Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
416: Makam Leon


__ADS_3

Episode 416: Makam Leon


Sebuah tempat yang sepi saat ini telah dimasuki oleh dua gadis dengan tinggi beberapa centimeter saja yang berbeda. Dengan membawa bunga khusus yang mereka beli untuk mengunjungi orang terkasih mereka yang sudah pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu.


Mereka duduk berjongkok di sebuah makam yang terpasang keramik dengan nisan bertulisan nama sahabat lelaki mereka. Luna memejamkan matanya agar berusaha tetap tegar. Namun, perlahan satu titik cairan bening berhasil terjun ke pipinya tanpa diminta.


"H-hai Yon! How are you today? (Gimana kabarmu?) Apa lo udah ketemu kedua orang tua yang selama ini cari? Are you happy? (Apa kamu senang?)"


Suara Luna yang bergetar membuat Lesya mengelus punggung sahabatnya dengan tatapan yang entah ke arah mana. Rasanya dadanya sesak karena tak sanggup mendengar ucapan Luna. Namun, dia harus tetap tegar di sini.


"Yon, lo tau? Gw, Bang Cakra, Bang Alam, Lesya, Lisa, Pai, bahkan Kak Feli kangen sama lo. Lo gak niat sapa kita gitu dari mimpi biar kita-kita tenang? Apalagi pacar lo itu sekarang kena rasuk 20% jiwa kutub Echa, gak niat sapa dia gitu? "


Plaak!


Spontan Lesya memberi pukulan kecil pada Luna yang masih sempatnya mengejek jika dia adalah ‘kutub’ padahal sudah tidak lagi. Sang empu yang dipukul hanya meringis pelan saja dan kembali melanjutkan ucapannya.


"Yon, Mama juga kangen sama lo. Lo juga tau? Sasa santan ini juga ditampar sama Mama karena alasan gak becus jagain lo. Gw gak ngomongan juga sama Mama karena itu. Makanya, harusnya lo itu di sana sadar dulu bentaran doang." curhat Luna dengan nada sendu.


Bahkan Luna kini menundukkan kepalanya menatap tanah yang diisi satu tangkai bunga mawar putih. Tunggu, mawar putih? Entah dari mana berasalnya bunga itu, tapi Luna juga Lesya tak membeli bunga putih sebelumnya.


"Sya? Lun? " panggil seseorang.


Mereka yang pemilik nama menoleh dan menghela nafas lega. Mereka pikir siapa hingga dapat mengenal nama akrab mereka. Rupanya itu Felicia dengan Vay yang baru kembali lagi dengan setangkai bunga mawar berwarna putih.


"Kak Feli yang naroh ini kah? "


Felicia mengangguk pelan saat ditanya oleh Luna yang memang sedang memegang satu tangkai mawar yang mereka letakkan. Memang semenjak kepergian mendiang sang adik kandung yang baru diketahuinya, Felicia setiap hari selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam sang adiknya itu.


"Luna, bisa kita bicara sebentar? Gw perlu ngomong empat mata sama lo." kata Felicia pelan. Luna terdiam dengan kedua alisnya yang mengeryit bingung. Sejenak dia menganggukkan kepalanya seolah setuju dengan tawaran Felicia.

__ADS_1


"Sya, I’m so sorry very much. G-gw kepancing, gw ikut kebawa sama logika gw sendiri, gw pengkhianat, gw udah coba lenyapin lo, walau gw ngerasa gak pantes dimaafin, tapi gw cuman mau bilang, I’m sorry… " lirih Felicia dengan kepalanya yang sedikit tertunduk.


Pemilik nama tak bergeming. Dia tak dendam namun hanya benci sedikit karena sikap Felicia dahulu. Lesya sangat membenci pengkhianatan. Wajar saja dia masih sedikit risih dengan kedatangan Felicia di sana.


"Ya." jawab Lesya. "Gw maafin asal lo gak akan pernah ganggu gw lagi." sambung Lesya dengan tatapan tajamnya.


Felicia mengangguk mendengarnya. Wanita itu tersenyum lega karena mendapat kata ‘maaf’ dari Lesya. Sebenarnya sudah lama ingin dia lakukan namun selalu tertahan karena tak sempat bertemu ataupun bertegur sapa dengan Lesya.


"Gw juga minta maaf atas nama Vion, gw tau ini telat banget, tapi I’m so sorry, Sya. Semoga kedepannya lo bisa nemuin dan punya tujuan hidup kayak dulu."


Lesya berdehem singkat mendengarnya. Setelah berpamitan, baru lah kini tersisa Lesya seorang diri dan kembali berjongkok di samping makam sahabatnya. Menghela nafasnya berat, Lesya menundukkan kepalanya.


Tak ada orang seharusnya kan?


Tes!


Sial! Pertahanan Lesya ambruk sekarang. Dia benar-benar terisak kecil kali ini. Sudah berapa kali dia merasa kehilangan? Satu? Dua? Atau ini kelima kalinya? Sebenarnya sudah lebih dari itu. Berhubung dia merasa tak ada yang melihat, dengan segera gadis itu meluapkan tangisnya agar sedikit merelakan kepergian Leon.


"I’m sorry! Kedatangan gw ke sini cuman luapin isi hati gw yang sempet gw pendem, Yon. 'Kan waktu lo udah gak ada gw gak sempet nangis bentar buat lo hehe... Gw malu kalau nangis di depan orang lain." cengir Lesya dengan cairan beningnya yang kembali keluar lagi.


"Leonard Putra Inuell Morn, selamanya lo tetap jadi sahabat gw, sahabat Luna juga. LC gak akan pernah lupain perjuangan lo di medan perang. Maaf, karena perang lo ikut jadi korban Yon." sambung Lesya mengusap pipi dan sudut matanya yang basah.


"Tapi lucu lo ya? Heh, pergi-pergi ninggalin balas dendam sama gw, pacar lo ngamuk tuh sama gw. Salah mulu gw di mata dia akhir-akhir ini."


Lesya terkekeh pelan seolah menertawakan dirinya sendiri. Bayang-bayang di mana dia selalu dipandang rendah karena bukan anak dari sebuah pernikahan kembali terlintas.


"Lucu gak sih hidup gw sekarang Yon? " tanya Lesya seolah dia sedang meluapkan isi hatinya pada Leon yang sudah tiada. "Lo liat kan dari atas sana kalau daddy mulai terima gw, gw juga punya mommy tiri, uncle masih dalam proses, aunty mulai baik, tapi-- gw ngerasa gw ngerepotin Bunda, Ayah, Kak Elen, Luna, banyak deh."


"Gw juga udah bebasin Letha tapi gw gak tau kelanjutan dia gimana Yon. Gw takut-- Letha kembaran gw Yon, dia pantes bahagia juga. Kalau gw di sini mulai ngerasa tenang, damai dan aman, Letha harusnya juga ngerasain hal yang sama."

__ADS_1


"Gw takut-- KetBok gak pernah main-main sama ucapannya. Gw gak mau Letha setelah ujian balik dikurung Yon. Gw gak rela. Cukup gw aja yang menderita, Letha jangan, itu kata-kata dari papi dulu."


***


"Lyra, di sini cukup Papi yang sakit nerima kenyataan tentang siapa kamu Lyra, tapi anak kesayangan Papi ini gak boleh sedih kalau tau siapa Papi oke? "


"Loh kok gitu Pih? Lyla jaat ya sama Papih makanya Papih sakit nerima Lyla? "


"Haha… Enggak gitu Sayang. Lyra anak Papi, selamanya begitu. Papi mau bilang, Lyra itu kakaknya Lara dan sebagai kakak, kalau Lara dalam posisi sulit, gimanapun keadaan dan sikapnya ke Lyra, kamu harus jaga dan lindungin dia. Cukup papi, kamu jangan. Cukup Lyra, Lara jangan. And it lasts forever, okay? "


Lyra---Si Lesya kecil saat itu mengangguk dan menautkan kelingkingnya dengan kelingking besar sang papi. Ingatan itu terus membekas hingga sekarang. Dan itu sebabnya Lesya terus melindungi Lara sekalipun harus menentang pendapat sahabatnya. Cukup dia, adiknya jangan!


***


"Bilang sama Papi di sana Yon! Putri cantiknya ini udah besar, udah jalanin semua walau beberapa gak bisa aku jalanin. Bilang juga sama Mami, makasih udah jodohin Lyra sama KetBok, maaf belom bisa jadi anak yang berbakti, jadi anak yang sempurna di mata mami… Eh gw kok malah banyakan titip salam ya? " menolog gadis itu terkekeh lucu pada nada bicaranya sendiri.


"Gw secara pribadi juga minta maaf sama lo, karena gw yang kena culik akhirnya malah lo yang kena imbasnya. Eh, kok gw malah nangis sih?! Dasar, cupu ternyata ya gw? Capek banget sama dunia tapi gw harus bertahan setidaknya untuk laki-laki yang dijodohin sama gw ya gak? " tawa Lesya pelan.


Lesya tersenyum manis setelahnya. "Gw pamit, mau ke makam Papi buat permohonan surat izin sekalian restu dunia. Kece banget sih gw, hidup harus punya restu biar aman-aman bentaran lah ya… " pamit Lesya dan beranjak setelah menaburkan sebagian bunga di makam keramik mendiang Leon.


Kepergian Lesya itu membuat dua remaja dengan seragam sekolah lengkap keluar dari persembunyiannya. Sedari tadi mereka mendengar jelas ucapan Luna juga Lesya tanpa adanya yang terlewat sedikitpun. Dan anehnya Lesya yang sibuk meluapkan isi hatinya jadi tak fokus hingga tak menyadari keberadaan kedua remaja yang membuntuti nya.


"Telinga lo berfungsi kan? Cerna, renungin, lakuin apa yang menurut lo rasain di hati nurani lo. Sempet lo buat ulah, telinga juga mata dan tangan lo jadi pajangan cantic gw. Gak peduli lo siapa gw, tapi gw gak akan segan sama lo yang nyakitin hati dia."


"I’m sorry,"


"Bukan ke gw tapi ke Lesya."


"Ya, gw usahain! But, please give me time to put it all (Tapi, tolong beri saya waktu mengikhlaskan semua), ya? "

__ADS_1


"Hm."


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2