.
Lesya yang sudah selesai mengerjakan hukumannya berlari pulang ke rumah. Setelah melepas apornnya dan mengambil amplop dari dalam apron.
Lesya memegang amplop dan menunggu Letha yang masih di perjalanan. Dia duduk di satu kursi dan tak lama Letha datang lalu menghampiri Lesya.
"Kak, maaf lama" ucap Letha tersenyum manis. Lesya mengangguk. Dia tak memesan makanan atau minuman sama sekali.
"Iya, gpp. Gw juga baru nyampe" balas Lesya. Letha mangut-mangut dan duduk di hadapan Lesya.
"Oh iya, ini uang dari papa. Papa nyuruh gw ngasih ke lo" Lesya menyodorkan amplop yang dia dapat selama bekerja.
"Makasih kak" ucap Letha tersenyum "Oh ya aku duluan ya kak, mamanya Nayla sakit jadi harus dijagain"
Lesya mengangguk, "Hati-hati, salam buat temen lo"
Hal itu sama sekali tak di dengar Letha karena terburu-buru pergi. Lesya menghela nafas panjang.
"Orang lain lo perhatiin, tapi keluarga lo kenapa di nomor duain Ara? " gumam Lesya kecewa.
Elvan melihat itu semua dari belakang tembok. Dia juga bisa mendengar gumaman Lesya. Dia juga melihat interaksi kedua kakak beradik itu. Rupanya gaji Lesya diberikan kepada Letha.
"Heh! Kerja demi adik! " batin Elvan.
Lesya pulang ke kediaman Fyo karena tahu bahwa Mila sudah diperbolehkan pulang. Bukan atas kehendak pihak rumah sakit namun Mila sendiri.
Dia tak sadar jika dirinya diikuti oleh Elvan. Elvan mendapatkan pesan dari Mila untuk menjenguknya bersama Lesya di kediaman Fyo.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1