
"Mau bebas? Gampang kok caranya. Lo cuman diam, jauhin Elvan, jangan usik ketenangan gw! Selama ini karena gw terlalu utamain lo tanpa liat lo salah atau enggak, ternyata itu yang buat lo merasa benar tanpa cela." kata Lesya.
"Lo udah rencanain tentang penculikan gw sama Vion. Gw juga tau, lo nyuruh Vion bunuh gw karena alasan mau rebut Elvan dari gw. Sorry Tha, gw bukan mau pertahanin Elvan tapi gw mau pertahanin harga diri gw yang hampir down karena lo. Lo juga nyuruh Vion buat ngelakuin hal yang seharusnya gak dilakuin kan? Jangan kira gw gak tau karena sebelumnya Leon yang kasih tau ke gw tentang rencana busuk lo di LEZXRBAR! "
Letha terdiam dan mengepalkan tangannya kuat. Ingat dengan episode sebelumnya? (Episode 347) Orang yang menyetujui perjanjian itu adalah Letha. Dan lawan bicaranya itu adalah mendiang Vion sendiri. Melihat raut wajah Letha yang terlihat ketakutan, membuat Lesya sedikit tak tega.
"Sebelum Leon meninggal, dia sempat kasih vidio sama gw setelah satu hari kita ngumpul di rumah buat diskusi. Awalnya gw kaget tapi gw ikutin terus alur lo. And than, gw tanya siapa yang rugi sekarang? Gw atau lo hem? "
Letha mengepalkan tangannya kuat dan berusaha agar lepas dari borgol yang mengikatnya. Melihat ketakutan sekaligus pemberontakan dari dalam diri sang adik, Lesya menepis pelukan Elvan dan menatap lelaki itu.
"Pan, lepasin ya please? " pinta Lesya.
Elvan menautkan alisnya bingung dan menggeleng seolah tak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja. Namun karena tanggap, Lesya segera membujuk Elvan agar mau melepaskan kembarannya. Terlebih di saat mereka melihat jika tangis Letha pecah karena ingin dilepaskan.
"Fine, lo bisa kurung dia lagi tapi setelah nanti kelulusan. Sekarang gw mohon jangan, cukup gw dan mami yang ngalamin luka psikis, gw gak mau nambah orang di keluarga gw Pan." final Lesya yang lagi-lagi mencoba membujuk Elvan agar mau melepaskan sang adik.
"Lo bisa awasin dia dari jarak jauh kok. Lo juga boleh ngelakuin apa aja sama dia asal setelah kelulusan atau setelah ujian aja gimana? " lanjut Lesya menawar sekaligus bernegosiasi dengan hati-hati.
Sekilas Elvan melihat raut wajah Lesya yang memohon. Mau tak mau dia menyetujui walau sedikit berat. Bayangkan saja Elvan sama sekali belum menyiksa mangsanya namun sudah diminta kabur lagi. Dan jika kabur, Elvan hanya cemas jika Letha tiba-tiba melukai Lesya untuk kesekian kalinya.
Lesya beranjak berdiri dan memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut walau tak se berdenyut tadi. Cukup cemas melihat tubuh Letha yang bergetar ketakutan dengan tangisnya. Itu mengingatkan dirinya tentang bagaimana Mila setelah dinodai oleh Galang—ayahnya. Dan dia tak mau cerita itu kembali terulang kedua kalinya.
"Harus gimana lagi biar lo setuju untuk kali ini Pan? Apa perlu gw berlutut biar lo setuju? Atau perlu gw gantiin posisi Letha? " ujar Lesya dengan nada pelan.
__ADS_1
"Ck, iya-iya gw lepasin hanya nyampe selesai ujian. Selama ujian dia bakal terus gw awasin dan setelah selesai ujian nanti, gw balikin lagi dia ke tempat ini. Udah puas? " jawab Elvan lalu segera pergi dari sana untuk memanggil Farel. Karena memang sejak tadi hanya Farel yang memegang kunci borgol nya.
Semua orang kini ikut masuk saat Farel yang sebagai pembuka kunci dipersilahkan masuk. Tentu saja mereka semua kaget dengan kondisi Letha. Terlebih pada Amel dan Nayla yang tak kuat melihat temannya terpuruk begitu.
Setelah Farel membuka borgol, dengan segera kedua temannya yang berdiam diri kini berhamburan memeluk Letha. Letha hanya diam saja. Seolah dia sadar dengan semua kelakuannya, tubuhnya bergetar walau tak begitu terlihat.
"Lo lepasin Queen El? " tanya Luna.
Lesya hanya mengangguk pelan saja. Dia hanya tak mau peristiwa yang membuat ketakutan besar secada pribadi terjadi padanya juga mendiang Mila kembali mengalir pada Letha. Dalam keluarganya, cukup dia dan sang mami yang mengalami, Letha jangan.
"K-kak,"
"Bukannya waktu acara makan malam sama Ayah juga Bunda lo nolak gw? Dia bukan kakak aku! Itu ucapan siapa? Jangan cuman manis di mulut, lakuin kalau lo mau akuin gw kakak lo, paham? "
"Lesya apaan sih lo?! " emosi Nayla.
"Why? Tanya aja sama Bunda juga Ayah. Dia gak ngakuin gw duluan, terus gw ngalah lagi gitu? Sorry, gw udah capek ladenin kalian." balas Lesya memutar kedua bola matanya karena jengah.
"Jangan lupa gunain waktu lo sebaik mungkin sebelum lo balik masuk lagi ke tempat ini! Jangan buat hal aneh lagi, karena bukan gw lagi yang awasin lo, tapi Elvan!Gw capek, bye... " lanjut Lesya dengan suara pelan lalu berjalan meninggalkan mereka semua di sana.
"QUEEN ELLION?! " panggil Luna namun tak ditanggapi oleh Lesya. Memang sengaja Lesya memilih segera pergi agar tak kembali membuat kerusuhan kembali dan dilihat oleh yang lainnya.
"Bawa kaca sebelum bertindak! " datar Elvan tak kalah pedas lalu pergi menyusul Lesya yang lebih dahulu pergi ke luar. Awalnya dia ingin menolak negoisasi Lesya namun mengingat masa kelam membuat Elvan menjadi setuju saja sebelum berdampak pada tekanan psikis. Bagi Elvan cukup seminggu yang lalu, untuk sekarang jangan lagi.
__ADS_1
Lesya segera duduk di kursi kebesaran ketua gangster yang dia tempati. Kursi yang cukup besar dan juga dapat berputar membuatnya nyaman untuk sekedar menumpang tidur sejenak saja.
Akhir ini dia seolah sedang mengalami insomnia karena perlahan mulai tak teratur tertidur karena mengejar deadline tugas-tugasnya. Dia sudah berniat insyaf dari jiwa malasnya. Kalaupun dia tertidur, harus dengan tepukan pelan dari Elvan saja agar dapat tertidur lelap.
"Ekhem.. "
Deheman yang cukup keras itu membuatnya kembali membuka matanya walau sedikit berat. Dia dapat melihat postur tubuh tegap seorang lelaki yang familiar dengan matanya yang sayu menahan kantuk. Biasanya sepulang sekolah, dia langsung berlari kepada kasur dan menghabiskan malam dengan tumpukan buku-bukunya.
"Kenapa lagi? "
"Kemaren bukannya mau ketemu Justine? Kok malah mau tidur? " ledek Elvan membuat Lesya membuka kedua matanya lebar karena tak terima diledek. Namun karena masih dalam mode menahan kantuk, Lesya hanya merentangkan kedua tangannya seolah meminta digendong oleh Elvan.
"Gw ngantuk, gendongin."
Elvan hanya terkekeh pelan saja mendengarnya. Dengan segera dia berjongkok membelakangi Lesya hingga gadis itu beralih pindah ke atas punggung Elvan. Dalam hati Lesya hanya terdiam saja dengan semua perlakuan Elvan padanya. Berawal caci maki, saling kesal, menjadi musuh, dijodohkan, sikap dingin, mulai terbiasa lalu saling nyaman.
Pertanyaan dalam benak Lesya untuk Elvan hanya satu. Kok bisa ada orang sesabar Elvan walau mereka dahulu sebuah rival utama di sekolah. Ada yang bisa jawab? Tapi itu hanya Elvan juga author saja yang tahu jawabannya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Done, sesuai janji author update 2 bab. I'm so sorry karena gak bisa update banyak kayak dulu-dulu karena harus bagi waktu sama buku alias tugas, xixi :v
__ADS_1