
Namun niatnya diurungkan saat mengetahui bahwa dirinya masih di rumah sakit.
Dengan menutup matanya sejenak dan mengontrol emosinya, Lesya pun segera masuk ke ruangan Mila.
ceklek...
Jantung Lesya berdetak tak karuan, bukan karena dia sedang fall in love. Tapi karena dia melihat orang-orang yang berada di ruang Mila. Bahkan ada orang yang dibencinya saat di sekolah.
Apa karena masalah yang kemaren ya? —batin Angga menerka-nerka.
Loh lele! jangan-jangan dia lagi orangnya? Heh, menarik —batin Elvan tersenyum smirk.
Papan? Jangan-jangan dia lagi orangnya? Bisa abis gw kena hukum mulu —batin Lesya panik.
"Kenapa lama? " tanya Mila membuka pembicaraan.
Lesya tersenyum tipis, "Panggilan alam mi" bohong Lesya.
Semua orang di sana menatap Lesya heran. Padahal jelas-jelas mereka mendengar Lesya marah di depan pintu. Mila dan bi Ana tahu jika Lesya sedang berbohong.
"Ya sudah, ini orangnya Ra. Kenalin dia anakku, namanya Zelyra Aleesya Michella Fyo" Mila menarik pergelangan tangan Lesya supaya lebih dekat dengannya.
Lesya tersenyum kaku, "Udah kenal kali mi" bisik Lesya.
Mila terkejut mendengar bisikkan sang anak, "Hah? Kenal di mana? " tanyanya
"Sekolah" jawab Lesya singkat, padat dan jelas.
Kemudian Lesya duduk di kursi samping brankar. Sedangkan yang lainnya berada di sofa. Dan bi Ana duduk di pojokkan lemari dekat brankar.
"Ini anakku, oh iya kalian udah kenalkan? " tanya Mayang basa-basi.
"Udah tan, bun" Lesya dan Elvan saling memberi tatapan tajam dan sinis satu sama lain.
Sementara orang yang ada di situ merasakan hawa yang mencekam dari Lesya dan Elvan. Tiba-tiba saja Elena memperkenalkan dirinya agar situasi tak canggung.
"Hai aku Zeyana Elena Grey, kakak Elvan" Lesya menatap ke arah Elena yang menyodorkan tangannya untuk mengajak berkenalan.
Lesya pun membalas sodoran tangan Elena dengan hangat "Lesya kak"
__ADS_1
Karena situasi sudah tak se canggung tadi, Mayang dan Mila berbincang-bincang. Sementara Elena mengajak Lesya mengobrol.
"Kamu sekelas sama Elvan? " tanya Elena
Lesya menggelengkan kepalanya tidak "Aku kelas B kak" jawabnya
"Oh kelas B, btw sikap Elvan di sekolah gimana? "
"Ya gitu deh, ngeselinnya pake banget, dia sok berkuasa di sekolah. Mentang-mentang dia ketua OSIS kak"
"Wah, emang dari dulu dia ngeselin pake banget. Jatoh dari sepeda aja emmphh dwa emmphh" Elvan membekap mulut Elena supaya tak membongkar aibnya.
Lesya mengerutkan keningnya bingung. Sementara Elena menepuk punggung tangan Elvan supaya melepaskan mulutnya.
ckiet...
Elena mengigit tangan Elvan hingga sang empu meringis kesakitan.
"Shtt, sakit gobl*k" Elena memeletkan lidahnya tak peduli.
Sementara Angga berbincang kepada bi Ana sambil mengorek informasi tentang Lesya. Tapi satupun jawaban bi Ana tak membuatnya puas.
"Dan kedatangan kami untuk segera meminang Lesya secepatnya" tegas Mayang.
Lesya makin terkejut atas penuturan Mayang. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berjanji kepada Mila dan Arga untuk menerima perjanjian ini.
Elvan terdiam dengan wajah datarnya. Sedangkan Lesya tampak murung akibat perjanjian perjodohannya.
Masih banyak lelaki yang mengantri untuk menjadi kekasih Elvan mengapa orangtuanya repot mencari pendamping hidupnya?
Berbeda dengan Lesya yang tahu semua ini demi kebaikannya. Semua masa depan Lesya sudah diatur oleh papinya sebelum menutup mata. Begitu pula dengan Letha, bedanya Letha lebih bebas dibandingkan Lesya.
Lesya memang dekat dengan maminya jika dilihat-lihat. Namun Mila sendiri tak sedekat dengan sang anak sulungnya seperti yang kita bayangkan. Dia hanya sangat dekat dengan Letha.
Sementara Lesya dekat dengan papinya. Namun sayang dia kehilangan sosok ayah yang menjadi superhero bagi keluarganya.
Elena, bi Ana, Angga dan Mila hanya menyimak penuturan dari Mayang. Lesya menatap Elvan yang berada di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Mengapa Elvan sangat santai sekali? Padahal dia ingin Elvan menolak mentah-mentah agar dia bisa bebas dari perjanjian ini. Lesya mampu menetralkan rasa terkejutnya dengan muka datarnya.
__ADS_1
Sementara Elvan berperang dengan pikirannya. Jujur Elvan sangat ogah jika dijodohkan dengan Lesya. Belum ditambah tugas kantornya dan teman perempuannya yang menempelinya.
Sekarang? Ditambah Lesya yang notabenya rival di sekolahnya. Gadis yang selalu masuk keluar BK dan merepotkan anggota OSIS. Rasanya lengkap sudah semua tanggung jawabnya.
...~o0o~...
Keesokkan harinya Lesya bangun dari tidurnya. Posisi yang menggenggam tangan Mila dan meletakkan wajahnya di brankar berubah. Kini Lesya mengangkat wajahnya dan mengingat kejadian semalam.
Dia beralih menatap kalung cincin yang bertengger di leher cantiknya. Dia menutup matanya sejenak dan menghembuskan nafasnya perlahan.
When do I feel happiness, oh God? —batin Lesya tersenyum kecut.
Kini dia memakai seragam lelaki mulai dari baju hingga celana. Tanpa dasi dan rambut yang acak-acakan karena dia malas menyisir rambutnya. Kali ini dia memakai sepatu snacker hitam dominasi putih.
Dilihatnya bahwa Mila masih nyenyak di alam mimpinya, Lesya langsung pergi tanpa tas yang ditenteng nya. Bi Ana yang baru saja membeli sarapan masuk dan bertemu dengan Lesya di pintu.
"Loh, non Lyra mau berangkat ya? Gak sarapan dulu non? " tanya bi Ana ramah.
"Gak usah bi, udah mau telat. Nanti aku sarapan di sekolah aja. Jagain mami ya bi, aku pamit" pamit Lesya.
"Iya non, hati-hati ya" pesan bi Ana. Bi Ana cukup dekat dengan Lesya begitu juga sebaliknya.
Lesya mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Mila. Saat melewati ruangan administrasi, Lesya menoleh saat ada yang memanggilnya.
"Non Lesya? " tanya suster tersebut ramah.
"Iya Sus, ada apa? " Lesya menghampiri suster yang berdiri di sebuah ruangan dokter.
Rupanya suster tersebut merupakan suster yang merawat Mila selama ini. Dia baru saja keluar dari ruangan dokter yang merawat Mila selama di rumah sakit.
"Gini non, ibu anda harus segera di oprasi, jika tidak dilakukan dengan segera akan berdampak fatal pada kesehatannya dan bisa mengancam nyawa pasien" imbuhnya.
Lesya terkejut atas penuturan suster yang berada di depannya. Padahal selama ini Mila baik-baik saja kok, mengapa nyawanya terancam? Pikir Lesya.
"Sebelum penyakit pasien kambuh, pasien teridentifikasi mengkonsumsi racun yang berbahaya. Racun tersebut baru saja kami temukan. Dan hasilnya sangat mengancam nyawa pasien" lanjutnya.
Lesya terkejut. Dia yakin ini ulah Gilang yang memasukkan racun ke dalam makanan/minuman Mila. Selama ini, makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh Mila, selalu dari Gilang.
"Memang pasien saat ini sehat-sehat saja, namun organ-organ dalamnya sudah membusuk. Oleh karena itu kita hanya butuh keajaiban dari Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan pasien. Saya permisi ya non" lanjutnya dan meninggalkan Lesya sendiri.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗