Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
122: Beli ponsel!


__ADS_3

Dengan cepat Lesya melepaskan injakkan nya dan menyengir tak berdosa sekilas saja kepada Lisa. "Lisa! Bisa gak usah ajak Lesya ke arena balap? " tanya Mayang.


Lesya menggeleng. "Gak papa kok bun serius! Lagi pula siapa tau kan makin akrab bun! " Lesya berpura merangkul pundak Lisa. "Iw! Siapa yang mau akrab sama lo hah?! "


Lesya menatap tajam Lisa. "Diem biar bisa balapan! " bisik Lesya. Lisa menyenye saja dan tersenyum kepada Mayang dan Angga yang menatap heran mereka.


"Terserah deh! Tapi besok gak boleh ya! Mau mobil atau motor gak boleh dipake!" Lesya mengacungkan tangannya dan membentuk huruf 'O'. "Lepas! Tante kamarku masih yang dulu kan? " tanya Lisa.


Mayang mengangguk. "Masih! Di lantai 3 sebelah kanan! " Lisa melepaskan rangkulan Lesya dan pergi dari sana. Sebelumnya, dia menyempatkan untuk memeletkan lidahnya ke arah Lesya.


Sontak Lesya yang paham dengan maksud Lisa yang berniat mengejek dirinya, berlari menyusul Lisa. "Heh berhenti woy! "


"Hahayy.. Lekacang gak berani jujur! " Lisa dan Lesya terus berlari di sepanjang perjalanan menuju lantai 3 rumah itu. "Heh kutulisa gw berani aja ya! "


"Heleh! Tangkep kalo mampu! " Lesya berhasil menangkap Lisa dan akhirnya mereka berdebat walau pemenangnya seri. Mayang, Angga, Elvan, dan ART yang mendengar itu hanya geleng kepala saja. "Bun, Yah pamit! " pamit Elvan.


Mayang mengangguk pelan. Mereka menatap kepergian Elvan sekilas. "Mereka lucu ya! " ucap Mayang. Angga mengangguk kecil. "Ayok bikin adek lagi biar lucu kayak mereka! "


Mayang yang menatap suaminya menaik turunkan alis tersipu. "Inget umur! " Angga terkekeh kecil. "Gak papa yang penting sama istri sendiri! Ayok! "


Elvan yang masih tak jauh dari sana menghela nafasnya. Tak asing lagi baginya melihat kedua orang tuanya membahas soal itu. Bahkan terkadang dia mendengar suara desahan mereka.


Dengan cepat Elvan melangkahkan kalinya menuju kamarnya. Tanpa sengaja dia melihat perdebatan antara Lisa dan Lesya yang masih berlanjut. "Kiri beg*! "


Elvan masih tak paham apa yang diperebutkan oleh kedua gadis tersebut karena dia hanya mendengar saja. Sementara pintu kamar hanya terbuka kecil. "Kanan weh! "


Elvan dengan cepat membuka pintu kamar dan melihat dimana kedua gadis justru memainkan PS milik Lisa yang ada. "Yeyyy! Uhuy! Gw menang lagi! Mana?! "


Lisa berdecak di saat dia kembali kalah melawan Lesya. Tiga kalinya dia bertaruhan makanan kepada Lesya dan tak satu pun diantara itu dirinya yang menang.

__ADS_1


"Sial*n! Menang mulu lo njek! Lo pake pelet ya! " Lesya beranjak berdiri dan menatap Lisa melotot. "Heh! Lo gak terima kekalahan? Mana gak cokelat nya?! "


Elvan menatap tajam sekaligus malas dengan tingkah kedua gadis di depannya ini. "Ekhem! " Sontak kedua gadis yang tengah berdebat itu menoleh ke arah Elvan. "Apa! "


"Balik kamar! " Elvan memegang tangan Lesya agar kembali ke kamar mereka. "Tunggu dulu! Mana cokelat nya? " Elvan mengkode Lisa agar segera memberikan cokelat yang dimaksud Lesya segera.


Mengerucutkan bibirnya, Lisa dengan berat mengambil cokelat yang dia pertaruhkan kepada Lesya tadi. Edisi terbatas yang ingin Lesya beli berada di depan matanya. "Uwoo! Cokelat kesukaan gw! "


Lesya menepis tangan Elvan dan mengambil cokelat yang dipertaruhkan oleh Lisa. "Noh puas lo?! " Lesya mengangguk. "Banget! Bye"


Lisa menghentakkan kakinya kesal melihat cokelat kesukaannya sudah menjadi milik orang lain. Belum sempat dia merasakan cokelat edisi terbatas yang baru saja keluar, Lesya justru sudah memilikinya. Sksk, kasian kau Lis!


Lesya sudah tak berada di kamar Lisa lagi. Dia pergi dengan senyuman mengembang menuju kamarnya. "Arrgh! Vano cokelat nya tolong balikkan ke gw ya! " pinta Lisa memegang tangan Elvan, sepupunya.


"Terima kekalahan! " Lisa berdecak kesal melihatnya. Justru Elvan tak membela dirinya yang notabenya sepupu kandung. "Elah istri lo boleh gak gw bakar?! "


Elvan menggedik-kan bahunya acuh. "Habis lo gw bakar! " Lisa berdecak malas mendengarnya. Dia justru mengusir Elvan keluar dari kamarnya. "Sono pergi! Balik ke kamar lo! Sepupu gw gak sih lo! "


"His sebel gw! Huwaa... My choco favorit! Sial*n lo Lekacang! " kesal Lisa menghentakkan kakinya.


Sementara berbeda dengan Lesya yang terkikik kecil mendengar suara kesal Lisa di kamarnya seraya memakan cokelat yang dia genggam. "Eum.. Enak! Pliiss gw gak nyangka edisi terbatas My Choco ada langsung di tangan gw! Hiks boleh loncat di kasur gak sih?! " gumam Lesya berceloteh kecil.


Posisi Lesya yang tengkurap di ranjang dan membiarkan sikut nya menjadi penumpu tubuhnya agar tak jatuh. Tiba-tiba saja dia terkejut dengan suara Elvan yang sudah berada di sampingnya.


Elvan berposisi tengkurap lalu mempotek lima kotak cokelat milik Lesya tanpa izin. "Jangan makan di kasur! "


"Masalahnya lo juga makan di kasur Papan! " Elvan tak menanggapi ucapan Lesya. Dia meletakkan kunci motor Lesya kepada sang pemilik. "Kunci motor gw! "


Elvan memutar bola matanya jengah. Dia menyentil dahi Lesya hingga dia meringis kecil. "Aw! Apa lagi sih?! " kesal Lesya.

__ADS_1


"Kayaknya susah lo ya bilang makasih doang! " Lesya menyenye tak jelas mendengarnya. "Iya! Makasih! " malas Lesya.


Elvan menatap tajam gadis di sampingnya ini hingga Lesya tersenyum paksa. "Makasih Elvan yang baik hati! " Elvan mengangguk dan memainkan ponselnya. "Elah pake senyum segala gw! " gumam Lesya.


Elvan melirik Lesya sekilas yang menatap ponselnya. Dia mencari nomor Revan di kontaknya dan dipastikan Lesya tak mengerti arah pikiran Elvan.


📞 Halo bos? Eh maksud gw Vano!


📞 Beliin ponsel!


📞 Yang kayak gimana? IPhone? Vivo? Samsung? Xiomi? Merek apa dulu? Warna apa juga!


Elvan berpikir sejenak. Dia beralih menatap Lesya yang memakan cokelatnya seraya berusaha menguping pembicaraan. Elvan menutup ujung ponselnya dengan satu tangannya. "Suka warna apa? "


Lesya mengernyitkan alisnya bingung. Namun, kebingungan nya itu tak berarti dia tak menjawab pertanyaan Elvan. "Hitam, biru, abu, merah! "


Elvan mengangguk paham. Dia kembali melepaskan ujung ponselnya dan berbicara dengan Revan di seberang sana.


📞 Persis kek ponsel gw!


📞 Warna apa? Btw buat siapa? Tumben!


📞 Hitam!


Tutttt!


Lesya menatap Elvan penuh tanya. "Kenapa? Btw, ngapain lo minta beliin hape? Nanya warna ke gw pula! " tanya Lesya bertuntun.


"Buat lo! " Lesya tercengang tak percaya. "Bu-at gw? Buat apaan? Jangan bilang lo risih kalo gw ngeliat hape lo?! " Elvan menggeleng. "Biar bisa dihubungin! "

__ADS_1


Lesya mangut-mangut paham saja mendengarnya. "Serius buat gw? " Elvan mengangguk singkat. "Kenapa? Gak suka?" Lesya mengangguk cepat. "Aaa.. Thank! Gw lagi mager pergi tau-taunya ada elo yang beliin! "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2