Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
439: Kunjungan Lisa


__ADS_3

Episode 439: Kunjungan Lisa


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Matahari kini sudah bersinar sepenuhnya. Suara alarm yang sedari tadi terus berbunyi dengan nyaring sama sekali tak dianggapi oleh kedua pasutri yang asik dalam alam mimpi mereka. Deringan dan notifikasi dari ponsel juga tak ditanggapi atau dilirik sedikitpun.


"Emh…"


Elvan yang lebih dahulu bangun, segera menahan tangan sang istri yang hendak mengucek mata. Hari sudah siang dan pertama kalinya Elvan terbangun begitu siangnya. Semua karena kejadian semalam yang membuat mereka tertidur hingga jam setengah lima subuh. Kemarin? Ya, Elvan tak menyangka jika dia sudah menjeboli anak orang bahkan hingga menjelang pagi tanpa henti.


Dilihatnya wajah teduh sang istri saat tertidur, tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas. Mengencup seluruh wajah Lesya, sang pelaku tampak terkikik pelan melihat reaksi yang diperlihatkan istrinya. Menggeliat dan mengambil alih selimut, istrinya itu sudah seperti kepompong lucu.


"Thanks you, Babe!"


"Hn."


Elvan menautkan alisnya satu. Ternyata Lesya sudah bangun dengan mata terpejam. Kembali mengencup wajah, sengaja Elvan melakukannya agar sang empu membuka mata. Orang malas tak boleh dibiarkan semakin malas.


"Em… ihh, jigong lo!"


Lesya sontak membuka matanya dan berbalik menutup wajahnya. Memejamkan matanya kembali, Lesya dibuat kesal siang ini karena Elvan tetap mengencup bahkan sampai ke leher jenjangnya. Merasa geli, akhirnya mau tak mau Lesya harus membuka matanya dan menatap Elvan setengah kantuk.


"Apa lagi sih? Capek gw ya ladenin lo semaleman, jadi biarin gw tidur semaleman ok?" ucap Lesya sedikit serak dan juga mencari alasan agar tetap tertidur. Elvan menempelkan ujung jari telunjuknya dengan jari jempolnya pertanda jika dia setuju.


"Yaudah tidur aja, tapi kalau gw udah selesai mandi lo yang mandi ya?" ucap Elvan diangguki pelan oleh Lesya.


Setelah mendengar samar-samar gemercik air yang dipastikan berasal dari kamar mandi, barulah Lesya membuka matanya perlahan dan mengumpulkan nyawanya yang hanya setengah.


"Anjhay, gw gak mimpi ternyata!"


Lesya menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar. Rasanya sangat nyeri pada bagian intinya karena merasa tertusuk-tusuk. Akhirnya Lesya memilih duduk bersandaran pada sandaran ranjang dan merapikan rambutnya. Tak lupa mengambil selimut tebal yang semalam dia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.


Setelah berselang beberapa menit, Lesya merosotkan tubuhnya dan kembali tertidur melihat Elvan yang keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Cukup malu untuk kembali melihat tubuh yang terdapat beberapa kiss mark akibat ulahnya sendiri. Ternyata ajaran dari tempat-tempat haram yang dia kunjungi membuat tubuhnya kemarin terlihat liar.


"Kenapa?" tanya Elvan setelah duduk di tepi ranjang. Lesya segera menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jauh-jauh sana!" usir Lesya.


Alis Elvan bertaut bingung. "Kemarin yang ajak duluan siapa hm?" goda Elvan dengan nada rendahnya hingga Lesya menahan nafas dibuatnya dari dalam selimut. Iya dari dalam selimut, Lesya bersembunyi di selimut karena malu.


"Shut, jangan inget lagi, malu ih!"


"Malu? Kemarin malu-maluin tuh."


Lesya sontak memundurkan kepalanya di kala melihat Elvan yang berhasil membuka selimut sebatas bahu. Wajah mereka saat ini sudah dekat beberapa centimeter saja. Deru nafas dan aroma khas masing-masing membuat keduanya saling candu satu sama lain.


"Pan, minggir ya? Berat tau badan lo,"


Elvan menggeleng dan meniup wajah Lesya hingga sang empu harus menahan nafas dibuatnya. Sengaja memang Elvan lakukan karena anggap saja pelajaran karena kemarin berani menuruti ajaran sesat dari Lisa, sepupunya. Lagipula, memang ada ya ketua yang menuruti anggota gangster lain? Aneh!


Lesya tak kehilangan akalnya dan memilih memanggil Elvan dengan panggilan lain sama seperti saat kemarin dia memanggil. Dengan bibir yang menipis, Lesya berusaha agar mulutnya tak asal menyeplos melihat senyum terbit dengan sangat indahnya dari lawan bicara yang mengukungnya.


"Sayang, minggir ya? Aku mau mandi."


Elvan hampir saja tertawa mendengar suara imut yang dibuat-buat oleh Lesya. Dipadukan dengan wajah memelas, akhirnya Elvan memilih menyingkir. Segera Elvan menggendong Lesya ala bridal style ke arah kamar mandi karena tahu jika wanitanya itu sedang menahan malu juga menahan rasa perih.


"Lepass ihh maluuu!"


"Shut, aku udah liat semuanya, Sayang. Jadi gak usah banyak alasan, sekarang mandi atau aku mandiin?" ancam Elvan setelah meletakkan tubuh istrinya ke dalam bathub yang berisi air. Ya, Elvan sebelum keluar sudah menyiapkan lebih dahulu agar nanti istri tak perlu repot-repot lagi nanti. Idaman 'kan?

__ADS_1


"Mandi sendiri, yang ada makin panjang urusannya kalau dimandiin. Bilang aja mau modus." ucap Lesya diakhiri lirihan.


Elvan hanya mengangguk saja. Bohong dia tak mendengar lirihan Lesya. Akhirnya Elvan membiarkan saja karena dia tahu jika Lesya pasti kelelahan karena ulahnya semalam. Toh, dia juga hendak menyiapkan makan siang.


Elvan berjalan ke bawah kamar setelah menggunakan pakaian lengkapnya, Elvan sama sekali tak peduli ada atau tidak adanya ****** di lehernya. Justru dia bangga memperlihatkan, jika ada orang di rumah selain mereka berdua. Toh dia dan Lesya juga sudah halal secara hukum juga agama. Aman-aman saja.


Pemuda yang baru turun dari tangga menautkan alisnya saat melihat Lisa yang melambaikan tangan ke arahnya di sofa ruang tamu. Senyum sepupunya kelihatan menggoda sekaligus meledeknya sekali. Tak lupa dengan sirup markisa dengan es batu di dalamnya yang sudah tersedia satu teko tepat di atas meja sofa rumahnya.


What the hell?!


"Halo sepupu tampanku… Gimana percetakannya? Lancar? Bilang apa dulu sama KAKAK SEPUPU lo ini hm?" goda Lisa sekaligus menyematkan kata 'kakak sepupu' di kalimatnya. Ayolah, walau berbeda beberapa bulan dengan Elvan, ingin sekali Lisa dipanggil 'kakak' sesekali oleh sepupu lelakinya.


"Tau dari mana alamat gw?"


Senyum Lisa luntur sekejap. Dia mengambil sirup es markisa yang dia buat secara diam-diam di dapur rumah sepupunya. Bukan mendapat ucapan atau pujian, justru hal yang pertama dilontarkan sepupunya adalah pertanyaan unfaedah. Mengesalkan sekali bukan? Iya, Lisa sabar kok ngadepin sepupu kutubnya :)


"Dari Om kesayangan." jawab Lisa cuek.


"Udah makan?"


"Belom. Gara-gara gw penasaran sama pujian apa yang lo bilang ke gw, rela banget gw bangun pagi terus ke sini, nunggu kalian turun tuh lama banget tau gak!" kesal Lisa mencebik dengan acuh tanpa melirik Elvan yang masih tetap berada di tangga rumah.


"Iya, makasih Kakak, puas?"


Lisa mengembangkan senyumnya dan tertawa saat melihat raut wajah malas Elvan. Lisa juga sangat paham bagaimana sikap pewaris Grey itu kepada semua saudara perempuan. Mengalah dari pada panjang urusan, terlihat seperti abang pada adiknya, bukan kakak pada adiknya.


"LOPE SEJENGKOL SEPUPU!"


Elvan hanya berdehem dan berjalan ke arah dapur. Tak lama dari kepergian Elvan, Lesya muncul dan duduk dengan kasar di samping Lisa. Sama sekali tak ada raut sakit ataupun nyeri pada bagian intim, hal itu membuat Lisa bingung.


"Gimana semalam?"


"Enak gak?"


"Enak, tapi sakit."


"Kok lo malah jadi cuek gini sih? Aneh banget pasangan satu ini ya Tuhan, yang satu kutub, yang satu lagi cuek, bilang makasih dong sama gw." cebik Lisa.


"Makasih."


"Singkat amat, PMS lo ya?"


"Gila, kalau gw PMS kemarin ngapain gw cetak ponakan lo? Aneh aja lo omongannya." jengah Lesya mengambil bantal sofa dan bersandaran.


Lisa menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Iya juga ya, otak Lisa agak lemot akhir ini karena kurang kasih sayang mantan- eh pacar.


"Lo marah gara-gara gw ngasih ramuan waktu itu? Yaelah, harusnya lo yang tenang dong, 'kan jadi makin enak."


Bugh!


Lesya melempar bantal sofa yang dia genggam ke arah Lisa hingga sang empu tak dapat menghindar. "Pikir sendiri sana! Bilang lope sejengkol sama suami orang, sadar woy dia sepupu lo!" galak Lesya akhirnya berucap panjang.


Lisa mengusap jidatnya yang menjadi sasaran bantal sofa yang Lesya lempar. Sedetik dia diam dan akhirnya tertawa terbahak karena ucapan Lesya.


"Lo cemburu? Aelah Sya, maksud gw tuh sayang kayak adek kakak woy… Jarang-jarang ini gw dipanggil 'kakak' sama si kutub, lumayan lah." kekeh Lisa.


"Lo tuh boleh posesif, tapi jangan terlalu posesif plus gampang salah paham! Ya kali gw suka sama sepupu gw sendiri, kutub pula." lanjut Lisa menggerutu.


"Ya kirain."

__ADS_1


"Nyenye… salpah lo ga guna."


Lisa yang tak sengaja melihat bekas memerah di tulang selangka dan beberapa bagian leher Lesya tak kuasa menahan senyum penuh godaannya.


Lesya yang melihat, sudah tahu persis apa arti senyuman itu. Segera dia mengambil bantal dan menutupkan telinganya agar selamat dari teriakan maut Lisa yang cukup memekakkan.


"CIEEE YANG UDAH JEBOL!"


"PEJE-PEJE! Yes, ponakan ucul dari bontot fix, coming soon baby…"


Bugh!


Kedua kalinya Lesya melemparkan bantal sofa ke arah Lisa hingga sang empu terhenti dalam aksi hebohnya saat meminta pajak. Tak urung, Lesya tetap malu mendengar kata 'jebol' di telinganya. Maklum, masih pertama kalinya, jadi Lesya belum terbiasa.


"Berisik!"


"Ciee… Kiw-kiw, cewek!"


"Stooppp!! Ganti topic, gimana lo sama Revan kemarin? Lancar gak?" ucap Lesya mengalihkan pembicaraan. Wanita itu kini ingin tahu sejauh mana sahabatnya dapat move on, sejauh mana dapat berpikir dewasa dan sejauh mana dapat paham akan perasaannya sendiri.


"Gimana ya? Em… kemarin waktu gw ditarik dan dibawa ke tempat yang sepi, Revan nembak gw, ter---


"KOK LO MASIH HIDUP?"


Lisa melempar bantal sofa ke arah Lesya yang tiba-tiba menyela ucapannya dengan pertanyaan konyol. Sayangnya, wanita itu lebih dahulu berhasil menangkap bantal sofa dan menjadikannya bantalan di atas pahanya. Bagi Lesya, lemparan Lisa sangat bermanfaat untuknya.


"Maksudnya ditembak pakai cinta bod*h! Ckck… ciri-ciri orang langsung nikah tanpa pacaran ya gini, kudet huu!" ledek Lisa dibalas putaran bola mata malas dari lawan bicaranya. Padahal Lesya hanya mencari suasana agar tak tegang.


"Tapi pacaran setelah nikah itu halal bro,"


"Iya deh sama yang baru jebol. Diem ya, diem gw lanjut nih!" Lesya hanya mengangguk menanggapi ucapan Lisa. "Jadi waktu dia nembak, gw ragu, gw takut dia ninggalin gw kayak Leon, Waktu gw bilang begitu sama dia, Revan paham akhirnya dia ngajak gw bukan pacaran, tapi langsung nikah." ucap Lisa lagi.


"Lo setuju?"


"Waktu pulang dari acara nikahan, tiba-tiba Revan bawa ke rumah terus minta izin atas dasar lamaran. Orang tua gw juga gak terlalu maksa, Papa juga udah gak ngelarang gw iya atau enggak, asal gw bahagia aja. Akhirnya gw setuju dan ya… kemarin kami resmi tunangan deh." final Lisa diakhiri dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Tapi gw ngerasa ngekhianatin Leon, cuman kemarin malam pas tidur dia datang ke mimpi gw, dia dukung gw, dia bolehin gw, dia lepasin gw, rasanya seneng banget tau liat Leon lagi walau dari mimpi, terus denger kata dia setuju."


"Baguslah, setidaknya Leon gak buat anak orang ngerasa digantung, nah terus rencana nikahnya kalian kapan?" tanya Lesya yang ikut turut bahagia. Lisa menggeleng tak tahu karena hal tersebut masih belum dibicarakan oleh keluarga.


"Lo gak masak 'kan, Sya? Kok wangi sih?"


"Gw aja ini baru bangun, baru mandi malah, mana tau ada yang masak."


"Jangan bilang kalau yang masak Pak kutub? Omaigosh, jahat bener ya lo Sya, harusnya cewek yang masak bukan cowok! Wah-wah parah, masalah begini harus dikasih tau sama Tante May."


"Berani lo? Lagian gimana gw mau masak kalau gw aja masih pegel? Lupa gara-gara ramuan kemaren dia gak sesuai bayangan gw, gila aja sakitnya masih kerasa sekarang ya."


"Yaudah iya deh, ampun suhu! Mau gw bantu gak siapa tau butuh?"


"Let’s go ke dapurr…"


Kedua perempuan itu berjalan dengan pelan ke arah dapur rumah. Lisa juga tak lupa memapah Lesya. Padahal bagi Lesya, hanya nyeri saja walau sedikit perih dan sakit. Lisa lebai? Lesya tak peduli, mumpung energinya masih belum terkumpul gak masalah sekali-kali hoho…


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Maaf banget baru update🙏🏻

__ADS_1


Wifi di rumah aku mati karena hujan lebat waktu itu dan aku sama sekali gak bisa isi kuota karena nomorku mati. Pengen ganti nomor tapi tanggung, jadi sabar aja deh. Kalau cuaca buruk, aku gak bisa update ok?


__ADS_2