Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
401: Trying to Receive


__ADS_3

Episode 401: Trying to Receive


Di satu sisi lainnya, seorang gadis sedang duduk di sebuah ruang tertutup khusus dirinya sendiri. Tak ada yang tahu ruangan rahasia ini kecuali dirinya juga periharaan kesayangannya. Di saat hendak melampiaskan emosinya yang sudah memuncak, dia akan pergi ke tempat ini untuk menjernihkan pikiran.


Lesya, gadis itu menatap seluruh sudut ruang dengan matanya yang berkaca-kaca. Dua tamparan keras yang dia dapatkan setelah kembali melihat dunia kini tak terasa. Hanya terasa rasa sakit di saat julukan keramatnya keluar.


Siial? Ya, dia akui dia pembawa siial. Awal mula dari hadirnya dia yang mengacaukan hidup sang mami berakibat pada sekelilingnya. Diikuti oleh Mily yang saat itu ikut membenci kehadirannya, namun kebencian terhadap dirinya pudar karena tahu jika dia adalah anak kesayangan sang papi.


Papi? Satu sosok yang mampu membuat dunianya berwarna. Satu sosok yang pernah dia pergok sedang mengasah kemampuan bela dirinya. Tak terasa, ini sudah hampir 16 tahun pergi meninggalkan dia tanpa pengganti.


Hidup di dunia dengan banyak rintangan membuatnya menjadi pribadi introvert. Tak hanya itu saja namun rasa percaya terhadap orang lain mulai memudar secara perlahan. Hidup layaknya orang dewasa membuatnya sangat tahu persis dan paham mengenai watak, sifat, dan tujuan manusia duniawi.


Bertemu sosok yang mirip dengannya, membuat penasaran besar menyelimuti dia. Mencoba mengalihkan perhatian, dia mengambil beberapa helai rambut orang itu lalu pergi ke rumah sakit. Hancur juga pertahanannya saat itu. Mengetahui jika dia bukan anak kandung Arga dengan bukti nyata yang dia dapat, membuat mentalnya saat itu langsung breakdown.


Dengan bantuan support dari teman-temannya yang berhasil membuatnya kembali bersosialisasi dengan dunia juga terkadang mencoba berpikir positif dan menerima kenyataan. Dan di saat itulah kini dia mengambil nilai kerjasama tim yang cukup penting untuk saling menguatkan satu sama lain.


Hingga pada akhirnya tepat di rumah sakit dia kembali dipertemukan sebuah keluarga yang menerima dirinya melalui sang mami membuatnya bersyukur. Tinggal satu atap tanpa drama ini-itu kecuali di sekolah, cukup jengkel jika dia melihat setiap perilaku seorang lelaki yang mengubah warna hidupnya.


Elvan, lelaki yang pernah dia maki saat pertama kalinya kesan mereka bertemu kini menjadi sosok pengganti sang papi. Secara tak sadar, perlahan dia mulai bergantung pada lelaki itu walau terkadang dia sendiri yang membuat lelaki itu kecewa. Kesabaran menghadapi tingkah moodyan nya juga membuatnya terkadang heran.


Kok bisa sih dia sesabar itu padanya?


Tak ada satu kata sempurna di dalam dirinya. Hanya kegelapan yang masih terpancar di dalam dia. Bahkan dia juga menarik anak orang untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya. Jahat sih, ya tapi itulah dirinya. Apa yang perlu dia banggakan selama ini? Tak ada kesan bagus dalam dia dan itu membuatnya heran mengapa keluarga Grey justru memperlakukan dia dengan baik? Dia sendiri saja bukan orang baik.


Wajar saja jika dia dimarahi bahkan hingga ditampar oleh Henny karena tak becus menjalankan tugasnya sebagai ketua. Tak dipungkiri, dia adalah ketua yang lalai. Ketua yang baik pasti mampu melindungi seluruh anggotanya.


"Pemikiran lo salah Le, ketua yang baik itu pasti mau mengorbankan nyawanya demi anggotanya." koreksi Elvan datar lalu duduk di samping gadis yang sedikit terhenyak akan kedatangannya.

__ADS_1


Ya, awalnya Elvan sedikit tersesat di rumah mewah itu. Lesya terlalu terburu-buru berjalan ke arah belok berbelok. Beruntung saja karena bantuan harimau bersikap singa milik gadis itu yang kebetulan lewat membuatnya kembali dapat menemukan Lesya.


"Lo k-kok bisa di sini? " heran Lesya dengan alis yang berkerut. Namun sedetik dia paham walau hanya melirik Lion yang juga berada di sana. Pasti Lion yang bawa. Pikirnya tepat sasaran.


"Kenapa? Kecewa sama diri sendiri yang gak becus? " tebak Elvan lalu menatap setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan foto mendiang Arga alias Gatara. Sama sekali tak ada foto Lesya ataupun Letha juga Mila. Hanya ada Arga saja di setiap sudut-sudut ruangan khusus itu.


[Wait mau nanya, enakan manggil Arga atau Gatara? Jawab dikomenan paragraf ini ya…]


"Bukan, lebih tepatnya kecewa karena sambutan setelah gw operasi mata justru keadaan yang sama sekali jauh dari kata baik." ucap Lesya jujur. "Kirain di tempat ini kita semua bisa liburan tapi nyatanya gak semudah itu buat sekedar liburan bareng." sambung Lesya.


"Di saat semua orang sibuk mikir gimana dapat nilai yang baik supaya gak kena omelan orangtua, justru gw sibuk nyembuhin diri juga nunggu kabar perkembangan Leon. Harusnya mantan ketua OSIS ini ngarahin KETOS yang baru kepilih kan ya? " lanjut Lesya lagi diakhiri nada mencibir lelaki di sampingnya.


"Ya gitu, tapi lo nyusahin! " balas Elvan.


"Dah lah gw mau balik, otak gw udah fresh walau cuman sekedar ketemu foto papi." ucap Lesya yang perlahan bangkit dari duduknya. "Ayo Li, kita tinggalin dia nya! " sambung Lesya mengajak hewan kesayangannya pergi dari sana.


Elvan geleng-geleng kepala di saat melihat Lion juga Lesya melangkahkan kaki agar pergi meninggalkan dirinya. Dia tahu jika Lesya hanya mengambek karena dirinya secara langsung mengatai jika gadis itu menyusahkan. Padahal niat hatinya hanya menghibur saja.


Kini semua berkumpul di ruangan putih yang masih berada di rumah mewah milik Lesya. Baru saja mereka mendapat informasi jika pemilik nama Leonard Putra Morn itu sudah tiada. Isak tangis memenuhi ruangan itu. Lisa saja masih menyangka jika dia hanya bermimpi. Namun setelah dipukul Elena, Lisa masih mengelak jika Leon hanya tertidur saja.


Felicia saja turut prihatin dengan Lisa. Tak dipungkiri dia merasa sangat kehilangan. Ah, mungkin ini adalah karma nya sendiri. Kini dia merasakan kehilangan terdalam. Vion, lelaki yang membuatnya obsesi sudah pergi.


Dan untuk kini ini justru adik yang baru dia ketahuinya lah yang menyusul. Padahal, dia belum kembali membuat kenangan dengan sang adiknya itu.


Henny saja yang mendengar kabar Leon dibuat pingsan. Untung dengan segera ditangani oleh Sarah sebagai dokter. Lalu kondisi yang lainnya? Luna kembali menangis di pelukan Valen. Cakra yang kini didekap Mayang juga Elena yang mendekap Alam. Ya, Alam juga ikut turut kehilangan sosok partner humor Cakra.


Angga saja menggendong tubuh Vay yang berdiam diri agar tak merasa kesepian. Dia tahu walau hanya dalam sorot mata tapi bocah lelaki itu merasa sangat kehilangan. Berbeda sisi dengan Arya dan Maurine yang menenangkan Lisa. Dan di samping Luna sudah berdiri sang pemilik rumah tanpa suara.

__ADS_1


"Semoga lo bahagia, jumpa di sana! " ucap Lesya lalu memberikan senyyum manis yang pernah dia simpan. Sejenak dia menoleh pada sumber tangan yang kini menggenggam erat tangannya.


"Turunin saya, Vay mau sama Mama,"


Vay yang kini tahu dengan apa yang harus dia lakukan lantas meminta diturunkan dari gendongan Angga. Dengan segera Angga menurunkan Vay dari gendongannya. Sontak dengan cepat bocah itu berlari menghampiri sang mama dan memeluknya.


"Vay, kenapa? " tanya Felicia lembut.


"Ma jangan nangis, Vay gak suka! Udah keberapa kalinya Mama nangis? Dan kalaupun uncle mau pergi harusnya kita kasih restu pergi Ma, biar uncle ngerasa tenang di sana." ujar Vay pelan seraya mengusap pipi Felicia yang basah.


"Vay benar, tadi Leon pamit pergi karena dia mau ketemu orang tuanya kan? Hikkss, tapi gw masih gak rela kalau dia pergi gini huhu…. " sahut Luna yang masih terisak dengan lelehan air dari hidungnya yang sedikit keluar.


"Bukan gak rela, tapi belum ikhlas! " ralat Lesya mengoreksi. Gadis itu berdiri dengan satu tangan yang menyingkirkan rambutnya ke belakang.


"Iya, percaya deh sama yang udah berpengalaman," balas Luna mengelap ingusnya dengan sapu tangan yang disodorkan Leon. Felicia sejenak mencerna dan kembali mengangguk paham dengan alur pembicaraan.


"True, dia pamitan baik-baik dan harusnya kita kasih dukungan terakhir sebelum gak bisa liat wajah Leon lagi kan? " lirih Felicia mengusap wajahnya yang basah secara kasar.


"Nangis lagi aja kalau mau kak, jangan ditahan! Tapi gak selamanya juga lo terpuruk, gak bagus." tambah Luna dengan nada lirihnya. Lesya menunduk pelan. Perkataan Luna membuatnya tertampar. Jangan ditahan? Benar, dia sering menahan emosionalnya makanya sempat mengalami hal traumatis.


Tes!


Sungguh, Lesya sangat membenci dirinya yang memiliki hati mudah tersentil. Dengan segera dia menghapus dan mengangkat bola matanya ke atas. Beruntung dia terbiasa mengendalikan emosionalnya. Alhasil dia kembali menatap layaknya tatapan seperti biasa.


"Balik Indo kan? " tanya Cakra lirih.


"Ya, di sana ada makam orang tua gw! Sesuai permintaan Leon, kita kubur di samping makam orang tua gw." jawab Felicia yang memang tahu menahu mengenai mendiang kedua orang tuanya.

__ADS_1


Dan di sore yang mendung itu mereka mulai mencoba membiarkan Leon pergi dengan tenang. Begitu juga dengan Lisa walau sedikit tak rela. Suasana kini tak sericuh kemarin karena banyak dari mereka yang cukup kehilangan sosok Leon yang humble juga humor.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2