Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
161: Bahaya!


__ADS_3

Lesya melirik jam tangannya seraya berdecak malas. "Ck! Siapa sih yang nyari gw? Lama banget! " kesal Lesya bergumam dan memutuskan beranjak namun terhenti dengan suara bariton yang terdengar di telinganya. "Udah lama ya? " ucap orang tersebut.


Menoleh, Lesya menatap dingin Rio yang membawa beberapa buket bunga yang berada di tangannya. "Maaf ya, soalnya banyak penggemar yang minta foto sama tanda tangan! " Lesya berdehem kecil saja. "To be the point! "


Rio mendesah panjang mendengar nada bicara Lesya yang dingin dan datar. Berbeda jika sudah bertemu Luna, Leon, dan lainnya. "Maaf! A-aku tau aku salah, tapi.. Plis maafin aku! "


Lesya menatap tajam Rio yang memohon di depannya. Dapat dia lihat tatapan mata Rio menyendu. "Maaf? Ck, mimpi! " Rio menahan tangan Lesya yang hendak pergi dari sana. "Plis, "


Lesya menghela nafasnya dan mengangguk saja. Boleh jujur? Jika dia sudah tak mempermasalahkan soal perkara Rio. Dia hanya sakit saja mengingat kejadian dirinya terkurung. Boleh tukar posisi? Dia tak ingin dirinya hidup dengan kegelapan!


"Oke gw maafin! " Mata Rio berbinar-binar mendengarnya. "Serius? Jadi kita bisa kayak dulu la--- " Paham, Lesya dengan cepat memotong pembicaraan Rio. "Gw maafin bukan berarti kita bisa kayak dulu! Paham?! " tegasnya.


Rio melepaskan cekalannya dan mengangguk pasrah saja. "Oke, gak masalah! Asal kamu maafin, aku yakin kita bisa bersama kayak dulu!  Aku bakal mulai dari nol lagi berjuang dapetin hati kamu! Aku janji kok gak akan nyakitin kamu lagi Sya! Pliss terima aku lagi! " ucap Rio.


Lesya menyunggingkan senyum miringnya. "Janji matamu! " balasnya lalu pergi dari sana meninggalkan Rio. Rio berdecak frustasi memikirkan cara agar Lesya dapat kembali padanya lagi. "ARGGHH! Bangs*t! "


Lesya bersiul kecil dan menatap arah sepatunya. "Eoh? Kelepas? " Berjongkok, Lesya membenarkan tali sepatunya.


Brruukk!


Saat hendak berdiri, Lesya menoleh ke arah belakangnya. Rupanya seorang lelaki tegap sudah berusia dengan wajah datar dinginnya terjatuh karena tak sengaja menyenggol satu siswi di sana. "D-dia? "


"Maaf, saya buru-buru! " Siswi yang tertabrak dan jatuh itu mengangguk. Namun bukan itu permasalahan Lesya saat ini. Siswi yang tertabrak itu adalah Letha. "Iya gak papa! "


Deg!


Perasaan lelaki tersebut dan Lesya mendadak tak karuan. "Ara! " Letha menoleh dan terkejut di saat Lesya dengan cepat menarik dirinya. "Ihh kakak!! " bantah Letha saat ditarik namun tak dihiraukan oleh Lesya.


Lelaki tegap yang sudah berumur tersebut terdiam tak percaya. "It-itu? Me-mereka? Nyata?! " gumamnya getir tak terdengar. Galang! Itu namanya.

__ADS_1


Galang tersenyum dengan wajah yang tak dapat diartikan. Sedikit informasi jika Galang adalah salah satu anggota Sakh! Ingat? Jika tak salah dia anggota yang meletakkan box di dalam tas Lesya. Namun bukan dia pelakunya!


Kembali kepada Lesya yang menarik Letha hingga belakang taman. "Apaan sih lo kak?! Sakit tau gak?! " Lesya melepaskan tarikkannya dan mengatur nafasnya. "Gak papa! Pokoknya, jangan ketemu lagi sama orang yang tadi! "


Kening Letha mengerut bingung. Mengapa? Siapa? Pikirnya. "Tadi? Yang nabrak? " Lesya mengangguk dan memegang bahu sang kembaran. "Iya! Pokoknya jangan ketemu dan sentuh dia! Bahaya! "


Penasaran, Letha akhirnya menggeleng tak percaya. "Bahaya kenapa? Toh tadi dari wajahnya dia orang baik kok! " Lesya menggeleng cepat. Dia bingung mengapa adiknya itu dapat cepat mengira semua orang itu baik? Pikir Lesya bingung.


"Dia gak baik! Emang wajahnya keliatan baik, tapi hati dia busuk! Jangan percaya sama dia! Dia itu berbahaya! " Letha mengepalkan tangannya kuat karena tak paham. "Apaan sih maksudnya kak?! Bahaya? Bahaya gimana?! Dan lo bilang gak boleh sentuh? Maksud lo apa sih?! Bod*lah gak jelas penjelasan lo! " gerang nya.


Lesya menghela nafasnya dan mengacak rambutnya frustasi. Dia tak dapat bercerita kepada Letha karena tak mau menambah beban pikiran sang adik. Biarlah dia yang tanggung asalkan sang adik baik-baik saja! Itu prinsipnya.


Namun sekarang? Letha justru dibuat kebingungan oleh Lesya dan akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa pamit membuat Lesya tak tahu harus bagaimana berbicara. "Argh! Bangs*t! " geram Lesya bergumam.


Meninggalkan tempat, Lesya memilih kembali ke tempat semula namun dirinya justru menemukan Luna dan Lisa melahap beberapa cokelat yang ada. "Makan kok gak ngajak gw sih?! " kesalnya.


"Siapa yang nyari Sya? " Lesya duduk dan mengambil beberapa jenis cokelat kesukaannya yang memang berada di sana. "Teh Rio! " jawabnya enteng.


Luna dan Leon melotot tak percaya. Bahkan Luna saja menjatuhkan cokelatnya yang tersisa 4 kotak lagi. "WHATT?! HAH?! TEH RIO?! "kompak Luna dan Leon bersamaan. Lesya mengangguk enteng saja. " Ho'oh! "


Luna menghentakkan kakinya ke bawah berkali-kali membuat dirinya tampak imut. "Wah enak nya dia dipanggang apa digoreng ya Yon? " Leon menggeleng. "Dibakar aja! " jawabnya tak kalah kesal.


Lesya menggeleng dan mengambil kembali cokelat yang berbentuk box yang lumayan besar. Isi box tersebut beberapa permen cokelat dan ada ice creamnya di dalam yang masih beku dilengkapi beberapa batang cokelat yang ada. "Mending disiksa dulu! Btw ini dari siapa lengkap bener! "


Mereka menoleh dan melihat isi box tersebut. "Dari.. Kalo gak salah dari Letha kan Van? " tanya Ken balik kepada Elvan yang fokus dengan ponselnya. Elvan melirik sekilas dan mengangguk. "Habisin aja! "


"Serius? " binar Lesya melupakan dari siapa box tersebut hadir. Elvan mengangguk sebagai jawaban dan fokus dengan ponselnya. "Iya! "


Tanpa basa-basi baik Lesya, Luna, Lisa, Leon, Valen, Ken, Frans, dan Farel melahap isi box yang lumayan besar tersebut dengan rebutan. Mereka tahu jika varian tersebut sangatlah enak dan hanya dapat dibeli oleh orang tertentu.

__ADS_1


Letha yang membeli itu saja harus melewati dan menunggu beberapa bulan persiapan hadiah tandingan basket. Dan untuk orang yang terpandang termasuk Elvan tak membeli itu karena malas alias penunggu gratisan.


"Gil* cokelatnya pas banget dimulut! "


"Lumer lagi! "


"Pengen nambah! "


"Inget gender! "


"Serius enak woy! Gak mandang gender nih penjualnya. "


"Habisin tanpa bac*t bisa gak? "


"Ampun bu Lesya! Sya! Sya! Sya! "


Pletak!


"Mamp*ss! Haha.. Lagi Sya! "


"Kurang kenceng! "


"Diem or gw sleding? "


Banyak ocehan tak jelas dari 4 kawan Elvan dan Lesya dkk yang terdengar. Elvan yang tak mencicipi bahkan hanya memainkan ponselnya menghela nafas sabar. "Pan, serius gak mau? Enak loh! " tanya Lesya menawari.


Elvan melirik dan menggeleng. "Habisin aja! " Valen melahap ice cream yang ada di sana dan menatap sahabatnya itu. "Serius Van gak mau? Masih ada nih walau sedikit doang sih! "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2