
Seusainya membersihkan diri, Lesya keluar dengan pakaian lengkapnya yang bermotif kotak-kotak navy.
Lesya melihat Elvan yang masih berkutat dengan laptopnya. Wajahnya sangat terlihat serius membuat Lesya tak ingin menganggu anak kelas A itu.
Lesya berjalan ke kasurnya dan memainkan ponselnya. Banyak notifikasi dari guru-gurunya karena dirinya tak mengerjakan tugasnya.
"Shit! Diteror gw pake tugas! " gumam Lesya kecil. Lesya melempar ponselnya ke sembarang arah dan mengambil remote TV.
Lesya menekan tombol merah ke arah TV dan mencari film yang seru ditontonnya. Ketemu! Film bergenre horor misteri kesukaan-nya tiba saat ini.
Mau tahu arah ponselnya dimana? Dikasur Elvan! Ponsel Lesya bergetar berkali-kali menandakan banyak notifikasi yang masuk.
Lesya tak peduli akan itu. Menurutnya, film kesukaannya itu jauh lebih bermanfaat dibandingkan tugasnya. Anak malas!
Film kesukaan Lesya perlahan mulai habis. Dan itu bertepatan mata Lesya mulai sayu akibat kantuk yang berat. Perlahan Lesya terlelap dengan posisi abal-abalan.
Kini hari sudah menjelang subuh dan Elvan masih berkutat dengan laptopnya. Sekitar jam satu subuh, Elvan selesai dengan tugas-tugasnya.
Dia merenggangkan ototnya dan melirik jam dinding yang terpajang di sana. Dia melihat sekelilingnya yang menampilkan Lesya yang tertidur pulas dengan TV yang masih menyala.
"Kebiasaan! " gumam Elvan malas. Seperti biasanya Elvan meletakkan laptopnya dan berjalan menuju ranjang Lesya.
Posisi tidur Lesya kini sudah benar akibat perbuatan tangan Elvan. Layar TV yang menyala sudah tertutup. Dia berjalan ke ranjangnya dan mendapati ponsel Lesya.
Elvan mengambil ponsel tersebut. Layar ponsel menampilkan wajah sebuah keluarga yang lengkap. Ada ayah, ibu, dan dua anak kembar perempuan.
Dengan cepat Elvan mengetahui bahwa itu adalah keluarga Lesya yang dulu. Bahkan Lesya sempat mengigau, "Rara kangen papi! " ngigo-nya.
Elvan meletakkan ponsel Lesya di nakas samping ranjang Lesya dan menutup lampu. Hanya lampu tidur saja yang menyala. Tepatnya dua lampu yang berada di masing-masing nakas.
Elvan membaringkan tubuhnya di kasurnya tak lupa menutup tirai pembatas mereka. Perlahan Elvan memejamkan matanya dan tertidur.
~o0o~
Jam pelajaran akan segera dimulai. Lesya tergesa-gesa berlari ke kelasnya. Hampir saja kelas ditutup oleh bu bunga, dengan cepat Lesya menahan itu.
"Bu, hahhh! Cape" gumam Lesya. Bu bunga yang merasakan pintunya tertutup, melihat siapa yang menahan, Lesya!
__ADS_1
"Lesya?! Baru dateng? " Lesya mengangguk sebagai jawaban. Dia mengatur nafasnya sebelum masuk, "Cape bu, masuk ya" melasnya.
"Masuk! Saya mau nagih utang tugas kamu! " Lesya masuk saja. Mau dihukum atau tidak itu belakangan baginya.
Lesya berjalan santai ke arah Luna dan segera duduk di sampingnya. Seperti biasa Luna geleng-geleng saja jika Lesya terlambat. Tapi tidak dengan Lisa dan Vannya.
"Telat? Niat sekolah gak? " sindir Lisa. Lesya tak menanggapi sindiran Lisa dia asik bersiul kecil seraya melihat pemandangan luar sekolah.
"Dasar queen telat! Caper kan sama pacar gw?! " sindirnya dari jauh tanpa suara. Pacar yang dimaksud oleh Vannya adalah Elvan!
Lesya juga tak menanggapi hal itu. Kalian tau? Kebanyakkan novel menampilkan antagonis pelakor? Itulah Vannya.
Bu bunga mengabsen setiap murid dan melanjutkan materi sebelumnya hingga pelajaran selesai.
Sebelum Lesya pergi ke kantin, bu bunga mengusir setiap anak kecuali Lesya dan Luna. Mereka tahu jika mereka akan ditagih oleh bu killer berpawang kepsek.
"Kalian kapan selesai tugas yang saya kasih? "Dengan kekompakkan-nya, Luna dan Lesya bersama menggeleng tak tahu.
Melihat kekompakkan yang dimiliki kedua sahabat ini, bu bunga merasa geran., " Luna, kamu sisa dua tugas bukan? Kerjakan atau ibu skors kamu?! "
Luna melotot tak terima, "Yah bu jangan di skors dong, saya udah selesai kok cumen bo'ong doang" jujurnya mengungkapkan kebenaran.
"Trus kenapa bo'ong? " tanya bu bunga selidik. Luna melirik Lesya, "Saya kan gak mau sahabat saya dihukum sendiri kasian bu"
Bu bunga menghela nafas dalam, "Iya terserah kamu, mana tugasnya? " Luna memberikan tugasnya kepada bu bunga.
Kini Luna diperbolehkan keluar tapi tidak dengan Lesya. Lesya berasa akan ada gunung api yang akan segera meletus. Benar saja!
"Kamu liat? Sekarang tugas kamu dari dulu sampe sekarang sama sekali belom tuntas! Ditambah kamu yang sering bolos plus alpa. . . " jeda bu bunga mengatur nafas.
Lesya bersiap saja di saat bu bunga melanjutkan ucapannya. Setelah berasa normal, bu bunga bertanya "Kamu niat sekolah gak? "
Lesya menggeleng jujur saja. Dia sekolah hanya menjaga Letha plus tak dicurigai oleh orangtuanya. Itu saja tak lebih!
Bu bunga menghela nafas, "Tujuan kamu sekolah apa? " Justru, Lesya berbalik bertanya, "Menurut ibu, tujuan bersekolah itu apa? "
"Menimba ilmu" jawabnya tak sadar. Lesya menepuk tangannya sekali dan menunjuk langit-langit kelas.
__ADS_1
"Itu ibu tau! Jadi, tujuan saya ke sekolah adalah menimba ilmu. Tapi saya gak niat sekolah" jelas Lesya.
Bu bunga menghela nafas sabar menghadapi muridnya yang satu ini, "Terserah kamu! Yang penting, kamu harus selesai tugas kamu! " finish bu bunga.
Lesya mengangguk setuju dan mengeluarkan suaranya lagi, "Kalo gak lupa plus ada waktu"
"ALEESYAAA! " geram bu bunga. Lesya tertawa ngakak dan keluar kelas menuju kantin.
Saat berjalan santai di koridor sekolah, Vannya datang dengan satu temannya. Lesya memutar bolanya malas melihat kedatangan musuhnya.
"Yoo, kebanggaan kita udah dateng! Sambut queen late kita yang caper" seru Vannya lantang. Banyak murid yang mendengar menyeru ucapan Vannya.
Lesya tertawa sinis, "Wah, fans gw terlalu baik nyampe gw disorakin. Thank and bye! "
Vannya menggeram marah mendengar itu. Auli, teman Vannya menenangkan Vannya yang marah. Lesya tertawa dan pergi dari hadapan dua makhluk tersebut.
Lesya berjalan sekaligus bersiul menuju kantin. Hatinya tertawa puas melihat Vannya yang menggeram marah. Rasanya puas sekali baginya!
Dia memesan satu porsi somay pedes dengan es teh dan membawa pesanannya itu ke meja Luna dan Leon.
"Woy! " Sapa Lesya dan duduk di satu kursi yang kosong. Luna memajukan kepalanya ke arah Lesya.
Lesya menatap aneh Luna, "Why? Ada yang salah? " tanya Lesya menebak. Luna menggeleng cepat, "Dihukum? "
Lesya menggeleng. Memang dia tak dihukum oleh bu bunga. Luna menghela nafasnya lega merasa pengorbanannya tak sia-sia.
"Lo juga! Ngapain pake acara gak ngerjain tugas buat dihukum bareng? " Luna menyengir.
Leon yang tadi menyimak, kini paham maksud pembicaraan., "Lagi? " tanya Leon. Lesya mengangguk.
"Haiss, kalian ini ya! Sudah dibilang berapa kali kerjain semua tugas hah? Mau gw lapor-in sama bang Alam? " omel Leon bak emak-emak memarahi anaknya.
"Yaaakkk! Kalo sempet lo bilang gw multilasi lo! " balas Luna tak terima.
"Gw gak peduli! Bikin kenangan sebelum waktu berlalu itu indah, so seneng dulu sebelum masa muda berakhir" timpal Lesya. Luna mengangguk setuju dengan ucapan Lesya.
Leon pasrah saja jika mereka sering membolos, telat, bermasalah di sekolah. Selalu itu alasan mereka.
__ADS_1
Bahkan dirinya, Alam dan Cakra sudah pusing mendengar surat cinta dari sekolah. Khususnya Lesya yang paling banyak mendapatkan surat cinta sekolah itu.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗