
Dengan cepat Lesya berusaha mengalihkan pandangannya agar tak diketahui oleh Elvan siapa dirinya. "Kecuali lo(Cakra)! " lanjut Elvan dingin.
"Siapa Van? " Farel mengingat bersamaan dengan Frans. "Iya lo(Alam) itu suaminya kak Elen kan? Yang waktu itu! " Alam mengalihkan pandangannya mendengar jawaban Farel.
Frans menunjuk arah Leon dan Luna. "Dan lo Leon kalo lo itu... Luna! Benar bukan? " Mereka berdua terkisap mendengar tebak-kan Frans yang tepat sasaran.
Lisa hampir tertawa mendengar tebak-kan Farel dan Frans yang sangatlah tetap sasaran. Dan kini giliran Valen yang menebak siapa Lesya sebenarnya. "Dan lo... adalah... "
Lesya menutup matanya erat-erat. Dalam hatinya, dia berdoa agar tebak-kan Valen salah sasaran. Elvan yang melihat menatap datar Lesya yang berada di depannya.
Elvan mengangkat alisnya satu ke atas membuat Lesya semakin panik sendiri. "Zelyra Aleesya Michella Fyo" Lesya melangkah satu langkah mundur dengan mata memejam.
Perlahan Lesya membuka mata dan menyaksikan perdebatan antara Valen dan sahabatnya Luna. "Iya kenapa? Protes lo hah?! " sewot nya.
"Adooh sakit ilah! Iya mangap alun-alun! Adoohh sakit woy! " ringis Valen saat dirinya dipukuli oleh Luna yang sudah membuka masker hitamnya.
Cakra menarik Luna ke belakang agar tak menimbulkan masalah di sini. "Adooh! " Bukannya berhenti, Luna malah tak sengaja memukul pundak Cakra keras.
Luna mendelik, "Maap bang gak sengaja! Ya siapa suruh abang narik-narik? Kena kan?! " Alam menepuk jidatnya merasakan akan ada perdebatan kecil antara Luna dan Cakra.
"Udah-udah ngalah Cak! Gak bakal menang kalo Lesya angkat suara nanti" Cakra menghela nafas kesal mendengarnya.
Ken menutup mulutnya, "Jadi bener kalian itu... Wah.. Heboh gak sekolah kalo tau? "
__ADS_1
Plakk!
"Lo kasih tau gw cincang usus lo! " Ken meringis mendengar suara Lesya yang terdengar galak walaupun sedikit datar. "Iya-iya gak gw kasih tau! Aduuhh, sakit"
"Udah-udah kita ke sini cuman mau minta penjelasan kenapa kalian neror markas kami?! " tanya Alam dingin. Dia bahkan mengeluarkan satu box yang berisi satu tikus kecil dengan banyaknya kertas yang ada.
Memang sengaja Lesya menyuruh Alam untuk membawa bukti tersebut. Hanya satu tikus karena tikus yang lainnya sudah dibakar. Mengapa dibakar? Di dalam tubuh bangkai tikus tersebut terdapat penyadap kecil.
Sementara banyaknya kertas dibawa sebagai bukti kedua atas kasus peneroran markas mereka. Elvan juga mengeluarkan satu box yang berisi banyaknya kertas dan satu boneka darah yang sudah ditusuk pisau.
"Waakk! Kaget gw! " Lisa mencibir dengan kelakuan Luna yang terkejut. "Gitu doang takut! " Luna melotot, "Heh gw kaget ya! Lagian ngapain sih ditunjukin dadakan?! "
Berbeda dengan Lesya yang malah asik mencabut pisau dan mencari apakah ada kamera penyadap kecil di dalam boneka tersebut. "Nyari penyadap? Yang ada penyadap nya udah dibakar! "
Lesya membulatkan mulutnya di balik maskernya. Dia mulai memeriksa pisau bahkan membolak balikkan nya. "Bukannya itu dari LC ya? " tanya Revan bingung.
"Razia kan? Udah gak usah basa-basi udah basi! " pedes Lesya. Sontak mereka tertawa mendengar nama panggilan Revan yang unik. Kecuali Elvan tentunya yang tak pernah tertawa.
Valen menepuk pundak Revan yang sudah masam wajahnya. "Sabar Rev, ujian! Bwahaha.. Ngekek"
Revan medengus, "Revan bukan razia neng geulis! " Lesya memutar bola matanya malas. "Bod*amat! "
Alam geleng-geleng kepala saja. Dia melihat jam tangan nya yang sudah menandakan pukul sebelas malam. Dia tak ingin membuat Elena khawatir menunggunya di sana. "Buru udah jam 11 nih! "
__ADS_1
Elvan menggedik-kan bahunya. "Ada dalang dibalik semua ini! " Lesya menatap serius Elvan. "Jadi bukan TW yang teror? " Elvan menggeleng.
Lesya berpikir sejenak. "Apa kita bikin surat perang palsu? " Luna sontak menatap Lesya aneh, "Gimana? "
Lesya menyunggingkan senyum liciknya. "Pelakunya pasti pengen TW dan LC perang bukan? Jadi bikin surat palsu yang menyebarkan jika kita perang supaya dalang senang bukan? "
"Dan jika pelaku senang dengan kabar perang antara TW dan LC, kemungkinan mereka akan muncul dari cangkang mereka? " lanjut Luna. Lesya menarik senyum miring nya. "Iyap! "
Luna tersenyum licik mendengar rencana Lesya. "Dan jika memang LC dan TW adalah musuh besar, pelakunya pasti musuh diantara keduanya bukan? "
Lesya terdiam. Ucapan Frans saat ini mengangguk pikirannya. Musuhnya? Dia memiliki banyak musuh di sekitarnya. Mulai dari Gilang, Vion, Amanda, Dila, dan masih banyak lagi.
"Lo punya musuh kan Sya? Apa kemungkinan dari musuh lo? " tanya Ken serius. Lesya menggedik-kan bahunya acuh. "Kalo kagak gw gak bakal masuk BK kali! "
Lesya segera pergi dari sana dengan menggunakan kembali masker hitamnya. Luna ikut mengejar diikuti Leon dan Alam.
Sementara Cakra menatap tajam semua orang yang ada di sana. "Jangan pernah ungkit soal ini di hadapan kedua adik gw, Lesya dan Luna! "
Cakra beralih menatap Elvan datar, "Jaga adik gw Lesya! " Setelah itu, Cakra pergi begitu saja dari hadapan mereka. Elvan menatap datar kepergian Cakra yang sudah menjauh.
"Gw salah ngomong kah? " tanya Ken. Valen mengangkat bahunya. "Udah kita susul keburu jauh! Kita kan lagi kerja sama buat nyari pelaku dibalik ini semua"
Elvan menggunakan topeng matanya dan keluar begitu saja. Mereka mengikuti arah jalan Elvan yang menghampiri Lesya yang hendak pergi.
__ADS_1
Lisa berpikir sejenak. Apa mungkin semua terjadi karena ikut campur tangan Amanda yang berniat membuat Lesya menderita? Pikir Lisa.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗