
"Tha, jangan begini dong! " lirih Amel tak tega dan mengusap punggung Letha yang masih terlihat tak tenang itu.
Sementara Nayla menepuk-nepuk punggung Letha dan menoleh pada Farel yang menyodorkan botol minuman dingin entah dari mana. Tak urung, Nayla tetap menerima dan memberikan pada Letha agar kembali tenang.
Letha tak menerima sodoran Nayla yang berasal dari Farel itu. Justru karena sudah terlepas tahanan, Letha kembali menatap penuh dendam ke arah Lesya dan hendak melangkah maju. Namun langkahannya terhenti karena Frans yang dengan sigap menghadang di depan Letha.
"Jangan liat-liat dosa! " larang Frans.
"Sumber masalah lo Sya?! Gak pantes harusnya hidup, ma-ti kek lo?! " amuk Letha berusaha melepaskan diri dari kurungan Farel dan Revan lagi. Frans hanya menahan sakit saja karena justru Letha beberapa kali meninju dirinya.
"Adehh, mon maap nih adeknya bu boss diharapkan jangan hilang waras dulu, ini masih di sekolah woy! Tenang, keep calm, tarik nafas terus buang! " ucap Ken mencoba menenangkan Letha.
"Heh anj*r, lo pikir sekarang ini lagi di ruang persalinan apa?! " kesal Amel meninju lengan Ken. Sang empu hanya meringis kesakitan saja. Sementara Farel beralih menahan Letha dan mengambil kembali botol minuman dingin yang sempat dia berikan pada Nayla.
"Minum dulu Tha! " kata Farel.
Letha terhenti. Dia hanya terdiam mengatur deru nafasnya dan mengambil botol minum yang disodorkan oleh Farel. Nayla, Ken, dan Amel hanya tersenyum lega karena Letha sudah kembali tenang berkat sedikit paksaan dari Farel.
Berbalik pada Lesya yang mendengar amukan sang adik itu hanya diam saja. Dia menoleh ke arah Elvan yang mengelus rambutnya dengan penuh sayang. Pandangannya kembali tertuju pada Letha. Kata-kata Letha yang mengatakan jika dia 'beban' membuat hati Lesya kembali tersentil mengingatnya.
"Sya, bawa ke psikiater tuh adek lo! " pelan Lisa sedikit berbisik. Sang empu yang dipanggil hanya menatap tajam Lisa saja. Dan yang ditatap hanya mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Gilaa! Gw udah lama bener nunggu momen ini! Kenapa gak dari dulu sih adek lo sakit jiwa gini Sya? Kan biar impas, lo pernah gangguan, dia juga kena! " lirih Luna justru memancing tatapan tajam dari Valen dan Lesya.
"Hehe.. Bercanda! " cicit Luna pelan.
"Candaan lo gak lucu! Harusnya tuh kalian ikut prihatin atas kehilangan warasnya Letha bukannya ngeledek begini, kasian noh temen lo yang satu! " bisik Valen pelan menunjuk Lesya dengan dagunya.
"Sama aja geblek! " ketus Luna menoyor pelan kepala Valen. Sang empu yang ditoyor hanya meringis pelan saja dan mengusap-usap kepalanya yang ditoyor. Lisa hanya berdecak dan beralih menatap Lesya yang masih diam.
__ADS_1
"Sya, gimana kalung lo? " tanya Lisa hati-hati karena tahu jika kalung yang dimaksud masih dikenakan di leher jenjang Letha. Sang empu yang dipanggil hanya menggeleng pelan saja.
"Gw kira lo simpan, ternyata udah pindah tempat? "
Deg
Lesya terdiam kaku. Dapat dia simpulkan jika suara bariton milik Elvan tersirat rasa kecewa walaupun sedikit. Gadis itu menghela nafasnya dan memberanikan dirinya melihat ke arah sang suami.
"Sorry, gw juga gak tau kalau kalung itu hilang! Apalagi gw juga baru sadar kalung itu udah sama Letha! " cicit Lesya merasa bersalah. Elvan hanya berdehem pelan dan kembali mengusap pucuk rambut sang istri kecilnya.
"Kalau masih sayang, rebut balik! " datar Elvan. Lesya terdiam. Haruskah dia rebut dalam keadaan Letha seperti ini? Di satu sisi Lesya ingin namun dia paham kondisi sang adik kembarnya di sini. Dia masih punya hati walau dia ingin sekali marah.
Lesya yang masih terdiam akhirnya terkejut dengan lanjutan perkataan Elvan. Tak hanya dia, Valen dan kedua temannya juga tak kalah terkejut dengan ucapan Elvan yang santai namun kelewat serius.
"Buang aja, gw beliin yang baru! "
WHATT?!!
"Ya siapa suruh lo gak minta balikin? Lagian gw juga gak mau lo pake yang udah dibekasin orang! " enteng Elvan. Lesya meninju lengan Elvan pelan. Hanya karena alasan itu? Sangat tak masuk akal!
"Ya tapi kan ini kalung bukan cincin! Kalungnya dari papi, gw gak mau nyampe hilang walau udah sempat kesentuh orang lain! Kalau cincinnya beli lagi ya jangan dong, kan itu salah satu buktinya! " kata Lesya menolak keras ucapan Elvan.
"Terserah lo dah, kalau gak mau minta sekarang, gw beli baru! " balas Elvan lagi. Lesya hanya mencebikkan bibirnya manyun. Tak ada pilihan lain lagi, dia beralih menatap Letha dan mencoba perlahan mulai menghampiri sang adik.
"Balikin kalung gw! "
Tiga kata itu justru membuat Letha semakin menatap geram ke arah Lesya. Saat hendak kembali menantang, dengan cepat Lesya memukul tenguk leher Letha hingga sang adik jatuh pingsan dan tak sadarkan diri. Hal itu membuat mereka yang di saja terkejut dan tak percaya.
"Sya?! Anj*r, inget cok dia adek lo! " kata Nayla menahan tubuh Letha agar tak jatuh ke tanah. Lesya tak menjawab. Tangannya berusaha membuka kaitan kalung di leher Letha. Berhasil, dengan cepat Lesya mengeluarkan cincin di dalamnya dan menggunakannya.
__ADS_1
"Bawa ke UKS! " perintah Lesya dan hendak pergi dari sana. Luna yang tanggap dengan mood sahabatnya yang buruk dengan cepat menghadang gadis itu agar tak kembali mengacuhkan orang lain.
"Stopp, lo mau kemana? " tanya Luna menghadang jalan Lesya. Sang empu yang dihadang hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah Luna. Namun sejenak dia menoleh dan menatap datar ke arah Nayla yang dengan sengaja ataupun tidak sedang mencibir dirinya.
"Lo gi-la ya? Adek lo sakit gini karena lo! Dengan enaknya lo pengen pergi ninggalin dia, otak lo di mana sih?! " kesal Nayla sedikit meninggikan nada suaranya. Letha kali ini sedang dibawa terlebih dahulu oleh Farel, Frans dan Ken ke UKS agar mendapatkan penanganan awal.
"Heh congor, siapa duluan yang nantangin?! Dia sumber masalah, dia juga yang pingsan duluan! Bilang orang lain sumber masalah lagi?! " kesal Lisa berkacak pinggang. Nayla hanya menyenye pelan dan menggerutu kesal. Dia sedikit tersentak ketika Amel dengan cepat justru menarik tangannya agar menyusul keberadaan Letha di UKS.
"Nanti aja berantemnya, sebagai temen yang baik hati, kita duluan yah mau liat kondisi adik lo dulu ya Sya! " tekan Amel pada beberapa katanya menyindir.
Lesya hanya berdehem pelan saja. Melihat keberadaan mereka yang mulai menjauh, Lesya memegang kepalanya yang kembali berkunang-kunang. Gadis itu menurunkan tangannya dari kepalanya di saat Elvan hendak kembali menatap dan menghampiri dirinya yang terlihat tak fokus itu. Ayolah, dia tak ingin membuat kecurigaan lain lagi. Cukup tadi, mungkin.
"Gw balik, kunci Lun? " pamit Lesya lalu mengangkat tangannya seolah meminta kunci dari Luna. Sang empu hanya mendengus sebal saja. Leon sudah menjauh dan sekarang Lesya? Haisss, memikirkannya membuat kepala Luna pusing. Apalagi ditimpali oleh kerjaannya di butik dan tugas-tugas sekolah.
"Ke mana? " tanya Luna sedikit tak rela.
"Ke rumah! Gw pusing, pengen pulang." kata Lesya jujur. Luna menurunkan tangannya dan mengerucutkan bibirnya manyun. Saat hendak berangkat sekolah, fyi Lesya menumpang mobil dengan Luna. Ahh, lebih tepatnya Luna yang mengemudi namun menggunakan mobil Lesya. Alasannya sangat sederhana hingga Elvan memperbolehkannya yaitu salah satu mempererat hubungan persahabatan.
"Nih, terus gw nanti pulang sama siapa dah? " lesu Luna menyerahkan kunci mobil kepada sang pemilik. Valen yang baru saja menghampiri ketiga gadis yang berdiri di sana dengan cepat merangkul pundak sang tunangan dari samping.
"Udah santai aja kali, ada gw nih yang bisa nganter jemput lo nanti elah! " ucap Valen. Luna terdiam berusaha menetralkan kondisi jantungnya yang sudah berdisko tak karuan. Dia hanya mengangguk pelan saja menanggapinya.
"Yaudah hati-hati lo Sya! " pasrah Luna.
Lesya hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Lisa dan Revan hanya diam saja di sana. Toh tak ada hal yang ingin mereka bicarakan. Hingga Revan kembali angkat suara mengingatkan Lesya hingga sang pemilik nama menoleh ke arah nya.
"Lesya eh maksudnya bu boss, anu--- em, gimana ya? A-anu, cuman bilang hati-hati ya, kalau bisa langsung pulang jangan keluyuran soalnya takut bahaya gitu! " cicit Revan tak enak membicarakan hal ini pada Lesya. Gadis yang dipanggil hanya tersenyum tipis saja menanggapinya.
"Gw anter ke gerbang! " kata Elvan.
__ADS_1
Lesya kembali menoleh dan mengangguk kecil saja. Elvan yang hendak ingin menggenggam tangan Lesya merasa aneh dengan sikap sang istri. Gadis itu justru menarik tangannya dan dimasukkan ke dalam saku celana. Bukan apa-apa, lesya membutuhkan ketenangan dan waktu untuk mengisi energi dan kejerihan pikiran. Elvan yang paham hanya menghela nafasnya saja. Walaupun tak sepenuhnya paham, setidaknya Elvan paham jika Lesya butuh waktu.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗