Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
282: Gak jadi tobat!


__ADS_3

Lesya yang melihat dua mangkuk yang tersisa di sana mengambil dan mengarahkan dekat padanya. Itu pesanan Letha untuk Elvan tadi! Dari pada dibuang mubazir, lebih baik untuk dirinya saja bukan? Jadi tak sia-sia Letha pesan.


"Ini punya siapa? " tanya Lesya bingung.


"Tadinya punya Elvan tapi dia udah keduluan makan yang kakak bawa jadinya gak tau deh! " jawab Letha dengan nada kecewa. Lesya hanya membulatkan mulutnya saja. "Yaudah buat gw aja! Lagi pula Papan juga alergi sama toge kan? " ucap Lesya menyenggol sikut Elvan.


Elvan hanya mengangguk mengiyakan saja. Letha memicingkan matanya tak percaya. "Maaf aku gak tau kamu alergi toge! Terus lo tau dari mana kak kalau Elvan alergi toge? " curiga Letha.


Hayoloh! Dia juga hampir meletus mendengar pertanyaan itu. Beruntung Luna yang duduk di sebelah meja Elvan dkk angkat suara menyelamatkan dirinya dari pertanyaan menegangkan itu.


"Ya kan gw sama Elvan tuh tetanggaan jadi kadang tante May ngajak makan bareng kali! " bohong Luna asal menyahut dari samping meja.


Lesya menunduk kecil dan menghela nafasnya lega. Setidaknya sementara ini perkara ini dirahasiakan sejenak hingga dirinya yang berani jujur tentang hubungannya nanti pada sang adik. "Yaudah, mana handphone gw? " tanya Lesya kembali pada topiknya semula dengan Elvan.


"Selesai istirahat gw kasih! " jawab Elvan.


Lesya mengacak rambutnya frustasi dengan jawaban Elvan dan berpindah tempat ke samping Luna. Dengan membawa mangkuk bakso yang hendak Letha berikan kepada Elvan. "B*doamat, mau lo banting gek handphone gw cuman gw liatin elah! " pasrah Lesya. 


Luna terkikik kecil mendengarnya dan menggeser posisi duduknya menjadi di sebelah Lesya. "Lo punya handphone baru ya? Dari siapa? " tanya Luna. Karena pasalnya dia mendapatkan pesan untuk menyimpan nomor Lesya yang baru beberapa hari yang lalu. Dia hanya sekedar bertanya saja untuk memastikan saja apa benar itu kontak sahabatnya atau orang lain yang iseng-iseng saja.


Lesya hanya mengangguk saja dan matanya melirik Elvan sekilas. Luna paham saja dengan maksud lesya yang menjawab jika Elvan lah yang membeli ponselnya. Luna berdecak kesal melihat Leon dan Lisa yang kembali menebar kemesraan di hadapannya dan Lesya.


"Gini nih kalau cincin ke pasang di jari urusannya malah gini! " sungut Luna kesal. Lesya mendongkak dan benar saja jika jari kedua temannya itu sudah terpasang cincin mewah.


Dengan cepat dia mengambil dan melihat dengan jelas bentuk cincin yang digunakan temannya itu. "Nj*r, kok gw baru nyadar ya? Ini bukannya harusnya cocok jadi cincin tunangan ya? " tanya Lesya lalu melepas pegangan tangannya dan kembali melahap makanannya.

__ADS_1


"Kemaren waktu malem di jembatan sih sebenarnya gw kasih! Tapi harusnya memang jadi cincin tunangan nanti cuman gw ngasih sekarang lah! " jawab Leon. Lesya hanya mengangguk paham saja.


Tak lama meja mereka di datangi oleh pak satpam yang memberikan Lesya sebuah kotak cokelat dan berisi bunga di dalamnya. Tak hanya itu ada juga surat di dalam kotak itu. "Widih, bagi-bagi dong Sya! " pinta Luna mengambil alih cokelat batang yang ada di dalam box.


"Ambil aja! " enteng Lesya.


Lisa mengambil alih buket bunga yang ada di dalam box itu. "Lah masih zaman apa main surat-suratan pake bunga gini? Langsung aja kali kalau suka bilang! " kata Lisa. Leon mengambil alih surat yang ada di dalam box tersebut. "Ketemu di cafe deket sekolah lo yah nanti jam 1 siang! Rio, calon suami kamu? Eh apa nih maksudnya?! " bingung Leon.


Lesya merebut kertas itu lalu membaca isi surat itu. Jam 1 siang? Untuk apa? Mereka juga tak memiliki urusan satu sama lain. Apakah ini hanya ketemuan seperti biasa saja? Atau ada yang aneh? Karena biasanya Rio akan menghampiri dirinya di sekolah dari pada di cafe!


Berbeda dengan Elvan yang mengepalkan tangannya di bawah meja. Wajahnya tenang namun tidak dengan hatinya. Dia masih geram jika ada orang yang mengirimkan sesuatu special untuk Lesya yang mengundang api di dalam dirinya.


Namun sepertinya lelaki remaja itu sedikit lega melihat Lesya yang seperti tak menerima paket itu. Hanya sedikit saja! Hatinya masih panas melihat sekilas isi paket itu. Apalagi dalamnya terdapat buket bunga dan cokelat. Dikira hari valentine sudah tiba apa?!


Lesya berdecak malas dan menutup kembali surat itu ke dalam box. Luna yang melahap cokelat tanpa sengaja tersedak mendengar bacaan surat yang Leon bacakan tadi. "Rio lagi? Belakangan ini gak nongol noh dia kita damai-damai aja ya kan? Nih muncul " tanya Luna setelah mengontrol dirinya yang tersedak.


"Maksud lo gw turun tangan lagi gitu sama dunia gw? Keburu diomelin sama bunda! Beda masalahnya gw yang dulu sama yang sekarang! Dulu masih bisa bebas kalau sekarang tuh mulai terbatas! "


Lesya tak paham dengan jalan pikiran Lisa yang menyuruhnya kembali sibuk dengan dunia gengsternya yang tak pernah kelar-kelar belasan tahun. Memang benar itu saran yang bagus namun dia tahu pasti akan sulit keluar sendirian tanpa halangan siapapun. Tak seperti dahulu!


"Tuh geng Sakh juga udah gabung sama Ice Blue, ups! " ucap Leon tiba-tiba dan reflek menutup mulutnya. Leon merutuki kebodohannya yang asal menyeplos di depan Lesya dengan nada suara lumayan keras hingga beberapa orang di sekitar mereka mendengar termasuk Elvan dkk.


"Hah? " bingung Luna.


Lisa melempar tisu ke arah Luna yang berbicara tanpa menyadari jika sekitar mulutnya sudah terdapat bekas cokelat. "Ngaca dulu lo sana, mulut lo celemotan noh! " ujar Lisa. Luna hanya menyenye kecil saja menanggapi hal itu.

__ADS_1


Lesya hanya bersikap acuh saja mendengar berita yang disampaikan Leon. Sebenarnya dialah yang diam-diam mencuri data Ice Blue tanpa sepengetahuan siapapun. Ilmu IT nya jangan ditanyakan lagi perkara melacak sesuatu karena dirinya sangatlah ahli.


"Bod*amat gw mau tobat dulu dari tawuran! Kapan-kapan kalau gw moodyan bakal ngajak tempur deh! " gurau Lesya mencairkan suasana. Gadis itu tak ingin jika orang lain menganggap hal ini tak sepele. Walau memang Elvan dkk sudah saling mengkode satu sama lain.


Leon menghela nafasnya lega. "Jantung gw aman dari bahaya! " gumam Leon namun terdengar oleh mereka. Luna terkikik kecil dan sejenak melupakan berita dari Leon. "Bahaya singa ngamok, awokawok.. " sahutnya sedikit berbisik saat awal kalimat. Namun sayang, itu terdengar oleh Lesya yang di sebelahnya!


"Lah jambu?! " kesal Lesya.


"Lo mau tobat tapi ujung-ujungnya ikutan juga lo! Mending ikutan aja sekarang nih di jalanan sepi waktu mobil gw dibom! " ajak Lisa. Lesya menggelengkan kepalanya dan menunjuk-nunjuk ke arah Lisa.


"Wah-wah ajaran sesat nih! Lagian cuman bentaran elah kalau gak khilaf! " polos Lesya tanpa dosa menjawabnya. Luna menoyor kecil kepala sahabatnya itu. "Yee kalau gak khilaf! Dulu lo yang duluan ngajak-ngajak sekarang susah ya ngajak lo ke mana-mana " keras Luna menyindir Elvan yang acuh saja mendengarnya.


"Dah bac*t klean mending bantuin gw nih! " ucap Lesya tiba-tiba. Lisa memicingkan matanya curiga. "Apaan nih, jangan aneh-aneh lo ya! " jawab Lisa sedikit tak enak merasakan gak negatif pada kalimat permintaan bantuan Lesya.


"Pinjemin contekan biologi! " cicit Lesya berbisik.


"Yeee katanya mau tobat lo! " kesal Luna sedikit menggebrak meja.


"Gak jadi deh, kkapan-kapan aja dah tobatnya! " polos Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal.


Leon terkikik kecil mendengarnya. "Di tas gw noh! Barusan gw minta dari Luna! " kata Leon diangguki singkat oleh Lesya. Sementara Lisa hanya menghela nafas mendengar permintaan bantuan Lesya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Gays maaf ya kalau akhir ini jarang update karena lagi sibuk sama tugas-tugas ku. Ditambah aku juga lagi ikut partisipasi ANBK dari sekolah mau tak mau jadi tambah sibuk. Semoga bisa mengerti yah, makasih atas pengertiannya :)


__ADS_2