Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
403: Try to Sincerely


__ADS_3

Matahari tampak kembali terbit. Di sebuah negara kepulauan dengan penduduknya yang padat kini sudah ramai ke sana ke mari. Bunyi klakson angkot juga kendaraan lainnya terus berbunyi seolah mempersilahkan penumpang mereka masuk.


Hari ini adalah hari kamis. Dan menurut siswa-siswi yang bersekolah, hari ini adalah dua hari terakhir pembelajaran. Itu salah satu sebab membuat jalanan tampak ramai dipadati oleh seseorang yang bekerja juga bersekolah.


Tapi, bukan itu yang dibahas.


Di sebuah sekolah swasta kini sudah ramai siswa-siswi yang masuk ke dalam gerbang sekolah. Dan siialnya gerbang sudah ditutup dikala dua gadis hendak kembali masuk ke dalam sekolah.


Awalnya mereka sudah tiba saat pagi-pagi. Namun karena lapar alias sama sekali tak sarapan, mereka mampir sejenak ke warung di luar sekolah setelah meletakkan tas ke kelas mereka.


Dan ketika mereka sudah selesai sarapan, justru mereka juga yang terjebak. Pagar hitam khas sekolah mereka yang menjulang sedikit tinggi kini sudah tertutup rapat. Dan hanya menyisakan ketua OSIS baru yang berdiri tegap dengan tatapan nyalangnya.


"Cabut Lun,"


Sang pemilik nama mengangguk. Sebelum mereka diketahui oleh ketua OSIS baru itu, dengan segera mereka meninggalkan secara perlahan dan berjalan ke arah pagar belakang. Tentu saja mereka melakukan seperti biasa yaitu, memanjat pagar sekolah.


"Wow, kebetulan yah? "


Mereka yang baru turun dari pagar belakang sekolah terhenyak kaget lalu menghadap ke belakang. Gadis yang satu menggunakan seragam dengan rok juga cardigan ungu pastel nya. Sementara gadis yang satunya menggunaan seragam juga celana lelaki. Tak lupa satu plastik dengan isi 4 telur gulung yang dipegang di tangannya.


Lesya juga Luna yang menghadap kini mengelus dada mereka yang sempat ketar-ketir. Ternyata yang bersuara hingga mengagetkan mereka tadi adalah komplotan para most wanted sekolah mereka. Jabatan OSIS mereka kini sudah tergeser kan dengan generasi yang baru.


"Ngagetin, gw kira siapa! " gumam Luna.


Mencium aroma benda berbatang nikotin, dengan segera Lesya menutup hidungnya dan berbalik. Luna yang melihat hanya menunjuk ke arah batang nikotin yang dipegang dan dihisap dua lelaki di sana agar segera dimatikan.


"Buang-buang! " bisik Luna pelan.


Ken dan Frans yang tak tahu ke mana arah bicara Luna hanya menatap cengo Luna saja. Namun setelah mendapat pukulan ringan dari Valen juga tatapan tajam dari Elvan, dengan segera mereka menginjak batang nikotin yang mereka hisap. Tak lupa mereka juga membuang benda nikotin itu ke arah tempat sampah kecil yang berada di samping Farel.


"Udah dah Sya, oh ya kalian ngapain di sini? Tumbenan mantan aggota OSIS bolos? " tanya Luna menepuk sejenak pundak Lesya seraya menatap kelima lelaki remaja di depan mereka.


"Awalnya gabut pengen nyari sensasi baru, tapi waktu ngeliat kalian pengen bawa ke markas bentar." jujur Ken menyahut. Luna mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban Ken.


"Markas? Ngapain? " tanya Luna.


"Kan ini udah hampir seminggu Leon pergi. Vion, sepupunya, Manda, sama Ericko juga udah dikubur. Nah, kita baru ingat masih ada satu orang yang tersisa di markas kita. Jadi kita ajak kalian supaya diskusi hukuman buat si satu orang tersisa ini! " ucap Valen menjelaskan.


"Satu orang? Siapa? " tanya Lesya yang kini sudah memunggungi mereka. Gadis itu juga sudah melepaskan tangannya yang menutupi kedua lubang hidungnya.


"A-anu, itu... Orang itu maksudnya Letha, adek lo bu boss." kata Valen menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Lesya terdiam. Dia teringat sudah seminggu lebih dia tak mendengar kabar sang adik kembarnya. Terakhir bertemu, di saat peperangan saat itu bukan? Entahlah, Lesya tak mau mengingatnya lagi.


"Pulang sekolah." singkat Lesya.


Valen dan Ken yang mendengar dengan kompaknya saling cengo dan menatap Lesya. "Hah? Maksudnya? " tanya mereka berdua kompak. Sang lawan bicara mereka hanya mengangkat kedua bahunya acuh saja dan berjalan meninggalkan mereka semua. Memang akhir ini setelah kepergian sahabat lelakinya, dia kembali bersikap acuh saja.


"Maksudnya apa sih? " tanya Ken polos setelah menatap kepergian Lesya yang kini sudah tak terlihat. Luna awalnya hendak mengejar. Namun dia terhenti di kala satu tangan kekar menyodorkan satu buku catatan tebal ke arahnya.


"Dia lupa bawa," kata Elvan.


Luna mengangguk paham dan menerima sodorkan Elvan saja. "Ouh oke, anyway maksud Lesya tadi dia mau cuman pulang sekolah aja. Tau kan akhir ini dia jadi kutu buku? Pengen kejar nilai mungkin," ucap Luna lalu segera pergi menyusul keberadaan sahabatnya.


"Oke, jangan lupa ya! Soalnya kita pusing dengar teriakannya! " keluh Ken mengadu seraya mengelus satu daun telinganya seolah mendengar pekikan orang yang mereka bicarakan. Luna hanya mengiyakan dari jarak jauh saja dan kembali ke berlari menyusul Lesya.


"Balik kelas gak? Atau ke rooftop? " tanya Farel yang kini angkat suara.


Keempat mata lelaki itu kini beralih pada Elvan. Bagaimana pun juga keputusan dibuat oleh ketua mereka. Bukan karena mereka mau-mau saja ikut ini-itu sesuai perintah ketuanya. Namun itu adalah satu bentuk keakraban mereka. Toh mereka tau jika keputusan yang dibuat sama sekali tak merugikan mereka.


"Kelas aja, lo butuh nilai kan? "

__ADS_1


Ken mengangguk di saat Elvan angkat suara seraya melirik nya. Memang diantara yang lainnya, Ken lah yang perlu dibimbing jika bersangkutan dengan teori pelajaran. Meninggalkan pagar belakang sekolah itu, mereka kini berjalan ke kelas dengan iringan canda dan tawa.


Ini, sudah seminggu lebih setelah di negeri orang mendengar kabar buruk. Kabar yang seharusnya bahagia kembali senyap karena kehilangan satu sosok yang sering kali mengganggu juga menghidupkan warna. Mungkin benar, mereka yang dekat dengan mendiang Leon, kehilangan sebagian hidupnya hingga merasa hidup sangatlah hambar.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Kantin kini tampak ramai. Baik guru dan siswa-siswi kini sudah duduk di kursi mereka seraya memesan makanan mereka. Bahkan para penjual di area kantin kini sibuk mengurus ini-itu untuk melayani para pembeli mereka.


Salah satu gadis yang baru saja datang dengan dua buku di tangannya membuat kantin heboh dibuatnya. Bagaimana tidak? Gadis itu menggunakan seragam dengan celana khas lelaki. Tau kan?


Dan kali ini, kacamata anti radiasi juga bertengger manis di hidung mancungnya. Ujung kemeja seragam nya yang sedikit berantakan, dasi yang sedikit dilonggarkan juga rambut yang sedikit teracak. Mereka heboh karena seorang bad girl justru membawa buku ke kantin. Ada apa gerangan?


Ini pertama kalinya mereka kembali dihebohkan oleh gadis itu. Pasalnya sudah hampir seminggu mereka tak melihat bahkan mendengar kabarnya. Rumor-rumor yang sempat beredar dengan cepat kini kembali terungkit setelah kedatangan sang pemilik nama.


*** "Liat, tuh devil balik lagi gayss.. "


"Gak malu apa dia ya? Kemaren dipegang sama om-om terus gak masuk sekolah hampir seminggu."


"Mungkin gak sih kalau dia libur biar ngubah cara jalannya? Tapi-- Masa sih devil hobby ngelon*te? "


"Heh sembarangan! Gitu-gitu dia panutan gw njir."


"Kalau salah berita, siapa yang tanggung jawab? "


"Yo ndak tawu, kok nanya saya? "


"Murahan anj*r dia! Kemaren gak masuk paling meras uang om-om."


"Mukanya tambah datar aja neng, gak dapet duit lebih ya haha.. "


"Lawak! Dia salah satu orang kaya, bokapnya juga pemilik saham, ya kali nemplok sama om-om."


Lesya sama sekali tak mempedulikan ucapan yang terlontar. Kali ini dia cukup malas meladeni semua omongan netizen. Toh kalau diladenin, dia juga tak mendapat keuntungan sama sekali.


Tok-tok,


"Baksonya satu buk, jangan pake sayuran." kata Lesya mengetuk meja salah satu penjual langganan nya. Sang empu yang dipanggil hanya mengangguk sopan saja. "Oh iya, mau diantar atau langsung? " tanyanya.


"Langsung,"


Setelah menunggu dua menit pesanannya, dengan segera dia meletakkan buku yang dia bawa juga mangkuk baksonya di meja ujung kantin. Mendudukan dirinya di kursi tersebut, kenangan dengan mendiang sahabatnya saat baru pindah ke sekolah itu kembali melintas di benaknya. Dia tersenyum simpul untuk mengenang semuanya.


"Hufttt," helanya.


Kembali membuka buku yang diisi satu bolpoin di saku celananya, gadis itu memilih kembali belajar dibandingkan makan terlebih dahulu. Tak ada yang menemaninya di sana karena Luna-sahabatnya juga sedang dipanggil oleh guru lain. Sementara Lisa masih menghindari dirinya karena kejadian 'itu'.


Tok-tok-tok...


Lesya yang sibuk belajar mendongkak dan mendapati guru yang dianggap penghibur nya. Guru wanita yang membuatnya sering menaik-turunkan emosinya. Guru itu, bu bunga!


"BU BUNGA?! " kaget Lesya reflek berdiri.


"Eh? Duduk aja sih Sya," kata bu bunga.


Lesya dan bu bunga sontak duduk di kursi dengan posisi duduk yang berseberangan. Buku-buku yang masih terbuka sama sekali tak Lesya tutup. Mungkin karena terlalu kaget dengan kehadiran guru terfavorit di sekolahnya.


"Bu bunga kok di sini? Bukannya harusnya di rumah? Kan ibu--- "


"Saya keguguran 2 bulan lalu. Makanya saya kembali ngajar seminggu lalu." potong bu bunga yang tahu ke mana arah pembicaraan Lesya. Tampak siswinya tercengang kaget. Ternyata mereka mengalami hal yang sama.

__ADS_1


"Kok bisa bu? "


"Saya jatoh di kamar mandi,"


"Wah, bu saya turut prihatin! Saya tau perasaan ibu gimana tapi bu, percayalah ada rencana indah di waktu yang akan datang." kata Lesya sedikit tersenyum.


"Iya, makasih, saya juga lagi mencoba buat ikhlas! Oh iya, Luna ditahan sama Lina karena tugas, Lisa bareng sama Elvan juga temannya, kamu di sini, terus Leon temen kamu itu mana? "


Lesya terdiam namun sedetik kembali mengembangkan senyum tipisnya. "Justru itu bu, kita gak sekolah karena Leon, temen saya--, udah gak ada di dunia sewaktu kami di luar negeri."


"Hah?! K-kok? "


"Ya gitu bu, namanya juga takdir Tuhan, mungkin ini yang terbaik buat kita juga Leon sendiri. Kita ke luar negeri emang buat pengobatan Leon karena kecelakaan." ucap Lesya dengan sedikit kebohongan. Bu bunga menghela nafasnya dan mengangguk paham saja.


"Saya kaget dengernya, tapi sesuai ucapan kamu tadi Sya. Percayalah pasti ada rencana indah di setiap waktu kedepannya. Ambil sisi baiknya jangan terlalu larut dalam kesedihan, kasian Leon nya kalau gitu." bijak bu bunga.


Lesya terdiam. Perkataan bu bunga bagaikan tamparan untuknya. Mungkin tadi dia menasehati bu bunga namun dia sendiri tak bisa menasehati hatinya. Sungguh, dia secara pribadi merasa sangat tersentil mendengarnya.


"Kalau gitu saya pergi dulu Sya, awalnya mau nanya kenapa gak masuk selama seminggu tapi udah nemu jawabannya. Jangan lupa makanan yang kamu pesan dimakan, keburu dingin gak enak! " tutur bu bunga yang berubah kalem saat ini menghadapi murid lagend nya.


Lesya mengangguk mengiyakan saja. Setelah kepergian bu bunga dari mejanya, kalimat terakhir guru tergalaknya itu membuatnya teringat akan Mayang. Semenjak pulang ke kediaman Grey, Mayang yang sering kali memasak untuk menghibur dirinya terkadang dia anggurin.


'Sya, jangan lupa dimakan keburu dingin, nanti gak enak! '


'Lesya, kamu mau makan apa? Biar bunda buatin.'


'Kok gak dimakan? Kuenya gak enak ya? Kuenya keras ya? Bunda buatin lagi ya,'


Lesya terdiam. Kata-kata Mayang yang berusaha membujuknya terus terngiang-ngiang di benaknya. Kini dia sadar, dia melupakan yang ada hanya karena satu orang yang tak ada. Dan itu artinya sama saja tak peduli dengan orang yang ada untuknya.


Kini, dia sudah menemukan jawabannya. Menutup bukunya dengan keras dan membereskannya, Lesya segera makan bakso yang dia pesan. Namun dia kembali mendongkak saat suara khas yang familiar duduk berseberangan dengannya. Itu Luna—sahabatnya!


"Sya, bu bunga ngapa sih? Tadi tiba-tiba senyam-senyum ke arah gw terus bilang gini 'jangan terlalu bersedih, Lun!' apaan tuh maksudnya? " tanya Luna menyerocos setelah duduk.


"Luna? "


"Iya? Mau apa biar gw ambilin."


"Ayo kita mulai lembaran baru tanpa Leon! Maksud gw, kita jangan lupain semua kenangan juga sosok Leon di hidup kita. Tapi kita coba buka lembaran ikhlas biar Leon tenang di sana," lirih Lesya menatap lekat manik mata Luna.


Luna terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya antusias. Tersenyum saling menguatkan, Luna juga Lesya bertos ria ala khas mereka.


"YO YO GO YEAAY!! "


Mereka bertepuk tangan dengan senyum yang tetap tak luntur dari wajah mereka. Bahkan beberapa siswa-siswi menoleh ke arah mereka karena bingung. Namun mereka sama sekali tak mempedulikan tatapan aneh itu. Terpenting, mereka akan mencoba mengikhlaskan sahabat lelaki mereka itu dan membuka lembaran baru tanpa melupakan sosok penting itu.


"BU ES TEH ANGET SATU! " ngawur Luna memesan dengan semangatnya. Lesya yang mendengar memukul bahu Luna keras. "Mana ada konsepnya begitu Lunaaa... " kesal Lesya datar.


"MAKSUDNYA ES BU.. '


"Hehehe, ya maap... Gw terlalu semangat sih makanya bisa typo nyebut barusan " ngakak Luna ditanggapi putaran malas bola mata Lesya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Sorry, waktu di pemakaman Leon gak author spill soalnya mengandung bawang semua, so harap ngerti lah ya🤧


Jangan lupa ya selalu pastiin ada jejak kalian di novel ini, bye-byeee and thanks you udah baca🌻

__ADS_1


__ADS_2