
Perasaannya berasa diaduk-aduk. Khawatir, bingung, takut dan cemas bercampur menjadi satu. Untung saat ini Lesya tak memberi tahu Letha akan hal ini. Jadi Letha tak akan tahu jika dia sedang diincar oleh papanya.
Mila sudah dipindahkan ke ruang khusus VVVIP, hanya bisa ditempati oleh keluarga pemilik rumah sakit tersebut. Lesya sendiri bingung mengapa maminya bisa dirawat di sana? Sedangkan dia? Sama sekali bukan keluarga pemilik rumah sakit tersebut.
Lesya sudah meminta izin dengan dokter untuk melihat kondisi sang mami. Dokter pun mengizinkannya karena Mila sudah sadar. Hanya saja kondisi kesehatannya memburuk.
ceklek...
Lesya menghampiri Mila yang terbaring di atas brankar. Mila tersenyum melihat kedatangan Lesya. Memang selama ini, hanya Lesya yang mengerti akan dirinya. Letha? Dia bahkan tak tahu, sedang apa dan dimana maminya. Berbeda dengan Lesya, rasa pedulinya dan rasa simpatinya terlalu tinggi.
"Mi, masih sakit? Yang mana yang sakit? " Lesya memegang punggung tangan Mila dan merasakan dingin yang dirasakan Mila.
"Mami gak sakit kok, mami cuman kecapean" lirih Mila.
"Gak sakit gimana, tangan mami aja dingin kayak kutub masih bilang gak sakit" Lesya sedikit kesal karena Mila tak menjawab jujur pertanyaannya.
Mila tersenyum. Dia bangga dengan Lesya yang sudah dididik sejak umur 3 tahun menjadi wanita yang mandiri. Dia teringat akan perjanjian dirinya dengan alm. suami pertamanya dulu.
Mila melamun. Lesya yang tahu bahwa sang mami memikirkan sesuatu. Tak mau menambah pikiran yang berdampak buruk pada kesehatan Mila, Lesya menepuk pundak Mila pelan.
Mila tersadar, "Eh, kenapa ra? " Lesya menghembuskan nafasnya pelan.
"Mami mikirin apa sih? Perjanjian? Atau papi? " tanya Lesya.
"Dua-duanya ra, kata papi kamu, klo kamu udah umur 17 lebih 5 bulan, kamu harus menuhin janji itu" jelas Mila.
"Kenapa gak waktu tunggu aku umur 25 tahun aja mi? Emang gak kecepatan apa? " tanya Lesya.
"Gak kok, kamu pergi ke alamat itu dan minta tolong jenguk mami ke sini ya" Mila menyodorkan sebuah kertas alamat kepada Lesya.
Lesya menerima surat tersebut dan jika memang itu takdirnya, mau tak mau dia harus menepati janji sang papi. Lesya menyimpan alamat ke saku celananya yang sudah diganti entah itu kapan.
Baju yang dikenakan Lesya saat ini adalah kaos putih dengan hoodie hijau lumut. Jangan lupakan celana hitam yang sedikit sobek di lututnya dan sepatu sneaker putih. Rambutnya yang dibiarkan tergerai lurus menambah kesan sempurna untuk penampilan Lesya saat ini.
"Okeh mi, nanti bi Ana ke sini buat nemenin mami" Mila menganggukkan kepalanya mengerti.
Orang yang ditunggu-tunggu Lesya pun tiba. Bi Ana dan mang mamat selaku suaminya baru saja datang. Setelah diizinkan masuk, mereka masuk dengan membawa barang-barang keperluan Mila.
"Jagain mami ya bi, mang. Lyra pamit pergi sebentar" pamit Lyra sopan dan diangguki mereka berdua.
Bagaimanapun juga, bi Ana dan mang mamat adalah orang yang paling lama bekerja di rumahnya. Sejak keturunan mami dan papinya menikah, itu sebabnya Lesya menghormati mereka.
"Mau mamang antar non? " Lesya menggelengkan kepalanya pelan pertanda dia menolak tawaran mang mamat.
Dia terbiasa sendiri dan mandiri. Jika berpergian Lesya pasti akan membawa kendaraannya sendiri. Berbeda dengan Letha yang hanya bisa mengendarai mobil saja.
"Gak usah mang, mamang temenin bi Ana sama mami aja" tolak Lesya halus.
Bi Ana dan mang mamat sebenarnya kagum akan perilaku Lesya. Mandiri, dewasa, sopan santun ditambah selalu menghabiskan waktu kecilnya demi keluarganya. Padahal dia merupakan anak orang kaya no 02 di dunia.
__ADS_1
Bi Ana dan mang mamat sendiri merasa iba kepada Lesya. Namun apa daya mereka? Mereka hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa supaya Lesya diberikan kebahagiaan yang sempurna kelak.
"Klo gitu Lesya pamit ya mi, bi, mang" Lesya tersenyum sopan dan diangguki oleh mereka semua.
"Hati-hati Ra, Non! " Lesya mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
...~o0o~...
Lesya sudah tiba di alamat yang diberikan Mila melalui kertas surat. Dia heran, ada hubungan apa keluarganya dengan mereka? Itu alamat pengusaha kaya raya no 01 di dunia! Namun Lesya tak menyadari itu, dia hanya heran mengapa rumahnya bagus sekali?
"Bener gak sih? Bingung gw. Tauk ah, masuk aja sekalian numpang gak papa kan ya? " gumam Lesya lalu melangkahkan kakinya berniat membunyikan bell pintu.
ting...nong...
Para penghuni rumah melihat menatap pintu. Tumben sekali malam-malam mereka kedatangan tamu. Apalagi mereka berniat makan bersama keluarga.
"Kamu kedatangan tamu? " tanya sang bunda menepuk pundak sang suami pelan.
"Enggak kok bun, siapa ya? " jawab sang ayah menanggapi pertanyaan sang istri.
"Siapa yah? " tanya seorang pemuda tampan yang baru saja duduk di kursi makannya.
"Gak tau nak, tumben sekali. BI TOLONG BUKA PINTUNYA"
"Baik tuan"
ceklek...
"Silahkan masuk non, majikan saya sedang makan bersama keluarganya" sopan bi Lilis, asisten rumah tangga di sana.
"Makasih bu" Lesya melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.
Dia berdecak kagum akan desain interior di setiap sudut rumah. Setelah sadar dari lamunannya, Lesya menatap ke arah bi Lilis yang sedari tadi memanggilnya.
"Non, kalo boleh tahu nona ini siapa ya? " tanya bi Lilis sopan.
"Saya Lesya bi, saya di suruh mami ke sini untuk bertemu pemilik rumah ini" jawab Lesya sopan.
"Baik non, mari saya antar" Lesya mengangguk dan mengikuti bi Lilis ke ruang makan.
"Sore tuan, nyonya, den. Ini tamunya" Lesya tersenyum ramah tak menyadari musuh bebuyutan di sekolahnya menatapnya tajam.
"Eh lele, ngapain lo disini? " Lesya menoleh ke sumber suara dan membulatkan matanya kaget.
"Harusnya gw yang nanya lo ngapain di sini? Buntutin gw ya? Ngaku lo" balas Lesya tak kalah kesal.
Semua yang ada di ruang makan terkejut. Pasalnya tuan muda mereka tak pernah diperlakukan seperti itu.
"Eh, ini rumah gw lah! Suka-suka gw mau ngapain" sengit Elvan.
__ADS_1
Itu Elvan! Ketua OSIS sekolah GG yang selalu berhasil menangkap semua siswa/i yang bertindak nakal di sekolah. Termasuk Lesya!
"Ini rumah lo? Alah, halu lo anjiir. Udah deh gak usah hukum gw sekarang, ini bukan sekolahan" semua orang tambah cengo atas ucapan Lesya yang mengandung kata-kata kasar.
"Siapa yang mau hukum lo Lele, ini rumah gw klo gak percaya tanya aja sama semua orang yang ada di sini" Lesya langsung menepuk pundak orang yang ada di sebelahnya.
Lesya terkejut yang ditepuk nya merupakan pengusaha kaya raya 7 turunan. Mana lebih tua darinya pula.
"Eh maaf om, tapi mau nanya nih emang bener ini cucu firaun tinggal di sini? " Lesya spontan terkejut dengan jawaban yang dijawab oleh orang yang di tanyanya.
"Dia anak saya dan dia memang tinggal di sini nak"
"Noh apa gw bilang, lo ngapain juga manggil gw pake acara cucu firaun" Elvan mengambil garpu dan mengarahkan ke arah Lesya.
"Emang lo cucu firaun sok berkuasa di sekolah, ini ngapain lo ngangkat garpu mau nusuk gw hah iya?! "
Elvan tersenyum smirk. Rupanya Lesya paham akan sekitar. Namun dirinya terpanjat kaget saat Lesya mengangkat senjatanya. Tajam seperti silet, para ibu-ibu sering memotong sayuran dengan itu. Pisau!
"Nah ada piso mamp*s lo, lo kira gw takut sama lo? Ya kali manusia takut sama orang! Kagak lucu anjiir"
"Shutt, udah-udah kenapa kalian jadi ribut? Dan kamu El turunkan garpumu" nyali Elvano mendadak menciut mendengar suara tegas sang Ayah.
Keduanya meletakkan senjata mereka ke tempat semula. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain.
"Oh iya, kamu siapa ya kok saya baru liat? Dan kamu kenal anak saya Elvano? " tanya Arlangga, ayah dari Elvan.
"Saya Lesya om dan saya kenal anak om di sekolah" jawab Lesya sopan.
"Sok sopan, bilang aja mau cari muka" Lesya menatap tajam Elvan yang menatapnya tajam.
"Mohon anda jangan sok tau tuan OSIS" Lesya menekankan semua kata-kata nya.
"Maaf sebelumnya, di sekolah? emang kenapa kamu di sekolah? " Lesya terdiam sejenak membiarkan Elvan menyerocos tak jelas menjelaskan dirinya.
"Gini yah, aku kan ketua OSIS di sekolah. Ini anak selalu daftar ke buku hitam di sekolah. Bolos, jailin guru, gak ngerjain PR, jarang masuk, terlambat, nyari masalah mulu di sekolah. Contohnya aja tadi dia bolos karena gak ngerjain tugas. Alasannya aja banyak tapi niatnya bolos" cerocos Elvan.
prok... prok... prok...
Sang kakak, Elena malah bertepuk tangan atas penjelasan Elvan. Semua orang menatapnya cengo.
"Keren, gw aja kagak berani kayak gitu" kagum Elena.
"Dih, sinting"
"Sudah, jadi tujuan kamu ke sini apa nak Lesya? " Lesya langsung mengingat tujuan dia ke sini.
Dia duduk di kursi yang kosong setelah dipersilahkan untuk duduk di sana. Bi Lilis hanya melihat mereka dari jauh saja sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Itu, kalian kenal mami? " tanya Lesya terlebih dahulu. Dia takut salah orang.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗