
Beberapa minggu sudah berlalu dan suasana juga sudah kembali seperti semula. Disebabkan karena banyaknya permintaan dari bumil mereka yang mulai aktif meminta ini dan itu dengan mudah, tak tahan mereka untuk menangis frustasi dibuatnya.
Sesuai permintaan terakhir Mayang juga, Elvan dan Lesya akan tinggal di rumah mendiang kedua orang tua mereka. Beberapa dekorasi rumah juga sudah diubah hingga menjadi lebih mewah dan megah. Bahkan tak segan-segan juga Elvan membeli rumah sebelah untuk mendekorasi rumahnya menjadi lebih luas dan nyaman dihuni. Sultan bebas!
Lalu masalah rumah lama mereka? Atas saran dan permintaan bijak Lesya, wanita itu menginginkan agar rumah dan dekorasi dijual sesuai dengan harga beli dahulu. Lalu mengenai hasil penjualannya akan diberikan pada orang-orang yang tak mampu.
Elena sendiri sudah turun tangan mengurus beberapa butik yang dahulu adalah milik Bunda nya. Sementara Elvan, sudah hampir setiap hari akan turun tangan dibantu beberapa temannya yang memang paham dengan dunia bisnis. Termasuk Valen sendiri!
Pagi yang cerah seharusnya adalah hari yang baik untuk memulai aktivitas yang baik. Namun, hal tersebut lenyap di kala mendengar permintaan nyeleneh Lesya yang sangat tak masuk akal. Padahal, hari ini ada rapat penting yang menyangkut kebesaran nama perusahaan Grey yang lebih maju.
"Huweeee ... beliin dulu buaya nya Pannnn!" rengek Lesya yang sudah duduk dengan memeluk kaki Elvan. Sang empu yang sedang berdiri tegak tampak bingung harus berbuat apa lagi.
Saat bangun pagi tadi, Lesya menonton kartun masa kanak-kanak. Siaran televisi dengan judul Pada Zaman Dahulu yang menampilkan kancil dan buaya membuat Lesya tiba-tiba meminta merawat buaya di rumah. Padahal mereka baru saja memindahkan tiga harimau mereka ke rumah, tambah satu populasi lagi.
"Gak bisa Sayang, nanti aja gimana?"
"GAK MAUUU! Sekarang ayo ihhh, beliin!"
"Sekarang aku ada rapat, gak bisa ditunda. Besok deh gimana? Atau nanti habis rapat kita beli buaya nya?" tawar Elvan berusaha untuk bernegosiasi.
"Oh? Maksudnya gw sekarang udah gak penting lagi buat lo?" ucap Lesya melonggarkan pelukannya di kaki Elvan. Sang lawan bicara tampak menghela nafasnya pelan karena dia tahu sebentar lagi Lesya akan bersiap menangis.
"Yaudah, sana pergi!" usir Lesya melengkungkan bibirnya ke bawah dengan raut wajah sedihnya. Perlahan Lesya berdiri tegap dan tak lagi memeluk kaki Elvan layaknya anak mοnyet.
Elvan menghembuskan nafasnya dan menahan tangan Lesya yang hendak berjalan meninggalkannya. Dengan berat hati Elvan mengangguk mengiyakan permintaan Lesya hingga sang empu kembali kegirangan melihatnya.
"Beneran?"
"Iya Sayang. Bentar aku telepon Revan dulu biar undur rapatnya," ucap Elvan mengambil ponselnya di saku jas nya untuk menghubungi asistennya yang tak lain adalah Revan—suami Lisa.
Lesya hanya mengangguk antusias karena girang dan berlari kecil ke arah kamar untuk mempersiapkan diri. Elvan hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Merasa ngeri, akhirnya sebelum menghubungi asistennya, Elvan memperingatkan agar istrinya tak berlarian di tangga.
"Jangan lari-lari, Le!"
Sang empu hanya diam tak menanggapi. Walau demikian, dia tetap kembali berjalan seperti biasa agar terhindar dari amukan 'Singa Rumah' yaitu, Elvan. Bisa gagal permintaannya jika tak mendengarkan apa kata Elvan.
__ADS_1
"Ck! Kenapa harus buaya sih yang diminta? Padahal Ken sama Revan termasuk populasinya," gumam Elvan sedikit kesal karena permintaan nyeleneh sang istri. Jika orang lain meminta rujak atau mangga, lain hal dengan wanita satu ini yang meminta buaya. Aneh!
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Sesuai janjinya saat pagi hari, Elvan sudah mengabulkan permintaan sang istri untuk membeli dua ekor buaya yang berbeda jenis agar dapat berkembang biak. Selepas mencari buaya, dia mengajak mampir di sebuah taman yang cukup sepi dengan suasana yang dapat menyejukkan hati dan pikiran.
"Pelan-pelan!"
Lesya hanya berdehem saja menanggapinya. Dia sedang melahap ice cream cup nya yang dibeli di salah satu toko di sana. Jika orang lain melihat, keduanya sangat tampak layaknya kakak-beradik bukan seperti pasangan.
Sudut bibir Lesya yang sedikit cemong membuat Elvan berinisiatif untuk mengusap dengan telaten. Wajah polos Lesya sama sekali tak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Habis?" bingung Lesya.
"Kenapa? Gak boleh nambah loh!"
"Iya, gak nambah lagi kok serius! Lagian kaget aja perasaan tadi penuh deh," ucap Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Elvan memutar bola matanya malas dan mengusap perut Lesya pelan.
"Udah pindah ke sini ice nya," balas Elvan membuat keduanya tertawa menyadari pembicaraan unfaedah mereka sendiri.
"Ketbok," panggil Lesya. Elvan menoleh dan menatap manik mata istrinya. "Jangan pernah bosan sama sikap gw yang aneh, ok?" lanjut Lesya tersenyum.
"Jangan diacak!" kesal Lesya.
"Iya-iya, nih dibenerin lagi kok," kata Elvan terkekeh dan merapikan rambut istrinya yang berantakan karena ulahnya.
"Gw masih bingung, kenapa lo cinta sama gw?" tanya Lesya tiba-tiba. Elvan mengerutkan alisnya bingung. "Gak usah gitu alisnya! Cuman nanya doang kenapa gitu loh. Kita kan dulu not friend but enemy. Paham 'kan?" sambung Lesya.
"Karena kita jodoh!" ucap Elvan.
"Iya sih. Makanya kita dijodohin karena kita udah jodoh lewat jalan kita masing-masing. Iya 'kan?" kata Lesya.
"Good!" puji Elvan.
"Kalau gw gendut, lo gimana Pan? Kalau gw gοblοk begini juga gimana? Kalau gw keriput waktu udah tua gimana juga? Lo mau cari yang baru?" tudung Lesya yang tiba-tiba terpikir dengan hal demikian.
__ADS_1
Elvan menyentil pelan dahi Lesya. "Hih, sembarangan ya kalau ngomong!" ujar Elvan geleng-geleng kepala. "Siapa yang mau berpaling hm? Kalau kamu gendut, aku suka artinya aku selalu kasih makan istriku ini. Kalau kamu gοblοk, berarti aku suami dari istri si gοblοk ini. Kalau kamu tua, aku juga tua tau! Jadi, gak usah nethink kamu! Gak bagus buat kesehatan pikiran juga dedeknya," lanjut Elvan.
"Iya maaf. 'Kan cuman nanya doang," cengir Lesya menunjukkan deretan gigi putihnya. Tak kuasa melihat sisi imut sang istri, akhirnya Elvan menangkup pipi Lesya dan mengecupnya sesekali menggigitnya karena gemas.
"Ihhh, jigong lo bau!" kilah Lesya.
"Wangi, Sayang!" koreksi Elvan yang tetap memainkan kedua pipi gembul milik sang istri. Lesya tertawa pelan dan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Bawu. Aduh, haha ... udah ih basah!"
"Tapi ngomong aku-kamu dulu, gimana?" tawar Elvan yang berhenti melakukan aktivitasnya. Elvan sengaja meminta menggunakan lihat aku-kamu karena Lesya sendiri terkadang keceplosan berbicara logat lo-gw layaknya teman.
Sang lawan bicara sejenak berpikir dan menggeleng tak setuju. "Geli dengerin logat begitu," tolak Lesya.
Elvan menautkan alisnya mendengar alasan yang sama seperti alasan lalu. Segera dia mengapit leher istrinya di ketiaknya karena merasa kesal dengan alasan yang aneh, menurutnya. Geli? Hello, sama suami sendiri geli? Malu? Biasa juga malu-maluin orang.
"Adohhh suswah napas saywa!" sungut Lesya berusaha memberontak.
Mulut Elvan tak tinggal diam untuk meniup wajah Lesya dengan lembut seolah menggodanya. Benar saja raut wajah istrinya sudah berubah memerah hanya karena dia tiup dengan lembut.
"Gak uswah ketawa!"
"Gak papa. Lagian emang salah pakai logat aku-kamu hm? Biar terbiasa sampai nanti," ucap Elvan menaikkan satu alisnya. Lesya mencibir dalam hati. Rasanya perutnya ingin muntah jika berbicara aku-kamu layaknya anak kecil.
"Ok, fine! Lepas dulu, akhh,"
Lesya melototkan matanya di kala Elvan beralih menggendongnya dan memutar-mutarkan tubuhnya yang melayang. Takut jatuh, akhirnya Lesya memilih menggulungkan kedua tangannya pada leher Elvan dengan erat.
"Awas jatoh loh!" tajam Lesya.
"No, Baby. Pangeran gak akan membiarkan Ratu nya jatuh sedetikpun,"
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
__ADS_1
Pada akhirnya cahaya matahari akan menyinari hidup jika kita melakukan dan menjalani kehidupan dengan sabar dan ikhlas. Jangan pernah menyerah! Dunia tak seindah yang kita bayangkan.
-29/03/2022