
Sepulang sekolah yang panjang, Lesya menepuk pundak Leon yang ada di depannya. "Psst oy! " panggil Lesya. Spontan saja Leon menoleh dan mengangkat dagunya seolah bertanya 'apaan? ' kepada Lesya.
"Em gini nih, nanti gw kan bakal ke markas nah lo kawal gih! Takut ada yang intip kan bahaya! " ucap Lesya diangguki dan diancungi jempol oleh Leon. "Ngokeh, sip! Luna, lo ikut kan? " tanya nya.
"Yoii.. "
Lisa yang hanya mendengarkan dari depan dengan pandangan matanya yang mengarah ke arah ponsel hanya menghela nafasnya. Dengan cepat Lisa beranjak dan pamit kepada Lesya dkk di sana. "Gays, gw duluan ya! Ada urusan sama Tiger! " pamitnya melambaikan tangannya.
"Mau diantar gak yang? " tawar Leon. Lisa menggeleng kecil saja. "Enggak usah soalnya ini urusan pribadi, lain kali aja yang! " jawab Lisa. Leon hanya mengangguk kecil saja. "Yaudah tiati di jalan, love you.. ' ucap Leon memberikan lambang hati dengan kedua jarinya.
"Love you more! " balas Lisa tersenyum memberikan flying kiss kepada Leon dan berjalan melangkah pergi dari kelasnya.
Sementara Lesya dan Luna yang melihat hanya berlagak seolah hendak muntah melihat keuwuan yang terlihat di depan ini. Leon yang berbalik hanya menahan tawa melihat wajah kedua sahabatnya.
"Hehe.. Iri bilang bos! Jiakkhh.. " tawa Leon receh tanpa dosa. Lesya mendengus malas dan memukul sekali mejanya pelan namun suaranya dapat terdengar keras. "Heleh, udah cabut-cabut! Gw nebeng sama lo ya Lun! " ucap Lesya lalu beranjak bangkit dari duduknya.
"Lah mau kemana? " polos Luna. Lesya memutar bola matanya malas dan menoyor kecil kepala Luna. "Yee lo mah hapeee trosss.. Buruan nanem padi di lapangan! " nyeleneh Lesya ngawur.
Luna hanya membuka mulutnya polos. "Ha? Emang lo bawa biji padinya? Emang lo pikir itu lapangan sawah apa?! " polos Luna sedikit kesal.
Puk!
__ADS_1
Leon menepuk jidatnya pelan dan geleng-geleng kepala saja. "Bawel lo pada! Buruan woee, katanya mau ke markas?! " kesalnya. Luna hanya mengangguk paham saja maksud Leon. "Oh.. Markas toh! Yowes, ayok lah! " final Luna ikut beranjak diikuti Leon.
Lesya hanya mendengus malas saja. "Gini gek dari tadi! Gak icemosi kan gw! " desis gadis itu lalu pergi melangkah menyusul kedua sahabatnya yang sudah pergi meninggalkan dirinya beberapa langkah saja. "Oh god! Ditinggal lagi gw?! "
~o0o~
Lesya duduk santai di kursi kebanggaannya. Dia saat ini berada di ruangan yang bertembok warna hitam dominasi merah darah. Di belakang kursinya, terpampang kata ‘QUEEN ELLION’ di sana. Ditambah banyaknya jejeran foto dan tanda silang merah yang dia letakkan di papan besarnya. Itu ruangan khusus untuk pendiri Lion Claws—Lesya sendiri.
Yah, Lesya saat ini membuka masker hitamnya dan menggunakan dengan baik jaket yang dia simpan di laci mejanya. Dia menggoyangkan sedikit kursinya elegant ke arah papan kasus yang berada di sebelah nya. Dengan cepat dia melihat jejeran foto yang berisi mengenai bukti dan pelaku pembunuhan mendiang Arga yang tak lain adalah Vion. "Shitt! "
Lesya mengepalkan tangannya erat melihat banyaknya bukti yang mengarah ke arah Vion saat ini. Dia mengambil satu foto bukti dan dia letakkan di satu titik yang menghubungkan dengan foto Vion di tengah.
Jika bertanya mengenai bukti, kalian bisa tahu jika Lesya sudah banyak mengumpulkan banyak bukti hingga Vion mampu segera diringkus oleh pihak kepolisian. Namun dia berpikir jika lebih baik dia sajalah yang meringkus secara adil oleh Vion bukan? Jika ditindak secara hukum, dirinya pasti akan mendapat masalah jika Vion bebas nanti.
"Papi, apa di sana udah ketemu mami? Apa kalian bahagia? " lirihnya. Tak ada satupun ekspresi yang ditujukkan oleh gadis itu. "Papi. . . Kenapa harus secepat ini perginya? Dan kenapa harus dengan cara yang begini? Apa papi sakit ngerasainnya? Bilang piih! ARGHHH!! "
Lesya tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dunia ini. Jika orang lain menganggapnya sepele, tidak dengan Lesya yang merasa tak sanggup untuk melewatinya. Wajah gadis itu bahkan sudah memerah padam karena menahan sesak di dalam dirinya. "Cuman papi lelaki satu-satunya yang pertama Lesya sayang, Lesya kenal, Lesya cinta! CUMAN PAPI YANG AKAN SELALU JADI PAHLAWAN PERTAMA LESYA! ARGGHHHH!! " tegas Lesya menekankan kalimat akhirnya.
Lesya mengacak rambutnya frustasi dan berbalik melihat rangkaian rencana yang dia susun untuk melawan Vion saat perlawanan terakhir nantinya. Tanpa sadar, matanya yang ditutup oleh rambutnya mengeluarkan smirk khasnya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Lesya yang berjalan dan merapikan kembali penampilannya dengan cepat duduk dan memainkan game cacing yang ada di laptop khusus dunia gengsternya. "Masuk! " ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Leon yang masuk diikuti Luna dengan beberapa orang di belakang mereka melihat isi ruangan itu. "Queen nih ada tamu! " ucap Leon. Lesya berdecak malas namun sama sekali tak melirik ke arah banyaknya orang yang datang justru memainkan gamenya di laptopnya.
"Bawa kabur gek sono tamunya! Gw sekarang lagi off gak nerima tamu, lagi sibuk! " kesal Lesya. Luna menyembulkan kepalanya melihat ke arah layar laptop Lesya dan mendengus malas mencibir Lesya. "Iya dia sibuk main game cacing! Aelah itu mainan udah kuno chaa.. Masih mainin bae lo! " sinisnya.
Lesya memeletkan lidahnya dan menggedikkan bahunya acuh. "I no matter what you say! Lagian kuno-kuno gini seruu tau gamenya" ucapnya lalu beralih melihat ke arah tamu yang dibicarakan Leon. "Kalian ngapain? Demo? "
"Iya kita demo! Udah lah kasih bangku gek buat duduk! Capek tau diri mulu! Lagian nih ruangan cakep gini gak ada satupun bangku apa selain bangku lo? Kere banget nih ruangan! " pedas Lisa malas.
Lesya berdecak. "Gw ogah beli bangku! Pertama, nanti sekali gw beli ngabisin duwit! Kedua, gw beli nanti banyak tamu dateng! Ketiga, biar yang dateng pegel terus balik ke kandang! " savagenya.
Revan yang datang dari salah satu mereka juga ikutan menyahut. "Anjaiii savage nih bos! " ucapnya. Farel yang melihat bingkai foto besar terlihat jelas di tengah-tengah ruangan itu bertanya. "Ini, foto bokap lo kan Sya? " tanyanya dibalas anggukan kepala Lesya.
"Ho'oh! Oiya, lo jangan sentuh, jangan raba, jangan pegang, jangan dekatin, jangan liat! Sekali sentuh, gw pites tangan lo! " galak Lesya ketus. Farel hanya diam menjauhkan dirinya dari bingkai itu.
Lesya menghela nafasnya lega dan menoleh ke arah Valen yang bertanya kepadanya setelah tak sengaja melihat banyaknya foto bukti di papan khususnya. "Widih, banyak bener nih bukti, gak mau langsung proses hukum nih? " tanyanya.
"Gak lah! Palingan habis lepas atau lolos dari penjara tuh anak bakalan balas dendam lagi sama gw! So, mending langsung gw ringkus aja tapi nanti! " jawab Lesya santai. "Btw, ada perlu apaan ke sini? " tanyanya.
"Ngajak kerjasama! "
__ADS_1
Bukan Valen, Farel atau Leon yang menjawab. Namun kali ini, Frans lah yang menjawabnya. Alis Lesya terangkat satu karena bingung. Tangannya dia lipat di dadanya seolah bertanya apa maksud dari ucapan Frans barusan. Untung saja Frans yang tak paham maksud dari kode Lesya dengan cepat Luna translate. "Ha? " molog Luna yang memang tak paham.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗