Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
191: Emang ini hutan!


__ADS_3

Ken menggaruk dan mengusap belakang lehernya. "Ya mangap! " Leon menutup mulutnya tak percaya. "Wah.. Anggota intim OSIS rupanya sering ngomongin perkara. . . Hayoloh keciduk! " goda Leon.


"Bukan teman gw! Pliss, kejebak! " gumam Frans menggelengkan kepalanya. Sinyal otak Lesya memuat cepat maksud dari perkataan Valen dan dijelaskan secara jelas oleh Leon. "Wah! Parah kalian! Gak nyangka isi dari pemikiran fisika IPA anggota OSIS bisa begini juga rupanya! "


Leon meletakkan satu tangannya ke arah pundak Lesya layaknya rangkulan teman. "Kasih nilai berapa nih queen? " ledek Leon terkikik. Lesya menggedikkan bahunya acuh tak acuh. "Aku gak paham kaka.. Aku masih polos! " acuh Lesya.


"******** wahai kawan, sudahi pembicaraan ini, terimalah dua senter dari saya! " malas Valen mengambil dua senter dari karung yang ada dan memberikannya kepada Lesya satu per satu. "Nyalain dulu cobak! Soalnya ada beberapa senter yang gak bisa nyala! " saran Ken.


Lesya memberikan satu senter kepada Leon dan mengangkat ke atas geseran yang ada di senter tersebut. Nihil! Tak ada cahaya apapun yang terpancar. "Gak bisa nih! Coba Yon yang itu! "


Leon mengangguk dan melepaskan rangkulan nya. Dirinya mulai mengangkat geseran senter dan nihil! Tak ada cahaya yang keluar juga di arah senter. "Pasang baterainya dulu! " ucap Elvan tiba-tiba.


Lesya mendongkak menyadari keberadaan Elvan di sana. "Mana baterainya? " Elvan merogoh saku celananya dan mengambil alih senter yang di pegang oleh Lesya.


Menurunkan geseran dan memasukkan baterai yang dia ambil dari saku celananya, Elvan menaikkan kembali geseran on yang ada dan tersinarlah cahaya dari senter yang membuat mereka di sana menutupi matanya.


"Matiin woe silau! " ucap Lesya seraya menutup matanya dengan telapak tangannya.


Elvan mematikan senter tersebut dan memberikan kepada Lesya. "Nih! Yang satu mana? " Leon memberikan senter yang dia pegang kepada Elvan.


Setelah mengisi baterai, Lesya terburu-buru pergi tanpa berterimakasih ataupun mengucapkan salam. "Heh?! Kebiasaan tuh anak! " geleng Leon.


"Nah, sekarang kita tinggal mulai nyari bendera kan? Yok buruan keburu larut malem! " ucap Ken sok akrab seraya merangkul Leon di sebelahnya. "Anj*r homo lo weh! Gw gak belok kali! " tepis Leon bergidik ngeri.


Valen tertawa renyah. "Haha.. Mamp*ss! " tawanya renyah. Ken hanya menatap datar Valen dan Leon saja. "Sial*n! " gumamnya.

__ADS_1


...~o0o~...


Luna dan Amel masing-masing memegang satu senter di tangannya menyusuri sekitar arah hutan. Sementara Letha membantu pencahayaan dengan ponsel di tangannya. "Noh ada bendera tuh! Di atas pohon! " santai Lesya menunjuk arah dimana bendera putih berkibar dengan bantuan angin malam di atas pohon.


"Manjat gak nih? " tanya Lisa. Lesya mengangguk saja. "Pendek gitu tunggal ngambil elah! Lo aja deh yang ngambil! Gw mager ngambilnya! " Lisa memutar bola matanya malas dan mencibir kecil.


"Dasar! Kaum mageran lo! " cibirnya berjalan ke arah pohon tersebut yang sedikit pendek dan hanya perlu dirinya yang berjinjit saja. "Nah, dapet! Kemana lagi kita? "


Luna menggedikkan bahunya tak tahu. "Mari tanyakan kepada peta! Katakan peta! Petaa.. " Lesya dan Lisa tertawa renyah diikuti Luna. "Cosplay jadi dora lo Lun? " tanya Lesya basa-basi.


"Begitulah! Saking gabutnya gw! Gak ada topik yaudah gw cosplay jadi dora the eksplore! " balas Luna terkikik kecil. Memang sedari tadi tak ada topik pembicaraan yang enak dibicarakan oleh mereka selama menyusuri hutan.


"Mbak dora.. Kali ini kita ke mana? Atas? Bawah? Depan? Belakang? Kiri? Kanan? Kemana tujuan kita? Jangan diem bae! " tanya Lisa.


Nayla memutar bila matanya malas. "Tha, tolong senterin nih! " Letha mengarahkan senter ponselnya ke arah peta. Sementara Amel mengarahkan senter yang dia pegang ke arah sekeliling mereka. "Kayaknya ke kanan nih! Eh? Ini bener gak sih? " molog Nayla.


Letha terdiam mendengarkan kata-kata ‘jurang’ yang terlontar dari mulut Luna. Lisa mengangguk setuju. "Yaudah tunggu apaan lagi? Kuylah ke depan! " ucap Lisa.


Mereka kembali melangkah dan mengerutkan keningnya bingung. Mengapa bendera putih yang ada justru terjatuh? Pikir mereka bingung heran.


"Itu bendera dari sekolah kita gak sih? Kok bisa jatuh ya? " heran Nayla. Letha menggeleng tak tahu. "Enggak kayaknya deh! Mungkin punya sekolah lain! " celetuk Letha menatap kedua temannya.


Amel mengarahkan senter yang dia pegang ke arah bendera tersebut. "Mana mungkin! Emang sekolah siapa yang ngadain camp selain kita? Enggak kan? "


Baik Lesya, Luna dan Lisa memutar bola matanya malas. "Kalian aneh! Tinggal ambil kek gini ribet bener! Pakai acara bawa nama sekolah lain pula! " malas Luna mengambil bendera yang terjatuh.

__ADS_1


"Tauk tuh! Nethink mulu! Berpikir yang positif dulu! Mungkin aja jatuh karena angin kenceng! " lanjut Lisa menjelaskan.


Lesya mengangguk setuju. "Lanjut kemana? Udah jam setengah 9 nih! Nanti kita keliling api unggun soalnya! " Lisa menoleh ke arah Lesya. "Bawa jam lo? " tanyanya dibalas anggukan dari Lesya.


Luna melihat ke arah peta. "Yok nyet kita ke kanan! " ucapnya setelah melihat peta yang dipegang oleh Nayla.


"Eh? Apaan ngomong gw onyet?! " delik Lisa tak terima. Dengan santainya Luna menjawab. "Gw jadi doranya dan lo jadi onyet doranya! Awokawok, mantep gak? Mantep lah masa enggak! "


"Garing! "


"Gaje! "


"Gak lucu! "


Lesya hanya diam di saat lontaran dari Letha dkk keluar menanggapi candaan renyah dari Luna. "Mantep matamu peyang! Udah lah males gw! Markiper! Mari kita pergi! " sahut Lisa malas.


Lesya dkk berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Letha dkk di bagian belakang. Hingga suara Luna mengejutkan mereka. "Tunggu-tunggu! Gw mau ke toilet nih! "


"Yaelah, tahan bentaran dulu Lun! " kata Lisa dibalas gelengan kepala Luna. "Enggak bisa gw kebelet banget serius! Sya temenin gw dong bentar! "


Lesya terkejut di saat tangannya ditarik oleh Luna. "Kalian di situ jangan pergi ke mana-mana!! " pekik Luna sedikit keras. Lisa membalas teriakkan Luna. "BURUAN KALIAN WEH!! "


"Jangan teriak-teriak bisa gak sih?! Sakit kuping gw dengernya! Kalau lo mau teriak, mending ke hutan sana! " kesal Letha menutup telinganya. Lisa membalas dengan nada ketusnya. "Emang ini hutan! Lo kira ini rumah apa?! Bebas gw teriak! "


Letha diam-diam mencuri pandangannya ke arah Lisa dan hanya dapat membatin kecil saja. * Iya juga ya! Aduh, kenalan gw beg* gini sih?! Tenang Tha, lo harus jaga sikap! Apalagi Lisa itu bakalan jadi sepupu ipar lo! Ambil hatinya pelan-pelan and keep calm ok? * batin Letha.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2