
Seminggu sudah berlalu, sesuai dengan saran dari Mily, Lesya tetap diam dan menikmati alur saja. Sikapnya yang semakin aneh karena menginginkan ini-itu saat malam cukup membuat Elvan pusing. Sayangnya lelaki itu tampak seolah tak mempermasalahkannya.
Seperti saat ini, matahari sudah tenggelam dan dua pasutri sedang duduk di sofa ruang tamu. Lesya yang melihat adanya makanan Korea yang muncul di televisi, dengan antusias menepuk-nepuk pundak Elvan.
"KETBOK!" panggil Lesya.
Elvan yang sedang mengerjakan proposal di laptopnya tampak memejamkan mata menikmati rasa perih telinganya saat mendengar teriakan Lesya. Gak papa kok, Elvan udah biasa akhir ini walau cuman sekedar manggil namanya aja. Sabar, inget dia istrimu!
"Kenapa?" tanya Elvan.
"Mau itu!" ucap Lesya menunjuk ke arah layar televisi yang masih menampilkan makanan Korea yang diinginkannya. Elvan mengerjapkan matanya polos.
"Itu apa?" tanya Elvan.
"Gimbab kalau bisa sama sushi!"
"Emang ada di sini?"
Lesya mengangguk lalu sejenak menggeleng pelan. "Maunya makan di Korea langsung, ya kali di sini!" ucap Lesya dengan matanya yang sudah berbinar-binar membayangkan betapa sedapnya makanan yang dia inginkan itu.
"Gak! Ini udah malem, bukan pagi. Kalau mau dipending dulu mendingan. Lagian yang di Indonesia juga ada kali!"
Lesya mengerucutkan bibirnya manyun. Pikirannya kini terlintas satu ide. Jika tidak bisa keluar negeri, di dalam bisa dong? Namun, cara yang diucapkan Lesya kali ini membuat Elvan bingung.
"Kalau gitu buatin!" antusias Lesya.
"Gw? Kalau gimbab gw gak bisa, cuman bisa sushi aja," jujur Elvan membuat Lesya berdecak malas. Dengan segera Lesya mematikan televisi dan menarik Elvan ke dapur. Sang empu yang ditarik hanya menahan dan menyimpan proposalnya sebelum hilang nanti.
Kedua pasutri itu berjalan ke arah dapur. Lesya segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan ke arah Elvan cara dan bahan yang diperlukan untuk memasak. Elvan hanya menghela nafasnya dan menyaksikan cara pembuatan hingga vidio di layar ponsel istrinya selesai.
"Udah? Bisa ya-ya?" pinta Lesya.
"Iya, tapi kayaknya kurang bahan. Gak mungkin kita keluar, supermarket jam segini udah tutup," ucap Elvan seraya membuka lemari pendingin yang ada dan memeriksa bahan yang dibutuhkan.
"Gopud!"
"Yaudah pesen dulu sana!"
"Yess! Bener ya, awas kalau bohong!"
Lesya segera memesan beberapa bahan yang dibutuhkan dari aplikasi GO-JEK nya yang sudah lama menganggur. Setelah menunggu pesanan dari rumah, Lesya pun hanya diam duduk di kursi seraya menunggu masakan matang.
*Gw masih heran deh, bener ga ya? Atau gw periksa aja sebelum telat? Tapi Papan gak pernah ngelepasin gw kemanapun gw mau. Oh, minta tolong Luna! Sip, keren otak gw mah kalau begini!* batin Lesya seraya tersenyum samar.
Setelah sibuk memandangi wajah tampan sang suami yang sibuk menata makanan ke dalam piring agar terlihat rapi, Lesya bertepuk tangan melihat kedatangan Elvan ke arahnya. Mulutnya membulat menyaksikan makanan yang dia inginkan sudah ada di depan matanya. Enak juga ya kalau punya suami pinter masak kayak chef Juna!
__ADS_1
"Pake sumpit makannya bukan pake garpu!" koreksi Elvan mengambilkan sumpit dan memberikannya kepada Lesya. Tak lupa sudah membersihkan sumpit dengan tisu, Elvan layaknya suami idaman yang siaga setiap saat.
"Lagian sama aja kok, nanti juga dimakan!" jengah Lesya dan mencicipi satu gimbab dengan menggunakan sumpit yang disodorkan oleh Elvan. Matanya berbinar seraya memberi acungan jempol pada Elvan.
"Gimana?" tanya Elvan.
"Enwak!" jawab Lesya.
Elvan mengangkat sudut bibirnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri yang asik makan. Lesya perlahan mendongkak saat merasakan benda kenyal yang menyentuh bibirnya.
"Begini, lebih enak!" koreksi Elvan.
"Mesum!" cibir Lesya ketus.
"Sama istri sendiri emang masalah? Dari pada sama istri orang, mau apa?"
"Mau kubunuh istri orang!"
Elvan tertawa keras. Tangan Lesya yang terkepal karena mendengar ucapan Elvan sudah membengkokkan sumpit besi. Wajah masam dan cemberut Lesya tak dapat ditutupi sang pemilik. Elvan terkekeh karena wajah Lesya yang terbilang sangat lucu dan imut, dia suka!
"Bercanda Sayang, sini buka mulutnya!"
Lesya hanya menurut dan membuka mulutnya walau masih kesal. Satu suapan sudah mendarat ke dalam mulutnya dan berlanjut hingga piring yang tersaji sudah kosong akibat ulah Lesya. Elvan sendiri hanya makan tiga suap karena membiarkan istrinya menikmati hasil masakannya.
"Jwalan-jalan ywuk!" ajak Lesya.
Drrrttt...
Elvan mengerutkan keningnya bingung di saat Lesya menunjukkan siapa yang meneleponnya malam ini. Perasaan Elvan kini mulai tak tenang karena telepon yang berasal dari sang kakak-Elena. Tak biasanya kakaknya menelepon semalam ini. Terlebih menghubungi Lesya kecuali penting.
Akak Elen🧚🏻♀️ calling you...
📞 Halo kak?
📞 ...
📞 Apa?
📞 ...
📞 Kakak tenang ya, aku sama Papan ke sana sekarang!
📞 ...
📞 Iya Kak, kami otw ya!
__ADS_1
Tuttt!
Lesya menarik Elvan yang terlihat kebingungan ke arah kamar. Lesya segera berganti baju dan memasukkan beberapa barang penting ke dalam tas selempangnya. Bahkan Elvan sendiri kini sudah berganti baju karena perintah dadakan dari sang istri yang mutlak.
"Ayo!" ucap Lesya.
Elvan menahan tangan Lesya yang hendak menariknya kembali masuk ke dalam mobil. Lesya terdiam saat melihat raut wajah bingung Elvan yang seperti ingin bertanya 'ada masalah apa' padanya. Lesya khawatir juga takut.
"Elvan, dengerin gw, kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Lesya pada akhirnya. "Kata Kak Elen ... k-katanya--"
"Katanya?" bingung Elvan.
Lesya menghela nafasnya panjang. Segera dia berjinjit dan menangkup wajah Elvan. Mengecup sekilas kening suaminya, Lesya masih tetap setia memandang wajah bingung suaminya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Bunda sama Ayah kecelakaan," lanjutnya lirih. "Jangan sedih dulu ya? Ada gw di sini, kita sama-sama pergi ke rumah sakit. Tenang dulu ya Vano," hibur Lesya mengelus punggung Elvan.
Jderrr!
Bagai disambar petir bolong, Elvan melototkan matanya terkejut. Kedua orang tuanya kecelakaan? Namun, dia kini menghela nafas dan mengajak Lesya segera ke rumah sakit dengan raut wajahnya yang tenang. Sesuatu yang mengundang rasa gelisah dan panik tak baik untuknya, itu kata-kata sang Bunda.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Setibanya di rumah sakit yang ditujukan, Elvan menghentikan langkahnya dan terdiam dengan raut wajahnya yang sama sekali tak dapat diartikan. Elena yang menangis histeris kini langsung beralih menerjang tubuh adik lelakinya.
"Vano, Bunda sama Ayah ..."
Lesya mengalihkan pandangannya ke seluruh orang yang ada di depan ruangan. Kakinya melangkah membuka sedikit celah ruang operasi dan melotot di saat para dokter menggeleng dari dalam. Mereka hanya berpura yang menahan kehidupan kedua mertuanya di dalam padahal keduanya sudah tiada.
Brakkk!!
Lesya menendang pintu operasi di saat satu dokter yang dia intip hendak menyuntikkan cairan yang entah apa itu kepada Mayang. Lesya tahu jenis cairan apa yang ingin diberikan. Cairan agar memiliki kondisi stabil? What the hell?! Itu cukup berbahaya bagi kondisi pasien!
"Kalau sampai tancap, gw bunuh lo!" ancam Lesya melayangkan tatapan tajamnya ke arah para dokter yang tak jadi melakukan aksinya barusan.
Lesya cukup tahu dengan maksud para dokter cukup takut dengan kekuasaan keluarga Grey dan Grizi. Jika mengamuk para dokter takut untuk sekedar menghadapinya. Mungkin, begitulah isi pikiran mereka hingga secara spontan ingin tetap menstabilkan kondisi kedua pasien terhormat mereka saat ini.
"Lesya!" peringat Galang menegur.
"GAK BISA DAD, MEREKA MAU BUAT BUNDA SAMA AYAH DROP BERAT! BISA MENINGGAL KALAU BEGINI CARANYA!" sentak Lesya tersulut emosi.
"Mereka cuman takut! Padahal layar monitor udah datar, tapi mereka takut! OBAT YANG MAU DISUNTIK BAHAYA, BISA BUSUK ORGAN DALAM BUNDA SAMA AYAH!" amuk Lesya yang amat nyeri melihat kondisi kedua mertuanya.
"Apa?!" panik Elena yang mendengar hingga kakinya melemas. Elvan sendiri harus menopang agar sang kakak tak terjatuh. Dia ingin menangis juga marah, tapi bukan saatnya dia bersikap demikian. Kakaknya butuh penopang.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1
>>><<<
Pengen aja buat begini, kayaknya biar di masa depan makin cerah🤓