
Eric menyunggingkan senyumnya dan menghampiri Lesya. Lesya sudah tau jika Eric akan menghampirinya, tersenyum licik.
Tak hanya mereka berdua di sana. Elvan yang berjalan menuju kelasnya, melihat Eric yang ingin menyentuh Lesya.
Tangannya yang ingin menarik pinggang Lesya, segera ditepis Lesya dengan segera. Hasilnya salah! Eric bisa menangkis perbuatan Lesya.
Eric menarik Lesya ke taman belakang. Lesya yang memberontak kasar tak dilepas oleh Eric karena tenaganya lebih besar.
Bisa saja dia memberontak lebih besar. Namun, cekalan Eric bagaikan dirinya diseret oleh Gilang. Kedua rekan tersebut sama-sama gil*! Elvan mengikuti mereka ke taman belakang perlahan.
Lesya dihempaskan di batang pohon yang keras. Lesya menatap tajam Eric. Eric menarik senyumnya miring.
"Apa sih mau lo? " datar Lesya. Beginilah Lesya saat bertemu lawan. Kasar, sadis, dingin, tak punya hati!
Eric cukup pintar bela diri. Dia tak menjawab pertanyaan Lesya. Dia bahkan mendekati dan memegang tangan Lesya.
Lesya yang dipegang memberontak hingga Eric berputar ke belakang dan membentur dahan pohon.
Eric meringis? Jelas! Pohon tersebut sangat keras. Tubuh Eric yang sudah sedikit menua, akan sakit membentur dahan pohon tersebut.
Lesya melipat tangannya di dadanya, "Bapak anak sama-sama gil*! "
Eric tertawa kecil. Lesya menatap aneh pria tua di depannya ini, "Iya! Kita emang gil* memang kenapa hah?! "
"Pantes otaknya miring! Saking miring nya gil* harta! Benar bukan? " Lesya menatap tajam pria di depannya ini.
Eric menyunggingkan senyumnya miring, "Kenapa? Kamu takut kalo saya ngelakuin apa yang dilakukan papamu? "
Yap! Eric pernah melihat Lesya di siksa oleh Gilang. Dia bahkan ikut menyiksa Lesya hari itu. Bahkan dia memang sempat meminta Gilang untuk menjadikan Lesya boneka pribadinya.
Namun, seseorang menolak itu semua. Dia tak ingin Lesya akan dijadikan sebuah boneka pribadi. Dia dengan keras mengingatkan mereka untuk tak melakukan itu kepada Lesya.
__ADS_1
Lesya menatap Eric dengan tatapan mautnya. Dia yakin ada rencana yang tersembunyi di balik wajah santai Eric.
Elvan langsung datang dan mengagetkan mereka. Lesya dan Eric menoleh ke arah Elvan yang tiba-tiba berdiri di samping Lesya.
"Ekhem... Ngapain di sini? " Eric kembali kepada wajah ramahnya, "Bukan apa-apa, cuman ngobrol biasa. Mau minta maaf dengan sikap Vannya selama ini sama dia"
Lesya membulatkan matanya. Kini dia tahu apa yang harus dia lakukan. Melihat kelicikan yang sama dengan Vannya membuat Lesya akan selalu waspada jika bertemu dengan Eric.
Elvan tahu apa yang mereka bicarakan sedari tadi. Namun, tak masalah bukan jika dia berpura-pura tak tahu?
"Oh, kita pamit permisi" Elvan menarik Lesya untuk segera menjauh dari Eric.
Eric hanya menatap kepergian mereka saja. Dirinya bertanya-tanya siapa Elvan sebenarnya? Apa kekasih Lesya? Namun, Gilang mengatakan jika Lesya tak memiliki kekasih.
Eric berjalan menuju parkiran dan pulang ke rumahnya bersama Vannya. Sementara Lesya melepaskan tarik kan Elvan setelah menjauh dari Eric.
"Makasih" ucapnya memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Menurut lo? " Lesya mengambil salep tersebut dan memakaikannya di sekitar pergelangan tangannya, "Masih punya hati juga lo ya? "
Elvan mengabaikan perkataan Lesya. Dia memasukkan tangan di sakunya. Lesya sudah selesai mengoleskan salep di pergelangan tangannya.
Dia menyerahkan kembali salep kepada pemiliknya. Elvan mengambil dan memasukkan salepnya ke dalam sakunya. Entah dari mana itu di dapat Elvan!
Elvan berjalan satu langkah kemudian berhenti. Dia membalikkan badannya dan menatap Lesya, "Sempet bolos? Bersihin toilet! "
Elvan benar-benar pergi kali ini. Lesya menghentakkan kakinya kesal. Baru saja mereka akur, ternyata Elvan masih inget dengan hukuman.
Beruntung dia dipanggil kepsek bukan bolos. Jadi dia tak mendapatkan hukuman. Lesya beranjak dari sana menuju kelasnya.
...~o0o~...
__ADS_1
Kali ini Lesya benar-benar pergi ke kelas tanpa niat bolos. Pelajaran sudah berganti menjadi jadwal bu bunga.
Bu bunga yang baru saja ingin masuk, melihat Lesya di depan pintu, "Kamu Lesya kan? " Lesya mendengus malas, "Enggak bu, saya upin ipin" candanya.
Bu bunga menyenggol bahu Lesya pelan. Seperti teman saja! Lesya yang disenggol terkikik ngeri, "Bercanda! Kamu tumben hadir di pelajaran saya"
"Ibu mau-nya apa sih? Saya bolos, ibu nyuruh OSIS nyari saya. Saya hadir, ibu heran bilang saya upin ipin! Ibu maunya apa? " cerocos Lesya.
Bu bunga menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, "Yaudah ayok masuk! Keburu kelar jam saya"
Bu bunga dan Lesya bersamaan masuk. Mereka berjalan menuju bangku mereka masing-masing. Lesya dibelakang dan bu bunga di depan.
Lesya yang malas mendengarkan celotehan bu bunga hanya tertidur di sepanjang pelajaran. Hingga penghapus papan tulis, hampir terkena dengan kepala cantik Lesya.
Yap! Nyaris saja. Karena itu bertepatan Lesya bangun dan menangkap penghapus papan tulis itu. "Ibu gak usah emosi! Udah bell istirahat nih"
Benar saja bell istirahat berbunyi. Dengan terpaksa bu bunga menyudahi kegiatan mengajar ya.
"Baiklah kalian boleh istirahat! Untuk Lesya, kamu saya tandain! " tegas bu bunga. Lesya mengangguk saja.
Sebelum keluar, dia menyempatkan menatap marah Lesya. Sementara Lesya yang ditatap hanya santai saja. Luna yang berada di sebelah Lesya menggeleng kepala.
"Sya, tadi lo gak papa dipanggil kepsek? " Lesya mengangguk. Benar adanya bukan jika dia tak apa?
Leon berbalik dan ikut menimbrung percakapan Lesya dan Luna, "Dihukum kagak? " Lesya menggeleng.
"Gw gak papa! Dan gw gak dihukum. Udah gw mau tidur ngantuk" Lesya menjadikan tas Luna sebagai bantal dan kedua tangannya sebagai alas.
Luna dan Leon pergi dari kelas tak ingin menganggu Lesya yang tampak badmood. Mereka makan dikantin walau rasanya sepi tanpa Lesya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1