
Lesya mengangguk dan mengambil satu mangkok pesanannya. Lisa melirik isi dari mangkok Lesya. "Lo gak niat beliin gw gitu?"
Lesya menyenye malas dan akhirnya mengiyakan permintaan Lisa. "Pak yang satunya tadi jangan dibungkus ya!"
Penjual tersebut mengangguk dan menyodorkan satu jempolnya. "Siap neng!"
Tak berselang lama akhirnya mereka bertiga menikmati sarapan pagi mereka yaitu bubur ayam. Setelah merasa kenyang mereka beranjak dan mengambil pesanan bungkus mereka.
Tak lupa juga dengan Elvan yang membayar nominal harga walau hanya sebatas selembar uang biru. Karena tak memiliki uang biru tersebut, Elvan membayar dengan selembar uang merah tanpa kembalian.
Lisa dan Lesya kembali berdebat saat perjalanan pulang hingga membuat Elvan di belakang antara mereka berdua pusing sendiri. Entah apa yang mereka perebutkan, namun dapat di simak oleh Elvan hanya karena merebutkan rumah yang terlintas saja.
"Gw bakal punya yang jauh lebih besar nanti! "
Lesya berdecih kecil. "Ck! Gw bakal jauh lebih mewah dari elo! "
Akhirnya Elvan yang jengah angkat suara. "Diem! "
Lesya dan Lisa terdiam walau memang menatap sengit satu sama lain. Berbeda dengan jiwa lain Lesya yang kembali muncul.
"Fa fa fa? " gumam Lesya kecil.
Lisa mengangkat alisnya satu. "Lah? Ngapa lo? Kesambet? " Lesya dan menggeleng cepat. "Ha? E-enggak! Em ... enggak! "
Lisa dan Elvan bingung sendiri mendengarnya. Pasalnya, nada bicara Lesya terdengar gugup bagai dia menyembunyikan sesuatu yang mereka tak ketahui.
Lesya yang tak ingin satu rahasianya terungkap mengalihkan pandangannya. Dengan cepat dia masuk ke dalam halaman rumah megah bahkan lebih megah dari rumah lainnya dengan menenteng satu plastik yang berisi bubur ayam.
Lisa menatap Elvan bingung seolah bertanya. "Aneh gak, sih?"
Elvan menggedik kan bahunya dan memasuki halaman rumah megah miliknya itu. "Gini ini kalo punya sepupu kutub!"
Elvan tak mempedulikan cibiran Lisa. Dia fokus dengan pemikirannya saat ini mengenai keanehan yang terlihat dari tubuh Lesya tadi. "Sama kayak waktu dia mabuk!" gumam Elvan kecil.
Berbanding balik dengan Lesya yang bernafas lega. "Huftt! Syukur deh mereka gak curiga! Jantung gw mau copot! Untung masih sehat gw!" Lesya pergi ke dapur dan menemui Mayang yang baru saja tiba di dapur. "Bunda?"
"Lesya? Udah pulang? Sebentar bunda siapin sarapan dulu!"
Lesya menahan tangan Mayang yang hendak mengambil bahan-bahan makanan. "Gak usah bun! Tadi Lesya udah makan kok bareng Lisa sama Papan eh, maksudnya Elvan!" Mayang mengangguk paham.
__ADS_1
"Oh iya bun, ini buat bunda sama ayah sarapan nanti! Aku pamit ke kamar dulu ya bun," lanjut Lesya.
Mayang mengangguk. "Iya, tau aja bunda lagi laper!"
"Tau lah! Kan bunda habis tempur sama ayah ahaha...." Lesya terkikik kecil dan lari terbirit-birit mendengar Mayang yang menyebut namanya.
"Lesya...."
"MAAP BUN KECEPLOSAN!"
Mayang geleng-geleng kepala mendengarnya. Lisa yang baru saja tiba memutar bola matanya malas mendengarnya. "Sok akrab! " gumamnya berjalan menuju arah kamarnya.
Lesya yang sudah tiba di kamar merebahkan dirinya di ranjang. Dia mendengar gemercik air menandakan Elvan masih berada di sana. "Fyi, gw benci sama diri gw sendiri! " gumamnya
Lesya masih menunggu Elvan yang terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi, terduduk dan beranjak berdiri. Dia melepaskan jam sporty milik Elvan yang dia pinjam tadi di atas laci nakas.
"Huuh! Gerah! "
Elvan yang baru saja keluar dengan tangan yang mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil memanggil Lesya. "Le sono masuk!"
Lesya berbalik dan mengalihkan pandangannya. "Rambutnya pengen nyekek! " gumamnya menutup matanya dan berjalan menuju kamar mandi.
Karena berjalan dengan mata yang tertutup, Lesya tak sengaja menabrak kaki meja hingga dirinya terjatuh. "Aw! Elah pake acara ada meja di sini!"
"Telatt! "
Lesya menghentakkan kakinya berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi di tutup dengan kasar oleh Lesya hingga Elvan yang mendengar langsung paham.
"Dasar cewe!"
Elvan mengambil ponsel, beberapa lembar uang, masker hitam dan kunci motornya. Dia berniat pergi entah kemana tanpa pamit kepada Lesya. "Bun, aku pamit ya!"
"Vano? Kamu mau kemana? Masih pagi loh ini?" Mayang yang sedang sarapan bubur pesanan Lesya bersama Angga di ruang makan heran melihat penampilan Elvan yang uring-uringan bagai seorang badboy.
Dengan singkat Elvan menjawab, "minimarket Bun."
Mayang mengangguk. "Yaudah cepet balik, masih pagi ini!" Elvan mengangguk lalu menyalimi satu per satu punggung tangan kedua orang tuanya.
...~o0o~...
__ADS_1
Lesya terduduk di dudukan closet seraya menggigit ibu jarinya cemas. Bagaimana tidak? Dia terlupa dengan jadwal tamu bulanannya. Bahkan dia lupa men-stok barang khusus wanita itu. "Aduhhh! Tremor gw! Ngapa bisa lupa sihhh?!" gerutu Lesya memoyong kan bibirnya.
Karena sudah setengah jam lamanya Lesya berada di sana, akhirnya Lesya memutuskan untuk keluar walau dirinya tak yakin adanya Elvan di kamar. "Keluar gak ya?"
Lesya keluar dan celingak-celinguk bagai pencuri yang siap mencuri harta karun. Karena tak mendapati Elvan di kamar, dengan terbirit-birit Lesya berlari menuju lemarinya. "Hissst! Jaket gw mana sih?!"
Sementara di sisi Elvan yang sudah tiba di minimarket terdekat sejak beberapa menit yang lalu, bingung dengan merk yang harus diambilnya.
Tadi, tanpa sengaja Elvan melihat bercak darah di celana Lesya karena celana yang Lesya kenakan bewarna biru langit. Dengan yakin dan tanpa ragu, akhirnya Elvan memilih merk terbaik menurutnya karena dia cukup tahu masalah seperti ini.
Dahulu Elena pernah mengajarkannya guna satu per satu merk secara detail. Walau lelaki tak perlu memahami tentang itu, berbeda dengan Elvan yang justru bertanya dan menyimak dengan detail penjelasan Elena.
"Ini yang dipake kak Elen kan?" gumam Elvan yang akhirnya membeli beberapa bungkus merk tersebut. Dirinya juga menjadi tontonan beberapa wanita yang berlalu lalang.
* "Wah hebat ya! Lelaki idaman! Berani beli bahkan sentuh barang wanita!"
"Dilihat dari matanya kayaknya orangnya ganteng ya!"
"Pengen jadi pacarnya! Mudah-mudahan dilirik!" *
Setelah tak mempedulikan banyaknya ucapan dari kaum hawa yang memujinya. Setelah dirinya merasa cukup, Elvan beralih dengan beberapa snack yang ada.
Setelah dirasanya cukup, tak lupa dengan obat pereda nyeri, Elvan berjalan menuju kasir dan membayar pesanan nya. Mukanya yang ditutupi masker hitam hingga hidung hanya menatap datar sekelilingnya saja.
Malu? Tidak! Senang? Tidak juga! Menyesal? Tidak juga! Elvan biasa saja jika membeli barang keramat bagi kaum adam untuk pasangan atau wanita mereka.
"Wah, buat pacarnya ya mas?" tanya sang kasir dengan senyuman manisnya, saat Elvan sudah berada di meja kasir.
Elvan menggeleng. "Buat istri."
Sontak yang memperhatikan Elvan dan kasir tersebut menutup mulutnya tak percaya. "Nikah muda ya mas?"
* "Udah ada pawang dia!"
"Niat maunya jodohin malah eh, udah keduluan...."
"Idaman banget, sih." *
Elvan mengangguk saja. "Wah, semoga langgeng, ya, Mas. Totalnya tiga ratus dua puluh! "
__ADS_1
Elvan dengan cepat mengeluarkan sejumlah uang sesuai yang diminta. Dengan cepat Elvan keluar dengan dua kantung kresek lumayan besar karena banyak chiki di dalamnya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗