Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
74: Makan!


__ADS_3

Mereka menahan tawa melihat wajah malas Lesya. Lesya dengan cepat melihat buku Luna yang berisi tentang reproduksi, "Lo belajar apaan nih? "


"Gak tau! Gw asal ngambil kagak gw baca cuman liat gambar nya doang" polos Luna ikut melihat bukunya.


Mata Lesya memicing melihat halaman buku yang bergambar testpack, "Testpack? " Luna mengangguk, "Garis satu katanya negatif, garis dua positif! Maksudnya apaan sih? Kagak paham gw! "


Lesya menatap lekat gambar tersebut seraya menjelaskan, "Kalo dua ya positif! Kalo satu ya negatif" Luna mendengus malas, "Meh! Maksud nya positif apa? "


Suara ngegas Luna terdengar hingga mereka menoleh ke arah Luna dan Lesya. Lesya mengelus telinganya dan menyentil jidat Luna, "Positif hamil lah! "


"Shht! Baru tau gw" ringis Luna kecil lalu balik bertanya, "Eeh, lo tau dari mana? " Lesya kembali meletakkan wajahnya di atas tangannya, "Bang Candra"


"Siapa yang hamil? " tanya Leon berbisik. Lesya menggeleng, "Kagak ada! " Luna menjelaskan agar tak salah paham, "Noh, gambar testpack! Mana gw tau kalo dua garis artinya positif"


Leon mangut-mangut paham saja. Dia melirik buku yang Lesya jadikan alas bantal tadi. Lesya menoleh, "Mau? Ambil aja"


Amel menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal seraya menggerutu, "Susah amat sih! " Lesya menoleh, "Apanya? "


"Lo paham masalah kimia gak? " Lesya mengangguk, "Mang ngapa dah? " bu bunga menghentikan obrolan mereka, "Shhutt! Diam, kalian bisa ganggu yang lain kalo gini! "


"Dan kamu Lesya, baca buku kamu sendiri! Jangan baca punya orang lain" Lesya mengangguk.


Mereka kembali membaca diikuti bu bunga yang membaca buku resep makanan. Berbeda dengan Lesya yang hanya membolak balikkan halaman buku saja.


Bu bunga yang mengawasi terasa mengganggu, "Lesya! Baca baik-baik! Jangan di bolak-balik in" Lesya menggeleng, "Gimana mau dibaca isinya angka semua"


"Beranak gak tuh? " Lesya mengangguk pelan dengan pertanyaan Valen, "Anaknya ber faktorisasi"


Bu bunga memijit pelipisnya, "Itu matematika sya! Bukan pelajaran ngelahirin anak! " Lesya menutup buku, "Sama aja! Kalo manusia ngelahirin manusia! Kalo angka ya ngelahirin angka ibukk! "


Luna angkat suara, "Ey ibu, ibu kemaren udah cek? " Bu bunga menoleh dan mengangguk, "Hasilnya positif"


Mereka terkejut mendengarnya. Lesya mengangguk dan membulatkan mulutnya, "Oh... Ha? Gimana? 如何? What do you mean? "

__ADS_1


Luna geleng-geleng kepala mendengar Lesya bertanya membawa bahasa china dan Inggris. Padahal Lesya cukup bertanya bagaimana saja.


Ken cengo, "Bisa bahasa china lo sya? " Lesya mengangguk kemudian menggeleng, "Iya, eh kagak! Maksudnya dikit doang"


"Haduh, udah stop! Saya pusing denger kalian ngomong! Bisa diem gak sih?! " ngegas bu bunga. Lesya menggeleng, "Kagak bu! Ibu ngegas mulu kayak motor! Rem ngapa bu"


Luna berbisik, "Bawaan bayinya kali! Di sini ditulis kayak gitu" Lesya membaca tulisan tersebut dan paham saja.


Bu bunga memijit pelipisnya yang terasa pening dan meninggalkan mereka semua, "Haduhh.. Udah saya pamit ke toilet"


Mereka menatap kepergian bu bunga saja. Lesya berdiri dan berjalan perlahan menuju rak buku komik horor kesukaannya, "I'm coming! " gumam nya kecil.


Lesya kembali dan mulai membaca komik tersebut. Mereka juga tak sadar dengan keberadaan komik yang Lesya bawa. Hanya Elvan saja yang sadar!


Dia tak mempermasalahkan itu, asal gunanya untuk dibaca. Toh jika perpustakaan hanya untuk membaca buku pelajaran, mengapa ada buku komik di sini? Itu juga merupakan komik favorit nya.


Lesya membaca dengan teliti dan melirik sekeliling. Matanya melihat bahwa Letha, adiknya malah memperhatikan wajah dingin Elvan saat membaca.


Lesya tersenyum tipis dan kembali membaca komiknya. Dia terlihat lebih fokus saat pertarungan antara ayah dan anak terjadi. Dia mengingat apakah dirinya akan seperti itu dengan Gilang?


Krinnggg...


Bell sekolah kembali berbunyi. Lesya menutup bukunya karena memang sudah habis dia baca. Letha juga dengan senyum yang mekar menutup bukunya dan mengambil sebuah bekal yang dia bawa.


Mereka memang membawa tas semua termasuk Lesya. Tas tersebut masih terlihat baru. Warna hitam berdominasi putih itu terlihat cantik jika dipakai Lesya.


Luna sempat terkejut, "Tas lo sya? " Lesya mengangguk, "Dari bunda" bisiknya kecil. Luna membulatkan mulutnya, "Baguslah kalo gitu! "


Lesya mengangguk kecil seraya tersenyum. Dia bahagia mengingat kejadian semalam dimana Mayang memberikan sepatu, tas, dan baju baru untuknya. Bukan hanya dia, namun Alam, Elvan, dan Elena juga.


Letha mengeluarkan bekalnya dari dalam tasnya, "Van, kamu mau gak? " Elvan melirik Letha sekilas lalu menggeleng sebagai jawaban.


Letha tampak kecewa dengan jawaban Elvan. Sejujurnya dia sengaja membawa bekal banyak untuk dapat makan berdua bersama Elvan.

__ADS_1


Nyatanya dia menerima penolak kan Elvan begitu saja. Nayla menenangkan Letha yang tampak murung itu.


Elvan dkk, Lisa, Leon, Luna, Letha dkk makan bersama dengan keadaan canggung. Kebetulan mereka semua membawa bekal. Luna yang melihat Lesya asik bermain ponsel menyahut, "Kagak laper lo? "


Lesya menoleh. Dia menutup ponselnya dan menyimpan ke dalam saku celananya, "Gw lupa! " Dengan cepat Lesya mengeluarkan bekal nya dari tas barunya itu.


Luna terpana sejenak, "Nasgor! Bagi sya" Lesya menggeleng, "No way! Kalo mau minta sama yang masak"


"Siapa yang masak emang? " Lesya berbisik, "Bunda juga" Luna melotot, "Pantes tadi lo rapi bener" Lesya menyengir.


Mereka melahap makanannya satu per satu. Hingga Lesya tak sengaja melihat Leon yang membawa bekal, "Lo bawa juga? Siapa yang masak? "


"Bang Cakra" jawabnya. Luna dan Lesya memandang satu sama lain. Leon langsung menjelaskan, "Emang pelit sih dia, tapi karna dia lagi seneng aja makanya masak"


Yap! Cakra dapat memasak namun tak pernah memasak untuk Alam, Lesya, Luna dan Leon. Hingga dia mendapat julukan, caklit (Cakra pelit).


Luna memasang tampang imutnya, "Bang Leon yang baik hati, bagi dong" melasnya imut. Mereka menatap cengo Luna kecuali Lesya dan Elvan.


Leon dengan berat hati mengangguk, "Dikit woy lah! " Leon terperanjat kaget dengan Luna yang lagsung mengambil bekalnya, "Avv! Pinter bener bang Cakra masak"


"Enak? " tanya Lesya memastikan. Luna mengangguk dan menyodorkan spageti ke arah Lesya, "Coba aja"


Lesya mencoba dan sedetik melotot, "Pantes pelit orangnya! Sekali masak meleyot" Leon mengambil bekalnya, "Sisain gw woy lah"


"Gw mau lagi yon" pinta Luna memasang wajah memelasnya. Lesya menarik Luna agar tetap duduk, "Be quite! "


Luna duduk saja dan melahap makanannya. Leon tersenyum mengejek ke arah Luna hingga membuat Luna kesal, "Gw aduin ke bang Alam mamp*s lo! "


"Weess.. jangan dong! Kalo mau telfon aja bang caklit sono" Luna memasang wajah malasnya. Lesya menyodorkan nasgor buatan Mayang, "Mamam noh! Berisik sump*h"


Mereka melanjutkan acara makan mereka. Luna memakan bekalnya seraya mencicipi masakan Mayang, "Enak! Pantes lo tadi pelit" bisiknya kecil.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2