Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
216: Pesan Mila!


__ADS_3

Ternyata tak hanya Lesya saja yang datang, namun di depan ruang tunggu sudah ada Letha, Amel, dan Nayla di sana. Bahkan, di ruang itu juga sudah ada Gilang dan Galang yang ikut hadir.


Dengan bantuan kursi roda yang di dorong oleh Elvan, Lesya terdiam saat pandangan matanya bertemu dengan Galang. Tangannya mengepal kuat melihat sosok itu ada di ruangan tunggu.


Tap, tap, tap!


Plakk!!


Panas rasanya! Lesya ingin membalas serangan itu namun dia tetap tahan semuanya. Letha yang melihat kepalan tangan Lesya, membuat dirinya teringat dengan mimpinya semalam.


"K-kakak? " gumam Letha pelan nyaris tak terdengar.


Bukan Letha ataupun Nayla yang menampar pipi Letha. Namun, Mily! Dia juga hadir di ruang tunggu operasi itu. Mayang yang melihat menarik Mily agar menjauh dari Lesya. "Mily! "


"Diem May! Anak sial*n harus dihajar! Bisa-bisanya baru nampakin diri sekarang! Kemaren-kemaren kemana hah?! " kesal Mily berusaha memberontak dari cekalan tangan Mayang.


Deg!


* Kata-kata itu lagi! Udah lama gak gw denger, akhirnya terdengar lagi! * batin Lesya memegang pipinya.


Luna yang terbawa emosi mengepalkan tangannya kuat dan menunjuk ke arah Mily yang wajahnya padam amarah itu. "Anda yang harusnya dipertanyakan! Kemaren-kemaren Lesya kritis, ada gak yang jenguk? Sekedar tau aja enggak apalagi jenguk! " sinis nya.


"Diam! " dingin Lesya yang berusaha tak membuat keributan. Kepalanya hampir pecah mendengar keributan di hadapannya. Memegang kepalanya, dia menoleh ke arah Letha yang barusan angkat suara. "Kritis? Gimana gw gak tau kalau gak ada info dari lo? " tanya nya hampir tak terdengar.


"Apa dengan gw kasih info, kalian bakalan datang? "


Hening!


Tak ada suara lagi setelah Lesya angkat suara. Mily yang melirik Gilang tak ingin bersuara akhirnya kembali angkat suara yang dimana tujuannya ingin kembali ribut. Dasar provokator!

__ADS_1


"Lalu, bagaimana perkara paket aneh lo itu?! Lo tau? Karena paket sial*n itu, kakak gw bisa begini! "


Lesya melirik sekilas adik dari maminya itu yang menurutnya sangatlah menyebalkan. Dia tak tahu pembicaraan arah mana yang Mily bicarakan. Paket? Apa? Paket yang mana? Pikir Lesya tak paham. "Paket apaan? " tanyanya.


"Lo serius gak tau? Atau pura-pura amnesia? Paket bom loh! " jawab Amel menyahut. Lesya mengerutkan keningnya bingung dan menggeleng. "Enggak tau! Udah stop ngomong, gw pusing! "


Elvan yang berada di belakang Lesya berjongkok mengambil botol minum yang ada di kantung kursi roda. Dia kembali berdiri dan mmembuka tutup botol aqua ituitu lalu memberikannya kepada Lesya.


Lesya menerimanya dan meneguk sedikit karena masih tak berminat. Letha dkk baru saja menyadari keberadaan Elvan, Mayang dan Angga menatap mereka bingung. Mengapa mereka ada di sini? Seharusnya tidak! Pikir mereka.


Ceklek!


"Apa di sini ada yang bernama Lyra? Lara? Dan Elvano? " tanya satu suster itu. Lesya dan Letha berpandangan satu sama lain. "Saya! " kompak mereka bersamaan.


"Mari masuk, pasien ingin bertemu kalian! Dan untuk yang lainnya, tolong menunggu di sini! " ucap suster itu.


Mily yang hendak masuk, tangannya ditahan oleh Mayang. "Jangan! Yang dipanggil bukan kamu Mil, " ucapnya menggeleng. Mily berdecak dan menatap sinis ke arah Mayang yang menahannya.


Letha berdiri di sebelah Mila berhadapan dengan Lesya yang duduk di kursi roda. Dibelakang Lesya sudah ada Elvan dengan wajahnya tanpa ekspresi tetap memegang kursi roda milik Lesya.


Suasana hening karena Mila masih tertidur di alam sana. Hingga suara Letha yang terdengar, membuat Mila terbangun dan membuka matanya.


"Mi? " panggil Letha.


"Ka-lian udah datang? " ucap Mila dengan suara lesunya.


Di saat Lesya hendak menyentuh tangan Mila, dengan cepat Mila menepis. Bukan karena tak suka, tapi karena dia merasa tak pantas. Lesya terdiam dan menurunkan tangannya dan tidak lagi menyentuh Mila.


"Maaf! Mami gak kuat lagi! Mami mau susul papi kalian! Kalian jangan berantem terus, gak baik! Kalian itu saudari kembar, harusnya saling support satu sama lain! Jangan terlalu merebutkan satu hal yang tak penting, hidup kalian masih panjang! Banyak masalah yang ada di luar sana! " ucap Mila dengan mata yang sudah memerah.

__ADS_1


"Ara, jangan terlalu nyusahin kakak kamu! Sekolah yang benar, jadi kebanggaan mami! Harus taat sama kakak kamu! Jangan mudah percaya orang asing yang sama sekali kamu gak kenal! Karena bisa aja mereka punya niat jahat sama kamu! Jangan rebut orang yang bukan punya kamu! Sekolah dulu baru pacaran oke? "


Letha mengangguk polos saja. Matanya sudah berair sejak melihat kondisi Mila yang dilengkapi alat-alat medis di tubuhnya. Mila beralih menatap putri sulungnya, Lesya. "Maafin mami! "


Lesya memejamkan matanya mendengar kata maaf yang terlontar dari mulut maminya. "Lyra.. Mami tau mami sering cuekin kamu, mami sering lebih pentingin adik kamu dari pada kamu, mami sering nyusahin kamu, ma-mi. . . "


Tak tahu harus berkata apa lagi, Mila terisak memukul dadanya sendiri. Lesya dengan sigap berdiri dan memeluk wanita paruh baya yang melahirkannya itu dengan hangat. Kakinya yang satu, dia gunakan untuk menopang kakinya yang patah. "Mami gak boleh ngomong gitu! "


"Ma-mi juga minta maaf kalau mami pernah nolak kamu hadir di kehidupan mami! Sekarang, kamu udah besar, udah punya tanggung jawab, udah tumbuh jadi anak yang cantik! Mami bangga sama anak sulung mami yang selalu menang lomba dulu, maaf kalau mami gak pernah lihat kondisi kamu! " ucap Mila terisak.


Lesya menggeleng. Dirinya berusaha menahan tumpahan air hampir terkumpul di pelupuk matanya. Dia mendengarkan ucapan Mila dengan baik walau dirinya ingin menghentikan itu semua.


"Mami gak pantes jadi seorang ibu buat kamu dan Ara! Mami jarang masak buat kalian, mami jarang nemenin kalian, mami jarang ajakin kalian jalan-jalan bareng, mami. . . "


Letha menggeleng dan ikut dalam pelukan antara Mila dan Lesya. "Makanya mami sembuh baru kita jalan-jalan! " ujar Letha.


"Gak bisa! Mami udah cape dan sekarang mami mau pergi susul papi kalian! Kalian berdua harus terus bersama! Jangan saling benci! Kapan-kapan, kita bakal kumpul bareng-bareng lagi, tapi gak sekarang! "


Elvan hanya melihat dengan baik saja interaksi keluarga di depannya ini. Dia sesekali menopang tubuh Lesya yang hampir jatuh dengan tangannya. Pelukan ketiga perempuan itu terlepas dan Mila memanggil nama Elvan. "Elvano, "


"Iya mi? "


Letha dan Lesya sedikit terkejut dengan Elvan yang menyebut nama Mila dengan panggilan mereka. Pasalnya, Lesya jarang melihat Elvan dan Mila berkomunikasi. Sementara Letha memang tak tahu jika Elvan adalah suami kakaknya sendiri.


Mila tersenyum tipis mendengar panggilan Elvan padanya. "Jaga Lyra baik-baik! Dia anak sulung mami! Jangan buat dia nangis karena cukup mami yang buat dia terluka! Bahagiain anak sulung mami! Mami percayakan anak mami sama kamu yah! " ucap Mila. Elvan hanya mengangguk menanggapinya.


Sementara Lesya kembali duduk di kursi rodanya karena merasa nyeri pada kakinya. Berbeda dengan Letha yang sudah tak paham ke mana arah pembicaraan. "Mami. . . " panggil Letha.


"Mami tau kamu bingung kan? Tapi mami mohon, jauhin Elvan karena dia bukan punya kamu lagi! Mami cuman minta itu dari kamu Ar, mami mohon kamu ngerti! Sekarang kamu memang bingung tapi, nanti kamu bakal ngerti semuanya! "

__ADS_1


Letha hanya diam. Penjelasan itu tak masuk akal di benaknya. Namun, dia benar-benar ingin menjauhi Elvan entah kenapa. Seperti ada dorongan yang menyuruhnya menjauh dari sosok Elvan.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2