Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
440: Kepergian Mereka


__ADS_3

Episode 440: Kepergian Mereka


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Bulan demi bulan berlalu dengan begitu cepatnya. Kini kondisi yang cukup mencekam sudah berubah secara total. Kehidupan yang damai, kini kembali semakin damai. Tak disangka dari sebuah tragedi menyakitkan, semua berubah menjadi sangat damai.


Menanyakan kabar?


Oke, jadi kabar Lesya dan Elvan sangat baik-baik saja. Tragedi malam itu, terkadang mereka lakukan saat adanya waktu luang pada malam hari. Begitu juga dengan Luna dan suaminya—Valen.


Lisa juga sudah bersama dengan Revan setelah beberapa bulan ini. Bukan bersama sekedar pacaran, tetapi mereka sudah menikah. Begitu juga dengan Amel dan Frans yang memilih ke jenjang lebih serius dengan hubungan mereka.


Bulan-bulan akhir ini juga Letha meminta izin dari sang kakak agar dapat bersama dengan Farel. Letha juga sudah memiliki anak, namanya Felix dan berusia sebelas bulan. Letha juga cukup malu jika ada tetangga yang meledekinya dengan kata 'janda' karena menggendong anaknya.


Awalnya Lesya menolak, tetapi karena nasihat Elvan yang meminta agar melepaskan adiknya supaya dapat berpikir lebih dewasa, dia mau. Tak baik jika terus-terusan mengatur ini-itu mengenai kehidupan adiknya. Dan tepat pada akhir tiga bulan kemarin, Letha dan Farel juga sudah menikah.


Mungkin semua orang mengira kembaran Aleesya itu masih muda juga wanita baik-baik. Sayangnya, tidak untuk para tetangga yang bergosip di sekitar perumahan karena sempat mendengar pembicaraan Lesya juga Letha yang membahas kebutuhan Felix. Entah apa isi dari pikiran Farel yang mau-mau saja menerima Letha yang sudah memiliki anak satu. Itu yang Lesya bingungkan.


Lanjut pada playboy cap kadal kita, Ken yang dahulu sangat petakilan kini sudah berubah menjadi sangat dewasa walau masih disertai kerecehan nya yang begitu sangat murni dari lahir.


Jika hubungan dengan sang kekasih—Nayla, mereka awalnya memutuskan untuk tak membahas pernikahan. Namun, karena melihat para teman-teman mereka yang sudah menikah, akhirnya mereka juga menyusul juga beberapa minggu setelah pernikahan Letha dan Farel berlangsung.


Elena dan Alam juga sudah memiliki putra yang tampan, Axel namanya. Hubungan mereka sangat harmonis, ditambah dengan kehadiran Axel yang begitu lucu dan manis membuat mereka semakin harmonis. Jarang sekali mereka berdua ribut karena Alam dapat berpikir dewasa dan mengalah. Begitu juga dengan Elena yang tak terlalu memaksa ini-itu pada sang suami agar menurut.


Tak hanya itu, kakak dari Lisa juga tak kalah dari teman mereka. Memiliki satu anak lelaki, Marsel namanya. Cakra sendiri juga sudah memiliki perusahaan walau tak terlalu pesat. Cakra juga mengurus perusahaannya dengan perusahaan mertuanya sekaligus.


Kabar para orang tua? Mayang dan Angga sangat sehat dan baik. Sesekali datang berkunjung ke rumah baru menantu ataupun Lesya yang ke rumah mereka. Berbanding balik dengan Mayang, justru Henny kondisinya semakin menurun alias drop hingga harus dirawat di rumah sakit.


Di sinilah mereka sekarang, rumah sakit dengan Candra yang menjadi dokter dan biaya yang ditanggung oleh Valen. Iya, masalah biaya Valen yang tanggung karena Lesya sangat-sangat paham sekarang jika posisinya sudah digantikan oleh sosok lelaki yang merupakan wakil di gangster milik suaminya.


"Luna, ingat ya kalau gak ada Mama, kamu harus nurut sama Valen, jangan ngebantah! Jangan lupa semua ajaran Mama buat layanin suami kamu, dilakuin bener-bener, ya? Mama capek, mau nyusul Papa kamu di sana," pesan Henny tiba-tiba seraya menahan sakit.


Lesya yang sedang mencuri buah anggur yang ada dan Luna yang sedang mengupas apel terkejut dengan lontaran kalimat yang diucapkan oleh Henny. Aktivitas mereka terhenti begitu juga dengan Elvan dan Valen yang mengobrol santai di sofa ruang inap Henny.


"Mama, jangan ngomong gitu ih! Luna gak suka dengernya tau, Mama tuh bakal sama Luna, di samping Luna, ajarin Luna ini-itu, jangan pergi ya?" lirih Luna.


Lesya melempar anggur yang sempat dia curi ke tempatnya semula. Terlalu panik, Lesya akhirnya mengelus punggung Luna agar tak terlalu menekan Henny untuk sembuh. Tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk Henny sendiri.


"Luna, jangan keras kepala ya? Sewaktu-waktu Mama tiba-tiba pergi, kamu harus iklhas ya? Buat Mama bangga sama kamu dengan urus keluarga kamu, jangan berantem terus sama Lisa juga Lesya ya?" lanjut Henny mengelus pucuk rambut sang putri.


"Ma,"


"Ada waktu kita harus pahamin seseorang, ada saatnya kamu nangis, ada saatnya kamu bahagia, ada saatnya kamu harus ikhlas, ada saatnya kamu bisa ketawa tanpa beban, semua punya waktunya, Luna." sela Henny yang lebih memilih untuk menasehati sang anak.


"Valen,"


"Iya, Ma?"


Segera Valen yang dipanggil datang menghampiri Henny dan ikut mengelus belakang leher sang istri yang matanya berkaca-kaca. Bagi Luna, hal kematian adalah hal tersensitif pada dirinya.


"Mama titip Luna ya? Jaga dia, sayangin dia, jangan bentak dia, utamain dia, ya? Dia permata Mama, berlian Mama, anak satu-satunya yang Mama punya, jangan buat dia sedih ya? Buktiin sama Mama di dunia kalau kamu pantas didampingi anak Mama yang cantik ini, ya?"


Valen tersenyum tipis dan mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengiyakan permintaan Henny. Dia sendiri juga sudah berjanji akan menjaga Luna sepenuh hati dan raganya. Sejak dia mengucapkan janji suci, sama saja seperti dia sudah berjanji bahkan janjinya pada Yang Maha Kuasa.


"Iya Ma, Mama tenang aja ya? Sekarang Mama fokus sama kesehatan Mama dulu, biar kita bisa bareng-bareng lagi." ucap Valen menggenggam tangan Henny. Valen sendiri juga agak takut jika kehilangan sosok Henny yang selalu mengajarkannya ini-itu, memberikan kasih sayang layaknya orang tua kandung pada anaknya.


"Harusnya kemarin-kemarin tuh kalian gak usah bawa Mama ke sini, Mama juga bentar lagi bakal pergi susul Papa, harusnya uangnya ditabung buat kalian juga buat cucu Mama yang lagi proses lauching nya, iya 'kan?"


Di saat begini, Henny masih sempat-sempatnya meminta cucu dari anak dan menantunya. Luna terdiam mengusap sudut matanya. Sudah akhir ini, sang Mama meminta seorang cucu. Perasaan bersalah bermunculan di benak Luna karena tak dapat mengabulkan permintaan Mamanya.


"Kalau berantam jangan pentingin ego ya, Nak? Harus ada yang dingin kalau yang satu panas, paham? Lesya juga sama, jangan marah-marah terus ya? Maafin Mama kalau pernah nampar kamu, pernah suka marah-marah sama kamu, ya Sya?" ucap Henny lembut yang kini mulai sedikit tersengal-sengal.


"Kamu jangan terlalu pentingin apa mau kamu, ya? Kalau Elvan marah, kamu harus diam karena itu yang baik buat kalian. Kalau kamu marah, Nak Elvan harus diam juga ya? Hargain pendapat dan kehadiran istri, paham?"


Kedua pasangan yang disebut dengan kompak mengangguk dan tersenyum. Luna segera memeluk Henny dan menangis terisak. Bilang saja dia lebai, tapi dia benar-benar takut ditinggal terlebih oleh orang terkasihnya.

__ADS_1


"Mama, sayang Luna."


"Luna juga sayang Mama, sayang banget!"


Sudut bibir Henny terangkat lebar. Matanya terpejam dan jantungnya melemah. Suara monitor membuat semua terkejut hingga Lesya reflek memanggil keberadaan dokter, sementara Valen memencet tombol darurat yang ada di samping brankar.


"Mamaaa!!"


"Luna, keluar yuk? Mama mau diperiksa sama Abang, ya?" bujuk Lesya seraya membantu Valen menarik Luna keluar.


Luna menahan tangan Candra yang baru masuk ke dalam ruangan. "Bang, tolongin Mama semampu Abang ya? Luna, mohon bawa kabar baik buat Luna." pinta Luna berharap.


"Abang usahain ya, Dek. Minta sama Yang di atas supaya Mama bisa sembuh oke?" lembut Candra mengusap pelan secara singkat pucuk kepala Luna.


Ngomong-ngomong tentang Candra, lelaki itu sudah beristri dan memiliki anak perempuan dengan dokter Sarah. Jika Andre, dokter pribadi Tiger itu sekarang juga sudah berpasangan dengan orang bule bahkan sudah memiliki anak perempuan juga seperti Candra.


"Sya,"


"Diem Luna, duduk, kita tunggu kabar Bang Cakra! Jangan nangis, berdo'a yang terbaik aja buat Mama, ya?" hibur Lesya menarik Luna agar duduk di dekatnya. Sang empunya nana hanya dapat menurut tanpa membantah sedikitpun.


Sudut bibir Elvan tertarik ke atas. Bukan bahagia di atas penderitaan orang lain, melainkan bahagia melihat sisi dewasa yang dimiliki istrinya. Sementara Valen terus berbolak-balik di depan ruangan di mana ibu mertuanya di rawat. Dengan inisiatif, Elvan pergi untuk membelikan minum agar mereka semua tenang.


Puluhan menit sudah berlalu dan Elvan kembali dengan empat minuman berbeda di tangannya. Satu air mineral dingin, dia belikan untuk Valen, sahabatnya. Satu ada air mineral biasa, dia belikan untuk Luna, agar tak stress. Satu lagi minuman dingin bermerk 'Teh Pucuk' dia belikan untuk Lesya, istrinya.


"Kok lama?" tanya Lesya curiga.


"Tadi bantuin orang, Vay titip salam buat lo Lun," ucap Elvan lalu duduk di samping sang istri. Kini Lesya sendiri sudah diapit oleh sahabatnya dan juga suaminya. Maklum, nasib orang cantik ya gini!


"Kok jadi Vay?" sahut Valen bingung.


"Vay bilang kalau Mama nya kecelakaan waktu mau ke sini, akhirnya di bawa ke rumah sakit ini, sekarang ada di UGD, tadi gw temanin dia soalnya kasihan gak ada yang nemenin." cerita Elvan secara singkat, tetapi masih tetap terperinci.


"Kok bisa? Kak Feli kecelakaan?"


Luna yang mendengar hal tersebut tampak syok. Padahal dia menunggu kedatangan Felicia yang katanya ingin mendonorkan jantungnya sebagai permintaan maaf karena mengingkari janji padanya. Luna sempat menolak dengan keras, tetapi melihat kondisi Mama nya membuatnya mengiyakan.


"Valen, lo di sini temenin Luna! Gw sama Papan nyusul Vay di UGD, nanti kalau ada kabar kasih tau ke kita, oke?" ucap Lesya menarik suaminya agar pergi ke tempat di mana Vay menunggu Felicia sadar.


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


"Vay!" panggil Lesya.


Bocah lelaki yang berusia 6 tahun 8 bulan itu mendongkak dan menatap orang yang menepuk pundaknya. Lesya segera memeluk Vay yang sama sekali tak memancarkan kesedihan.


"Vay, bisa ceritain gimana kronologinya? Kok Mama bisa kecelakaan? Kamu juga sama siapa ke sini?" tanya Lesya beruntun membuat Elvan menyuruh agar tetap diam supaya tak mengganggu Vayleen yang masih tetap diam.


"Maaf Vay," cicit Lesya.


"Tadi Vay sama Mama lagi jalan di perempatan terus waktu Vay mau beli ice cream di indoapril, Mama milih nunggu karena mau beli buah-buahan di depan indoapril." cerita Vay akhirnya setelah sekian menit dia terdiam.


"V-vay... "


"Vay, kalau gak kuat jangan cerita ya?"


"Mama mau nyusul Vay ke indoapril karena Vay udah kelar beli ice creamnya, tapi Mama oleng terus buah-buahan nya jatuh. Mama mau pungutin, gak ada yang bantu, terus ada mobil lewat tabrak Mama dan M-mama kepental."


Tangis Vay mulai tak dapat dibendungi lagi. Awalnya dia ingin membantu Mama nya, tetapi Felicia yang menyuruhnya agar tetap di tempat. Entah dari mana datangnya truk tersebut, tiba-tiba saja menghantam Felicia hingga terpental cukup jauh. Cukup mengejutkan baginya.


"Vay, sabar ya? Kita denger dulu apa kata dokter oke? Kakak tau ini berat, tapi Vay harus tau kalau Vay harus berdo'a supaya Mama bisa selamat dari kecelakaan, ya?" hibur Lesya mengusap anak rambut Vay dengan lembut.


Lesya meneteskan setitik air matanya. Dia sangat tahu dan paham bagaimana di sisi Vayleen. Bocah kecil itu sangat kuat menghadapi masalah yang ada.


Tak hanya itu, sikap dewasa juga tertutup dari bocah kecil seperti Vay membuat Lesya merasa tertampar. Jika dia menjadi Vay, dia selalu menyalahkan orang lain dan bahkan akan mengamuk sebisa dan sekuat yang dia mau.


"Vay, dengerin Abang, laki-laki emang boleh nangis, tapi yang ini gak papa nangis aja. Ingat ya, jangan terlalu cengeng sampai lupa gimana harus liat dan denger kondisi Mama kamu, ya?" nasihat Elvan ikut mengusap punggung Vay yang sudah tak sehiteris tadi.

__ADS_1


Ceklek!


"Keluarga pasien?"


"Saya, gimana keadaan Kakak saya Dok?"


Lesya yang mendengar suara pintu segera berbalik dan melepaskan pelukannya. Tak lupa mengusap sudut matanya yang sedikit basah. Dua musibah datang sekaligus saat ini.


"Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Yang Kuasa lebih sayang padanya sekarang." ucap dokter tersebut memberitahu dengan raut wajah yang berat juga ikut turut berdukacita.


Lesya terdiam membeku saat lontaran kata maaf terdengar berkali-kali. Dia segera melihat dari luar pintu, ada tubuh dengan banyaknya alat rumah sakit yang terpasang. Matanya terpejam dan menitikkan kembali cairan bening melihat wajah berdarah-darah dan banyaknya luka di tubuhnya.


"Vay,"


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Rumah mewah sudah ditempati banyaknya orang. Semua berpakaian hitam dan terdapat pajangan bunga duka yang ada di depan rumah. Suara tangis sama sekali tak terdengar, hanya ucapan belasungkawa saja yang terdengar.


"Luna,"


"Sya, salah gak kalau gw marah? Salah gak kalau gw nyalahin diri gw sendiri karena gak becus jaga Mama? Salah gak sih kalau gw masih butuh Mama, masih butuh pelukan, nasihat, ajaran, tawa, chiuman, dukungan, candaan dari Mama? Salah gak sebenarnya?"


Lesya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tepatnya di taman belakang rumah Luna, Lisa dan Lesya berkumpul menenangkan Luna yang mengamuk secara tiba-tiba. Luna juga menyalahkan dunia yang secara dadakan mengambil orang tua tunggal yang bekerja keras untuknya. Untuk senyum bahagianya.


Rumah yang Luna beli untuk Mamanya, kini sudah diisi oleh banyaknya orang yang berbelasungkawa atas kepergian sosok Henny kemarin malam, juga dengan kepergian Felicia.


Sosok Henny dan Felicia, keduanya sama-sama dinyatakan tiada di jam berbeda dengan tempat yang sama.


Fyi gays, Felicia lebih dahulu tiada karena sangat terlambat dibawa ke rumah sakit setelah kecelakaan itu. Sementara Henny tiada karena penyakit bawaannya yang kambuh karena aktivitas yang terlalu dia paksakan selama dia hidup di dunia.


"Nope! Lo gak salah, gw dulu juga gitu. Gw salahin diri gw sendiri, gw salahin orang lain, gw salahin dunia, kenapa mereka ambil secepat itu? Tapi semakin lo renungin semua, semakin lo ngerti, banyak orang yang jauh lebih dari pada lo kayak Vay." ucap Lesya menatap indahnya pepohonan yang ditanam mendiang Henny saat pertama kali melihat kekosongan di taman rumah.


"Luna, kadang lo akan ngerasa lo paling di bawah, nyatanya lo salah. Di atas langit ada langit, dan di bawah tanah, ada tanah. Di balik hujan ada cahaya yang bersembunyi." lanjut Lesya.


"Pelangi dodol!" koreksi Lisa.


"Bukan, pelangi bukan ada di setiap hujan. Pelangi hanya datang lalu pergi begitu aja. Tapi matahari, dia tenggelam, dia tertutup awan hitam, dia tersambar petir, dia tetap balik. Semua gak ada yang tau gimana besok, nanti, lusa, bahkan seribu tahun ke depan. Lo punya Valen,"


"Iya, gw punya Valen! Tapi gw udah gak punya Papa, gw gak punya Mama, gw gak punya Leon yang selalu ngeledekin gw waktu gw susah begini!"


Luna menghentakkan kakinya dan berteriak membuat Cakra yang hendak datang mempercepat lajunya. Mata Cakra membola melihat penampilan adik angkatnya yang uring-uringan. Rambut Luna juga diacak-acak dengan gaya mencak-mencak dari pemiliknya.


"Dek, sabar ya,"


"Lo enak bilang sabar, Bang! Yang rasain gw, Mama gak ada sekarang, gw punya siapa lagi selain Valen, hiks," lirih Luna.


"Lo punya gw, lo punya Lisa, lo punya Bang Cakra, lo punya Bang Alam, bahkan lo sendiri yang bilang ada yang selalu menemani waktu lo susah, tapi sayangnya lo masih enggak sadar karena lo dikendaliin sama emosi lo."


Luna terdiam menetralkan deru nafasnya. Ucapan yang selalu dia ucapkan tanpa dosa kepada Lesya saat sahabatnya susah, kini menjadi boomerang baginya. Beberapa orang menyaksikan dari pintu belakang taman rumah, termasuk Valen yang tak tega dengan kondisi sang istri yang hancur.


"ECHA HUWAAA... "


Lesya membalas pelukan Luna yang sangat dadakan dan mengusap lembut punggung sahabatnya. Sudah dipastikan telinganya berdengung cukup besar karena teriakan Luna yang terdengar putus asa sekaligus frustasi.


"Gw gak tau gimana rasanya kehilangan orang tua, tapi gw tau gimana rasa kehilangan orang yang kita sayang, gw gak maksa lo gak sedih, Lun. Sedih itu wajar, nangis aja nyampe ingus lo di dalam bersih, tapi jangan lupa ikhlas sama apa yang udah terjadi. Jangan lupa juga, ada orang yang selalu nemanin lo di waktu lo sedih, sepi, lo tinggal bilang, kita ada kok, Lun!" ucap Lisa menyahut dan beralih memeluk kedua sahabatnya.


"JIJIK SAYA DIPELUK!"


"PERUSAK SUASANA BANGET LO!"


Luna kembali menangis di saat Lesya dan Lisa berteriak saling tak terima. Namun, bibir pucat Luna yang menghasilkan suara tangis terhenti karena tiba-tiba sang empu pingsan. Valen yang melihat, segra membawa Luna ke dalam kamar mereka.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Dapat ga feeling nya? Enggak ya? Yaudah coba resapin, renungin, ikhlas itu salah satu kata kunci kasihᦗ


__ADS_2