
Dentingan sendok dan garpu beradu. Ini adalah acara makan malam keluarga Grey. Seorang gadis cantik masih diam mengenai dirinya yang berbadan dua. Dan gadis cantik lainnya masih diam karena wajah sang kakak. Dia muak dengan kakak kembarnya sendiri setelah mengetahui rahasia besar kakaknya itu.
"Om, tan, makasih udah mau kasih tumpangan sama Letha selama ini. Kalau gak ada kalian, mungkin Letha gak tau status orang. Letha udah pikir matang-matang buat pindah ke rumah Letha bareng teman-teman Letha. " ucap Letha sekaligus menyindir Lesya. Entah itu sengaja atau tidak.
Mayang dan Angga berpandangan. Kata-kata Letha bagaikan sedang menyindir dan mereka merasakan itu. Sedetik mereka terenyuh karena Lesya yang lebih dahulu berbicara.
"Dia udah tau bunda, ayah! " ucap Lesya tanpa ekspresi seraya melahap makanannya. Sang empu yang disebut bunda itu hanya mengangguk paham saja. Dia beralih meneguk minumannya sebelum kembali berbicara pada Letha.
"Buat tante gak masalah kok. Kehadiran kamu di keluarga kita sama sekali gak repot, Tha. Kalau kamu udah bener-bener putusin tinggal bareng teman-teman kamu, tante gak larang. Tapi kalau kamu mau mampir ke sini, tante juga gak larang. Jadi jangan sungkan oke? Anggap aja kita keluarga kamu sama kayak kakak kamu, Lesya. " tutur Mayang lembut.
"Dia bukan kakak aku! " koreksi Letha menatap tajam Lesya. Sang kakak yang tak diakui oleh kembarannya membanting sendok dan garpu nya lalu pergi begitu saja. Moodnya benar-benar rusak sekarang. Cukup sudah dia pusing karena masalahnya dan sekarang kesabarannya benar-benar diuji oleh adiknya.
"Sya? " panggil Mayang beranjak berdiri.
Jika perkataan Letha menusuk bagi Lesya, dipastikan biasanya gadis itu pergi ke apart dan menginap di sana. Namun kali ini beda hal nya. Satu tempat ternyaman nya adalah kamar milik Elvan. Memang posisi kamarnya sedikit tergeser dengan kamar yang nyaman ini. Perkataan Letha memang keterlaluan namun itu bukannya menenangkan justru membangkitkan auman singa Lesya yang sudah lama terpendam. Sepertinya, gadis itu harus menahan emosinya sekarang ini.
"Kalian lanjut makan biar bunda susul Lesya! " kata Mayang lalu hendak pergi namun tertahan karena ucapan Elvan. Anak bungsunya itu meminta agar dia saja yang menyusul Lesya dan bundanya kembali makan lagi. Wanita setengah abad itu menggeleng. Dia seolah dapat merasakan hati Lesya saat ini.
"Biar Vano susul, bunda duduk aja! "
"Tapi kali ini Lesya bukannya gak butuh kamu, dia cuman butuh waktu. Biar bunda aja ya, kamu diam, selesaiin makan kamu oke? " kata Mayang memberi pengertian pada putranya. Dengan berat Elvan mengangguk pasrah saja. Lelaki itu kembali makan namun dalam tempo tergesa-gesa. Dia ingin melihat kondisi Lesya saat ini. Gadis itu butuh dia!
...— — —...
__ADS_1
Salah satu menenangkan diri adalah membasahkan diri di dalam bathtub ataupun berjongkok pada guyuran shower. Karena menurut ilmiah, amarah itu bagaikan api yang harus segera dipadamkan dengan air.
Begitu juga hal nya dengan Lesya. Gadis itu sedang memeluk lututnya di kamar mandi. Dia tak menyalakan air shower. Why? Menurutnya penjelasan ilmiah itu tak penting. Asalkan sebuah emosional dapat dikendalikan oleh orang itu sendiri.
"Sya?! "
Tiba-tiba saja panggilan itu membuat seorang gadis cantik harus mendongkak menatap sang ibu mertuanya. Pelukan hangat yang selama ini dia dapatkan dari Mayang cukup membuat dirinya tenang.
Wajah Lesya tak memancarkan apapun. Dia tak dendam, tak marah, tak benci, tak kecewa, tak sedih, ataupun yang lainnya. Dia hanya butuh kesendirian saja. Jujur, perutnya berasa diaduk. Mengingat sekarang dia bukanlah berbadan satu, membuat dirinya paham jika ini efek dari kehamilannya. Dia pergi karena tak ingin kedua mertua dan Elvan khawatir padanya. Dia juga masih belum siap mengatakan perihal kehamilannya.
"Bunda? "
"Kenapa? Cerita sama bunda! " kata Mayang lembut mengusap pucuk kepala Lesya. Gadis itu menggeleng pelan seraya tersenyum tipis pada Mayang yang begitu menyayanginya. Dia bukannya apa-apa hanya saja perutnya sakit. Memang perkataan Letha membuat hatinya tersentil namun dia paham jika gadis itu masih dalam fase kelabilan pola pikir.
"Bunda. . . "
"Lesya hamil! " jujur Lesya cepat.
"Ha? " cengo Mayang.
Syok, kaget, tak menyangka bercampur menjadi satu. Mayang masih dibuat bingung oleh perkataan Lesya. Padahal tak ada tanda-tanda gadis itu mual atau pusing di rumah. Bahkan tanpa sadar justru Mayang melepaskan pelukannya dan menatap serius ke arah Lesya.
"Jujur sebenarnya Lesya bingung bunda. Lesya udah telat jadwal bulanan. Lesya juga sering ngerasa mual atau pusing di sekolah. Lesya cek ke dokter katanya positif, padahal Lesya gak pernah ngelakuin hubungan int*m loh bunda. Lesya gimana dong? Takutt.. " cicit Lesya yang menjelaskan walau sedikit malu pada mertuanya.
__ADS_1
Sejenak Mayang terdiam dan seketika buyar karena tersadar dari lamunannya. Senyum gembira muncul di wajah awet muda itu yang sedikit berkeriput. Dia senang mendengar kabar ini. Menurutnya ini kabar bahagiaaaa... sekali!
"Beneran? "
Lesya mengangguk pelan. Dia mengira Mayang akan mencecarnya banyak pertanyaan namun nyatanya salah. Ternyata wanita sedikit berkeriput itu justru kembali memeluknya dan tersenyum bahagia. Bahkan elusan di pucuk kepalanya terasa kembali, sangat lembut dan Lesya suka itu.
"B-bunda gak nanya hal lain? " ragu Lesya.
Mayang tersenyum menatap Lesya dan menggeleng kecil. Dia senang namun dia juga bingung hal ini terjadi. Entah benar atau tidak, kemungkinan besar Lesya mengandung cucunya bukan? Itu sebabnya Mayang yang memang sangat bijak kembali berkomentar disertai dengan nasehatnya yang dewasa.
"Anak itu anugrah dari Tuhan yang harus di jaga. Kalaupun kamu sama Vano belum lakuin apa-apa, itu tandanya Tuhan tetap kasih anugrah buat kalian. Semua terjadi atas izin Tuhan yang kasih kamu kesempatan. " nasehat Mayang bijak.
Lesya mengangguk paham saja. "Tapi bun, jangan kasih tau siapa-siapa dulu ya, Lesya masih takut! " pinta Lesya.
"Kenapa takut? Harusnya kamu kasih tau sama Vano biar kamu dijagain terus sama anak itu. " tanya Mayang yang bingung dengan permintaan Lesya. Gadis itu hanya menggeleng kecil saja dan menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal bingung harus berkata apa. "Jangan aja bun, biar suprise gitu nanti! " bohong Lesya beralasan dan diangguki oleh Mayang.
"Yaudah, sekarang kamu mau makan apa? Biar bunda siapin. " tanya Mayang menawar. Lesya menggeleng singkat. Dia tak ingin makan saat ini. Mengingat kata-kata Letha yang tajam itu membuat seketika tangannya mengepal kuat diam-diam tanpa sepengetahuan sang bunda. Jadi dia tak dianggap yah~
"Kenyang bun, mau tidur aja cape! " kata Lesya. Mayang mengangguk saja dan menuntun sang menantu kecilnya ke arah ranjang kamar. Lesya hanya geleng-geleng pelan saja. Padahal dia tak kesleo hanya mual saja. Apa bunda nya berubah menjadi protektif? Ah, Lesya tak dapat membayangkannya nanti.
*Ya Tuhan bunda yang pengertian, baik hati, plus lemah lembut jangan bilang berubah profesi lagi?! Kan gak lucu gw yang anti bodyguard tiba-tiba jadi no anti bodyguard! Bisa jadi demi keselamatan gw yang berbadan dua, bunda jadi lebih protektif. Jangan bilang kalau Papan tau bakal berubah kayak bunda lagi?! Nooo, cukup ini tapasya! * batin Lesya menerawang sekaligus berteriak pasrah.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1
>>><<<
Menurut kalian dikit yah? Padahal ini part panjaaangggg banget! Pengennya lebih panjang tapi authornya udah kepikiran ide baru buat update episode selanjutnya. Segini dulu deh, sampai jumpa di episode selanjutnya semua😘